Ema

Sembari duduk menyamping di dipan dapur yang terletak menghadap tungku batu, ia begitu fokus menguleni adonan. Sesekali dituangkannya air perlahan sembari terus mengaduknya hingga mencapai konsistensi yang diinginkan. Airnya segimana, Ma?, tanyaku penasaran. Ia jawab, “Secukupnya aja we, sampe pas.” Aku masih SD waktu itu, masih sering bermain ke ‘kulon’, karena rumah Ema-nenekku dari pihak ibu-terletak di barat rumah. Pemandangan ema membuat kue di dapurnya meski menjadi biasa tapi tetap memicu penasaran. Perkaranya tadi, dalam menakar, tak digunakannya ukuran metrik maupun imperial, hanya berdasarkan perasaan, intuitif, tapi hasilnya memiliki rasa konsisten. Besot, talam asin, talam manis, kue mangkok, kue ali favorit sepupuku, dan entah apalagi. Favoritku dari kue-kue buatan ema adalah talam asin. Kue kecil putih dari tepung beras, berbentuk mangkuk, gurih dengan taburan bawang goreng dan irisan seledri di atasnya. Enak. Cantik.

Continue reading “Ema”

Melepaskan Pola Pikir Polar dan Spektrum

Langsung saja ya. Dalam beragama, misalnya kita sering diposisikan untuk “memilih” atau dikotak-kotakkan pada dua ekstrim: moderat atau fundamentalis? Tradisionalis atau progresif? Kanan atau kiri? Atau yang lebih bermurah hati membuat barisan lebih panjang, bukan pengkutuban tapi suatu spektrum dari panjang gelombang taqwa tertinggi hingga terendah (seolah-olah bisa diukur), dari muslim militan, muslim taat, muslim biasa, hingga muslim KTP.

Continue reading “Melepaskan Pola Pikir Polar dan Spektrum”

In the calm night, concealed are the dreams

سكن الليل، و في السكون تختبي الأحلام

(جبران خليل جبران)

What’s the odd? You might ask. I spent day by day sewing, reading, cooking, playing with kids (yeah, I don’t have any of my own, but my friends are so kind to let me play with theirs occasionally). In the night I would dream. Specifically, dreams about physics. I don’t know when does it start, but at least 80% of my dreams were taking places in campus, lecture halls, simply..classes, library. Sometimes I attend lectures, some seminars, or just doing some calculation in the lab (Yes that lab, the one which you can see the Einstein picture in the wall opposite to the entry). In the other time I presented my works, sometimes I discussed a few things or just strolling between the book aisles.

Today, I went to a strange place, looks like a very big lecture hall, and it’s interestingly elegant, somehow old but neat and clean, and…fresh. Crowded by students (I would say we’re on our teens so I bet the story happen in my high school years. But even so, it was not any close to my then high school. The place, the surrounding, the ambience are all different),  it closely resemblance the Hogwarts hall, perhaps, but brighter, much more bright. The hopeful air of youth, of fear of nothing, of worry less, of promising bright future, and the delicacy of knowledge filled up the space. 

The chattering students, suddenly silenced as the professor came to the podium and started speaking. Then I watched, I listened. I decided not to go anywhere. I froze the time; the moment eternalized.

That just one of the amusing stories I saw every night. That might be the voice of my subconscious; my longing for an academic career. What kind of dreams are they? What are they portraying? Could it be a flashback or flashforward, or the present, things that are now happening in my inner self? 

Something never really goes after you walked away, because you’ve never intended to leave it. Those who don’t understand would comment you took the wrong major in college. They don’t understand complexity does occur. Things are not going linear everytime. It has something to do with one or more wrong decisions, or simply a misfortune. 

Berakhir Pekan dengan Daluang di Pesona Jogja

Apa itu daluang?

Aku baru pertama kali mendengarnya saat mendapat informasi akan dilaksanakan workshop kriya membuat clutch dari daluang.  Pada poster tercantum bahwa acara diselenggarakan oleh Kriya Indonesia bekerjasama dengan Brother Indonesia. Adapun materinya disampaikan oleh Astri Damayanti (Kriya Indonesia), Tanti Amelia (Neng Doodle), serta seorang berkebangsaan Jepang Sakamoto Isamu dengan keterangan sebagai ahli daluang.

