Siapakah Kaum Tak Beriman Itu? (4/8)

Diterjemahkan dari Who Are the Disbelievers?”  (Hamza Yusuf) oleh Rira Nurmaida

Terjemahan ini merupakan rangkaian dari delapan bagian pembahasan dalam makalah asli oleh Syaikh Hamza Yusuf yang dimuat dalam Jurnal’ Season’ terbitan Zaytuna Tahun 2008.

Syarat-syarat Penentuan Kekafiran Seseorang

Sementara takdir mutlak berada di tangan Tuhan, penentuan status seseorang di hadapan hukum tetap penting mengingat ada konsekuensi jelas dari posisi hukum tersebut terkait sejumlah perkara seperti pernikahan, kelahiran, kematian, serta waris. Apa yang menentukan seseorang dinyatakan kafir atau tidak merupakan perkara kritis. Para ahli fiqih Islam mengembangkan suatu panduan garis besar  yang perlu dikritisi sebelum seorang hakim menentukan apakah seseorang telah jatuh ke dalam kekufuran. Enam persyaratan yang harus dipenuhi sebelum seorang hakim dapat menjatuhkan putusan atas kafir tidaknya seseorang yaitu: Niat, Tiadanya Pemaksaan, Level Keilmuan, Ketiadaan Penakwilan, Kemampuan Nalar, dan Bukti Keyakinan.

Niat. Niat seseorang mesti dipahami sebelum seluruh perilaku atau kata-katanya dapat dihakimi. Misalnya saat Hatib mengkhianati Rasulullah SAW dengan membongkar rencana penyerangan terhadap Kaum Quraisy, ia kemudian ditangkap dan tipu dayanya terungkap, menyebabkan para sahabat ingin membunuhnya. Rasulullah SAW menanyakan alasan perbuatannya. Saat beliau mengetahui bahwa Hatib hanya mengkhawatirkan keberadaan keluarganya di Mekkah, beliau menerima hal itu dan tidak menganggap tipu dayanya jatuh pada kekafiran.[17]Dan tidak ada dosa atasmu jika kamu khilaf tentang itu, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” Q.S. 33:5

Tiadanya Pemaksaan. Firman Allah dalam Q.S. 16:106, “Barang siapa kafir terhadap Allah setelah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dlam beriman (dia tidak berdosa), tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan mereka akan mendapatkan azab yang besar.” Dengan kata lain, penting untuk menentukan apakah seseorang yang awalnya beriman telah dipaksa atau berada di bawah tekanan untuk kufur atau apakah seseorang menghendaki kekufuran semata-mata hal tersebut lebih menyenangkan baginya.

Level Keilmuan.  Syarat ini memiliki bobot berat dalam menjelaskan tersebarnya kebodohan di tengah masyarakat kita sekarang. Banyak orang yang tidak sadar mengucapkan sumpah terlarang, ada yang melakukan tawaf di kuburan, mengurbankan hewan-hewan ternak untuk para wali, dan sebagian lagi mengikat-ikat kain di kuil-kuil. Seluruh perbuatan tersebut terlarang, namun tidak dianggap sebagai kekufuran kecuali disertai pemastian bahwa si pelaku melakukan hal tersebut meski mengetahui keharamannya. Bukti nyata atas hal ini dimuat dalam al-Qur’an, yakni pada respon nabi Musa A.S. saat Bani Israil memintanya membuatkan berhala-berhala sebagaimana yang dimiliki kaum lain.  “Wahai Musa! Buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala).” Musa berkata, “Sungguh kamu orang-orang yang bodoh.” Q.S 7:138

Pemaknaan ini diulang dalam sebuah hadits sahih diriwayatkan oleh Tirmidzi, ketika sejumlah sahabat Rasulullah SAW meminta beliau memilih pohon yang mereka dapat mengikatkan carikan kain sebelum pertempuran—sebagaimana yang dilakukan oleh para musyrik Mekkah. Nabi SAW, menjawab: “Subhanallah, hal ini persis seperti permintaan Bani Israel, “Buatlah berhala-berhala bagi kami seperti yang mereka punya.” Demi Zat-Nya yang jiwaku ada dalam genggaman-Nya kamu akan mengikuti jalan-jalan mereka yang datang sebelum kamu.[18]

Rasulullah tidak menyebut mereka kafir, akan tetapi ia menjelaskan pada mereka kesalahannya dan memaafkan mereka atas kebodohan mereka, karena mereka tak menyadari implikasi permintaan mereka.

