Siapakah Kaum Tak Beriman Itu? (2/8)

Diterjemahkan dari Who Are the Disbelievers?”  (Hamza Yusuf)

oleh Rira Nurmaida

Terjemahan ini merupakan rangkaian dari delapan bagian pembahasan 

dalam makalah asli oleh Syaikh Hamza Yusuf yang dimuat 

pada Jurnal' Season' terbitan Zaytuna Tahun 2008.

Tipe-tipe Kekufuran dalam Al-Qur’an

Al-Qur’an mengidentifikasi beberapa tipe kekufuran, lalu darinya sejumlah ulama menyimpulkan empat jenis umum kekufuran dan memandang setiapnya layak mendapat balasan di akhirat: kufr inkar, kufur juhd, kufr mu’anada, dan  kufr nifaq.

Jenis pertama merupakan kufr inkar, yakni Tuhan tidak dikenali maupun diakui. Hal ini mengharuskan penolakan terhadap ayat-ayat Qur’an baik dalam hati maupun lisan disertai ketidakmampuan untuk mengenali keesaan Tuhan (tauhid). Jenis kekufuran ini disebut dalam Q.S. 2:6-7: “Sesungguhnya orang-orang kafir sama saja bagi mereka, engkau (Muhammad) beri peringatan atau tidak engkau beri peringatan, mereka tidak akan beriman. Allah telah mengunci hati dan pendengaran mereka, penglihatan mereka telah tertutup, dan mereka akan mendapat azab yang berat.”

Perihal penguncian hati ini dijelaskan dalam ayat Qur’an yang lain, “Ketika hati-hati mereka berpaling dan menyimpang, Tuhan membuat mereka menyimpang lebih jauh lagi.”

Tipe kedua dari kekufuran adalah kufr juhd, yakni Tuhan dikenali namun tidak diakui,  terlepas adanya kepastian tentang Zat-Nya. Hal ini disebabkan oleh kemampuan hati untuk mengenali kebenaran yang dihadirkan, akan tetapi lisan mengingkarinya. Hal ini disebut dalam ayat Qur’an 2:89, “Dan telah sampai pada mereka Kitab (Al-Qur’an) dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, sedangkan sebelumnya mereka memohon kemenangan atas orang-orang kafir, ternyata setelah sampai kepada mereka apa yang telah mereka ketahui itu, mereka mengingkarinya. Maka laknat Allah bagi orang-orang yang ingkar (kafaru bihi).”  Tipe kekufuran seperti ini digambarkan dalam beberapa ayat lagi dalam al-Qur’an, semisal, “Maka ketika mukjizat-mukjizat kami yang terang itu sampai pada mereka (Fir’aun dan para pengikutnya). Mereka berkata, “ Ini adalah sihir yang nyata”. Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongannya, padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya. Maka, perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan.”(Q.S.27:13-14)

Ayat tersebut sangat jelas menyatakan bahwa kekufuran jenis ini lahir dari penolakan terhadap apa yang mereka akui sebagai kebenaran. Inilah inti dari kufur juhud, dan karenanya sangat disayangkan.

Banyak muslim menyangka bahwa kufr juhd  merupakan satu tipe universal kekufuran. Mereka membaca ayat-ayat tertentu yang menggambarkan aspek partikular dari ketidakberimanan ini dan menyematkannya pada siapa pun di luar umat islam. Beberapa dari mereka membaca ayat semisal Q.S.2:146:”Orang-orang yang telah Kami beri Kitab (Taurat dan Injil) mengenalnya (Muhammad) seperti mereka mengenal anak-anak mereka sendiri”.  Lalu menyimpulkan bahwa semua orang Yahudi mengenali Nabi Muhammad SAW, namun demikian tetap menolaknya. Menurut komentar tradisional terhadap ayat ini, kata “mereka” mengacu pada sejumlah rabbi yahudi yang paham gambaran mengenai Nabi Muhammad SAW di dalam Taurat, juga kemunculannya di Semenanjung Arab. Terlepas dari pengetahuan itu, mereka menyembunyikan informasi ini dari komunitas yahudi awam. Bagian kedua dari ayat di atas mengonfirmasi hal tersebut, “Sesungguhnya sebagian dari mereka pasti menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui(nya).”

