Kata-kata Kunci Sistem Sosial di Barat Abad Pertengahan

Untuk memahami konteks situasi abad pertengahn,  penguasaan terhadap istilah-istilah yang umum pada masa itu mutlak diperlukan.  Penerjemahan atas istilah-istilah tersebut cukup sulit karena tidak ditemukan padanan yang cocok akibat perbedaan pengalaman kultural. Karenanya dalam berbagai buku sering dipergunakan istilah asli dengan cetak miring.  Berikut ini kupaparkan sebagian definisi istilah terkait masa feodalisme eropa

Fief

Feudalism

Lord

Serf

Manorism

Monasticism

Demesne

Tenant

Advertisements

As long as you don’t stop walking

IMG_20180108_211735

One saying attributed to George Eliot: “It is never too late to be what you might have been.” I want to believe in it.  Be an educated person is my highest aim in life.  How vague the term might be,  I never mind. That’s just to show how I value knowledge. The standard is changing all the way I walk the path.  First,  I want to be a scientist.  Later, I swayed.  I stepped back from the professional training path,  considering I didn’t have a strong basic knowledge to be an educated person.  I kind of lacked of some basic skills in thinking and language.  That explain why I’m still here right now,  looking for another way to catch up.

 

A Poetry From Elizabeth Bishop

One Art
Elizabeth Bishop (1911-1979)

The art of losing isn’t hard to master;

so many things seem filled with the intent
to be lost that their loss is no disaster.

Lose something every day. Accept the fluster

of lost door keys, the hour badly spent.
The art of losing isn’t hard to master.

Then practice losing farther, losing faster:

places, and names, and where it was you meant
to travel. None of these will bring disaster.

I lost my mother’s watch. And look! my last, or

next-to-last, of three loved houses went.
The art of losing isn’t hard to master.

I lost two cities, lovely ones. And, vaster,

some realms I owned, two rivers, a continent.
I miss them, but it wasn’t a disaster.

–Even losing you (the joking voice, a gesture

I love) I shan’t have lied. It’s evident
the art of losing’s not too hard to master

though it may look like (Write it!) like disaster.

Ada banyak alasan untuk ‘melepas’.

Apa kabar?

Menanyakan kabar semakin terasa sebagai basa-basi dan berarti di zaman ini. “Maksudnya apa? Dia ga baca statusku apa gimana?” atau “Apa kabarnya dia sekarang ya, liat wall-nya deh.” Hahaha, sulitnya berurusan dengan sesama seleb. Hal itu masih terjadi padaku beberapa bulan lalu saat masih mengaktifkan beberapa akun medsos.

Tapi belakangan kutinggalkan karena terlalu melelahkan dan kebanyakan hanya memperluas relasi kerumunan. Semakin sedikit hubungan intens yang sifatnya lebih eksklusif. Bercerita dengan kerabat atau kawan yang benar-benar diingat dan bukan sekedar teringat karena kebetulan lewat di lini masa.

Lebih lampau lagi, aku punya kebiasaan di akhir pekan untuk menelpon random atau berkirim pesan dengan orang-orang yang kusimpan nomoe kontaknya. Biasanya sambil bersantai aku menelusuri nama-nama di buku telpon lalu berhenti di nama yang sekiranya sudah cukup lama tak jumpa atau berkirim kabar. “Apa kabar” dan “Semoga baik-baik” ya, kadang sudah cukup untuk menjadi kurir ketulusan. Jika hubungannya lebih dekat, akan ringan saja mengetik “kangen nih”… hahaha. Lalu, bergantung pada situasi, percakapan akan berlanjut atau berhenti di sana. Itu sudah cukup.

Sudah lama aku tidak melakukannya lagi. Karena terasa tak perlu saat aku bisa membaca kabar hampir semua orang pada akun medsosnya. Ketika aku mencoba membuka percakapan pribadi tak selalu mendapat respon hangat. Namun jika aku menulis komentar atas berita yang sedang hot, tak diduga, kawan yang mungkin sudah di antah berantah dan biasa mengabaikan pesan-pesanku pun sudi mampir. Bah!

Lalu aku berpikir, aku sudah tak mampu lagi mengambil manfaat dari kepemilikan akun-akun tersebut. Kuhapus saja. Aku tetap mudah dihubungi. Alamat emailku tak berubah dan tetap aktif. Bahkan yang kubuat sebelum kuliah dulu, akun yahoo, masih kugunakan. Nomor telpon juga sama. Tak sulit mencarinya, bahkan namaku juga masih ditemukan pada pencarian google dan jika diarahkan pada blog ini, bertambah satu lagi cara menghubungiku. Jadi aku sama sekali tak bersembunyi atau mengubur diri.

Aku hanya ingin menemukan lagi kehangatan “apa kabar” yang ditemukan di inbox sms atau e-mail. Jadi tunggu saja mungkin suatu waktu jariku berhenti di namamu dan kukirimkan salam hangatku. Meski aku akan sangat senang jika mendapatkannya duluan. Terutama darimu yang bertahun-tahun tak pernah menulis status apalagi membalas suratku. Aku belum sanggup menghubungimu tapi ingin kautahu bahwa aku rindu.

A Separation of Nadar and Simin

 

 

Cerai. Pada suatu titik cerai memang dipandang sebagai sebuah solusi atas jalan buntu yang tidak bisa dikompromikan lagi. Tapi begitu banyak juga pasangan yang buntu pikirannya, bahkan untuk mengurai masalah sehingga kata cerai tetap diucap meski tidak akan menjadi solusi. Melarikan diri, mungkin.

Continue reading “A Separation of Nadar and Simin”