Belajar Sesuai Musim

Tentu kita bisa belajar di mana saja, kapan saja, melalui apa saja sesuai dengan kapasitas masing-masing. Tapi bagi saya, saat kita belajar mandiri, selain berusaha keras untuk disiplin pada kurikulum yang sudah diputuskan, kita juga harus pandai memanfaatkan momen untuk mempelajari topik terkait. Terutama dalam bidang sosial, turut peka dan memiliki keterlibatan minimal selevel wacana dengan apa yang terjadi akan mempercepat proses pemahaman kita terkait topik tersebut sekaligus mungkin menyingkap persoalan yang lebih mendasar saat kita bisa mengaitkannya dengan pengetahuan yang sudah kita miliki.

Proses tersebut bisa jadi akan lebih besar dampaknya dalam membangun sikap kita. Modifikasi perilaku yang perlu lebih mudah diadaptasi dibanding ketika kita mempelajarinya secara teoritis setelah berjarak ruang dan waktu. Contohnya begini, pandemi yang kita hadapi tahun ini bukan yang pertama warga global hadapi. Tapi, memahami suasana psikologis publik dalam konteks menghadapi pandemi lebih mudah saat sekarang ini terjadi di depan mata ketimbang saat kita membaca catatan sejarah. Meski kemungkinan besar tidak identik, tapi nuansanya lebih mudah dibayangkan. Lalu gejala-gejalanya bisa dianalogikan yang membawa kita pada kesimpulan dasar bahwa hampir selalu ada sentimen berulang, entah dari unsur manusianya, atau dari aspek penguasa yang menunjukkan respon primordial jiwa manusia.

Saat diterpa pandemi, semua kebingungan, dan sebagaimana pun majunya ilmu pengetahuan kita, selalu ada aspek kebaruan, unsur misterius pada sumber penyakit baru yang belum dapat diungkap sains. Karena itulah maka sebelum dapat ditangani, sudah keburu menjadi pandemi yang sulit dikontrol. Dalam alam demikian muncul hoaks, teori konspirasi, hingga kemasabodohan yang semakin menambah gawat impak pandemi itu sendiri.

Nah, tahun ini, ketika banyak rencana yang telah disusun matang jadi ambrol berantakan, mau tidak mau kita dipaksa berkumpul pada satu kelas besar dimana kita menyaksikan bangsa kita sendiri, bangsa manusia berusaha keras mengatasi ketidakberdayaan kita dengan mengorek pengetahuan sedikit demi sedikit tentang apa yang tidak kita ketahui. Bahkan tentang kelemahan sistem kehidupan yang selama ini kita anggap mapan dan sebagian membanggakannya.

Selain masalah medis, kita bisa melihat betapa menyedihkannya respon penduduk yang tingkat partisipasi sekolahnya tinggi tetap hanya mengulang sejarah respon masyarakat di masa kolonial atau bahkan abad pertengahan. Menyalahkan ras tertentu sebagai penyebab bencana, dan lain-lain. Kita melihat borok ketimpangan yang semakin terbuka lebar. Hampir semua anak sekolah, tapi berapa persen yang berpeluang mengakses sumber pembelajaran saat terjadi pembatasan sosial. Kita melihat kebutaan pendukung politik populis itu nyata, bahkan infeksi virus sulit menghentikannya. Dari unsur ekonomi, kita melihat efisiensi yang kita banggakan dan dijadikan indikator kemajuan justru terpukul sangat jeras dan menjadi sumber ketidakberdayaan kita saat banyak jaringan terputus. Lokalitas kita lemah dan ketergantungan kita pada tempat-tempat yang jauh terlampau tinggi.Kita juga menyadari ada masalah laten seperti rasisme yang tidak pernah hilang tapi justru perlawanannya menguat di masa sekarang melebihi kekhawatiran orang terhadap pandemi.

Semua itu, jujur saja bukan hal yang baru atau tak pernah dibahas. Tapi rutin mengisi pembahasan kertas-kertas akademik dan posisi berbagai modelnya seperti dongeng yang jauh mengawang. Saat semua masalah itu turun ke bumi, serentak terdengar dan terlihat, kita harusnya tersirap dan mau dipaksa belajar dan mengevaluasi. Karenanya situasi sekarang merupakan kesempatan sangat baik untuk belajar banyak hal. Bisa pilih topik yang paling dekat, mumpung banyak pakar yang berdialog di ruang publik dan kita mendapatkan kuliah gratis. Tapi terlebih lagi adalah untuk belajar lebih serius lagi sebagai manusia, menjadi manusia. Berbekal sejarah yang merupakan pengalaman moyang kita, ditambah pengalaman di depan mata, kaitkan dengan akumulasi pengetahuan, dan aspek transenden. Bagaimana semua kesempatan ini memberi kita ruang untuk mereset diri sebagai manusia agar lebih dekat pada fitrahnya.

Kau belum juga beranjak

Aku merinding sendiri terhadap pikiranku tentangmu malam ini, Re. Benarkah kau bisa menjadi penjaraku saat kuhampiri kau sebagai rumahku. Aku takut, karena hartaku yang paling berharga adalah kebebasan. Aku takut bisa merelakannya, bila kau yang minta. Aku segan melangkah. Aku ingin pulang, tapi begitu takut takkan dapat melihat matahari lagi sesegera aku melewati pintu.

Aku tak yakin kau bisa setega itu. Tapi jika lukamu belum sembuh, mungkin kau juga tak sadar erangmu dapat melukaiku. Semuanya tidak realistis, sedari awal. Entah kenapa kita selalu memaksa, dan merasa lolos. Hingga kita tiba di pintu terakhir, ragu barulah menggelayuti kakiku. Takut, tiba-tiba merasuk. Berapa tahun? Belasan, mungkin. Atau lebih?

