Siapakah Kaum Tak Beriman Itu? (6/8)

 

Diterjemahkan dari Who Are the Disbelievers?”  (Hamza Yusuf) 
oleh Rira Nurmaida

Terjemahan ini merupakan rangkaian dari delapan bagian pembahasan 
dalam makalah asli oleh Syaikh Hamza Yusuf yang dimuat 
pada Jurnal’ Season’ terbitan Zaytuna Tahun 2008.

Siapakah Yang Ditakdirkan Masuk Neraka

Al-Qur’an secara spesifik  menyatakan bahwa orang-orang kafir akan berada di neraka. Karena terdapat kesepakatan secara hukum bahwasanya Yahudi dan Kristen secara hukum terkategori kafir (bukan terhadap Allah, akan tetapi terhadap kenabian Rasulullah SAW), kebanyakan muslim menjadikan pendapat ini sebagai dasar bahwa mereka (Yahudi dan Kristen, pen.) akan menjadi penghuni neraka. Lebih jauh lagi, ada juga ayat-ayat yang mengindikasikan bahwa orang Kristen yang meyakini trinitas akan berada di neraka, “ Sungguh telah kafir orang-orang yang berkata, “Sesungguhnya Allah itu dialah al-Masih putra Maryam.” Padahal al-Masih (sendiri) berkata, “ Wahai  Bani Israil! Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu.” Sesungguhnya barangsiapa mempersekutukan  (sesuatu dengan) Allah, maka sungguh, Allah mengharamkan surga baginya, dan tempatnya ialah neraka. Dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang zalim itu. Sungguh, telah kafir orang-orang yang menyatakan bahwa Allah adalah salah satu dari yang tiga, padahal tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Maha Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa azab yang pedih.”(QS 5:72-73).

Ada sejumlah poin penting yang harus digarisbawahi:

Pertama, kekufuran yang dimaksud bukanlah kekufuran dalam Islam, tetapi dalam agama mereka sendiri. Yakni mereka yang memulai menyatakan bahwa Tuhan merupakan trinitas berarti melakukan fitnah. Bentukan lampau dalam ayat ini semakin menegaskan makna tersebut dan memperkuat ayat selanjutnya saat al-Qur’an menyatakan pada Q.S.5:77, “Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Janganlah kamu berlebih-lebihan dengan cara yang tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti keinginan orang-orang yang tersesat terlebih dahulu dan (telah) menyesatkan banyak (manusia), dan mereka sendiri tersesat dari jalan yang lurus.”

Mereka yang mempelopori pembaruan/penemuan trinitas (yang merupakan kepercayaan paganisme, sebagaimana ditemukan pada kebudayaan Mesir Kuno, Babilonia, dan India) melakukan fitnah terhadap Tuhan dan jatuh ke dalam kekufuran. Bagaimanapun, Qur’an menyatakan bahwa sekalinya seseorang mengetahui hal ini, maka ia harus menahan diri dari menyatakannya atau ia akan terbakar api neraka.

 

Pada bagian terakhir ayat yang dikutip di atas, penggunaan preposisi “min” (dari) merupakan sebuah kontstruksi penting… Dalam Bahasa Arab, penggunaan “min” untuk menyatakan “Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa azab yang pedih.” mengindikasikan bahwa kelompok itulah dari mereka yang berada dalam status kekufuran yang akan terbakar api neraka. Hal ini mengimplikasikan bahwa bukan seluruhnya yang berada di dalam kekufuran. Hal ini hanya dapat dipahami saat kita memahami kekufuran dengan merujuk pada para ahli ushuluddin, “penolakan untuk beriman berdasarkan  pengetahuan apa yang harus diimani (ma’rifah) dan penolakan dengan kesengajaan untuk melakukannya (iradah) meski jika hal tersebut terkait sebagiannya saja dari yang disampaikan Rasulullah SAW kepada kita (selama) ditransmisikan dalam makna yang jelas tanpa ambigu.[29]

 

