A Poetry From Elizabeth Bishop

One Art
Elizabeth Bishop (1911-1979)

The art of losing isn’t hard to master;

so many things seem filled with the intent
to be lost that their loss is no disaster.

Lose something every day. Accept the fluster

of lost door keys, the hour badly spent.
The art of losing isn’t hard to master.

Then practice losing farther, losing faster:

places, and names, and where it was you meant
to travel. None of these will bring disaster.

I lost my mother’s watch. And look! my last, or

next-to-last, of three loved houses went.
The art of losing isn’t hard to master.

I lost two cities, lovely ones. And, vaster,

some realms I owned, two rivers, a continent.
I miss them, but it wasn’t a disaster.

–Even losing you (the joking voice, a gesture

I love) I shan’t have lied. It’s evident
the art of losing’s not too hard to master

though it may look like (Write it!) like disaster.

Ada banyak alasan untuk ‘melepas’.

Advertisements

Apa kabar?

Menanyakan kabar semakin terasa sebagai basa-basi dan berarti di zaman ini. “Maksudnya apa? Dia ga baca statusku apa gimana?” atau “Apa kabarnya dia sekarang ya, liat wall-nya deh.” Hahaha, sulitnya berurusan dengan sesama seleb. Hal itu masih terjadi padaku beberapa bulan lalu saat masih mengaktifkan beberapa akun medsos.

Tapi belakangan kutinggalkan karena terlalu melelahkan dan kebanyakan hanya memperluas relasi kerumunan. Semakin sedikit hubungan intens yang sifatnya lebih eksklusif. Bercerita dengan kerabat atau kawan yang benar-benar diingat dan bukan sekedar teringat karena kebetulan lewat di lini masa.

Lebih lampau lagi, aku punya kebiasaan di akhir pekan untuk menelpon random atau berkirim pesan dengan orang-orang yang kusimpan nomoe kontaknya. Biasanya sambil bersantai aku menelusuri nama-nama di buku telpon lalu berhenti di nama yang sekiranya sudah cukup lama tak jumpa atau berkirim kabar. “Apa kabar” dan “Semoga baik-baik” ya, kadang sudah cukup untuk menjadi kurir ketulusan. Jika hubungannya lebih dekat, akan ringan saja mengetik “kangen nih”… hahaha. Lalu, bergantung pada situasi, percakapan akan berlanjut atau berhenti di sana. Itu sudah cukup.

Sudah lama aku tidak melakukannya lagi. Karena terasa tak perlu saat aku bisa membaca kabar hampir semua orang pada akun medsosnya. Ketika aku mencoba membuka percakapan pribadi tak selalu mendapat respon hangat. Namun jika aku menulis komentar atas berita yang sedang hot, tak diduga, kawan yang mungkin sudah di antah berantah dan biasa mengabaikan pesan-pesanku pun sudi mampir. Bah!

Lalu aku berpikir, aku sudah tak mampu lagi mengambil manfaat dari kepemilikan akun-akun tersebut. Kuhapus saja. Aku tetap mudah dihubungi. Alamat emailku tak berubah dan tetap aktif. Bahkan yang kubuat sebelum kuliah dulu, akun yahoo, masih kugunakan. Nomor telpon juga sama. Tak sulit mencarinya, bahkan namaku juga masih ditemukan pada pencarian google dan jika diarahkan pada blog ini, bertambah satu lagi cara menghubungiku. Jadi aku sama sekali tak bersembunyi atau mengubur diri.

Aku hanya ingin menemukan lagi kehangatan “apa kabar” yang ditemukan di inbox sms atau e-mail. Jadi tunggu saja mungkin suatu waktu jariku berhenti di namamu dan kukirimkan salam hangatku. Meski aku akan sangat senang jika mendapatkannya duluan. Terutama darimu yang bertahun-tahun tak pernah menulis status apalagi membalas suratku. Aku belum sanggup menghubungimu tapi ingin kautahu bahwa aku rindu.

A Separation of Nadar and Simin

 

 

Cerai. Pada suatu titik cerai memang dipandang sebagai sebuah solusi atas jalan buntu yang tidak bisa dikompromikan lagi. Tapi begitu banyak juga pasangan yang buntu pikirannya, bahkan untuk mengurai masalah sehingga kata cerai tetap diucap meski tidak akan menjadi solusi. Melarikan diri, mungkin.

