A Separation of Nadar and Simin

 

 

Cerai. Pada suatu titik cerai memang dipandang sebagai sebuah solusi atas jalan buntu yang tidak bisa dikompromikan lagi. Tapi begitu banyak juga pasangan yang buntu pikirannya, bahkan untuk mengurai masalah sehingga kata cerai tetap diucap meski tidak akan menjadi solusi. Melarikan diri, mungkin.

Continue reading “A Separation of Nadar and Simin”

And your name is…?

Ada sejumlah analisis yang mengupas ‘faktor-faktor ganjil’ baik dari segi supranatural atau fisika kuantum (Everett multiverse juga disebut-sebut di film ini pada sebuah adegan), seperti di sini. Tapi menurutku setiap cerita memiliki logika masing-masing yang menjadi dasar membangun unsur-unsur penceritaannya, ya meski jujur saja untuk film ini aku merasa taburan detil-detil keilmiahannya terasa berlebihan. Jadinya mau tak mau membuat berpikir ini mau fokus di supranatural atau fiksi ilmiahnya sih… 

Tapi aku tak mau ikut-ikut menganalisis, aku hanya ingin menulis sejumlah hal yang ikut tercetus di pikiran setelah menonton film ini. 

Continue reading “And your name is…?”

Ronin

Sejak memutuskan untuk berjalan sendirian kurang lebih lima tahun lalu, aku tahu ini bukan jalan yang mudah. Menjadi seorang Ronin berarti harus dapat membaktikan seluruh energi dan pengetahuan (tentu sembari tak putus mengembangkannya) berdasarkan kehendak sendiri. Lalu orang-orang senantiasa bertanya, apa pencapaianmu? Apa yang sudah kamu lakukan sejauh ini? Pergerakan macam apa yang kamu bangun? Continue reading “Ronin”

Like Father, Like Son

image
Sumber: http://yuihiga.livejournal.com/2361.html?page=

Satu film lagi dari Koreeda, salah satu sutradara favoritku. Temanya terkait dilema yang dihadapi dua keluarga saat menghadapi kenyataan bahwa anak mereka tertukar ketika bayi di rumah sakit.

Film dibuka dengan adegan wawancara (sepertinya wawancara juken) keluarga Nonomiya. Saat ditanya Keita lebih mirip siapa antara ayah atau ibunya, sang ayah menjawab lebih mirip ibunya dari kelembutannya. Tapi nada bicaranya tidak menyiratkan kebanggaan. Memberi petunjuk pada kita bahwa ada ketidakpuasan dalam dirinya terhadap sang anak. Hal itu diperkuat pada adegan saat Keita berlatih piano di rumah.

Suatu hari mereka dikejutkan dengan pemberitahuan dari rumah sakit tentang kasus bayi tertukar. Kedua keluarga pun berjumpa. Mereka berasal dari latar belakang berbeda, secara ekonomi, tradisi, dan pola pengasuhan. Fakta anak yang tertukar membuat hidup mereka tak sama lagi. Beberapa pertemuan difasilitasi pihak rumah sakit untuk memperkenalkan kedua pihak dan terutama mendekatkan anak-anak dengan orangtua kandungnya.

image
Sumber: http://nextprojection.com/2013/05/18/cannes-review-like-father-like-son-2013/

Tidak mudah bagi semuanya. Enam tahun bukan waktu sebentar, dan bagi kedua anak itu, itulah seumur hidup mereka. Kedua keluarga itu kemudian menghabiskan waktu liburan bersama beberapa kali. Mereka punya kesempatan bicara, mengamati, membiasakan diri satu sama lain sembari memikirkan solusi apa yang terbaik, terutama bagi anak-anak. Rasa bingung, frustasi, kecewa, sedih, bergantian hadir dengan keceriaan anak-anak dan orangtuanya. Film ini menunjukkan kewajaran pergolakan emosi.

Tertukarnya anak tidak sesederhana tertukar barang yang bisa dikembalikan kapanpun. Anak tetap adalah eksistensi hidup dengan akumulasi pengalamannya sendiri. Apakah ikatan darah lebih penting dari ikatan emosional yang terbangun bertahun-tahun? Sesuai dengan tagline pada poster film, “Pada titik apakah seorang ayah, menjadi “ayah”? Dua figur ayah dalam film ini pun seolah ditantang untuk menjawab pertanyaan itu.

Kemudian, bagaimana dengan kehendak seorang anak? Anak usia enam tahun sudah mampu menalar dan memiliki memori cukup banyak meski mungkin belum berkapasitas memutuskan. Tapi sikap anak-anak ini menghadapi krisis yang mereka hadapi juga menunjukkan hal penting tentang yang paling mereka butuhkan dari yang bertindak sebagai orangtua mereka.