Hal tersebut tidak menegasikan status hukum mereka yang mempercayai trinitas sebagai kafir, akan tetapi menunda penghakiman atas niat mereka karena banyak dari mereka yang  tidak menyadari posisinya sebagai penyebar fitnah. Dalam tiga keyakinan samawi (Abrahamaic Faith) fitnah,—berupa pernyataan tak laik terkait Tuhan, Rasul-rasul-Nya dan perkara sakral lainnya—dianggap kafir hanya bila dilakukan dengan sengaja. Itulah pokok permasalahannya. Jika orang-orang Kristen hanya mengulang apa yang disampaikan para pendeta mereka dan institusi gereja, maka mereka tidak melakukan fitnah dengan sengaja. Banyak yang mungkin saja sekedar begitu taat pada keyakinan mereka dan secara aktif mengharapkan rahmat Tuhan. Mereka itulah orang-orang yang diseru oleh al-Quran, sebagaimana al-Qur’an menyeru orang-orang yang berbeda iman, juga mereka yang tanpa keyakinan dengan harapan bahwa mereka akan beriman.

 

Lalu bagaimanakah nasib mereka yang tidak mempercayai al-Qur’an  serta pesan Nabi Muhammad SAW? Apakah mereka telah ditentukan untuk menjadi penghuni abadi Jahannam? Imam al-Ghazali, sang hujjatul islam dan tercatat dalam sejarah Islam sebagai  salah satu ahli ushuludin paling otoritatif juga ahli ushul fiqh, memiliki opini yang berbeda. Dia menulis sebuah uraian singkat berjudul Faysal al-tafriqah menjelaskan bahayanya takfir pada sesama muslim. Namun di dalamnya beliau juga membahas topik nonmuslim dan  luasnya rahmat Allah. Ia menunjukkan bahwa meski terdapat hadits shahih yang menyatakan bahwa hanya satu dari seribu orang yang berhak masuk surga, hal tersebut bukan bermakna bahwa sisanya akan dikutuk dalam neraka, akan tetapi mereka akan menghabiskan sekian waktu penyucian di dalam neraka. Makna dari hal ini, menurut al-Ghazali adalah mereka yang sama sekali tak berdosa hanya satu dari seribu. Dia kemudian menyatakan bahwa muslim di neraka akan dipindahkan, dan bahkan…

 

“  Rahmat Tuhan, akan mencakup seluruh umat yang telah lalu meskipun sebagian besar dari mereka akan merasakan neraka, mulai dari yang ringan—misalnya dalam hitungan waktu satu jam—atau lebih dari itu, sehingga pada mereka tetap tersemat label “penghuni neraka”. Bahkan saya akan menjelaskan yang lebih dari itu dengan mengatakan bahwa kebanyakan orang kristen dari Eropa dan bangsa Turki di zaman kita ini akan memperoleh rahmat yang sama, jika Tuhan berkehendak. Yang saya memaksudkan adalah spesifik, yakni mereka yang termasuk penduduk Eropa dan Asia Tengah yang belum terjangkau oleh dakwah islam (akan memperoleh rahmat Tuhan ini).

Orang-orang kristen terbagi ke dalam tiga kelas. Pertama, mencakup mereka yang bahkan belum pernah mendengar nama Muhammad sama sekali: mereka dimaafkan (atas kekufuran mereka). Kedua, adalah mereka yang telah mendengar nama dan deskripsinya dan juga telah mendengar mukjizatnya. Orang-orang ini hidup berdampingan dengan muslim dan berinteraksi atau bahkan hidup bersama-sama dengan mereka di suatu tempat. Mereka adalah kafir pembangkang (kufar mulkidun). Kategori ketiga adalah mencakup mereka yang berada di antara kedua kelompok tersebut. Nama Muhammad SAW telah sampai pada telinga mereka akan tetapi mereka tidak mengetahui kabar yang sejati tentangnya juga karakternya. Malahan, mereka mendengar sejak masa mudanya bahwa ada pembohong penuh tipu daya bernama Muhammad mengaku-aku sebagai nabi, sebagaimana halnya anak-anak kita mendengar pembohong bernama al-Muqanna mengklaim dirinya sebagai nabi. Sejauh yang saya pahami, orang-orang demikian dimaafkan seperti mereka yang termasuk kategori pertama. Karena meski mereka telah mendengar nama beliau, mereka mendapatkan informasi yang berkebalikan dengan karakternya dan keutamaannya. Mendengarkan hal semacam itu tentu saja tidak akan membangkitkan keinginan seseorang untuk mencari tahu siapa dia sebenarnya.”[30]

