Ema

Sembari duduk menyamping di dipan dapur yang terletak menghadap tungku batu, ia begitu fokus menguleni adonan. Sesekali dituangkannya air perlahan sembari terus mengaduknya hingga mencapai konsistensi yang diinginkan. Airnya segimana, Ma?, tanyaku penasaran. Ia jawab, “Secukupnya aja we, sampe pas.” Aku masih SD waktu itu, masih sering bermain ke ‘kulon’, karena rumah Ema-nenekku dari pihak ibu-terletak di barat rumah. Pemandangan ema membuat kue di dapurnya meski menjadi biasa tapi tetap memicu penasaran. Perkaranya tadi, dalam menakar, tak digunakannya ukuran metrik maupun imperial, hanya berdasarkan perasaan, intuitif, tapi hasilnya memiliki rasa konsisten. Besot, talam asin, talam manis, kue mangkok, kue ali favorit sepupuku, dan entah apalagi. Favoritku dari kue-kue buatan ema adalah talam asin. Kue kecil putih dari tepung beras, berbentuk mangkuk, gurih dengan taburan bawang goreng dan irisan seledri di atasnya. Enak. Cantik.

Ohya, kue-kue buatan ema selalu cantik. Besot atau kerupuk tepung beras berbentuk bunga itu bagus hasilnya, ketebalannya merata, ukurannya seragam, padahal dibuat tanpa cetakan. Handmade 100 %. Adonan dipulung, dipilin, dipipihkan, dibentuk seperti mawar. (Jangan suruh aku mempraktikannya, bukan keterampilanku.) Lalu adonan berbentuk mawar itu dikukus. Setelah matang lantas dijemur, berderet-deret di atas tapis kotak-kotak dari bambu. Selanjutnya menunggu kering, barulah digoreng. Aku masih bisa melihat besot emak pada foto lama adikku yang sedang melahapnya dengan gigi ompongnya, hihi.

Belakangan, waktu menggilas semuanya. Rumah ema berubah, ema pun menua dan tak lagi bertenaga cukup untuk melakukan seluruh prosesi pembuatan kue yang menyita waktu dan tenaga itu. Setiap aku pulang, ema membuatkanku jajanan yang lebih mudah dibuat: teci. Kemungkinan sih singkatan dari sate aci, namun di rumah selalu disajikan dalam potongan besar dan disendoki seperti makan jeli tapi berbumbu kacang alih-alih ditusuk seperti sate.

Waktu berlalu lagi hingga Ema sudah tak lagi beraktivitas di dapur. Mulai sering lupa hingga meninggalkan panci-panci gosong, terpaksa sambungan gas pun dicabut saat pada saat-saat tertentu Ema sendirian di rumah. Juga tubuhnya kian melemah dalam beraktivitas fisik. Kegemarannya bersilaturahmi dan menjalin ukhuwah dengan kerabat terhenti. Sekadar mampu berjalan ke kamar kecil, yang belakangan semakin sering pula. Shalat idul adha tahun lalu terpaksa dilewatkannya, karena kondisi itu. Lalu ema jatuh.

Kondisinya menurun terus semenjak itu. Berbulan-bulan aku tak sempat pulang. Hanya bertukar pesan yang sangat jarang dengan ibuku. Lalu suatu hari datang paket pos: berisi tepung sagu/aci kawung. Bahan untuk membuat teci ini seolah penegas bahwa tak ada lagi penganan buatan ema itu yang akan menyambutku pulang kelak. Akupun bergegas. Harus pulang.

Beruntung aku dapat jumpa meski kondisi ema sedemikian rupa memeras iba. Tubuh kecil yang cekatan itu terbaring ringkih menyisakan tulang berbalut kulit. Meski ema masih meminta kacang goreng, rujak, nasi goreng, yang sanggup ia makan hanya bubur encer. Terlalu kental sedikit dapat membuatnya tersedak. “Ema hayang cageur”, katanya suatu hari pada ibu. Kubayangkan betapa beratnya terbaring tak berdaya seperti itu untuk orang yang nyaris tak berhenti bekerja sepanjang hidupnya. Semoga ema cepat sembuh, bisikku setiap menjenguknya. Akupun pamit dari balik pintu karena ema tertidur saat aku sudah harus mengejar keretaku.

Seminggu kemudian. Kuterima kabar. Ema berpulang. Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’uun.

(Mengenang Eha binti Ukik Kartasasmita, 1932-2017)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s