Terres des Homes

Badai, kabut, salju terkadang akan membuatmu jengkel. Waktu itu, kau harus ingat pada semua orang yang telah mengalami yang serupa juga sebelum kau, dan harus berkata pada diri sendiri: APA YANG TELAH DIATASI ORANG LAIN, KAUPUN HARUS SELALU DAPAT MENGATASINYA.

(Guillaumet)

Dalam bukunya ini, Saint Exupèry menceritakan kehidupan dalam pekerjaan yang senantiasa membawanya ‘jauh dari rumah’. Keterasingan yang ia rasakan bukan semata keberjarakan dari ranjang yang nyaman, kursi duduk atau cangkir kopi dari dapur sendiri, tapi terbentang lebih jauh dari itu: berjarak dari hamparan tanah itu sendiri.

Pekerjaan sebagai pilot bahkan tetap beresiko tinggi saat ini. Terlebih waktu itu, sebagai anggota korps penerbang perintis di awal abad XX, ia menerbangkan pesawatnya jauh dari kecanggihan teknologi yang akrab dengan kita kini. Mesin pesawatnya bisa saja mogok tiba-tiba; tidak bisa berkomunikasi dengan stasiun radio; terancam angin, badai, bahkan cadas pegunungan yang menganga di bawah gumpalan lembut awan-awan putih yang serupa kapas. Dengan pesawat model kabin terbuka,ia bahkan harus mencondongkan badan ke depan agar dapat melihat lebih jelas dengan angin yang menderu-deru di telinga dan menyapu punggungnya.

Puluhan, ratusan jam, bahkan lebih lama lagi pengalaman di udara, akan terasa berbeda di mata penerbang dan penumpang biasa. Demikianlah, katanya, keharusan-keharusan yang dibebankan pada suatu profesi, mengubah dan memperkaya dunia di mata yang bersangkutan. Hal-hal yang luput dari mata ‘orang biasa’ atau semata menerbitkan ‘rasa takut/ngeri’ atau takjub, dimaknai lebih dalam lagi oleh orang yang menggelutinya dengan akrab.
Buku ini terbagi dalam sembilan bab. Setiapnya, mengangkat sebuah topik perenungan, semacam simpul dari untaian pikiran yang membentang sepanjang ribuan mil dari titik lepas landas hingga pendaratan dalam jalur-jalur penerbangan. Dalam ‘persahabatan’ misalnya, ia mengenang Mermoz, seorang pilot pionir yang membuka sekian jalur penerbangan menuju Amerika dan Afrika. Sama-sama menghadapi medan sulit, dalam pertemuan-pertemuan langka di tempat persinggahan kadang mereka dapat berbagi kabar dan mengikat diri pada kenangan-kenangan lama. Selagi masih bisa. Begitu juga dengan Mermoz. Kesempatan itu berakhir kala tiba berita yang muncul adalah titik peristirahatan terakhir kawan-kawan yang kembali bertaruh dengan maut di udara selepas sesaat duduk bersama. Mermoz tak pernah kembali setelah terakhir kali melayang di atas Atlantik Selatan, pada tahun keduabelasnya dalam pekerjaan ini. Tak ada yang dapat menggantikan teman yang hilang, sambungnya. Karena kita tidak menciptakan sendiri teman-teman itu. Tak ada yang lebih berharga dari sekian banyaknya kenangan yang dapat dibagi bersama, begitu banyak perselihan, perdamaian, dan perubahan emosi. Kita tidak membentuk sendiri persahabatan seperti itu. Sia-sia belaka, jika kita menanam pohon beringin dan berharap segera dapat berlindung di bawah rimbun dedaunannya.

Versi terjemahan yang kubaca ini lumayan baik, meski kadang terasa ada beberapa ekspresi yang agak kaku, namun pada titik itu akupun tak dapat menawarkan alternatif yang lebih baik. Maklum, bahasa aslinya saja tidak paham, hehe. Tapi, upayanya cukup baik, ‘rasanya’ atau dzauq-nya masih bisa tersampaikan. Suasana penceritaannya masih terasa mirip dengan gaya de Saint Exupèry dalam Le Petit Prince.

Keterangan Buku:

Judul: Bumi Manusia (asli: Terres des Homes)
Penulis: Anthony de Saint Exupèry
Penerjemah: Ida Sundari Hosen (dari edisi Gallimard, 1939)
Penerbit:Gramedia, Jakarta
Tahun Terbit: 2011

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s