 

Pendapat Imam al-Ghazali muncul dari pemahamannya yang mendalam terkait tabiat manusia dan hijab-hijab yang menutupi hati manusia sebagai akibat dari latar belakang dan kondisi sosialnya. Ia menyatakan dalam bukunya Deliverance from error[31],  bahwa kebanyakan orang termasuk muslim, biasanya hanya akan mengikuti agama orangtuanya. Dia mencatat bahwa sejumlah muslim berupaya total dalam urusan apapun terkait agamanya untuk meyakinkan dirinya, terlepas dari apakah keyakinannya benar atau tidak. Setelah menjelaskan keyakinannya terhadap umat beragama lain, Imam al-Ghazali kemudian mengulang poin-poinnya dengan kejernihan yang menakjubkan:

 

“Adapun untuk umat lain, (pertimbangkan seseorang yang) menuduh Rasulullah mengada-ada setelah ia mendengar kabar tak terbantahkan tentang kehadiran beliau, kualitas dirinya, dan sejumlah mukjizat yang tidak mengikuti hukum alam seperti membelah bulan, kerikil yang  memuji Tuhan di tangannya, atau air yang mengalir dari sela jari-jarinya, juga kemukjizatan al-Quran yang diwahyukan kepadanya—yang menantang siapapun yang fasih untuk membuat sesuatu yang setara dengannya namun (semua yang telah mencobanya) gagal. Jika semua (informasi) ini telah mencapai telinganya, namun dia menolaknya, membalikkan badan darinya, tidak mempertimbangkan atau berefleksi tentangnya, dan tidak bersegera mempercayainya, maka orang tersebut adalah pembangkang (jahid) dan pembohong, dan jelaslah bahwa dia kafir.

Akan tetapi, orang yang sedemikian itu tidak cocok dengan deskripsi kebanyakan orang eropa dan Asia Tengah yang hidup jauh sekali dari negeri kaum muslim. Faktanya saya berargumen bahwa siapapun yang mendengar tentang hal ini (Nabi Muhammad SAW) akan penasaran untuk mencari tahu kebenarannya untuk memastikan kualitas-kualitas yang diberitakan tentangnya. (Orang tersebut mestilah) seseorang yang religius yang tidak mendahulukan urusan duniawi untuk yang setelahnya. Jika dia tidak merasakan desakan untuk mencari tahu (kebenarannya), hal itu bisa saja karena kepuasannya terhadap hal-hal yang bersifat duniawi, cenderung berat terhadap dunia ini, nihil dari kesalehan dan perasaan kepentingan terhadap agama, dan itulah apa yang dimaksud dengan kekufuran.

Adapun apabila seseorang memiliki keinginan untuk mencari tahu (kebenaran), tetapi ia cuek untuk melakukan itu, maka kecuekan tersebut juga merupakan suatu kekufuran. Sesungguhnya, siapapun yang beriman pada Tuhan dan hari akhir dari agama apapun akan mencari kebenaran tanpa kenal lelah  setelah dia menyaksikan munculnya tanda-tanda yang melanggar hukum alam (mukjizat). Jika seseorang pergi berusaha memastikan realitas tersebut akan tetapi ia wafat sebelum mampu menuntaskan pencariannya, ia pun diampuni dan dianugrahi luasnya rahmat Tuhan. Jadi milikilah pandangan yang luas terkait luasnya rahmat Allah Ta’ala dan janganlah mengukur standar ketuhanan dengan standar makhluk yang penuh keterbatasan. Ketahuilah dengan baik bahwa akhirat pun serupa dengan dunia ini, karena (al-Qur’an menyatakan) “Menciptakan dan membangkitkan kamu (bagi Allah) hanyalah seperti (menciptakan dan membangkitkan) satu jiwa saja (mudah).QS 31:28.