Parasites (2019)

Baru saja tiba, adikku berseru, “Nonton yuk!”

“Heh, lagi ada apa?”, sahutku sambil menaruh backpack.

“Parasite. Kutraktir.”, katanya.

“Udah ada? Oke. Asik.”

Langsunglah kami meluncur ke CGV malam itu. Ini kali pertama aku nonton film korea niat banget di bioskop pula, haha. Biasanya ditraktir pun entah. Tapi berita soal film Parasite ini menjanjikan pengalaman nonton film korea yang berbeda sih, katanya.

Begitu duduk di dalam bioskop, agak-agak geli gimana gitu. Udah mah gak doyan kekoreaan; artis korea tahunya cuma Hyun Bin; drama yang diinget dan tamat nontonnya cuma Secret Garden; dan jarang banget loh aku ke bioskop buat nonton film. Idealnya nonton film itu memang di settingan tempat seperti bioskop, tapi nontonnya sendirian. Hahaha… Makanya dulu di Bandung aku lebih sering pilih nonton di Braga yang jam tayang hampir tengah malam, sepi biasanya. Tapi sayangnya, yang diputar juga jadi terbatas makanya ya gak bisa dibilang sering juga sih ke bioskopnya.

Nah, Parasite ini, dari awal udah memunculkan kegetiran. Kusuka panning kameranya yang awalnya membidik barang entah apa yang kemudian menjadi jelas, ternyata barang bekas yang dijadikan jemuran. Lalu turun memperlihatkan ruangan berjendela yang begitu rendah. Film ini adalah cerita sekeluarga yang sangat miskin, hingga atap rumah mereka nyaris berada lebih rendah dari jalanan. Sementara daerah tersebut rawan banjir. Kegetiran dalam kemiskinan itu disajikan dalam bentuk komedi. Memang banyak dark jokes bertaburan dalam dialog mereka: ayah, ibu, dan dua anaknya, laki-laki dan perempuan. Membuatku kadang bingung untuk tertawa, kayak tega tapi kok ya lucu, gimana?

Mencari sinyal Wi-fi tetangga yang bocor hingga ke samping kloset.
Sekeluarga mengerjakan pekerjaan melipat karton pizza.

Kesempatan memperbaiki hidup muncul saat ada tawaran mengajar les dari teman si anak lelaki. Murid lesnya anak orang kaya. Tapi begitu masuk rumahnya, dibuat terasa ada yang ganjil dalam keluarga tersebut. Interaksinya tidak tampak natural, suasananya dibuat seperti misterius. Pengurus rumahnya, seorang perempuan paruh baya, nampak sangat kaku dan penuh selidik.

Setelah itu, alur cerita berjalan semakin cepat. Satu-persatu, dengan siasat cerdik dan licik, si anak lelaki memasukkan anggota keluarga ke dalam rumah itu. Sementara ia mengajar les privat anak pertama, adiknya mengajar seni anak kedua, ayahnya menggantikan supir, hingga akhirnya si ibu masuk menggantikan pengurus rumah. Di sini mulai terasa ketegangan-ketegangan terjadi karena mereka berusaha tidak mengenal satu sama lain. Belum lagi pengurus rumah sebelumnya datang pada suatu malam di tengah hujan deras dan membawa mereka semua pada rahasia rumah itu, dan sejak saat itu ketegangan meningkat terus sampai klimaks yang tragis.

Film ini menunjukkan beberapa hal buatku. Sepulang dari bioskop, ada ganjalan yang terbawa, uneasiness, terkait problem kelas, relasi yang terbangun dalam hidup bersama, welas asih pada orang lain, dan amarah yang terpendam. Tertawa dan rasa pahit bercampur begitu saja dengan lincah selama menonton. Ini gambaran ekstrim dari kegagalan hidup bersama yang kemudian menjadikan yang satu parasit bagi yang lain.

Kalau mau dirunut-runut setiap kejadiannya, mengapa ujungnya jadi begini, siapa yang memulai, siapa yang salah? Tidak ketemu ujungnya, karena semuanya membawa sentimen sendiri yang menjadi modal bertahan. Tidak selamanya sesama orang tak punya saling bantu, mereka lebih sering saling sikut karena memang jatah yang tersisa (sisa kerakusan kelas atas) bagi mereka bisa jadi tak cukup untuk semua. Tak selamanya orang kaya baik bisa dicintai karena kadang kedermawanannya tetap disertai keangkuhan kelasnya yang lebih tinggi. Seolah sekeping uang yang mereka beri sudah cukup untuk melucuti harga diri si miskin hingga mereka sering dilupakan sebagai manusia.

Kalaupun dibawa ke dimensi yang lebih luas, persoalan ini bukan semata sikut-sikutan antarindividu. Tapi mereka yang terpaksa berperan sebagai wajah antarkelas dalam sudut pandang Marxist. Dua kelas yang tidak bisa hidup bersama tapi juga tidak bisa hidup tanpa satu sama lain. Satu predator, lainnya menjadi parasit.

Raw emotion yang muncul di puncak konflik yang jelas sangat ekstrim inilah yang membuat kita bergidik ngeri tapi sekaligus seolah paham apa yang dirasakan karakter itu. Dalam kehidupan nyata, pergolakan ekstrim itu mungkin akan sangat jarang ditemukan. Tapi pertanyaan ini patut kita tanyakan pada diri sendiri: apakah secara tidak sadar kitapun sebenarnya telah menjadi parasit bagi orang lain di sekitar kita? Atau malah predatornya?