Siapakah Kaum Tak Beriman Itu? (3/8)

Diterjemahkan dari Who Are the Disbelievers?”  (Hamza Yusuf)oleh Rira Nurmaida

Terjemahan ini merupakan rangkaian dari delapan bagian pembahasan dalam makalah asli oleh Syaikh Hamza Yusuf yang dimuat dalam Jurnal’ Season’ terbitan Zaytuna Tahun 2008.

Kategori Kekufuran Menurut Ibn Qayyim al-Jawziyyah

Seorang ‘alim yang sangat produktif berkarya, Ibn Qayyim al-Jawziyyah menggolongkan dua tipe kekufuran yang mencakup sejumlah subkategori. Beliau mempertimbangkan keempat jenis kekufuran yang telah disebutkan sebelumnya berbeda dalam derajat, bukan dalam tipenya (saja, pen), keseluruhannya berujung pada ganjaran pedih di akhirat. Jenis kekufuran ini disebut kufr akbar (kufur besar) dan kufr al-ashgar (kufur kecil). Di masa lalu, akibat ketidakpahaman terhadap kufr al –ashgar  ini, sejumlah otoritas muslim salah menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an dan hadits Nabi SAW, kemudian mereka mengucilkan beberapa muslim tanpa hak.

Kufr al-ashgar. Ada beberapa kemungkinan bentuk kekufuran di level ini. Salah satunya digambarkan dalam al-Qur’an Surat 5:44. “Barang siapa tidak memutuskan dengan apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang kafir.”  Ayat ini diturunkan saat sejumlah orang Yahudi menghadapkan seorang pezina ke hadapan Rasulullah SAW dan memintanya untuk menghukumi orang tersebut.[10]Tuhan menurunkan wahyu pada Rasulullah SAW, “ Dan bagaimana mereka akan mengangkatmu menjadi hakim mereka, padahal mereka mempunyai Taurat, yang di dalamnya (ada) hukum Allah, nanti mereka berpaling  (dari putusanmu) setelah itu? Sungguh, mereka bukan orang-orang yang beriman. Sungguh Kami yang menurunkan Kitab Taurat, di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya.” (Q.S 5:43-44). Ayat yang luar biasa ini tidak memberi pilihan lain bagi Rasulullah kecuali menghakimi mereka dengan merujuk kepada Taurat, kitab mereka.

Kemudian, menurut al-Qur’an, siapa pun yang menolak hukum yang diturunkan Allah SWT berada dalam kekufuran. Namun Ibn Abbas membatasi penerapan ayat ini dengan berkata “kekufuran ini lebih ringan dari kekufuran absolut dan tidak mengeluarkan seseorang dari umat Islam.”[11] Dari sinilah Imam Ibn Qayyim menurunkan istilah “kufur kecil”. Seseorang yang tidak menerapkan hukum Islam keluar dari umat Islam hanya jika ia menolak hukum tersebut atau menolak status legalnya. Adapun jika  seseorang tidak berhukum karena kemalasan, rasa takut, atau alasan lain yang muncul dari kelemahan dan bukan karena penolakan sadar, orang tersebut tidak dikategorikan kafir.

Dengan demikian, pemerintah di negeri-negeri Muslim yang tidak menerapkan Syari’ah Islam tidak dianggap kafir kecuali mereka secara terbuka menolak/mengingkari hukum syara’. Menurut sebuah hadits sahih, selama seorang pemimpin menegakkan salat, dan tidak memaksakan kekufuran yang jelas dalam bentuk apapun (kufr bawh)[12] maka otoritas kenegaraannya diakui dan dihormati. Berdasarkan hal ini, pembunuhan Presiden Mesir Anwar Sadat pada tahun 1981 karena fatwa pelabelan kekafirannya merupakan contoh kejahatan besar dan ketidakadilan yang bersumber dari kebodohan. Saya mengunjungi Syaikh Shadili Nayfar, seorang ulama dan mufti ternama dari Tunisia tak lama setelah peristiwa itu dan katanya,  “Apa yang dilakukan para kriminal itu merupakan tindak pidana yang mengejutkan dan amoral terhadap Islam dan Hukum Syara’”.

Beberapa hadits menyebutkan contoh-contoh lain dari perilaku yang tercakup dalam kekafiran jenis ini, dan tidak semestinya berimplikasi pengucilan terhadap seseorang. Berdasarkan sebuah hadits sahih yang diriwayatkan Muslim, Rasulullah bersabda, “Ada dua hal dari umatku yang merupakan ciri kekufuran bagi mereka  yang melakukannya: mencela nasab dan meratapi orang mati”[13]. Hadits lain diriwayatkan  oleh Imam al-Bukhari dan Muslim, “Janganlah kembali pada kekafiran (kuffar) setelah aku pergi dengan cara saling membunuh satu sama lain (dalam perang saudara)”[14]. Meskipun Nabi SAW menggunakan kata-kata “kuffar”  di dalam teksnya, para penafsir memahaminya sebagai “jangan meniru perilaku orang kafir yang membunuh satu sama lain.” Ayat-ayat pada surat ke-49 di dalam al-Qur’an yang menjelaskan penanganan ketika muslim berhadapan satu sama lain menegaskan pemaknaan di sini. Bahwasanya bertarung dengan muslim lain tidak serta-merta mengeluarkan seseorang dari Umat Islam. Pemahaman terhadap aspek kontekstual dari kekufuran ini sangat penting bagi muslim hari ini yang terlampau mudah mengkafir-kafirkan sesama muslim. Sebuah hadits sahih yang semestinya terpatri dalam hati kita adalah’ “Jika seorang muslim menyebut muslim lainnya seorang Kafir, maka pernyataan tersebut tepat bagi salah seorang di antara mereka.”[15]. Jelaslah bahwa menyebut seseorang kafir merupakan bentuk kekufuran itu sendiri bila pernyataan tersebut tidak benar.

