Ryoma

Pertama mendengar namanya justru dari drama. Tapi berhubung malas rasanya nonton puluhan episode yang masing-masing berdurasi sejam, kucari bahan lain yang lebih ‘ramah’: buku. Ternyata ada memang yang menulis tentang legenda Jepang di sekitar Restorasi Meiji ini hanya saja cukup sulit untuk mendapatkannya. Pernah lihat karya penulis yang sama di salah satu toko buku impor , tapi judul ini tak ada. Bahkan di internetpun sulit sampai aku nyasar ke Bakumatsu.ru. Kutemukan copy naskah Ryoma: Life of a Renaissance Samurai ini di sana.

Kisah hidup Sakamoto Ryoma di buku ini ditulis ala novel alih-alih buku sejarah. Dimulai dari pengantar singkat masa kecilnya di Tosa, dia sering menjadi korban bullying kawan-kawannya. Dianggap a crybaby who always wetting his pants, ayahnya sampai nyaris putus asa dengan masa depan putra bungsunya itu, padahal harapannya begitu tinggi dengan memberi nama ryoma, dari karakter ‘ryo’ yang berarti ‘naga’.

Sebagai samurai dari kasta rendah, iapun tak cemerlang dalam keilmuan. Tapi akhirnya menemukan jati diri samurainya dalam dunia pedang. Tak cukup di situ, Ryoma memiliki suatu kekuatan yang mungkin sulit dikenali pada zamannya. Ia seorang visioner dan aktivator. Dia bukan tipe pemikir yang bergulat dengan analisis teori atau petugas lapangan yang memobilisasi massa. Ia sendiri, tanpa pengikut yang setia menyertai setiap langkahnya. Tetapi dia cepat mengolah ide-ide brilian yang ia pelajari dari tokoh pergerakan dari berbagai han. Mampu melihat simpul besar permasalahan dan taktis. Juga memiliki integritas dan kredibilitas untuk menjadi penghubung tokoh-tokoh kunci: para pemegang kuasa yang dapat mewujudkan idealismenya.

Ryoma bukanlah anak muda–aktivis, kalau kita sebut di zaman ini– pengejar martir meski ua mati dibunuh orang-orang yang tidak menyukai apa yang dilakukannya untuk Jepang. Dia begitu menghargai hidup dan membenci seppuku. Dia menyayangkan sejumlah kawan (yang berdiri di pihaknya maupun berlawanan dengannya) yang mengakhiri hidup dengan seppuku demi harga diri samurai. Sulit dipercaya seseorang yang ahli menggunakan pedang dan mastet satu aliran kenjutsu Hitoshi Itto Ryuu dapat kalah terbunuh oleh sekelompok samurai tak dikenal. Mengutip penutup dari Hillsborough dalam bukunya: “Indeed, the Dragon was too occupied with life to worry about death. Perhaps this was why he refused to heed the warnings of friends- and even erstwhile enemies—of the danger to his life. Perhaps this was why he never replaced the pistol he had left in Kochi. Perhaps this was why he moved from his hideout behind the shop of the soy dealer to the more accessible main house. And perhaps this was why the expert swordsman hadn’ t kept his sword within arm s reach when he was well aware that he was being hunted. But most of all. perhaps this was the price Ryoma was destined to pay for having achieved his lifelong goal of freedom.”

Keterangan Buku:

Judul: Ryoma, Life of a Renaissance Samurai
Penulis: Romulus Hillsborough
Penerbit: Ridgeback Press
Tahun Terbit: 1999

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s