Continue reading “A Separation of Nadar and Simin”

Mbak Tyas yang Sekelebat Hadir Lalu Pergi

 

kuburan3
sumber ilustrasi: justrifky.wordpress.com

Ga bisa tidur lagi setelah mendengar kabar seorang kawan lama(?) atau baru tapi cukup lama (relatif) tak kontak. Perkenalan kami sesaat, tapi karena forumnya adalah semacam terapi di mana kami bercerita banyak tentang diri masing-masing, rasanya perkawanan itu sudah terasa lama, lebih dari sekedar kenalan. Kabar terbarunya adalah: beliau wafat. Waktunya di permulaan Syawal kemarin. Aku tak tahu karena waktu itu aku masih on off FB, tidak lagi menggunakan WA, otomatis tak ada kabar sama sekali. Pikiranku seperti off sesaat. Aku masih melanjutkan aktivitas harian (apalagi hari ini aku baru saja merasa mendingan setelah sakit, jadi banyak kerjaan tertunda yang harus segera diselesaikan) hingga isya, lalu di waktu luang aku mencari tahu apa yang sebenarnya kulewatkan. Continue reading “Mbak Tyas yang Sekelebat Hadir Lalu Pergi”

Merencanakan Ramadan yang Lebih Baik

 

Biasa ya, saat sesuatu yang berharga lewat, seketika langsung terpikir hal yang lebih baik yang dapat dilakukan untuk menyambutnya. Semoga hal seperti ini pertanda untuk selalu melakukan perbaikan pada kesempatan yang (mungkin) datang lagi. Meski tak ada Ramadan yang berulang, namun semoga kita masih dianugerahi banyak Ramadan di depan untuk membasuh dosa dan menguatkan pribadi kita untuk menapaki sisa hidup sebagai hamba yang bertaqwa.

 

Ramadan kali ini memang membawa beberapa pelajaran (lagi-lagi) yang membuatku berpikir, ah andai aku menyadarinya dalam masa persiapan Ramadan. Bagaimanapun Ramadan adalah waktu spesifik yang dijanjikan Allah untuk melipatgandakan segala kebaikan di dalamnya dan kita diharapkan untuk menunda yang tak penting, menggenjot yang baik dan utama, sementara hal yang tak baik dan tak berfaedah jelas ditinggal saja. Bermula dari pola pikir tentang keterbatasan waktu saat Ramadan dan ketakterbatasan keutamaannya, pola hidup kita sebaiknya memang perlu penyesuaian kembali. Berikut ini beberapa hal yang terpikir.

 

Jadikan Ramadan Sebagai Pangkal Rencana Tahunan

Pertama, perencanaan aktivitas yang biasa kita lakukan di setiap pergantian tahun mungkin bisa digeser dengan Ramadan sebagai pusatnya. Ibarat waktu charging baterai, Ramadan adalah saat kita mengisi energi spiritual kita sebanyak-banyaknya, sepenuh-penuhnya (meski menurutku level spiritualitas ini goes to infinity, tak ada titik jenuhnya). Maka setelah Ramadan kita menjadi berenergi, terutama secara spiritual dan siap insyaAllah menghadapi berbagai kejutan hidup selanjutnya dengan penuh tawakal.

 

Ini sebenarnya bukan ide baru, Imam al-Ghazali menyarankan agar pembagian waktu harian kita disandarkan pada waktu-waktu ibadah. Setiap waktu shalat yang lima menjadi waktu transisi dan pertimbangan kita dalam menata aktivitas. Terinspirasi dari hal itu, aku mencoba untuk mengekstrapolasi penataan waktu dalam setahun terkait waktu-waktu ibadah tahunan. Akhirnya, sandarannya adalah pada kalender shaum (shaum sunnah), dengan waktu utamanya Bulan Ramadan.  Kita bisa menata agar aktivitas keduniaan kita mengikuti masa-masa utama untuk beribadah tersebut. Bagaimana caranya agar beban kerja kita berkurang di masa-masa utama untuk beribadah (bukan dihentikan atau dikurangi, tapi disesuaikan waktunya). Misalkan agar bisa memiliki waktu yang lebih lama untuk beribadah di masa Ramadan, bagaimana kita mengkompensasi waktu kerja yang berkurang di Bulan Ramadan dengan menambah waktu kerja di bulan-bulan lainnya.

