Siapakah Kaum Tak Beriman Itu? (1/8)

 

Diterjemahkan dari Who Are the Disbelievers?”  (Hamza Yusuf) oleh Rira Nurmaida

Terjemahan ini merupakan rangkaian dari delapan bagian pembahasan 
dalam makalah asli oleh Syaikh Hamza Yusuf yang dimuat 
pada Jurnal' Season' terbitan Zaytuna Tahun 2008.

1/8 Pembukaan

2/8 Tipe-tipe Kekufuran yang Disebut dalam al-Qur’an

3/8 Kategori Kekufuran Menurut Ibn Qayyim al-Jawziyyah

4/8 Syarat-syarat Penentuan Kekufuran Seseorang

5/8 Posisi Kekafiran dan Konsekuensinya

6/8 Siapa yang Ditakdirkan Masuk Neraka

7/8 Relasi Muslim dengan Orang yang Berbeda Keyakinan

8/8 Catatan Tambahan

Bagian 1/8

Kufur dapat dimaknai sebagai ketidakpercayaan atau pengingkaran, tiadanya rasa syukur, atau penolakan arogan terhadap kebenaran. Istilah ini memiliki banyak nuansa makna sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an dan sunnah. Al-Qur’an menyebutkan bahwa ketika seseorang terusik oleh suatu kebenaran, ia akan mulai berpikir (fakkara)  dan menentukan (qaddara)  pendekatan terbaik untuk menjustifikasi penolakannya terhadap kebenaran tersebut. Melihat hal tersebut, nampak bahwa kekafiran berelasi dengan kecerdasan. Aristoteles mendefinisikan intelegensi sebagai sarana di antara kebodohan (jahl)  dengan kecerdasan atau keterampilan. Pengingkaran (kufr) merupakan respon terhadap kebenaran yang disertai aktivitas menutupi kebenaran. Secara semantik, kufur berasal dari kata kafara yang artinya menutupi atau menyelubungi. Salah satu istilah untuk ‘petani’ dalam Bahasa Arab adalah ‘kaafir’  karena petani menyelubungi benih dengan tanah. Kufur juga dimaknai ‘menyembunyikan’ , seperti dalam istilah ‘  kufur nikmat’ (menyembunyikan anugerah yang dikaruniakan padanya). Kufur di dalam al-Qur’an digunakan sebagai antonim bagi iman—dan kafir bertolak belakang dengan mukmin (orang yang beriman)—sebagai salah satu dari dua kemungkinan respon terhadap ayat-ayat ilahiyah. Selain itu, ‘kufur’ juga digunakan sebagai lawan kata ‘syukur’

Istilah kufur memiliki beberapa definisi (hadd/batasan) berbeda. Ibn Furak mendefinisikannya sebagai “Kejahilan terhadap Tuhan, terkait sifat-sifat-Nya. Pengingkaran serta penolakan terhadap semua itu, dipahami sebagai bagian dari kejahilan tersebut.”[1] Definisi ini berimplikasi bahwa seseorang yang mengingkari Tuhan atau menyekutukan-Nya dengan sesuatu yang lain, telah bertindak ‘jahil’ terhadap-Nya. Lantas hal tersebut membawanya untuk menolak kebenaran dari Tuhan. Ibn Furak mengutip Abu al-Hasan al-Asy’ari, dari Abu Husain as-Salibi, berkata: “Kufur adalah kejahilan (ignorance) terhadap Tuhan, dan salah satu cirinya adalah beroposisi dengan pengetahuan tentang Tuhan. Tempatnya adalah di dalam hati dan berada dalam aspek pemahaman, bukan amal perbuatan. Lebih lagi, kejahilan terhadap Tuhan adalah kebencian terhadap Tuhan dan bersikap angkuh terhadap-Nya, mengolok-olok, serta menolak-Nya.”[2]

Abu al-Baqa mendefinisikan kufur sebagai “sebuah sistem keyakinan yang belawanan dengan Hukum Syari’ah Muhammad (Sacred Laws) yang tidak diragukan lagi kebenarannya. Ia menjelaskan lebih lanjut lagi:

Manusia terbagi ke dalam dua kelompok besar: Satu merupakan kelompok yang menerima Muhammad SAW dan mereka disebut orang beriman (mukmin), satunya lagi adalah mereka yang menolak (kafir). Dari sudut pandang ini orang-orang kafir membentuk suatu kelompok besar meski sebenarnya terdiri dari banyak komponen yang beragam. Seperti halnya sekte-sekte dalam tubuh mukmin sendiri (yakni adanya berbagai kelompok berbeda di dalam agama Islam). Kufur dapat termanifestasi dalam kata-kata maupun perbuatan. Kata-kata yang dianggap masuk dalam kekafiran adalah penolakan atas sesuatu yang telah disepakati dalam konsensus di kalangan  Muslim. Terlepas apakah berawal dari keyakinan, perlawanan, atau olok-olokan. Sementara perbuatan yang dihukumi kafir merupakan sesuatu yang dilakukan dengan sengaja dan menunjukkan indikasi meremehkan agama dengan jelas, seperti bersujud di depan berhala, atau melempar al-Qur’an ke tempat sampah.[3]

