Siapakah Kaum Tak Beriman Itu? (7/8)

Diterjemahkan dari Who Are the Disbelievers?”  (Hamza Yusuf) 
oleh Rira Nurmaida

Terjemahan ini merupakan rangkaian dari delapan bagian pembahasan 
dalam makalah asli oleh Syaikh Hamza Yusuf yang dimuat 
pada Jurnal’ Season’ terbitan Zaytuna Tahun 2008.

Relasi Muslim dengan Orang-orang Berkeyakinan Berbeda

Tuhan dalam Islam adalah Tuhan seluruh manusia—Tuhannya Orang Yahudi, orang Kristen, Sabi’in, Majusi, serta Musyrik. Dia memberi makan dan merawat mereka dengan belas kasih dan murah hati. Dia bahkan membiarkan mereka yang tidak mengakui-Nya dengan alasan “ada kemungkinan mereka akan kembali”. Ia menantang mereka yang beriman pada-Nya dan mengagungkan-Nya untuk menyematkan dalam diri mereka sifat-sifat yang dipilih Tuhan untuk menggambarkan diri-Nya: pengasih, penyayang, pemaaf, sabar, penuh belas kasih dan cinta.

Rasulullah Salallahu ‘alaihi wasalam bersabda, “ Tak seorangpun dari kalian benar-benar beriman hingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai bagi dirinya sendiri.” Imam al-Nawawi menyatakan hal berikut dalam penjelasannya:

“Hal ini pertama-tama haruslah dimaknai sebagai persaudaraan universal sehingga ia mencakup muslim dan nonmuslim (kafir). Seseorang seyogyanya menginginkan bagi saudaranya nonmuslim bahwa ia akan berserah diri pada Tuhan-Nya. Sementara bagi saudara muslimnya, ia menginginkan bahwa kondisi seperti itu berlanjut. Berdasarkan alasan ini, mendo’akan nonmuslim untuk mendapatkan hidayah sangat dicintai dan diberi pahala oleh Tuhan. Hadits di atas semestinya dipahami untuk menegasikan keutuhan iman, dan bukan beriman atau tidaknya itu sendiri bagi seseorang yang tidak mencintai bagi saudaranya apa yang ia cintai bagi dirinya sendiri. Lebih jauh lagi, makna cinta di sini adalah seseorang menginginkan kebaikan dan manfaat bagi orang lain. Ini merupakan cinta spiritual dan bukan cinta natural. Manusiawi bahwasanya jika seseorang tidak menyukai hal baik atau keistimewaan terjadi pada orang lain dan bukan pada dirinya sendiri. Tapi seseorang harus melawan kealamiahan ini dan menentangnya dan berdo’a bagi saudaranya dan keinginan bagi sesamanya apa yang ia cintai bagi dirinya sendiri. Kapanpun sast ia tak mampu melakukan hal tersebut, hal itu karena ia iri… Karena itulah seseorang harus melatih diri dan memaksa egonya untuk merasa cukup dengan keputusan Tuhan dan menentang egonya sendiri dengan berdo’a bagi musuh-musuhnya.[48]”

Hanya ketika kita meraih level keimanan dan toleransi sebagaimana yang dijelaskan Imam Nawawi inilah maka kondisi kita akan berubah. Kita berada dalam kondisi rendah dan tertekan karena itulah tempat di mana kita dapat mempelajari pelajaran yang kita butuhkan. Muslim lupa bahwa Rasulullah salallahu ‘alaihi wasalam mengalami siksaan di Mekah selama tiga belas tahun, namun ia masih mendo’akan kaum-Nya untuk mendapatkan hidayah. Beliau mengalami kekerasan di pertempuran Uhud dan masih berdo’a, “Oh Tuhanku, ampuni kaumku karena mereka tak tahu apa yang mereka lakukan.”[49] Inilah yang diajarkan pada kita untuk merespon nonmuslim. Perhatian utama kita semestinya bukanlah perihal kemana orang akan menuju, tidak pula kita menginginkan bagi orang lain apa yang tidak kita inginkan bagi diri sendiri. Namun justru, perhatian kita seyogyanya sebagaimana yang dipertanyakan Tuhan pada kita semua: “Kemanakah kamu akan menuju?”
[48] Al-Nawawi, Sharh matn al-arba’in al Nawawiyah (Damascus: Maktabah Dar-al Fath, 1970), 123.

[49] Sahih Muslim, Bab Jihad, No.4418

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s