Ulama seperti Imam al-Qarafi mempertimbangkan kebodohan sebagai alasan termaafkan untuk perkara-perkara cabang Hukum Syra’ (furu’), tapi tidak berlaku pada perkara iman atau pengetahuan[19]. Akan tetapi, ketika mengomentari pendapat beliau ini, Imam Sadiq al-Ghiryani menyatakan:

Apa yang disampaikan Imam al-Qarafi terkait tidak termaafkannya (kebodohan dalam perkara iman dan pengetahuan, pen.) kurang kuat karena akan menyebabkan adanya pembebanan yang tak tertanggungkan (taklif maa laa yutaq). Ada banyak argumen meyakinkan yang menolak pendapat ini. Di antaranya terdapat sebuah hadits sahih tentang seorang laki-laki yang meminta anaknya mengkremasi jenazahnya lalu menyebar abunya pada hari berangin di lautan. Menurut hadits tersebut dia berkata pada putranya, “Aku bersumpah pada Tuhan. Jika Tuhan menggenggamku (qadara ‘alayya) Ia akan menghukumku dengan cara yang tak pernah Ia timpakan pada orang lain sebelumnya.

Rasulullah SAW bersabda: “Mereka melakukan perintah ayahnya dan Tuhan berkata pada bumi:”Kumpulkan kembali sisa-sisa perabuannya!” Tiba-tiba laki-laki itu berdiri di hadapan Tuhannya. Tuhan berkata: Apa yang menyebabkanmu melakukan hal semacam itu?”

“Aku sangat takut pada-Mu, Tuhanku”, sahut laki-laki itu.

“Untuk itu”, sabda Rasulullah SAW, “ia telah diampuni”.

Hadits ini yang ada dalam dua kitab sahih Bukhari dan Muslim mengungkap kekufuran yang nyata: laki-laki tersebut tidak mempercayai kemahakuasaan Tuhan, jika tidak, untuk apa dia melakukan perbuatan sia-sia semacam itu. Dia juga meragukan kebangkitan setelah mati. Tidak diragukan lagi, hal tersebut merupakan kekufuran. Dia memang bodoh, namun kebodohannya disertai rasa takut yang tulus dan perasaan yang campur aduk terhadap keagungan Tuhan, karenanya ia diampuni.[20]

Hadits ini mengindikasikan bahwa pemahaman seseorang beserta niatnya merupakan hal penting yang dipertimbangkan dalam penghakiman di Hari Akhir.

Dalam hadits sahih yang lain, seseorang mempersembahkan pada Rasulullah SAW sebotol anggur. Rasulullah SAW menjelaskan kepadanya bahwa meminum khamr itu haram. Laki-laki itu lalu membisikkan sesuatu pada kawannya sembari menyerahkan botol anggur tersebut. Rasulullah SAW bertanya apa yang ia bisikkan lalu beliau diberitahu bahwa ia baru menyuruh kawannya untuk menjual anggur tersebut. Rasulullah SAW bersabda, “Barang yang konsumsinya diharamkan, maka haram pula memperjualbelikannya”. Ia lalu membuang anggur tersebut.[21]

Dalam kitabnya, Tamhid, Ibn Abd al-bari menyatakan bahwa hadits ini merupakan bukti nyata bahwa sebuah dosa dihapus dari seseorang yang tidak tahu suatu hukum hingga ia mempelajarinya dan (hingga ia paham) ia “dibiarkan”diampuni (telah) melakukannya.[22]

