“Living Fossil” di Lore Lindu

Jelasnya, “living fossil” bukanlah istilah ilmiah per se, tak ada kesepakatan khusus terkait definisi formalnya. Biasanya didefinisikan  sebagai makhluk kuno dengan parameter-parameter berikut: (1) belum punah, (2) belum menghasilkan secara langsung jenis-jenisnya yang baru (mengikuti perkembangan zaman, yakni pada level taksonomi lebih rendah), dan (3) relatif tidak berubah dalam kurun waktu sangat lama (hingga ribuan tahun). Istilah ini pada mulanya digunakan untuk merujuk species-species kuno yang mungkin hidup sezaman dengan dinosaurus tapi masih kita temukan hingga kini.

Akan tetapi, artikel ini tidak hendak membahas makhluk hidup sesuai kategori tersebut. Kita akan menggunakan istilah tersebut sebagai analogi untuk suatu kebudayaan berumur ribuan tahun, tanpa pembaruan, dan kontinu dilakukan turun-temurun. Kurang lebih memenuhi parameter yang disematkan pada istilah tersebut. Dari masa neolitikum hingga saat ini, budaya tersebut masih dapat kita temukan di Sulawesi Tengah, tepatnya di sekitar Taman Nasional Lore Lindu.

Continue reading ““Living Fossil” di Lore Lindu”

QUIET

Dalam dua tahun belakangan ini aku bolak balik menonaktifkan akun medsos. Alasannya? Terlalu berisik. Tak hanya melelahkan dalam dunia nyata, ocehan acak dari banyak orang di dunia maya ternyata juga bisa bikin pusing kepala. Sampai pada suatu titik muncul keraguan, apa aku yang aneh sendiri karena terlalu mudah terganggu dengan kebisingan itu.
Introvert-ekstrovert bukanlah istilah baru. Sepertinya sangat umum dan seolah tak perlu dipertanyakan lagi. Tapi ternyata aku belum benar-benar memahami keduanya dan relasi diantaranya hingga membaca buku Susan Cain ini.

Continue reading “QUIET”