Bullshit

Source: http://www.limbicnutrition.com

Bullshit is unavoidable whenever circumstances require someone to talk without knowing what he is talking about. Thus the production of bullshit is stimulated whenever a person’s obligations or opportunities to speak about some topic exceed his knowledge of the facts that are relevant to that topic. This discrepancy is common in public life, where people are frequently impelled whether by their own propensities or by the demands of others-to speak extensively about matters of which they are to some degree ignorant.

Bullshit, (selanjutnya kutulis sebagai omong kosong) sudah begitu meresahkan tapi saking membabibutanya kadang melempar kita pada titik pasrah, ‘lantas bagaimana?’ Gerakan-gerakan antihoax yang muncul belakangan menolak tersebarnya segala berita yang konon kata sebuah media bikin otak soak, entah memasukkannya sebagai satu biang kerok atau tidak. 

Buku tipis (aslinya adalah sebuah esei) dari Prof.Frankfurt, seorang filsuf analitis ini berupaya untuk mendeskripsikan dan mendudukkan posisi omong kosong dalam masyarakat. Tanpa ada penelaahan yang jelas, meski kita merasa bisa aman dan mampu menghindarinya, kita tak pernah dapat memastikan itu. Hal tersebut karena begitu melimpahnya omong kosong dalam kehidupan sehari-hari seolah ia menjadi tambahan uap air dalam kandungan udara, yang hanya membuat pengap tanpa bisa kita hindari kecuali dengan filter dehumidifier.

Omong kosong berbeda dengan dusta. Dalam sebuah teks, diposisikan seolah selama kamu tidak berbohong, ngawurlah sesukamu. Masalahnya orang yang mengumbar omong kosong atau senang ngawur justru seringkali tidak mengetahui bahkan tak peduli pada kebenaran. Orang berbohong tentu tahu apa yang benar dan dia menyembunyikannya. Dia punya sikap terhadap hal yang benar. Tapi orang ngawur pengumbar omong kosong mana peduli.

Wittsgenstein adalah salah satu filsuf yang dirujuk sikapnya di dalam buku ini. Dikisahkan bahwa suatu ketika ia menengok temannya yang sakit. Begitu melihat Wittgeinstein, mengeluhlah, “Betapa sakitku seperti anjing yang menderita”. Dengan ketus dijawab, “Kamu bahkan tak tahu penderitaan anjing”. Dari satu contoh tersebut kita bisa melihat penggunaan hiperbola serampangan saja bisa berbahaya. Omong kosong, jika dianggap biasa akan mengurangi kepekaan kita terhadap bahayanya seperti yang terjadi hari ini saat manusia gagap menghadapi teknologi komunikasi dan tak memiliki filter terhadap ancaman dehumanisasi karena semakin lemahnya kemampuan berpikir mereka. 

Keterangan Buku:

Judul: On Bullshit
Penulis: Harry G.Frankfurt
Penerbit: Princeton University Press
Tahun Terbit: 2005

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s