Ketiadaan Takwil. Seseorang yang perkataan atau perilakunya mengindikasikan beberapa ciri kekufuran dapat dimaafkan jika indikasi tadi muncul dari interpretasi kurang tepat dalam perjalanannya mencapai kebenaran. Hal ini berbeda dengan kekufuran yang merupakan akibat mengikuti hawa nafsu. Contohnya adalah Ibn Taymiyyah, merujuk pada beberapa karya tulisnya, beliau mempercayai bahwa api neraka kelak akan dipadamkan dan pada saat itu mereka yang berada di dalamnya tidak lagi merasakan penderitaan. Hal ini dapat dipandang kufur karena  bertentangan dengan ayat-ayat al-Qur’an yang maknanya tidak ambigu terkait hukuman atas orang kafir di neraka yang abadi (khalidina fiha abadan). Seperti dijelaskan Q.S. 4:169,”kecuaali jalan ke neraka jahannam; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.”  dan lain-lain.

Ibn Taymiyyah mendasarkan interpretasi eksentriknya ini pada ayat-ayat yang diprioritaskan beberapa sahabat rasulullah SAW, sebagaimana yang ditunjukkan dalam argumennya. Akan tetapi, dia tidak menolak ayat-ayat Qur’an terkait keabadian neraka, namun merasa bahwa ayat-ayat tersebut harus dipahami dengan keterangan dari ayat-ayat lain yang mengkhususkan keumumannya, dan membatasi penerapannya yang semula luas.

Meskipun pendapat Ibn Taymiyyah dalam hal ini tidak dipandang normatif atau valid oleh mayoritas ulama, sangatlah sedikit ulama yang mengkafirkannya karena beliau menggunakan takwil dalam hal tersebut, dalam artian beliau bukan menolak validitas ayat yang secara kasat mata kontradiktif dengan kesimpulannya.

Karena persyaratan ini pula, ulama tidak mengkafirkan kaum rasionalis (mu’tazilah) atau anggota sekte-sekte lain yang menafsirkan ayat-ayat berbeda dengan hasil para ulama tradisional. Namun demikian, tentu ada batasnya antara batasan yang agak kabur dengan yang tidak. Menurut Imam Al-Ghazali, meskipun jika suatu tafsiran nampak ganjil, selama ia berada dalam parameter  yang masuk akal dalam kerangka Bahasa Arab, maka tidak serta-merta dipandang kufur. Abu al-Baqa al-Kaffawi menulis:

Firman Allah, “Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya”(Q.S. 39:53). Meskipun kekufuran merupakan dosa yang tak terampuni, posisi yang diambil oleh mayoritas kaum tradisional, adalah bahwasanya tidak seorang pun yang salat menghadap Mekkah disebut kafir, apakah ia berasal dari kaum ahli bid’ah (mubtadi’ah), atau penakwil (mu’awwil),  selama tafsiran mereka  tidak menyentuh poin utama dari keimanan (semisal tauhid[23], salat, atau keharaman khamr), dikarenakan adanya kekaburan (syubhat) pada perkara tersebut.[24]

Kemampuan Menalar. Nabi SAW bersabda,”Pena diangkat dari tiga golongan umatku: orang yang tidur hingga dia bangun, anak kecil hingga dia baligh, orang yang hilang akal hingga dia sadar.”[25]

Bukti Keyakinan.  Pembuktikan yang kuat terkait keyakinan dan pokok-pokoknya ditegakkan sebelum pernyataan penolakan terhadapnya dapat dipertimbangkan (iqamatu al hujjah alayhi).  Menurut Syaikh Sadiq al-Ghiryani:

