“Living Fossil” di Lore Lindu

Jelasnya, “living fossil” bukanlah istilah ilmiah per se, tak ada kesepakatan khusus terkait definisi formalnya. Biasanya didefinisikan  sebagai makhluk kuno dengan parameter-parameter berikut: (1) belum punah, (2) belum menghasilkan secara langsung jenis-jenisnya yang baru (mengikuti perkembangan zaman, yakni pada level taksonomi lebih rendah), dan (3) relatif tidak berubah dalam kurun waktu sangat lama (hingga ribuan tahun). Istilah ini pada mulanya digunakan untuk merujuk species-species kuno yang mungkin hidup sezaman dengan dinosaurus tapi masih kita temukan hingga kini.

Akan tetapi, artikel ini tidak hendak membahas makhluk hidup sesuai kategori tersebut. Kita akan menggunakan istilah tersebut sebagai analogi untuk suatu kebudayaan berumur ribuan tahun, tanpa pembaruan, dan kontinu dilakukan turun-temurun. Kurang lebih memenuhi parameter yang disematkan pada istilah tersebut. Dari masa neolitikum hingga saat ini, budaya tersebut masih dapat kita temukan di Sulawesi Tengah, tepatnya di sekitar Taman Nasional Lore Lindu.

“Fosil hidup” tersebut adalah kain kulit kayu. Biasa disebut fuya, dibuat oleh penduduk setempat dari kulit kayu mulberry, juga pohon beringin, atau pohon lain dengan prosedur khusus (penempaan, hingga disebut juga dengan istilah beaten-bark) untuk menghasilkan serat untuk bahan sandang. 

Istilah fuya, atau kain tapa, atau daluang/ dluwang sama-sama merujuk pada kulit kayu yang diproses tersebut. Nama-nama yang berbeda tersebut hanya perbedaan istilah di berbagai tempat. Bila di Sulawesi dikenal sebagai fuya, di tanah Sunda lebih dikenal sebagai daluang. Namun di sepanjang Pulau Jawa kebanyakan tidak digunakan sebagai bahan sandang, tapi kertas untuk menulis. Bahkan Bahasa Jawa untuk kertas adalah druwang/dluwang. Di daerah Jawa Tengah daluang digunakan juga untuk membuat wayang beber. Kulit kayu yang digunakan juga khusus jenis paper mulberry/ pohon saeh. Tidak bermacam-macam seperti ditemukan di Sulawesi. Sementara kain tapa (kapa) adalah istilah lainnya yang masih merujuk hal yang sama namun digunakan luas di luar Indonesia.

Budaya ini memang tidak khas di Indonesia, tapi menyebar ke kawasan Pasifik, bahkan hingga ke Meksiko. Diperkirakan karena ia ikut menyebar seiring perjalanan migrasi ras austronesia dari kawasan Taiwan sekarang ke arah tenggara, dan melalui bagian Indonesia Timur (Sulawesi) dari jalur laut. Karena itu, bersama fuya juga ditemukan cara pembuatan dan alat yang mirip hingga hampir merata di kawasan Samudera Pasifik (Polinesia). Bahkan penyebutan alat pemukulnyapun sama, yakni batu ike. Sehingga bisa dibilang budaya ini justru menjadi salah satu faktor pemersatu suku-suku bangsa di kawasan Asia Pasifik. Antara lain ditemukan juga di TongaSamoa dan Fiji, juga Niue, Kepulauan CookFutuna, Kepulauan SolomonSelandia Baru, VanuatuPapua Nugini (khususnya di Provinsi Oro, sekitar Tufi) dan Hawaii (di sana kain tapa disebut kapa). Sementara di kawasan French Polynesia budaya ini hampir punah kecuali pada beberapa desa di  Marquesas

Gugus kepulauan Polinesia berbatasan dengan Mikronesia dan Melanesia. Foto: Wikipedia

Jalur migrasi nenek moyang bangsa austronesian dari wilayah Taiwan hingga menyebar ke Kawasan Polinesia. Foto: Wikipedia

Pembuatan Kain Tapa/Fuya

Friedrich Ratzel dalam The History of Mankind pada tahun 1896 menggambarkan pembuatan kain tapa yang dia temukan di Pasifik (tepatnya Tonga) sebagai berikut: 

“A circular cut is made with a shell in the bark above the root of the tree; the tree is broken off, and in a few days, when the stem is half-dry, the bark and bast are separated from it. The bast is then cleaned and macerated in water, after which it is beaten with the ribbed club on a wooden block. This beating enlivens a village in Tonga as threshing does in Europe. In half an hour the piece will have changed in shape from a strip almost to a square. The edges are snipped with shells, and a large number of the pieces are drawn separately over a semi-cylindrical wooden stamp, on which the pattern, worked in coco-fibre, is stretched and smeared with a fluid at once adhesive and colouring. On each a second and third layer is placed; and the piece, three layers thick, is coloured more strongly in the parts which are thrown into relief by the inequalities of the bed. Others are annexed to it both at the side and the end, until pieces a yard wide, and 20 to 25 yards long, are produced.

