Melepaskan Pola Pikir Polar dan Spektrum

Langsung saja ya. Dalam beragama, misalnya kita sering diposisikan untuk “memilih” atau dikotak-kotakkan pada dua ekstrim: moderat atau fundamentalis? Tradisionalis atau progresif? Kanan atau kiri? Atau yang lebih bermurah hati membuat barisan lebih panjang, bukan pengkutuban tapi suatu spektrum dari panjang gelombang taqwa tertinggi hingga terendah (seolah-olah bisa diukur), dari muslim militan, muslim taat, muslim biasa, hingga muslim KTP.

Apa sih gunanya kategorisasi macam itu? Apa guna pertanyaan ku NU atau Mu? Apa relevansi kamu ngaji di mana dengan misalnya, akhlaqnya (ya, ada sih sebetulnya, tapi ga mesti juga, ujung-ujungnya stereotyping).

Hal yang lucu sekaligus membingungkan adalah ketika kantung-kantung massa umat islam yang biasa saling menuding satu sama lain karena kurang nyunnah, atau terlalu ekstrim, atau kompromis, dll ternyata bisa bergabung dalam satu barisan yang teriakannya sama: hukum penista! (Tapi kuyakin samanya hanya sampai di situ. Masing-masing ditanya persepsinya tentang hukum saja mesti sudah berlainan suara lagi.) Ya, untuk berderap langkah menyambut propaganda itu tak perlu satu motif. Perkumpulan menjadi ‘satu umat’ itu jelas menimbulkan euforia. Bahkan ada kalangan yang ikut turun ke jalan dengan alasan ‘kapan lagi merasakan kebersamaan penuh damai di tengah gema takbir?’ Dia lupa atau tak paham kalau tulus ikhlas saja belum tentu memenuhi syarat amal yang baik.

Saking banyaknya yang tergabung dalam kekaburan peta gerakan islam itu, yang bergeming kena tuduh outsider. Menolak turut berarti mendukung pimpinan kafir katanya. Walah padahal yang merasa punya pimpinan juga siapa. Atau minimal tak punya ghirah a.k.a. pengecut. Diam saja menghadapi kemungkaran. Hmmm, mereka tak peduli manfaat menghindari buang-buang energi, buang-buang duit. Oke, siapa sih saya berhak menilai. Wallahu a’lam segala perjuangan dan pengorbanan yang keluar akan diberi imbalan apa oleh Allah. Kecintaan yang tulus terhadap agamaNya takkan tak bernilai. Tapi lagi-lagi ketulusan tanpa dibarengi pikiran rasional tentang prioritas aksi apalagi ditambah polutan rasisme atau kesumat keyakinan (masih tulus atau nggak, ya? –) jadinya ngawur. Bukan cuma tak produktif bahkan bisa berbahaya.

Sementara pihak pembela si terdakwa penista kegeeran juga seolah mendapat pendukung. Pada titik ini mereka jadi tipikal yang sama dengan kubu seberangnya. Tatapan mata hanya ke kubu lawan dan tak sadar atau tak mau terima ada pihak ketiga,keempat, siapapun yang tak mau ikut permainan-kekuasaan-menyeret-sentimen-sara derivasi pertarungan para oligark yang tidak kelihatan.
Bahkan hingga terakhir ada kabar salah satu yang kupandang sebagai guru (karena belum pernah diangkat sebagai murid meski banyak pelajaran diambil dari beliau) ikut terseret ekor kisruh ini, aku jadinya sulit bersikap. Beliau terjebak. Tapi aku juga tak ingin serta merta mengusung yel-yel “pihak sana” yang memandang beliau hanya sebagai salah satu peluru. Aku tak ingin tiba-tiba terjun dan akhirnya mengubu. Allah, padaMu saja kuadukan beban ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s