Berakhir Pekan dengan Daluang di Pesona Jogja

Apa itu daluang?

Aku baru pertama kali mendengarnya saat mendapat informasi akan dilaksanakan workshop kriya membuat clutch dari daluang.  Pada poster tercantum bahwa acara diselenggarakan oleh Kriya Indonesia bekerjasama dengan Brother Indonesia. Adapun materinya disampaikan oleh Astri Damayanti (Kriya Indonesia), Tanti Amelia (Neng Doodle), serta seorang berkebangsaan Jepang Sakamoto Isamu dengan keterangan sebagai ahli daluang.

Akupun segera mencari tahu tentang daluang tapi tak banyak referensi ilmiah yang tersedia secara online. Hanya ada sejumlah berita, secara umum kuketahui bahwa daluang merupakan kertas dari kulit kayu yang dibuat secara tradisional secara mekanik tanpa proses kimiawi. Kurang lebih seperti yang dapat dibaca di sini.

Berbekal sedikit informasi itu akupun mendaftarkan diri dan syukurlah masih ada seat kosong. Pada hari-h, aku berangkat dengan seorang teman menuju Pesona Jogja Homestay. Agak sulit dijangkau karena posisinya masuk jalan kecil dan gang, tapi cukup asri. Terasa seperti cluster perumahan yang nyaman. Seperti tag mereka your shooting home in Jogja.

Kami datang lebih awal karena memperhitungkan waktu untuk mencari lokasi dulu. Untungnya di tempat sudah siap dan tersedia: kopi! Great! 

Stand coffee break sudah siap menyambut. Bahkan tak perlu menunggu waktu break. Sembari menunggu acara mulai sudah dapat ngopi-ngopi dulu. Foto: Dokumentasi Pribadi
Mas-mas dari Brother Indonesia menyiapkan mesin jahit GS 2700 yang akan digunakan untuk workshop. Foto: Dokumentasi Pribadi

Acara dibuka oleh Mbak Astri yang ternyata adalah Duta Kain Kulit Kayu dengan memperkenalkan Tim Kriya Indonesia dan Prof. Sakamoto. Mbak Astri mengenalkan nama-nama timnya, juga ada Mbak Tanti, doodler yang sudah berpengalaman bertahun-tahun dan juga merupakan co-founder  Kriya Indonesia.

Tiba giliran Prof. Sakamoto (dalam tulisan ini kadang beliau kusebut ‘Sensei’ ya), beliau sudah pensiun dari kampus dan mengisi hari-harinya kini mempopulerkan kembali kain kulit kayu, terutama di kalangan masyarakat Indonesia sendiri. Karena menurut beliau budaya membuat kulit kayu yang sudah sangat panjang ini bisa disebut fosil hidup (living fossil). Beliau berharap budaya pembuatan dan penggunaan kain kulit kayu kembali hidup dan marak. Karena tertarik dengan istilah ini aku kemudian menulis tentang Living Fossil di Lore Lindu’ khusus untuk menceritakan hal ini.

Agenda hari ini adalah membuat clutch dari daluang, lalu akan dihias dengan doodle  pada bagian lembaran daluangnya. Jadi ada dua tahapan proses dalam workshopnya.

Prof. Sakamoto yang menggunakan jaket dari daluang menjelaskan tentang serba-serbi kain kulit kayu dan sesekali Mbak Astri menjelaskan pada audiens. Foto: Dokumentasi Pribadi

Tak lama setelah pembukaan, bahan-bahan pun dibagikan. Kami mendapatkan:

  • kain polos berwarna biru (karena sponsornya Brother kan, hihi),
  • busa ati,
  • kain pelapis trikot,
  • lembaran daluang, dan
  • sepasang fastener magnet.

Semuanya  bahan kain telah dipotong sesuai pola.

Bahan-bahan clutch. Lembaran daluang terletak paling atas. Foto: Rizqi

Karena keterbatasan tempat, dan untuk mengefektifkan waktu juga, peserta dibagi menjadi dua kelompok. Satu kelompok–aku termasuk di dalamnya– mengerjakan proses jahit clutch dulu, baru menggambar. Satu kelompok lagi bekerja dengan urutan sebaliknya: menggambar dulu baru menjahit. Setelah kelompok dua keluar menuju tempat menggambar, kami, kelompok satu, langsung mengambil tempat di depan mesin jahit. Kami sangat antusias mencoba mesin jahit baru ini. Karena meski Brother termasuk brand lama (konon neneknya Sensei juga menggunakan mesin jahit merk Brother), tapi untuk wilayah Jogja masih belum populer penggunaannya.

Mesin jahit Brother GS 2700 yang digunalan dalam workshop, tampilannya kokoh. Foto: Dokumentasi Pribadi

Akupun menjahit, dan sesekali bertanya pada Mbak Astri, karena meski proyeknya mudah, prosedurnya sedikit berbeda dengan yang biasa aku kerjakan (aku biasa menggunakan kain lining di dalam karya-karya tas, pouch, dll. Sementara kali ini hanya menggunakan pelapis trikot yang langsung disetrika pada busa ati untuk melapisnya. Tekniknya lumayan praktis dan mudah. Setelah busa ati dilapisi kain (dijahit tepinya), dilapisi trikot (disetrika) lalu daluangnya dijahit, tinggal dibentuk menjadi clutch seperti melipat amplop saja, lalu jahit. Terima kasih Mbak Astri, jadi dapat ilmu baru nih.