Continue reading “Berakhir Pekan dengan Daluang di Pesona Jogja”

The Basic Laws of Human Stupidity

Kok bisa?! Kok bisa ya, dia begini begitu, padahal dia orang (yang seharusnya) intelek. Pernah bergumam seperti itu? Kaget ketika menemukan seseorang yang diperkirakan berintelektualitas tinggi tapi mengeluarkan pernyataan tanpa dasar, aneh dalam artian tidak logis, tidak rasional, atau melakukan sesuatu yang mempermalukan diri atau orang lain, dengan kata lain melakukan’tindakan bodoh’? Cipolla menyatakan dengan tegas dalam Hukum Pertama tentang Kebodohan Manusia: “Always and inevitably everyone underestimates the number of stupid individuals on circulation.”

Continue reading “The Basic Laws of Human Stupidity”

Steal Like an Artist 

Ini adalah buku kedua tentang pencurian yang kubaca dan di dalamnya ‘mencuri’ dibahas sebagai sesuatu yang mulia, bahkan hingga level tertentu, heroik. Dari judulnya, awalnya aku tak begitu tertarik, tapi aku yang waktu itu merencanakan bepergian ke luar kota, butuh bacaan selama di kereta. Kupikir buku ini mungkin bisa dibaca santai untuk melewatkan waktu. Eh, ternyata bukunya malah habis kubaca sekali duduk saat menunggu keretanya tiba. 

Buku ini ditulis secara menyegarkan oleh penulis yang juga ilustrator dan lulusan interdiciplinary studies ini membahas tentang penggalian kreativitas dengan cara menarik. Meski buku ini kugolongkan sebagai semacam jenis buku motivasi atau how to, atau mungkin semacam personal growth advice yang ringan dibaca, isinya cukup inspiratif.

Austin Kleon di meja kerjanya. Sumber: http://www.austinkleon.com

Mencuri dari orang lain, adalah tahap pertama, dalam perjalanan menemukan diri sendiri, karena penulis percaya originalitas itu tidak ada. You don’t need to be genius, you just need to be yourself. Creativity is everywhere, creativity is for everyone.

Buku ini ditulis dalam sepuluh bab bab berisi poin-poin penting untuk menghidupkan aspek kreatif dalam diri. Mulanya poin-poin ini ia sampaikan dalam sebuah acara bincang-bincang di sebuah forum dengan audiens mahasiswa di Newyork. Kemudian rekaman bincang-bincang itu menjadi viral dan Kleon menggali ide-idenya lebih dalam lagi untuk kemudian dituangkan dalam buku ini. Penulisannya terasa cukup personal karena penulis menyatakan bahwa poin-poin yang ia bahas di sini merupakan hal-hal yang ia harap ia dengar di awal ia membangun karier sebagai penulis. 

Di bab-bab awal, ia mulai dengan ajakan untuk ‘mencuri’ dari para maestro. Lalu ia menyebut kesalahan banyak orang yang seringkali menunda pekerjaan sampai ‘selesai mengonsep diri’. Tulisannya mengalir terus mencakup strategi untuk mengkompromikan “cara normal” bertahan hidup sembari terus berkarya hingga bagaimana caranya “menampilkan hasil kerja”.




Keterangan Buku:

Judul: Steal Like an Artist: 10 Things Nobody Tells You About Being Creative
Penulis: Austin Kleon
Ilustrator: Austin Kleon
Penerbit: Workman Publishing
Tahun Terbit: 2012


Hello…Welcoming The World Without You

Kuharap ini klimaksnya. Sepanjang perjalanan menekuri berbagai yang hilang dan kehilangan, emosiku naik turun. Sekali waktu sadar semua fana di dunia, tapi masih melempar tanya: kenapa aku, kenapa ia, kenapa segera? Mungkin aku memang bebal dalam hal ini. Sekali waktu seseorang menggambarkan jiwaku sebagai gadis cilik memeluk erat bonekanya. “Seandainya kuminta boneka itu, kamu akan berang bukan main”.

Continue reading “Hello…Welcoming The World Without You”