Pada faktanya, Ibn Juzayy menyatakan bahwa ekspresi ini sebenarnya merupakan retorika hiperbolis untuk menyatakan poin begitu nyatanya nubuwwah/kenabian Muhammad SAW bagi para rabbi. Al-Qur’an mengulang ucapan dan menekankan kata-kata Rabbi Abdallah bin Salam, “Kami, para rabbi mengetahui gambaran (Muhammad) di Taurat sebagaimana kami mengenali putra-putra kami sendiri.”[6]

Memang demikian adanya, sejumlah rabbi di Zaman Pertengahan menyadari Nabi Muhammad sebagai pemenuhan atas sejumlah nubuat yahudi dalam Taurat. Kaufmann Kohler, seorang rabbi, teolog, dan Presiden Hebrew Union College di awal tahun 1900-an menulis:

“Spirit utama Yudaisme mengenali (bahwa Islam memenuhi nubuat Zakaria), mendeklarasikan bahwa, baik Kristen maupun agama Muhammad merupakan agen takdir ilahi yang dipercaya dengan misi bersejarah untuk bekerja sama membangun Kerajaan Messiah dan menyiapkan kemenangan absolut untuk kemurnian monoteistik di hati dan kehidupan manusia seluruh bangsa di dunia. Pandangan ini yang disuarakan juga oleh Jehuda ha Levi, Maimonides, dan Nahmanides, telah diulang-ulang oleh banyak rabbi tercerahkan di masa yang lalu.  Hal ini menunjukkan bahwa baik Kristen maupun Umat Muhammad percaya pada Tuhan yang sama dan wahyu-Nya pada manusia, pada kesatuan ras manusia, dan pada hari akhir. Mereka pun menyebarkan pengetahuan tentang Tuhan melalui naskah suci berdasarkan Kitab Kita. Mereka juga memperoleh Perintah Ilahi secara esensial sebagaimana termaktub dalam Decalogue, dan mengajari manusia untuk patuh pada hukum-hukum Nuh[7] bagi umat manusia. Terkait poin terakhir, otoritas yahudi abad pertengahan menganggap Kristen sebagai separuh asing (half-proselytes), sementara pengikut Muhammad—sebagai penganut tauhid (monoteis murni)—akan selalu lebih dekat pada Yudaisme.”[8]

Pemahaman semacam ini kini hampir tak hadir lagi di kalangan Umat Kristen, dan tak lagi umum bagi Kaum Yahudi. Dalam al-Qur’an dinyatakan:

“Dan janganlah kamu berdebat dengan ahli kitab, melainkan dengan cara yang baik, kecuali dengan orang-orang yang zalim di antara mereka, dan katakanlah, “Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhan kamu satu; dan hanya kepada-Nya kami berserah diri.” Dan demikianlah Kami turunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu. Adapun orang-orang yang telah Kami berikan Kitab (Taurat dan Injil) mereka beriman  kepadanya (Al-Qur’an) dan di antara mereka (orang-orang kafir Mekkah)ada yang beriman kepadanya. Dan hanya orang-orang kafir yang mengingkari ayat-ayat kami. Q.S.29: 46-47

Ayat ini relevan karena menyatakan salah satu alasan turunnya al-Qur’an yaitu agar dipelajari dan diterima oleh orang-orang penerima wahyu kenabian sebelumnya. Ayat ini merujuk pada Kaum Kristiani dan Yahudi yang semestinya dapat mengenali pesan keislaman dan menerimanya sebagai  sistem religi lain yang berasal dari Tuhan yang sama yang  telah menurunkan Taurat dan Injil. Al-Qur’an menyatakan bahwa, “Apakah tidak (cukup) menjadi bukti bagi mereka, bahwa para ulama Bani Israil mengetahuinya?” Q.S.26:197

Ada dua pemuka agama Yahudi yang hidup di masa Nabi Muhammad SAW mengenali pesan yang dibawanya sebagai kebenaran. Mereka adalah Abdallah bin Salam dan Mukhayriq yang keduanya bertarung mendampingi Nabi SAW di Perang Uhud.

Tipe kekufuran kedua ini (kufr juhd) lebih jauh lagi dapat dikategorikan ke dalam dua: absolut (mutlaq)  dan terbatas (muqayyad). Pengingkaran absolut bermakna penolakan terhadap agama secara keseluruhan, termasuk wahyu Tuhan dan (kenabian, pen) Muhammad SAW. Sementara pengingkaran terbatas terjadi pada satu atau lebih aspek-aspek agama. Misalnya, ada orang yang mengakui keesaan Tuhan, shalat, dan Rukun Islam lainnya, akan tetapi ia menolak  larangan sodomi, maka ia berada pada status kufr juhd karena dia mengetahui kenyataannya bahwa hal itu salah dan terlarang. Larangannya dalam al-Qur’an bersifat pasti, tidak ambigu. Namun ia memilih untuk mengikuti hawa nafsunya sehingga ia menerima hal tersebut.