 

Kebanyakan orang di dunia ini relatif menikmati keamanan dan kemudahan atau kondisi yang membuat hidup dapat dinikmati; untuk alasan itu, jika kebanyakan orang diberi pilihan antara hidup atau mati, misalnya, mereka akan memilih hidup. Sementara bagi mereka yang menderita sedemikian rupa, akan lebih memilih kematian, namun situasi seperti itu sangat langka. Mereka yang divonis menjadi penghuni abadi Jahannam juga termasuk langka, karena atribut rahmat ilahi tidak berubah tersebab perbedaan situasi kita, dan dunia ini serta yang sesudahnya sederhananya hanyalah dua ekspresi berbeda dari situasi kita. Jika tidak seperti itu, maka pernyataan Rasulullah takkan ada artinya ketika beliau bersabda:

“Hal pertama yang ditulis Tuhan dalam Kitab/surat pertama adalah.”Akulah Tuhan. Tak ada tuhan selain-Ku. Rahmat-Ku mendahului azab-Ku, maka barangsiapa bersaksi bahwa tak ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya, baginya surga.“[32]

 

Tak ada keraguan bahwa mereka yang tidak beriman akan masuk neraka. Akan tetapi, menurut Imam al-Ghazali, kufur adalah penolakan secara aktif, bukan kepasifan atau bahkan ketidaktahuan. Karena itu, penolakan harus didahului oleh pemahaman yang jelas terkait apa yang ditolak. Lebih dari itu, bagi siapapun yang tulus, bukan hanya dimaklumi namun hampir pasti bahwa mereka akan mencari kebenaran.

 

Imam Suyuti menyatakan dalam fatwanya tentang ayah ibu Rasulullah SAW dan tempat mereka di akhirat,

“Ayahanda Rasulullah SAW hidup dalam masa ketika kebodohan yang  meliputi dunia dari timur ke barat; para pemuka Ahli Kitab tersebar di negeri yang beragam, seperti di kawasan Syam, dan hanya beberapa orang dari mereka mengetahui hukum ilahiah dan mampu menyampaikan pesan tersebut dengan benar. Tdak satupun dari keduanya  (ayah atau ibu Rasulullah SAW) terbiasa melakukan perjalanan, sebagai pengecualian hanyalah perjalanan ke Madinah. Tidak juga salah satu dari mereka berusia panjang; usia lebih lama akan memungkinkan mereka untuk mengejar kebenaran dan memeriksa banyak hal, tapi kenyataannya keduanya mati muda. Imam al-Hafiz  Salah-al-Din al-Ala’i menyatakan bahwa ayah Rasulullah SAW, ‘Abd Allah baru berusia delapan belas tahun ketika Aminah mengandung; dia pergi ke Madinah untuk membawakan sejumlah kurma untuk keluarganya tapi wafat ketika di sana beserta sepupunya dari Bani Najjar.[33]

 

Dengan demikian, menurut imam, orangtua Rasulullah SAW tidak hidup cukup panjang untuk mempertimbangkan perkara-perkara penting, dan faktor ini harus dimasukkan ke dalam pertimbangan baginya maupun orang lain. Tambahan lagi, sebuah hadits shahih yang dikenal luas menceritakan kisah tentang seorang pembunuh massal yang ingin bertaubat dan diperintahkan oleh seorang ‘alim untuk pergi ke suatu negeri di mana terdapat orang-orang baik yang menyembah Tuhan. Dia pergi, tapi wafat di perjalanan. Malaikat rahmat hendak membawanya karena hatinya dipenuhi ketulusan untuk bertaubat. Di sisi lain malaikat azab beralasan bahwa laki-laki tersebut tak pernah melakukan satu kebaikan pun selama hidupnya. Berdasarkan hadits tersebut, Tuhan memperpendek jarak antara tempat wafatnya laki-laki itu dengan negeri kaum beriman, sehingga malaikat rahmat-lah yang kemudian membawanya. Ini adalah hadits yang jelas menunjukkan bahwa seseorang mungkin dalam perjalanan menuju keimanan dan belum tiba pada takdirnya ketika ia sekarat, namun diselamatkan tiada lain karena rahmat Tuhan.[34]