Di Indonesia pun prosesnya kurang lebih sama, tak heran harganya begitu mahal. Pembuatannya benar-benar menyita tenaga dan waktu (untuk memukul-mukul kulit kayu pertama kali harus dilakukan seharian nonstop karena kalau tidak kulit kayu akan mengering).

Batu Ike

Hal menarik lainnya adalah alat pembuatannya. Dikatakan bahwa alat yang sama digunakan sejak pertama kain kulit kayu dibuat dan penyebutannya sama di seluruh kawasan pembuat kain kulit kayu: batu ike. Sebuah balok batu berukuran rata-rata 7x4x2 cm berukiran horizontal atau vertikal dengan kerenggangan variatif di salah satu permukaannya dan lekukan seperlunya untuk mengaitkan rotan.

Beberapa batu ike koleksi Museum Provinsi Sulawesi Tengah. Foto: Gandung

Saat ini yang masih menggunakan batu ike untuk membuat kain kulit kayu hanyalah para sesepuh di Lembah Bada. Di tempat lain banyak yang sudah menggantinya dengan pemukul kayu. Karena itulah budaya yang masih ada di Indonesia ini menjadi unik. Teknologi yang digunakan dalam budaya tersebut minimal sudah bertahan selama tiga ribu tahun.

“Di tempat lain, tradisi ini hilang, tetapi di Sulawesi Tengah, khususnya di Lembah Bada, orang masih bertahan membuat kain kulit kayu menggunakan batu ike secara kontinu dan orisinal”

Sakamoto Isamu

Lembah Bada 

Lembah Bada yang terletak di Kabupaten Poso, Sulteng, merupakan bagian dari Taman Nasional Lore Lindu. Di kawasan ini juga terdapat situs megalit yang belum diketahui keterangan pastinya. Ternyata pesonanya bukan hanya pada situs-situs bisu tersebut. Namun masih ada yang tersisa hingga kini dan hidup bersama keseharian masyarakat setempat.

Seorang ‘uma’ mempertunjukkan proses pembuatan fuya. Foto: Jejakwisata.com

Para pengrajin kain kulit kayu di Lembah Bada biasanya perempuan dan rata-rata sudah berusia lanjut. Salah satunya adalah uma (panggilan ibu dalam dialek Sulawesi Tengah) yang memperlihatkan cara pembuatan kain kulit kayu pada sebuah pameran di Museum Tekstil, Jakarta. Di desanya, ia biasanya menguliti pohon dibantu oleh keponakan lelakinya pada bulan-bulan muda (awal bulan). Sebagian karyanya digunakan untuk tradisi, sebagian lagi untuk masyarakat lokal, tapi lebih banyak lagi kolektor luar negeri yang khusus datang membeli lembaran fuya, maupun yang sudah berbentuk baju jadi darinya. 

Meski berusia tua, teknologi sederhana ini sudah terbukti sanggup menantang waktu. Salah satu naskah tertua dengan kertas kulit kayu yang ditemukan di Jepang diperkirakan dibuat 1300 tahun lalu. Justru proses ‘primitif’ itulah yang membuatnya bertahan. Proses mekanik dalam pembuatan kertas, tanpa pembuburan dan penambahan zat kimia lain membuatnya acid-free sehingga tidak mudah melapuk padahal ia merupakan bahan organik. Namun tentu saja umur sepanjang itu diraih dengan perawatan memadai. Sebagai bahan organik, ia masih rentan penjamuran, dll. sehingga harus dijaga agar tidak lembab atau terkena air.

Keterangan:
1. Masa Neolitikum dalam catatan budaya manusia berlangsung kira-kira pada 10.000 tahun lalu, bermula dari wilayah Timur Tengah lalu meluas pada bagian-bagian lain di dunia. Ciri-ciri zaman ini antara lain: dimulainya bercocok tanam, beternak, pengembangan kriya seperti tembikar, serta perkakas batu halus. Zaman ini dinyatakan berakhir di setiap wilayah ketika terdapat penanda munculnya kriya logam, budaya tulis, serta perkembangan lain menuju peradaban urban.
2. Polinesia adalah gugus kepulauan yang tersebar di Samudera Pasifik Tengah dan Selatan. Wilayahnya berbatasan dengan Mikronesia dan Melanesia. Meliputi beberapa dependensi (negara bagian) Inggris dan Amerika Serikat, serta sejumlah negara independen.
3. Austronesia (bahasa latin ‘austro’ artinya selatan dan bahasa Yunani ‘nesia” kepulauan) mengacu pada bangsa penutur bahasa-bahasa austronesia mencakup Pulau Formosa, Kepulauan Nusantara, Mikronesia, Melanesia, Polinesia, dan Pulau Madagaskar. Beberapa peneliti linguistik menyatakan pada mulanya bangsa Austronesia bermukim di Taiwan.


Sumber Bacaan:
Science Dictionary, The American Heritage
Wikipedia





 

Advertisements

One thought on ““Living Fossil” di Lore Lindu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s