 

Rencanaku pada Ramadan berikutnya, waktu kerja dibatasi hanya dari setelah subuh hingga dzuhur. Setelah itu waktunya untuk beristirahat sejenak, dilanjutkan dengan aktivitas belajar di masjid hingga waktu berbuka, lalu beristirahat lagi dan beribadah hingga selesai tarawih berjamaah. Pembagian waktu seperti itu mungkin kulakukan karena berwirausaha. Bagi pegawai atau karyawan, perlu dikenali karakter pekerjaannya sehingga bisa mengoptimalkan waktu di sela waktu kerja, dan bila mungkin menggunakan jatah cuti untuk mengoptimalkan sepuluh hari terakhir Ramadan.

 

Optimasi Sepuluh Hari Terakhir Ramadan

Nah, sepuluh hari terakhir Ramadan sebenarnya waktu yang sangat berharga, tapi justru tantangannya sangat banyak. Terkadang halangannya adalah belanja keperluan hari raya, menjamu kerabat yang sudah berdatangan untuk bersilaturahim, atau berada pada perjalanan jauh untuk menjangkau kampung halaman. Untuk perempuan memang lebih baik diam di rumah, tapi jika di rumah menjadi kurang kondusif untuk beribadah karena banyak kesibukan yang lebih karena problem tradisi itu, beritikaf menjadi opsi yang baik. Aku sendiri karena banyak halangan (dan kurangnya upaya) masih belum sanggup untuk memperbanyak waktu ibadah di akhir Ramadan.

 

Untuk masalah pertama, terpakainya waktu untuk mudik yang melelahkan, solusi yang terpikir saat ini adalah mempercepat waktu mudik, mendahului jadwal mudik orang-orang, sehingga kelelahan di perjalanan karena kepadatan pemudik berkurang. Mudah-mudahan tahun depan bisa mudik sebelum sepuluh hari Ramadan sehingga bisa menggunakan sebagian waktunya untuk itikaf.

 

Terkait masalah persiapan hari raya, kadang memang keadaan juga yang menyebabkan sulitnya kita menyiapkan lebih awal. Misal karena THR biasanya baru dibagikan di Bulan Ramadan, bukan sebelumnya, jadilah kita baru menyiapkan pakaian maupun jamuan hari raya di saat yang mestinya kita optimalkan untuk beribadah. Tapi, jika memungkinkan, misalnya menabung selama sepuluh bulan di muka untuk keperluan Ramadan dan hari raya (minimal untuk keperluan sahur buka [kalau bisa jangan disibukkan oleh agenda memasak yang lebih banyak di bulan ramadan], juga untuk zakat fitrah, dan ongkos mudik serta shadaqah selama ramadan),  itu lebih baik. THR yang didapat menjelang hari raya malah bisa dioptimalkan untuk sedekah, atau digunakan untuk melakukan konsumsi justru setelah Ramadan berakhir, setelah hari raya untuk berliburan dengan keluarga, dsb.

 

Jika pemasukkan rutin sudah ngepas untuk keperluan sehari-hari, siap-siap saja jika ada rezeki mendadak langsung disisihkan untuk antisipasi Ramadan dan hari raya, niatkan untuk mendapat keluangan lebih untuk memperbanyak ibadah di bulan mulia, insyaAllah akan mendapat kemudahan.

 

Bagaimana dengan program diskon yang justru menjamur menjelang hari raya? Ya, itu godaan. Agar tidak kehilangan peluang ekonomis, coba tandai musim diskon lainnya untuk memenuhi kebutuhan kita. Biasanya di akhir tahun, atau menjelang hari raya umat lain, banyak toko yang memberikan diskon khusus, manfaatkan momen itu. Tabungan kita untuk keperluan hari raya yang bisa disiapkan jauh-jauh hari, semisal pakaian, bisa dibuka pada momen itu.

Lakukan Bersih-bersih Akbar Menjelang Ramadan, Bukan Lebaran

Selain urusan belanja dan mudik yang digeser, kitapun biasanya disibukkan dengan acara bebenah rumah dan bersih-bersih menjelang hari raya.  Entah karena rumah akan ditinggal mudik, atau akan menerima tamu, pekerjaan ini termasuk menyita waktu dan sayang sekali bila mengurangi lagi waktu ibadah kita.