Dalam sebuah sajak didaktik-nya, Jawharah al-Tauhid,  Imam al-Laqqani berkata bahwa barang siapa yang menolak (jahada) sesuatu yang diketahui (maklum)  oleh semua orang dalam agama, maka ia tergolong kafir. Syaikh Bakri Rajab mengomentari hal ini:

“Setiap Muslim yang sehat akalnya, bertanggung jawab atas beban hukum (mukallaf), dewasa, harus percaya pada segala sesuatu yang Tuhan wajibkan untuk diyakini, dalam segala perkara yang pasti. Hal ini mencakup kewajiban shalat lima waktu, puasa, serta rukun-rukun lain (dalam Rukun Islam, pen); juga larangan zina (untuk yang sudah maupun belum menikah), sodomi, dan minuman keras.Oleh karena itu, siapapun yang menolak sesuatu yang telah jelas diharamkan atau dilarang, atau mengklaim bahwa hal-hal tersebut tidak begitu mengikat, bahkan justru melegalkan yang telah ditetapkan ilegal oleh Tuhan, maka ia telah meninggalkan Islam (kafara).”[9]

 

Tipe ketiga adalah kafir mu’anada. Yakni ketika seseorang mengenali Tuhan, juga mengakuinya dengan pernyataan lisan, akan tetapi tetap bertahan dalam status kekafiran, entah karena kecemburuan, kebencian, atau takut kehilangan harta dan posisinya. Inilah bentuk ketidakberimanan dari Heraklius, Raja Romawi Bizantium dan Abu Thalib, Paman Nabi SAW. Tipe ini berbeda dengankufr juhd dalam aspek bahwasanya ia menyadari pengakuannya terhadap kebenaran Islam hanya saja tidak bersedia menjadi muslim. Apakah kelompok ini akan menerima  siksa akhirat terus-menerus atau tidak merupakan wewenang Tuhan semata. Ada sejumlah ulama yang berpendapat bahwa Abu Thalib takkan berada di neraka selamanya.

 

Jenis keempat dan terakhir adalah kufr nifaq.  Terjadi ketika seseorang menyatakan keimanan dengan lisannya tapi mengingkari dalam hatinya. Ini adalah bentuk ketidak-berimanan para hipokrit (munafik)  dan dianggap sebagai bentuk kekufuran terburuk. Orang-orang ini semasa hidupnya dilindungi dan dianggap muslim. Ketika wafat mereka bahkan dimandikan dan dikuburkan sebagaimana layaknya penyelenggaraan jenazah muslim. Akan tetapi hanya Tuhan-lah yang tahu kenyataan atas diri mereka. Tidaklah diizinkan untuk menduga-duga seseorang munafik atau bukan. Perilaku, bagaimanapun merupakan sebuah patokan, dan orang-orang munafik memiliki tanda-tanda nampak dalam ucapan maupun amal mereka. Namun tipe ini dapat ditemukan dalam beragam level.

 

Catatan

 

[6] Ibn Juzayy al-Kalbi, Tashil li ulum at-tanzil (Beirut: Dar al-Qalam, n.d.), 2:100

[7] Hukum-hukum Nuh (Noahitic Law) merupakan hukum-hukum yang diberlakukan atas bangsa-bangsa nonyahudi (Gentile). Menurut sejumlah rabbi, Yahudi sebagai kaum pilihan Tuhan sebagai penanggung hukum (terbebani hukum/mendapat taklif hukum) harus mengikuti 613 panduan sakral dan hanya mengajarkan orang-orang di luar komunitas mereka (Gentile) hanya tujuh saja dari keseluruhannya sebagai kemurahan bagi mereka. Yakni: 1)Larangan memfitnah, 2)Larangan menyembah berhala, 3)Larangan membunuh, 3) Larangan mencuri, 5)Larangan hubungan seksual di luar nikah, termasuk ke dalamnya zina bagi yang belum menikah, bestialisme, dan homoseksualitas, 6)Larangan mengonsumsi darah atau daging yang diambil dari hewan yang masih hidup, 7)Perintah untuk menegakkan peradilan hukum dan menunjuk seorang hakim untuk memastikan orang-orang mendapat keadilan dan menghukum yang bersalah. Meskipun bakti pada orangtua termasuk sangat dianjurkan, hal ini tidak termasuk perintah wajib bagi non-yahudi.

[8] K.Kohler, Jewish Theology:Systematically and Historically Considered (New York: MacMillan 1918),427

[9] Syaikh Bakri Rajab, (Beirut:Dar al-Khayr; 1994),122

Advertisements

One thought on “Siapakah Kaum Tak Beriman Itu? (2/8)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s