Definisi tersebut senada dengan pemahaman kebanyakan muslim modern terhadap istilah ‘kafir’. Simplistik, hitam-putih, dan berasumsi bahwa semua orang telah mendengar pesan-pesan muhammad SAW, telah memikirkannya, dan akhirnya mengambil keputusan final mengenainya. Adapun secara hukum, kufur bermakna, “ Penolakan terhadap apa-apa yang diketahui wajib dalam agamanya Muhammad SAW. Yakni (kufur adalah) menolak eksistensi pencipta atau misi kenabian Muhammad SAW, atau menolak hukum zina atau perkara besar lain yang setara levelnya di hadapan hukum Islam. Definisi ini, yang diterima oleh empat madzhab fiqih, menegaskan bahwa kufur merupakan penolakan atas sejumlah bagian penting dalam Islam yang telah diketahui siapapun yang familiar dengan Islam. Logikanya, jika menolak sebagian saja sudah kufur, maka menolak keseluruhannya adalah kufur secara a priori. Untuk alasan ini, muslim tradisional memandang nonmuslim sebagai kafir, karena mereka tidak termasuk ke dalam umat islam.

Status hukum kekafiran penting untuk dipastikan karena seorang kafir tidak mewarisi harta dari muslim, dan begitu juga sebaliknya.[4]Apalagi seorang kafir tidak dimakamkan sebagaimana prosesi penyelenggaraan jenazah muslim. Lebih jauh lagi, klaim kekafiran terhadap seseorang berarti menurunkan derajatnya hingga pantas memperoleh balasan pedih dalam kehidupan akhiratnya. Luar biasa beratnya penghakiman sedemikian itu sehingga ada larangan untuk mengatakan seseorang bakal masuk neraka kecuali ada ayat al-Qur’an atau hadits mutawatir yang mengindikasikan hal tersebut.[5]Implikasi dari larangan ini adalah, seseorang tak dapat menilai kondisi internal seseorang terkait relasinya dengan Tuhan, tapi hanya dapat melihat sisi luar yang tampak, aspek lahiriahnya saja ketika ia berinteraksi dengan manusia. Al-Qur’an menyatakan hal ini dalam pernyataan yang tidak mengandung ambiguitas, seperti disebut dalam Q.S. 6:57. Implikasi ini tak boleh hilang dari benak muslim. Nabi Muhammad SAW bersabda: “ Aku diperintahkan untuk menghakimi dari apa yang nampak dan pada Tuhan sajalah aku menyerahkan (perkara menghakimi) kenyataan batiniahnya”. Dengan demikian, secara lahiriah, seseorang dapat saja menarik hukum tentang kekafiran, tapi tetap hanya Tuhan saja yang menentukan tujuan akhirnya di akhirat.

Merujuk pada al-Qur’an, kufur adalah penolakan terhadap ayat-ayat ilahiah dan disertai beberapa hal lain, seperti takabur, suka memperolok (istihza),  mendustakan (takdzib),  tidak bersyukur (kufran), kejam (qasawah), fanatisme (hammiyah), kesembronoan dan kebodohan (jahl), pengagungan diri/megalomania (fakhr), kasar (batar),  dan hasad. Banyak dari karakteristik ini dapat kita temukan pada sosok muslim, dan mungkin tak hadir pada nonmuslim. Ada sejumlah orang yang tidak menyebut dirinya muslim, tetapi mereka berpegang pada prinsip-prinsip moral Islami dan mereka memandang dunia secara metafisis sebagaimana yang diharapkan dari seorang muslim—yakni, memandang berbagai peristiwa terjadi atas kehendak Tuhan dengan hikmah tertentu yang biasanya tersembunyi dari pandangan manusia. Di sisi lain, sejumlah muslim bermoral parah dan buta secara metafisis namun begitu tetap menyebut dirinya muslim. Pertanyaan yang kemudian muncul di benak para muslim—terutama yang tinggal di negeri-negeri nonmuslim adalah: “ Apa yang terjadi pada para nonmuslim saat mereka wafat? Yakni bagaimana mengkategorikan nonmuslim yang hidup dengan baik, dan memperlakukan sesamanya dengan baik, pemurah dan mendahulukan orang lain?” Sebelum menjawab pertanyaan ini, penting untuk melihat terlebih dahulu tipe-tipe kekafiran yang disebut di dalam al-Qur’an.

Catatan

[1] Abu Bakar b. Furak al-Isbahani, Kitab al-hudud fi al-usul (Beirut: Dar al-Gharb al-Islami, 1999), 110.

[2] ibid

[3] Abu al-Baqa al-kaffawi, al-Kulliyat (Beirut: Mu’assasat al-risalah, 1993), 764

[4] Hal ini merupakan pertimbangan hukum berdasarkan hadits yang kuat. Hal ini tidak berarti bahwa seorang muslim tidak dapat menerima harta wasiat secara legal dari kerabatnya yang nonmuslim. Hal itu masih dapat diterima. Akan tetapi, mereka tidak dapat menerima bagian dari sistem pembagian waris selain dari yang tercantum dalam  wasiat seseorang, misalnya pembagian berdasarkan hukum negara. Setiap kasus mengenai hal ini secara spesifik harus diselesaikan dengan berkonsultasi pada mufti yang berwenang.

[5] Misalnya penyebutan Abu lahab didalam Q.S. al-Lahab (pen)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s