Kau belum juga beranjak

Aku merinding sendiri terhadap pikiranku tentangmu malam ini, Re. Benarkah kau bisa menjadi penjaraku saat kuhampiri kau sebagai rumahku. Aku takut, karena hartaku yang paling berharga adalah kebebasan. Aku takut bisa merelakannya, bila kau yang minta. Aku segan melangkah. Aku ingin pulang, tapi begitu takut takkan dapat melihat matahari lagi sesegera aku melewati pintu.

Aku tak yakin kau bisa setega itu. Tapi jika lukamu belum sembuh, mungkin kau juga tak sadar erangmu dapat melukaiku. Semuanya tidak realistis, sedari awal. Entah kenapa kita selalu memaksa, dan merasa lolos. Hingga kita tiba di pintu terakhir, ragu barulah menggelayuti kakiku. Takut, tiba-tiba merasuk. Berapa tahun? Belasan, mungkin. Atau lebih?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s