 

Menurut Imam Syafi’i jika seseorang membunuh orang lain sebelum Islam datang kepadanya dengan tegas (uqimat alaihi al-hujja).[35] Sang pembunuh harus membayar diyat dan kafarah tapi tidak tertimpa hukuman mati karena pada laki-laki tersebut tidak berstatus muslim secara hukum (pada waktu ia melakukan pembunuhan), akan tetapi muslim secara esensi (muslim bi al-ma’na). Ibn Rif’a mengomentari hal ini dalam al-kifarah dan menyatakan bahwa, “[dia dianggap sebagai muslim] karena dia lahir dengan fitrah dan tak ada tanda-tanda pembangkangan nyata yang nampak.[36] Dengan kata lain, Ibn Rif’a juga menyatakan bahwa kekufuran adalah aksi aktif bukan pasif. Lebih jauh lagi, Imam an-Nawawi menyatakan di dalam komentarnya terhadap koleksi hadits Imam Muslim tentang anak-anak dari kaum musyrik,

“Mazhab pemikiran yang paling sahih dan terpilih dan yang paling banyak diadopsi oleh para ulama paling otoritatif adalah yang menyatakan bahwa mereka ada di surga, berdasarkan firman Tuhan, “tetapi Kami tidak akan menyiksa sebelum kami mengutus seorang Rasul” QS 17:15. Jika orang dewasa saja tidak dihukum sebelum ada pesan ilahi yang sampai kepadanya, maka anak-anak akan lebih aman lagi.[37]

 

Imam al-Suyuti berkomentar:

Apakah hal ini mencakup semua orang pada masa pra-Islam? Tidak, Saya akan menyatakan bahwa ini hanya melingkupi mereka yang belum dihadirkan padanya pesan kenabian sama sekali. Namun bagi mereka yang diberikan pesan kenabian sebelumnya dan tetap dalam kekufuran mereka, mereka jelas merupakan bagian dari penghuni neraka.[38]

Dalam uraian komentarnya yang panjang, Syarh Jawharat alTauhid, dua orang ahli ushuludin Syaikh Abd al-Karim Tatan dan Syaikh Muhammad Adib al-Kilani, sepakat dengan Imam al-Ghazali pada perkara tersebut:

 

“Pada sabda Rasulullah SAW: Demi Zat yang jiwaku ada di tangan-Nya, siapapun entah dia Kristen atau Yahudi, yang mendengar tentangku  dari umat ini lalu mati tanpa beriman padaku merupakan penghuni neraka. Merujuk pada para ulama, ada tiga faktor yang tercakup di sini:

  • Seseorang mendengar tentang Rasulullah SAW, hal ini mencakup pesannya dan bukti-bukti kebenarannya.
  • Seseorang menolak untuk mengimani apa yang diturunkan pada Rasulullah SAW.
  • Seseorang wafat dalam keadaan demikian.

Karena itu, seseorang yang tidak pernah mendengar tentang Rasulullah SAW, seperti halnya seseorang yang tinggal di tempat yang sangat jauh, dan tidak mendapat kesempatan untuk menyadari kebenaran klaim-klaimnya, hal tersebut tidak diperhitungkan… Sejumlah ulama juga menyertakan bahwa jika pesan tersebut tiba pada seseorang dengan terdistorsi atau mengandung kesalahan atau tidak menarik dan dipenuhi kecacatan mereka yang bisa membawa pada menyimpangan, maka penghukuman atas orang tersebut disamakan dengan seolah-olah pesan tersebut tak pernah datang padanya, kecuali jika ia memiliki kemampuan untuk melihat hal-hal yang sejati dibalik tabir kebohongan/penyimpangan itu, namun ia tetap berpaling.[39]

