How To Read A Book

Sedari awal muncul budaya baca-tulis, manusia lebih mudah berkomunikasi dan mewariskan pengetahuannya. Adanya media tertulis memungkinkan manusia melakukan aktivitas itu melampaui jarak dan waktu. Dengan orang berjauhan yang di luar jangkauan gelombang suara, orang bisa berkirim surat. Pada generasi selanjutnya, dan selanjutnya, dan seterusnya lagi jauh melewati usianya, seseorang bisa meninggalkan pesan.
Menulis juga merupakan salah satu upaya menolak lupa. Manusia merekam catatan, informasi serta ilmu. Pesan tersimpan! Bahkan hingga bisa menembus angka milenial. Karena itu, sebenarnya ‘menulis’ merupakan teknologi mengingat yang canggih.

Akan tetapi bagaimanakah kemudian rekaman pesan yang sudah terpisah dari penulisnya tadi dibaca dan dipahami? Bagaimana kita memanggil ingatan panjang itu?Bagaimana cara yang tepat untuk berguru pada seseorang tanpa kehadiran yang bersangkutan? Bagaimana kiranya kita dapat menangkap deretan kata menjadi konsep yang persis diimajinasikan penulisnya, terlepas penerimaan kita terhadapnya. Kita bisa saja tidak sepakat dengan suatu tulisan, tapi hanya bisa dilakukan setelah kita sungguh paham posisi tulisan tersebut, jadi ketidaksetujuan kita bukan sebentuk salah paham.

Penulis buku ini pertama menerbitkan bukunya tahun 40’an. Judul yang nampak ‘garing’ seperti itu tentu menggelitik orang untuk membuat olokan. Kemudian muncullah judul-judul buku “How to read two books” bahkan “How to read a page”. Tapi buku ini bukan setara buku-buku how to dengan cetakan best seller pada sampulnya itu. Judulnya benar-benar menyatakan seluruh isi pesan bukunya dengan cara paling sederhana dan langsung. Buku ini memberi panduan untuk membaca secara efektif sehingga kita tidak hanya membuang-buang waktu dengan buku.

Buku cetakan awal itu ditulis sendiri oleh Mortimer Adler. Namun pada edisi yang kubaca ini merupakan edisi revisi yang ditulis bersama dengan Charles Van Doren.

Penulis menyatakan bahwa kesalahan prioritas terjadi saat kita membaca. Banyak program pelatihan membaca menekankan pada kecepatan membaca, seolah makin cepat akan semakin baik pembacaannya. Kenyataannya kebanyakan dari kita level kemampuan membacanya hanya pada abecederian reading, yakni membuka buku dan hanya mampu melafalkan a-be-ce-de nya, tak lebih dari itu, kita hanya berenang di permukaan tanpa sanggup menyelami kedalamannya untuk memahaminya.

Kenapa buku ini menjadi penting? Karena Iqra’ adalah perintah Tuhan yang pertama. Bagaimana kita bisa membaca dengan baik dan mengambil manfaatnya tanpa tahu bagaimana caranya?

Kemajuan teknologi seringkali berkaitan dengan meningkatnya kemalasan manusia. Di masa ketika buku edisi revisi ini ditulis, tahun 70-an, televisi dan radio mulai marak dan orang-orang mulai beralih pada keduanya dan mulai bertingkah seperti kaset yang hanya memutar ulang apa yang terekam dari kedua media elektronik tersebut. Kemampuan membaca menurun karena arts of reading tidak lagi menjadi prioritas pendidikan.

Di dalam buku ini dijelaskan bahwa arts of reading merupakan the process whereby a mind, with nothing to operate on but the symbols of the readable matter, and with no help from outside. Karena itu ‘membaca’ mencakup sejumlah keterampilan tertentu agar operasi yang dimaksud dapat mengubah kondisi dari ‘kurang paham’ menjadi ‘lebih paham’.

Keterampilan tersebut bukanlah sesuatu yang secara otomatis diraih. Dari dua orang yang membaca buku yang sama belum tentu menghasilkan pemahaman yang setara. Seseorang yang membaca dengan lebih aktif atau mengoptimalkan seluruh keterampilan yang dibutuhkan dalam membaca akan menunjukkan hasil pembacaan yang lebih baik.

Level buku yang kita baca juga berpengaruh pada pembacaan kita. Ada buku yang level kognisinya setara dengan kita sehingga dengan membacanya takkan menambah pencerahan apapun kecuali sejumlah informasi. Namun ada buku yang level kognisinya lebih tinggi dari posisinya sehingga kita relatif kesulitan menjangkau maknanya sekaligus. Butuh waktu atau pengulangan dalam melakukannya. Akan tetapi, begitu kita memahaminya, level kita seturut dengan buku tersebut.

Selanjutnya, penulis menjelaskan tahapan-tahapan membaca dengan ciri masing-masing dan panduan teknis untuk memperbaiki kemampuan bacaan kita. Di bagian akhir bahkan ada semacam latihan-latihan bacaan untuk menguji kemampuan kita membaca teks.

Keterangan Buku:
Judul: How to Read a Book
Penulis: Mortimer Adler dan Charles Van Doren
Penerbit: Touchstone
Tahun Terbit: 1972 (edisi revisi)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s