All Things Must Pass

Kepergian adalah hal yang alami.  Tak terelak, tak tertolak.  Tak ada realitas yang selalu sama,  selalu ada,  selalu bertahan,  kecuali Sang Realitas itu sendiri.  Namun mengapa kealamiahan yang akrab ini tetap berat diterima bagi banyak orang.

 

Logikanya,  sesuatu yang alami mestilah lebih siap dihadapi.  (Nanti akan ada perbincangan lagi tentang kealamian atau hal-hal natural,  tapi tidak sekarang). Kupikir,  kesulitan atau keberatan itu lebih bertumpu pada “ketidaksiapan atas kondisi setelah kepergian”  ketimbang ketiadaan pengetahuan atau penolakan terhadap realitas “akhir/ujung/pisah” yang merupakan konsekuensi kepergian.

 

Hal ini sepertinya bukan sesuatu yang otomatis dipahami.  Bahwa kebersamaan tidak mungkin selamanya,  dan perpisahan pun tak mungkin terjadi selamanya.  Tak ada yang menyandang label “selamanya” di atas bumi.  Seperti kata George Harrison, “Sunrise doesn’t last all morning,  a cloudburst doesn’t last all day”.

 

Tidak selamanya kepergian bisa diprediksi,  justru itu mengapa “pergi” sering identik dengan “hilang”, karena kejadian atau dampaknya,  kadang dirasakan belakangan setelah kekosongan muncul.  Tidak semua orang yang kadang menjadikan kematian sebagai bahan candaan siap ditinggal mati,  misalnya. Saat terprediksi,  ada beberapa kepergian yang bisa diantisipasi dampaknya, meski banyak yang memang tak tergantikan.

 

Hal lain yang tak mungkin dilewatkan adalah terkait tautan atau attachment. Coba pikir,  setiap hari kita mengalami perpisahan dengan banyak orang, mungkin puluhan,  ratusan, atau lebih. Kita menghabiskan uang,  tapi tak begitu sedih karena paham terkait perputaran kekayaan,  atau paham konsep rizqi yang sifatnya memang pemberian,  (sedih menghabiskan uang karena pemborosan,  itu hal lain ya). Kita keluar rumah,  tetangga melintas berangkat kerja atau kita bertemu orang asing yang berlalu lalang. Sedetik kita jumpa,  lalu berpisah.  Tak ada sedih terasa.  Karena tiadanya tautan. Lantas apakah bertautnya hati salah karena membuat lemah menghadapi realitas natural?

Tak ada salah, itu pun alami.  Mungkin tak ada seorang ibu pun yang tak jatuh hati pada anak yang dilahirkannya. Cinta yang akan berlanjut terus hingga sang anak dewasa dan tidak lagi membutuhkan dukungan langsung orangtuanya untuk bertahan hidup. Sang ibu akan selalu rindu,  dan berat berulang-ulang setiap melepas anaknya pergi. Ada anak yang meraung begitu sadar ibunya tak berada dalam jangkauan penglihatannya.  Namun tentu ada juga kadar kerinduan atau kesedihan yang sulit terbilang normal dan bisa menimbulkan gangguan mental. Hal ini bisa terkait dengan trauma pernah terkunci,  ditinggal sendiri, atau yang lebih serius seperti pada beberapa kasus adopsi atau anak yang terlahir tak diinginkan (unwanted child).

 

Karenanya,  dalam pengasuhan anak (yang bertanggung jawab dalam pengasuhan bukan sekedar orangtua,  tapi semua orang dewasa yang berinteraksi dengan anak, karenanya harus  memiliki kesadaran tentang dan memikirkan kesan dan memori yang akan disimpan anak) pun idealnya dikenalkan bahwa sesuatu bisa hadir dan absen, misal lewat permainan dengan cermin,  ciluk ba,  atau petak umpet.  Salah satu manfaatnya agar mereka belajar membangun persepsi kefanaan dan siap dengan kondisi berubah-ubah,  dari ada menjadi tiada,  bersama atau sendiri. Juga sangat diperlukan “pamit” sebelum meninggalkan anak, menyampaikan waktu kembali,  dsb. Perkara-perkara tersebut termaduk unsur penting dalam membangun sekuritas.  Kelemahan dalam kosongnya persepsi itu menimbulkan ketakutan berlebih saat ditinggal,  kurangnya percaya diri,  hingga merasa diri tidak berharga yang bisa berjejak hingga dewasa.

 

Sejauh ini rasanya seperti berbicara begitu beratnya menjadi manusia.  Menerima kealamiahannya saja perlu berlatih dan belajar.  Mengenali realitas dan memiliki kemampuan berkompromi dalam batas-batas prinsipil memang merupakan keterampilan hidup yang khusus,  tak bisa dipelajari instan dan tak mengenal final.