 

Ibnu Mukandir, salah satu guru Imam Malik dan seorang ‘alim ternama dari kalangan tabi’in[40] berkata, “Aku malu kepada Allah untuk mengatakan bahwa rahmatnya tidak akan sampai pada mereka yang tidak taat, dan jikalah bukan karena wahyu yang jelas turun mengenai kemusyrikan, saya tidak akan mengeluarkan mereka dari cakupan ayat, “Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu”. Begitu juga Imam al-Munawi mengutip salah satu ulama dan berkata,

“Kehadiran Ilahi itu absolut, dan Allah melakukan segala sesuatu yang Ia kehendaki. Tak satupun di antara orang-orang yang beriman memiliki jaminan keamanan dari balasan Tuhan atas dosa-dosanya. Akan tetapi orang-orang akan bergantung pada hal seperti [firman Tuhan] “Rahmat-Ku melampaui azab-Ku”.[41]

 

Baik Syaikh Muhyi al-DIn b.Ibn al-Arabi dan Ibn Taymiyyah memegang pandangan heterodoks terkait api neraka sebagai hasil dari upaya pengkompromian mereka atas konsep rahmat ilahi dengan hukuman tak terbatas (infinit) atas dosa yang terbatas (finit). Dalam salah satu periwayatan yang dipahami sahih, Syaikh Ibn Taymiyyah condong pada pandangan anihilasionis yang berpendapat bahwa api neraka kelak akan padam.  Jahm b. Shafwan yang nyentrik juga berpandangan demikian dan hal ini umum dalam pandangan sejumlah ahli etik Yahudi. Syaikh Muhyi al-Din n al-Arabi berpegang bahwa  para penghuni neraka pada akhirnya akan memiliki sifat seperti api dan tidak lagi merasakan pedih, namun bisa mulai merasa nyaman dengan api tersebut.[42]  Imam al-Ghazali-lah, semoga Allah membalas kebaikannya, yang mampu memberi penjelasan ortodoks yang jernih pada permasalahan teologi yang rumit dalam bab teodisi[43]ini dengan memperkenalkan  faktor penolakan dengan sadar atas Tuhan dan atau Rasul-rasulnya sebagai syarat perlu dan cukup atas dakwaan. Karena itu, merujuk pada Imam al-Ghazali, banyak orang akan memasuki neraka atas beragam dosa mereka, sementara mereka gagal untuk menebusnya [kesalahan mereka, pen] di dunia ini, tapi rahmat Tuhan akan melampaui semua itu dan pada akhirnya mereka semua akan bebas dari neraka.

 

Al-Qur’an memang menyebut sejumlah orang yang akan bertahan selamanya di neraka. Syaikh Hasan al-Habanakah al-Maydani berkata:

“Al-Qur’an tidak ambigu dalam menjelaskan bahwa orang kufur yang tidak memiliki alasan atas kekufurannya (ghayru al-ma’dzur bi kufrihim) merupakan penghuni neraka di akhirat dan akan terjerumus selamanya di dalamnya sebagai hukuman atas mereka. Lebih jauh lagi, Tuhan tidak akan mengampuni mereka apakah karena kekufuran atau syirik sementara Dia akan mengampuni orang beriman yang berdosa karena rahmat Tuhan akan sampai pada mereka sebagai pemaafan dan ampunan dari kemurahan dan kasih Ilahi, jika Dia berkehendak.[44]

Frase operatif di sini adalah “Mereka yang tidak memiliki alasan atas kekufuran mereka”. Yakni orang-orang yang dengan kehendak sadar menolak kebenaran, seperti halnya Iblis, karena arogansi, bukan ketidaktahuan. Mereka yang sungguh-sungguh tidak sadar mungkin akan menghabiskan waktu di neraka namun akan mendapatkan juga kasih Tuhan sebagaimana diindikasikan oleh Imam al-Ghazali. Qur’an merujuk pada kekufuran dengan disertai karakter tertentu yang mengindikasikan respon buruk dari mereka yang dengan sadar dan sengaja menolak risalah.