 

Bila kita termasuk sering menghabiskan akhir Ramadan dengan kegiatan beberes ini, mari kita geser menjadi kegiatan di Bulan Sya’ban. Justru kita melakukan beres-beres akbar dalam menyambut Ramadan. Jika ingin mengubah suasana dengan mendekor ulang rumah, mengecat dinding, merapikan kebun, lakukan sebelum Ramadan. Bersihkan peralatan makan dan perlengkapan untuk dipakai di Hari Raya (taplak meja, alat makan, piring hias, baju baru bila sudah ada) sebelum memasuki Ramadan, lalu simpan dengan baik agar tidak kotor lagi. Sementara saat Ramadan gunakan perlengkapan seadanya dan seefisien mungkin untuk mengurangi pekerjaan rumah tangga.

 

Terkait Usaha yang Meraup banyak Untung di Hari Raya

Nah, bagaimana dengan yang tetap berdinas, bahkan lebih sibuk di hari raya? Tenang saja, Allah tetap mencatat amal kita. Tergantung bagaimana kita meniatkan kesibukan kita dan jangan terlepas dzikir bahkan ketika bekerja, karena yang terpenting itu adalah menjaga kelangsungan koneksi kita dengan Allah. Bekerja di masa Ramadan tetap saja akan beda dengan waktu lain bagi kita yang hidup di negeri Muslim, manfaatkan suasana tersebut.  Sementara para wirausahawan yang justru mendulang pendapatan di masa Ramadan dan menjelang hari raya bisa saja kita mulai menggeser masa promo pada bulan sebelum Ramadan, atau membatasi pekerjaan di bulan Ramadan. Misalnya untuk yang terlibat dalam perdagangan, proses stok barang dan promosi diselesaikan di bulan Sya’ban sehingga di Bulan Ramadan tinggal tersisa pekerjaan untuk pengiriman dan layanan konsumen. Untuk yang memproduksi pakaian, proses produksi selesai satu atau dua bulan sebelum Ramadan. Lebih bagus lagi jika promo berjalan sebelum Ramadan. Sementara penyedia makanan berbuka, perlu mengelola waktu persiapan makanan serta efisiensi waktu penjualan agar tidak mengganggu waktu ibadah.

 

Ramadan Bermisi

Bukan sekadar misi kuantitas ibadah, tapi agar Ramadan tiap tahunnya berkesan khusus, lakukan kebiasaan baik baru yang kita latih selama sebulan penuh. Misalnya, rutin berdo’a setiap menjelang magrib; mengaji mesti seayat selepas subuh; menelpon orangtua setiap ba’da subuh di hari Jum’at; membersihkan tempat shalat setiap hari sebelum shalat malam; dll. Lalu selesai Ramadan kebiasaan itu dilanjutkan, insyaAllah Ramadan benar-benar menjadi ajang penempaan diri kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

 

Jika saat Ramadan kita berhasil meningkatkan sedikit saja hubungan kita dengan Allah, membuat kita lebih mudah merasakan kehadiran Allah, (itulah taqwa!) sehingga membuat kita lebih berhati-hati terhadap dosa dan memotivasi untuk lebih banyak beramal baik, alhamdulillah, ada hasil panen baik yang kita tuai. Modal dari panen itu yang kita ambil sebagiannya sebagai benih untuk ditumbuhkan terus hingga kita berjumpa Ramadan lagi. Lalu dari modal yang semakin banyak, semakin tinggi juga level spiritualitas yang kita miliki untuk ditumbuhkan dalam masa Ramadan yang istimewa. Dengan demikian dari Ramadan ke Ramadan, fase hidup kita bukan sirkular dari semangat ibadah lalu melemah-melemah, hingga recharge seadanya pada Ramadan. Tapi hasil panen dari Ramadan itu makin memperkuat kita untuk mempersiapkan Ramadan yang lebih baik, lalu kita memanen taqwa yang lebih baik pula, dan begitu seterusnya hingga kita mencapai derajat hamba yang mencintai dan dicintai Allah karena taqwa. Amin…