Kufr al-Akbar. Kategori kedua menurut Ibn Qayyim adalah kufur besar (kufr akbar) , yang kemudian ia bagi lagi menjadi lima subkategori:

  1. Kekufuran yang bermula dari pendustaan (kufr takzib)
  2. Kekufuran yang bermula dari kesombongan/arogansi  (kufr istikbar)
  3. Kekufuran yang bermula akibat pengabaian dan kelalaian (kufr i’rad)
  4. Kekufuran yang bermula dari keraguan (kufr syakk)
  5. Kekufuran yang bermula dari hipokrisi (kufr nifaq).

Kekufuran yang bermula dari pendustaan (kufr takzib)  adalah penolakan untuk mempercayai Rasulullah SAW dengan argumen bahwa beliau berdusta. Ibn Qayyim menyatakan bahwa jumlah orang kafir ini tidak seberapa karena Tuhan membantu para Rasulnya dengan menurunkan mukjizat dan bukti nyata atas kesejatian mereka. Al-Qur’an mengisahkan tentang orang-orang di masa Nabi Muhammad SAW. “ Sungguh, Kami mengetahui bahwa apa yang mereka katakan itu menyedihkan hatimu (Muhammad), (janganlah bersedih hati) karena sebenarnya mereka bukan mendustakan engkau, tapi orang-orang yang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah” Q.S.6:33

Kekufuran yang hadir dari arogansi (kufr istikbar wa ‘iba) melibatkan keengganan untuk menerima dari sumber yang dianggap lebih rendah. Menurut Ibn Qayyim, mayoritas kaum yang melawan Rasulullah SAW di masanya adalah dari golongan ini. Tipe kekufuran ini juga merupakan bentuk kekufuran Fir’aun, yang berkata, “Maka mereka berkata, “Apakah (pantas) kita percaya pada dua orang manusia seperti ini?, padahal kaum mereka (Bani Israil) adalah orang-orang yang menghambakan diri pada kita” Q.S. 23:47

Iblis juga tergolong ke dalam jenis kekufuran ini, nampak dari keengganannya untuk membungkuk di hadapan Adam a.s. Al-Qur’an menyatakan, dia (iblis) arogan (istakbara) (Q.S. 38:74)

Kekufuran akibat pengabaian atau pembiaran (kufr i’rad) menunjukkan kecuekan teramat parah terhadap wahyu dan kegagalan memeriksa klaim nubuwwah (kenabian). Hal ini serupa dengan dosa ketidakpedulian /acedia  dalam khazanah Katolik. Hal ini terkait dengan rendahnya intelektualitas dan kehausan spiritual. Kemalasan spiritual sangatlah berbahaya karena sering kali terselubung oleh aktivitas-aktivitas keduniawian semacam praktik medis atau berbagai aktivitas sosial. Sikap ini bukanlah kemalasan fisik atau pikiran, akan tetapi bersifat spiritual. Datang dan perginya dunia menyebabkan banyak manusia beralasan untuk tidak merepotkan diri  dengan pikiran-pikiran religius sebagai renungan utama, tapi hal semacam itu termasuk tipe kekufuran “berpaling dari Tuhan”.

Kekufuran yang muncul dari keraguan (kufr syakk)  adalah akibat rendahnya komitmen. Padanya orang tidak bersikap jelas menolak atau menerima kebenaran para nabi, akan tetapi memilih posisi netral. Dalam peristilahan masa kini, orang seperti itu dikatakan sebagai agnostik. Menurut Ibn Qayyim, hal ini mirip dengan kekufuran akibat pengabaian (kufr i’rad) karena andaikata si peragu itu melakukan investigasi serius, keraguannya akan ditepis oleh keimanan. Akan tetapi, ia tetap berpaling dari ayat-ayat Tuhan dan menolak untuk mempertimbangkannya dengan serius.

Terakhir, subkategori kufr akbar  yang tersisa adalah kekufuran akibat kemunafikan (kufr nifaq). Bentuk ini adalah yang terburuk dari kekufuran dan berakibat hukuman terpedih di akhirat.

Klasifikasi dari Ibn Qayyim ini menambah beberapa konteks yang tak hadir dalam yang awal kita bahas. Keduanya sangat diperlukan untuk memahami dengan utuh fenomena kekufuran yang dibahas di dalam al-Qur’an.[16]

[10] Abu al-Hasan “Ali al-Wahidi, asbab Nuzul al-Qur’an (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1998)

[11] Lihat Tafsir at-Tabari dan Tafsir Ibn Katsir

[12] Sahih Muslim, Bab 20, No. 4753 dan 1574

[13] Sahih Muslim, Bab  4, No.2033

[14] Sahih Bukhari, Vol.9, Bab. 88, No.6627

[15] Sahih Bukhari, Vol.8, Bab 73, No.1232

Sahih Muslim, Bab 1, No.0117

[16] Abd al-Rahman bin Malluh, ed.Masi’at naqirat al-na’im (Jeddah:Dar al-Wasila,1999) Vol.2,5,445

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s