Rasulullah SAW menggambarkan kaum kufur dalam hadits shahih riwayat Bukhari sebagai penghuni neraka, “Maukah kuberitahu siapa para penghuni neraka?”, Para sahabatnya menjawab, “Tentu saja, beritahu kami.” Beliau menjawab, “Setiap orang yang kejam, kasar, bermegah-megah, pemboros, dan arogan.”[45]

Sebagai tambahan,sebuah hadits yang merupakan hadits pertama  yang disampaikan pada para pelajar hadits, menyatakan, “Barangsiapa yang tidak menunjukkan kasih sayang tidak akan mendapatkan kasih sayang tercurah padanya.”[46] Juga di dalam hadits lain dikisahkan seorang pelacur yang diampuni karena memberi minum seekor anjing.” [47]

 

 

 

[29] Syaikh Abd al-Rahman Hasan al-Habanakah al-Maydani, al-Aqidah al-Islamiyah wa ususuha (Damaskus: Dar al-Qalam, 1997), 615

[30] Abu Hamid AlGazali. Majmu al-rasa’il al-Ghazali (Beirut:Dar-al Kutub al-Ilmiyyah, 1994)96

[31] Ibid

[32] Ibid, 97

[33] Imam Jalaludin as-Suyuti, al-Hawi li al-falawi (Beirut:Dar al-Kitab al-Arabi,n.d.), 2:409

[34] Imam Yahya b.Sharaf al-Nawawi, Syarh Riyad al-Shalihin, trans.and commentary, Hafiz Salah al-Din Yusuf (Riyadh:Maktabat Dar al-Salam, 1998),1:32

[35] Hal ini bermakna bahwa bukti-bukti (hujjah) tentang Islam telah dipresentasikan tanpa ada kontroversi lagi. Tentu saja tidak sesederhana mengatakan pada mereka bahwa mereka harus menjadi muslim. Seseorang kadang berpikir bahwa cukup dengan melihat Rasulullah SAW saja sudah cukup untuk menjadi bukti yang cukup, tapi nyatanya beberapa sahabatnya butuh waktu bertahun-tahun untuk kemudian menyadari kebenarannya. Di sisi lain, Abu Lahab takkan pernah menyadari ini sehingga takdirnya sudah dipastikan sedari awal.

[36] Al-Suyuti, al-Hawi li al-fatawi, 2;408

[37] Imam Yahya b. Sharaf al-Nawawi, Sahih Muslim bi-sharh al-Nawawi (Kairo: Matba’ah Hijazi, 1930) Vol16, 209.

[38] al-Suyuti, al-Hawi li al-fatawi, 2;408

[39] Syaikh Abd a-Karim Tatan dan Syaikh Muhammad Adib al-Kilani, Syarh jawharat al-tauhid (Damaskus: Dar al-basha’ir, 1994) 1:146

[40] Generasi kedua Muslim yang masih menjumpai sahabat Rasulullah SAW, namun tidak berjumpa dengan beliau SAW.

[41] Imam Muhammad Abd al-Rauf al-Munawi Fayd al-Qadir (beirut: Dar-al Islam, 1996), 4:610

[42] Lihat al-Janab al-Gharbi, kolom Rasyid Effendi, Perpustakaan Sulaimaniyya, Mukhtasaru tadzkirat al-Qurtubi

[43] Persoalan terkait kebenaran dan keadilan Tuhan dihadapkan dengan keberadaan setan

[44] Al-Maydani, al-Aqidah al-Islamiyah, 622

[45] Sahih Muslim (Beirut: Dar al-Ihya al-Turath al-Arabi, 2000), Vol 1, No. 9021

[46] Sahih Muslim, Bab 30. No.5737

[47] Al-Nawawi, Sharh matn al-arbain al-nawawiyyah (Damascus: Maktabat Dar –a-Fath, 1970), 123

Advertisements

One thought on “Siapakah Kaum Tak Beriman Itu? (6/8)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s