A Separation of Nadar and Simin

 

 

Cerai. Pada suatu titik cerai memang dipandang sebagai sebuah solusi atas jalan buntu yang tidak bisa dikompromikan lagi. Tapi begitu banyak juga pasangan yang buntu pikirannya, bahkan untuk mengurai masalah sehingga kata cerai tetap diucap meski tidak akan menjadi solusi. Melarikan diri, mungkin.

Ohya, film Iran ini dimulai dengan به نام خدا   aka bismillah. Detail ga urgen dicantumkan di sini sih, tapi berhubung kangen kelas Bahasa Farsi, jadi disebut.  Udah, gitu aja, mari kita lanjut, kan sudah baca basmalah, hehe.

 

Kembali pada kata pertama dalam tulisan ini, proses perceraian adalah pergulatan tokoh-tokoh kita, Nadar dan Simin dalam film ini. Alkisah Simin menggugat cerai Nadar, suaminya, karena tidak bersedia mengikuti dia ke luar negeri untuk pendidikan yang lebih baik bagi putri mereka. Nadar sendiri mengatakan di depan hakim bahwasanya ia memiliki seribu alasan untuk tinggal. Hal pertama adalah ayahnya yang sakit alzheimer dan tak mungkin ditinggal.

 

Seketika mungkin muncul dugaan, “oh, Simin itu menantu yang tidak peduli pada mertuanya yang sakit ya. Kok bisa tega memaksa suaminya pergi.”. Nope, tunggu dulu dong, dugaan itu tidak benar. Film ini mengupas kompleksitas menarik dalam batin pasangan yang berada di ambang pintu perceraian, disertai kegundahan putri mereka satu-satunya yang dalam kesedihannya masih berupaya menyatukan kedua orangtuanya. Menariknya, dialah yang tahu apa yang sebenarnya dikehendaki kedua orangtuanya. Bukan perpisahan, lho.

 

Ayah Nadar yang disebut-sebut Simin bahkan tidak mengenali anaknya lagi, justru masih mengenal Simin dan memanggil-manggil namanya terus. Bahkan ketika Simin hendak pindah ke rumah orangtuanya, tangannya dipegang erat oleh sang mertua, seolah melarangnya pergi. Simin pun nampak bersikap takzim padanya. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan mereka berdua sebenarnya cukup baik. Apa yang diinginkan Simin?

 

Terkait pendidikan putrinya yang lebih baik di luar negeri pun sepertinya bukan hal mengada-ada. Simin sendiri seorang guru, asumsinya ia dapat mengukur potensi putrinya dan kesempatan yang bisa didapatkannya di dalam negeri. Sebagai orangtua, terlihat pula bahwa ia dan Nadar sangat memprioritaskan pendidikan putrinya. Mereka memanggil guru privat ke rumah, padahal mereka berdua pun sering mendampingi putrinya belajar. Bahkan ibu Simin pun begitu, ada momen ketika ia menemani cucunya mempersiapkan ujian. Lantas kenapa ketika keadaan berubah (tidak membuatnya leluasa ke luar negeri) ia tidak berupaya mencari kompensasi lain atas pendidikan putrinya di dalam negeri? Sepertinya ayah Nadar jatuh sakit baru-baru saja karena rencana pergi keluar negeri itu katanya telah disiapkan berbulan-bulan sebelumnya. Bahkan mereka bertiga sudah memiliki visa yang akan jatuh tempo 40 hari lagi.

 

Ancaman perpecahan biasanya akan mereda bila kedua pihak tiba-tiba dihadapkan pada permasalahan bersama. Konflik seperti itupun ada saat Nadar terancam masuk penjara karena dituduh mendorong perawat ayahnya yang sedang hamil hingga keguguran. Simin tak tinggal diam. Ia mencarikan jaminan untuk suaminya, dan selama Nadar tak bisa pulang ke rumah, ia membawa ayah mertuanya untuk dirawat di rumah orangtuanya. Pada saat menjemput ayahnya itulah kita mendengar pengakuan Simin. Sayangnya sang ayah yang menderita alzheimer hanya dapat mendengarnya dalam diam. Entah beliau paham atau tidak, yang jelas ia takkan mampu menyampaikan apa yang ia dengar pada siapapun.

 

Kisah sampingan terkait perawat ayah Nadar dan suaminya juga sedikit menarik, tapi konfliknya berbeda. Kita bisa melihat relasi dua kelas yang berbeda di sana, di hadapan pengadilan, juga di dalam upaya penyelesaian konflik secara kekeluargaan. Mereka memiliki permasalahan keluarga yang lain, yag pemicunya lebih dominan terkait masalah finansial. Meski digambarkan lebih religius tapi nampak kemampuannya dalam menghadapi masalah masih belum terwarnai banyak oelh keyakinannya itu kecuali semata sebagai jargon.

 

Tarik ulur soal perceraian itu cukup melelahkan. Sang anak malah sempat memohon ayahnya berjanji mengajak ibunya pulang ke rumah. Tapi dasar anak-anak, ia malah mengatakan sesuatu yang membuat ayahnya kembali kesal pada istrinya. Meski telah berjanji, sang ayah akhirnya meminta maaf karena tak sanggup memenuhinya.

 

Sepanjang film ini, kedua pasangan itu berbicara satu sama lain melalui pihak ketiga. “katakan pada ayahmu aku akan membawa buku ini”, “tanyakan pada ibumu di mana dia biasa menyimpan gula”, “pak hakim tanyakan padanya kenapa sekarang ia mau meninggalkanku padahal dulu ia mau hidup bersamaku”. “pak hakim aku bukan hendak meninggalkannya, tapi tanyakan padanya kenapa ia tak mau ikut denganku.”

 

Mungkin rutinitas bertahun-tahun yang membuat orang yang tadinya saling merindu, berkasih sayang, kini kehilangan semua perasaan itu. Mungkin permasalahan di tempat kerja serta berbagai kesulitan menghidupi anak dan tetek bengeknya menggeser semua urusan penting yang harusnya mereka jaga sebagai pasangan. Sebenarnya film ini cukup mudah dibaca dan artikel ini memberi banyak petunjuk tentang kisahnya. Tapi berdialog dengan sebuah film merupakan pengalaman khas bagi tiap orang, sehingga aku tetap merekomendasikannya untuk ditonton.

 

Ga apa-apa ya kalau spoiler… Aku ganggu sedikit penulisannya, haha.

Ayah Nadar memang tak mampu menyampaikan isi hati Simin pada putranya, tapi aku bisa. Malam itu, sambil menyetir dengan mata berkaca-kaca, ia berkata, “Dia bahkan tidak memintaku untuk tinggal. Seolah-olah hidup bersamaku belasan tahun tak ada artinya…”

 


A Separation/ Jodaeiye Nader az Simin (original title)
PG | 2h 3min | Drama| Rilis: 16 Maret 2011 (Iran)|
Director: Ashgar Farhadi| Writer: Ashgar Farhadi|
Aktor: Peyman Moaadi, Leila Hatami, Sareh Bayat
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s