“Penghakiman atas kekufuran tak dapat ditegakkan terkait siapa pun sampai bukti-bukti keyakinan beserta penolakan terhadapnya dihadirkan, yang kemudian orang yang bersangkutan diminta bertaubat atasnya.[Dalam kasus seseorang yang berada di luar Islam, masuknya ia ke dalam Islam merupakan bentuk pertaubatannya]. Hal ini dengan jelas dipahami dalam ayat-ayat al-Qur’an. Misal dalam Q.S.4:165, “Rasul-rasul itu adalah sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar tidak ada alasan bagi manusia untuk membantahAllah setelah rasul-rasul itu diutus. Allah Mahaperkasa, Allah Mahabijaksana.” Juga dalam Q.S.17:15, “…tetapi Kami tidak akan menyiksa sebelum Kami mengutus seorang rasul.” Sebuah bukti dihadirkan melalui ajakan/dakwah kepada Islam, di dalamnya termasuk penjelasan tentang keesaan Tuhan dan misi kenabian Muhammad SAW.”[26]

 

Dalam kasus seseorang yang menyatakan atau melakukan sesuatu yang membuktikan kekufuran, seorang ‘alim harus menunjukkan kepadanya mengapa hal tersebut dianggap telah kufur. Dan mengapa pertaubatan dibutuhkan untuk memulihkan keimanannya. Jika seseorang tersebut kembali kepada golongan “ortodoks”,  maka ia tidak digolongkan kafir. Tapi, jika ia menjelaskan bahwa posisinya didasarkan kepada interpretasi berbeda dari sumber yang valid,  atau ia mempresentasikan sumber-sumbernya dengan menggunakan metode yang sahih hingga sampai pada kesimpulan demikian, orang yang bersangkutan tidaklah dihukumi kafir. Bisa jadi tercakup di dalam (pendapatnya) hal-hal yang bersifat heterodoks atau keyakinan baru (bid’ah) yang meskipun tidak valid, tetap tidak dapat disebut sebagai kekufuran.

 

Catatan:

[17] Sahih Bukhari Vol.4, Bab 52, No.2809 & 2872

[18] Sunan Tirmidzi Vol.2, Bab 1, No.1446

[19] Imam Al-Qarafi menyatakan dalam al-Furuq, “Ketahuilah bahwa kebodohan bukanlah alasan (yang dapat diterima, pen) untuk pernyataan yang di dalamnya terkandung kekufuran. Alasan untuk hal ini adalah kaidah ushul fiqih yang menyatakan, “Setiap kebodohan yang dapat dihilangkan dari bagian seorang Muslim yang awam, sehat akalnya, dewasa, tidak dapat digunakan sebagai dalil (hujjah) baginya.” Tuhan telah mengirim pada makhluk-Nya para Rasul-Nya untuk menghalau kebodohan dari mereka. Lebih jauh lagi, Dia mewajibkan semua orang untuk mempelajari pesan-Nya dan untuk berperilaku yang sesuai dengannya. Karena itu, barang siapa yang meninggalkan (kewajiban) belajar dan berperilaku yang benar dan bertahan dalam kondisi kebodohan telah berdosa dua kali lipat: kelalaian karena tidak belajar dan kegagalan berperilaku yang sesuai ajaran. Sementara yang belajar dan menjaga perilakunya termasuk orang-orang yang beruntung.” Lihat Syaykh Muhammad al-Baqquri. Tartib al-furuq wa ikhtisariha ( Casablanca: al-Awqaf,1996),2:374

[20] Sadiq al-Ghiryani, fi al-Aqidah wa al minhaj (Benghazi: Dar al-Kumb, 2002), 106. Enam persyaratan terkait penetapan kekufuran yang dibahas di bagian ini pun diambil dari buku  yang menakjubkan ini dengan beberapa penjelasan tambahan.

[21] Diriwayatkan al-Hamidi dalam Musnad-nya.

[22] Ibn Abd al-barr, al-Tamhid (al-Muhammadiyyah: al-Matba’ah al-Fadliyah, 1988)

[23] Keesaan Tuhan

[24] Al-Kaffawi, al-Kulliyat, 765

[25] Sunan at-Tirmidzi, Vol.2. Bab 1, No.1446

[26] Al-Ghiryani, Fi al-Aqidah, 104.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s