Menjahit dengan GS 2700, suaranya halus… Foto: Dokumentasi Pribadi

Oh ya, sedikit tentang mesin jahitnya. GS 2700 ini sudah menggunakan bobbin atas, sehingga awalnya aku kesulitan memasang benangnya namun ternyata cukup mudah setelah tahu jalurnya. Selain itu ada 27 jenis jahitan yang dapat dipilih untuk membuat dekorasi yang menarik.

Ini hasilnya. Clutch daluang instan (karena bahan-bahan sudah disiapkan sesuai pola, mesin jahit sudah disetel sesuai kebutuhan. Tinggal injak pedal, wush… Jadilah. Foto: Dokumentasi Pribadi

Pada workshop ini aku menggunakan pola bordir untuk sambungan kain biru pada daluang, dan double zigzag pada tepi flap (penutup) clutch-nya. Tidak butuh waktu lama, pekerjaanku sudah selesai. Jadi aku bisa keluyuran, mengobrol sedikit dengan Prof.Sakamoto sambil sesekali membantu teman satu grup yang belum selesai.

Aku awalnya bertanya pada beliau apakah nama keluarga beliau Sakamoto, karena mengingatkanku pada tokoh prarestorasi Meiji, Sakamoto Ryoma, hihi. Kemudian beliau menuliskan namanya beserta kanjinya. Yosh, harus lebih semangat lagi belajar Bahasa Jepang. Kukatakan juga padanya bahwa aku baru menguasai kana, tapi kanji-ku masih minim. Lalu minta bantuan Mas Jun dari Kriya Indonesia untuk foto-foto deh. Sempat take beberapa kali karena keliru malah rekam video. Jadinya fotonya sedikit kocak.

Aku berfoto bersama Prof Sakamoto di dalam ruangan workshop. Beliau menggunakan jaket berbahan daluang lho (bagian coklat muda) sementara bagian lengannya yang merah berbahan tenun cirebon. Di balik jaketnya beliau menggunakan t-shirt bergambar alat pukul pembuat kain kulit kayu: batu ike. Foto: Jun

Nah, setelah menyelesaikan jahitan, kelompok satu bertukar tempat dengan kelompok dua untuk melanjutkan pekerjaan masing-masing. Sayangnya di kelas doodling Mbak Tanti baterai ponselku habis dan aku tak dapat mendokumentasikan acara, kecuali nebeng foto dengan teman-teman.

Foto dari Mbak Lusi, diambil setelah segmen doodling.

Mbak Tanti mulanya menjelaskan sejarah dan jenis-jenis doodle. Juga bagaimana doodle berperan sebagai sarana relaksasi. Karena itu, doodle sering dipakai dalam berbagai terapi psikologis dan dikembangkan juga dalam kurikulum pendidikan usia dini untuk memberi ruang berekspresi bebas bagi anak. Vahkan kondisi psikologis dan kecenderungan karakter kita bisa diintip lewat goresan doodling yang kita buat.

Lalu beliau menantang kami menggambar bebas. Apapun, asal jangan dua gunung, katanya. Kamipun tergelak. Kami dipersilakan memilih warna dari tumpukan marker Stabillo yang sudah disiapkan di tengah-tengah ruangan. Karena aku tak bisa memotret berikut ini gambarku yang kupotret setelah tiba di rumah.

Siang-siang diminta gambar. Coret-coret jadilah rumah. Sudah ingin pulang rupanya 😅 Foto: Dokumentasi Pribadi
Jogja in the Future! Seperti kota jelly, ya?! :mrgreen: Foto: Dokumentasi Pribadi

Untuk latihan doodling di atas daluangnya sendiri, Mbak Tanti memberi tema Jogja in the Future dan memberi inspirasi awal form yang bisa digunakan. Selanjutnya menggambar bebas…!

Karena sudah semakin siang dan waktunya tidak memadai, kelompok kami dibebaskan untuk menggambari daluangnya atau tidak. Aku memilih tidak menggambarinya. Bukan apa-apa, ini lembar daluang pertamaku dan sayang sekali bila kurusak dengan gambarku yang, begitulah… Hehe.

(ki-ka) Mbak Tanti, Nuri, dan aku berfoto di depan karya doodling Mbak Tanti untuk Pesona Jogja Homestay. Foto: Koleksi Nuri

Acarapun ditutup dengan makan siang dengan hidangan yang disiapkan Pesona Jogja Homestay. Wah, aku berterima kasih sekali pada penyelenggara dan para sponsor. Gratis loh acara ini. Aku mendapatkan informasi dan kontak luar biasa dalam kesempatan ini. Ternyata masih ada saja kekayaan bangsa sendiri yang luput dari perhatian. Padahal eksistensinya menembus milenium.

Peserta berfoto bersama karya masing-masing dengan latar belakang Pesona Jogja Homestay yang asri. Tampak Mbak Astri di sampingku, Mbak Tanti, juga ada Mbak Maya, marketing Brother Indonesia. Foto: Rizqi
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s