Advertisements

As long as you don’t stop walking

 

One saying attributed to George Eliot: “It is never too late to be what you might have been.” I want to believe in it.  Be an educated person is my highest aim in life.  How vague the term might be,  I never mind. That’s just to show how I value knowledge. The standard is changing all the way I walk the path.  First,  I want to be a scientist.  Later, I swayed.  I stepped back from the professional training path,  considering I didn’t have a strong basic knowledge to be an educated person.  I kind of lacked of some basic skills in thinking and language.  That explain why I’m still here right now,  looking for another way to catch up.

 

A Poetry From Elizabeth Bishop

One Art
Elizabeth Bishop (1911-1979)

The art of losing isn’t hard to master;

so many things seem filled with the intent
to be lost that their loss is no disaster.

Lose something every day. Accept the fluster

of lost door keys, the hour badly spent.
The art of losing isn’t hard to master.

Then practice losing farther, losing faster:

places, and names, and where it was you meant
to travel. None of these will bring disaster.

I lost my mother’s watch. And look! my last, or

next-to-last, of three loved houses went.
The art of losing isn’t hard to master.

I lost two cities, lovely ones. And, vaster,

some realms I owned, two rivers, a continent.
I miss them, but it wasn’t a disaster.

–Even losing you (the joking voice, a gesture

I love) I shan’t have lied. It’s evident
the art of losing’s not too hard to master

though it may look like (Write it!) like disaster.

Ada banyak alasan untuk ‘melepas’.

Apa kabar?

Menanyakan kabar semakin terasa sebagai basa-basi dan berarti di zaman ini. “Maksudnya apa? Dia ga baca statusku apa gimana?” atau “Apa kabarnya dia sekarang ya, liat wall-nya deh.” Hahaha, sulitnya berurusan dengan sesama seleb. Hal itu masih terjadi padaku beberapa bulan lalu saat masih mengaktifkan beberapa akun medsos.

Tapi belakangan kutinggalkan karena terlalu melelahkan dan kebanyakan hanya memperluas relasi kerumunan. Semakin sedikit hubungan intens yang sifatnya lebih eksklusif. Bercerita dengan kerabat atau kawan yang benar-benar diingat dan bukan sekedar teringat karena kebetulan lewat di lini masa.

Lebih lampau lagi, aku punya kebiasaan di akhir pekan untuk menelpon random atau berkirim pesan dengan orang-orang yang kusimpan nomoe kontaknya. Biasanya sambil bersantai aku menelusuri nama-nama di buku telpon lalu berhenti di nama yang sekiranya sudah cukup lama tak jumpa atau berkirim kabar. “Apa kabar” dan “Semoga baik-baik” ya, kadang sudah cukup untuk menjadi kurir ketulusan. Jika hubungannya lebih dekat, akan ringan saja mengetik “kangen nih”… hahaha. Lalu, bergantung pada situasi, percakapan akan berlanjut atau berhenti di sana. Itu sudah cukup.

Sudah lama aku tidak melakukannya lagi. Karena terasa tak perlu saat aku bisa membaca kabar hampir semua orang pada akun medsosnya. Ketika aku mencoba membuka percakapan pribadi tak selalu mendapat respon hangat. Namun jika aku menulis komentar atas berita yang sedang hot, tak diduga, kawan yang mungkin sudah di antah berantah dan biasa mengabaikan pesan-pesanku pun sudi mampir. Bah!

Lalu aku berpikir, aku sudah tak mampu lagi mengambil manfaat dari kepemilikan akun-akun tersebut. Kuhapus saja. Aku tetap mudah dihubungi. Alamat emailku tak berubah dan tetap aktif. Bahkan yang kubuat sebelum kuliah dulu, akun yahoo, masih kugunakan. Nomor telpon juga sama. Tak sulit mencarinya, bahkan namaku juga masih ditemukan pada pencarian google dan jika diarahkan pada blog ini, bertambah satu lagi cara menghubungiku. Jadi aku sama sekali tak bersembunyi atau mengubur diri.

Aku hanya ingin menemukan lagi kehangatan “apa kabar” yang ditemukan di inbox sms atau e-mail. Jadi tunggu saja mungkin suatu waktu jariku berhenti di namamu dan kukirimkan salam hangatku. Meski aku akan sangat senang jika mendapatkannya duluan. Terutama darimu yang bertahun-tahun tak pernah menulis status apalagi membalas suratku. Aku belum sanggup menghubungimu tapi ingin kautahu bahwa aku rindu.

A Separation of Nadar and Simin

 

 

Cerai. Pada suatu titik cerai memang dipandang sebagai sebuah solusi atas jalan buntu yang tidak bisa dikompromikan lagi. Tapi begitu banyak juga pasangan yang buntu pikirannya, bahkan untuk mengurai masalah sehingga kata cerai tetap diucap meski tidak akan menjadi solusi. Melarikan diri, mungkin.

Continue reading “A Separation of Nadar and Simin”