Tema keluarga yang dibawa Kore-eda seringkali menarik bukan karena kerumitannya atau tingkat dramatiknya, tapi pada kedalamannya mengeksplorasi konflik-konflik dalam diri, dalam relasi. Sesuatu yang sangat keseharian, sangat natural, sangat manusiawi, sangat kita. Bagi penonton film yang mencari hiburan, hal-hal seperti ini mungkin akan jadi membosankan. Tapi bagiku, penggambaran cerita seperti itu sudah lewat dari antara unsur fiksi atau fakta. Lebih dalam lagi, ini bukan tentang Keita atau Ryuusei, tapi secuplik cerita tentang kemanusiaan kita.

————
DETAIL
Judul: Like Father, Like Son/ Soshite Chichi ni Naru/ そして父になる
Sutradara: Hirokazu Koreeda
World Premiere: May 19, 2013 (Cannes Film Festival)
Waktu rilis: October 5, 2013
Bahasa: Japanese
Asal: Japan

CAST
Masaharu Fukuyama – Ryota Nonomiya
Machiko Ono – Midori Nonomiya (Ryota’s wife)
Yoko Maki – Yukari Saiki
Lily Franky – Yudai Saiki
Keita Ninomiya – Keita Nonomiya
Shogen Hwang – Ryusei Saiki
Jun Fubuki – Nobuko Nonomiya
Jun Kunimura – Kazushi Kamiyama
Kirin Kiki – Riko Ishizeki
Isao Natsuyagi – Ryosuke Nonomiya

Oshin itu ya…

Oshin brings back insomnia to me. Gimana nggak, dia memaksaku membaca buku sejarah dan antropologi tentang perjalanan feodalisme Jepang. Membuatku menyusun mitos-mitos yang dipropagandakan untuk menyelamatkan muka Jepang sebagai salah satu inisiator perang. Membuatku penasaran tentang perangkat pembangun nilai tradisional Jepang yang masih lestari hingga kini, what makes them as they are. Juga membuatku menjadi perlu menonton beberapa drama lain sebagai pembanding (dari produser yang sama, atau dari masa berbeda untuk memantau konsistensi penggambaran kultur Jepangnya). Membuatku meluangkan waktu untuk hadir pada acara festival Jepang untuk pertama kalinya seumur hidupku, just to see what I can see from the Japanese, or else sing mambu2 jepun pokok e. Oshin juga membuatku menjamah referensi ekonomi, marketing, dan manajemen karena maju mundurnya dalam bisnis benar-benar pelajaran penting. Yang paling parah, Oshin membuat semua pria nampak hopeless, wait! Aku masih ingin menyimpan harapan tidak semua pria sepayah kebanyakan figur pria di dalam Oshin. Pelajaran pentingnya adalah, pria bego (ga tahu apa kata yang paling tepat menggambarkan karakternya itu) bisa menyebalkan separah itu, subhanallah, dan yang terburuk adalah bertahan hidup bersamanya karena it will not bring him any closer to brightness, but you, yes, you who will end up follow his lousiness. Jahat kan, Oshin? Sudahlah, aku menyerah, ga ada manfaatnya lagi buatku setelah episode 100. Aku berhenti nonton Oshin. Sekarang aku berusaha untuk tidur lagi.

Inside Out

Ketika ditayangkan di bioskop, film ini sepi apresiasi, mungkin hanya di sini. Yah, janganlah dibayangkan seperti frozen, misalnya. Jauh! Tapi sejak awal aku mendengar beritanya, aku langsung menanti penuh harap.
Film ilmiah (meski spekulatif) yang disajikan dalam abstraksi visual yang harusnya sangat menantang. Setiap emosi memiliki representatif persona. Aku betul-betul penasaran jadinya akan seperti apa.

Lalu tibalah saat menonton. Wow! Pembukaannya ciamik

“Do you know what inside one’s head?”

I talked to myself, “Even I don’t know what’s inside my head.”
It said,

I know, at least Riley’s

Lalu musiknya…. Wohoo, musik yang mengetuk dengan hangat… Ngepas rasanya, oke kuraih bantal, akan kutonton sampai selesai nih kayaknya. Jadi harus dibuat posisi wenak…

Satu persatu karakternya keluar. Interaksi antarpersonal-nya mulai terbaca. Joy adalah yang dominan dari semua emosi. She’s the one who thinks she is in control. Dialah juga yang menjadi narator sejak pembukaan film. Omong-omong aku penasaran juga terkait preferensi gender untuk setiap representasi emosi, hehehe… (Bisa jadi clue untuk analisis selanjutnya, nih).

Saat mengenalkan satu persatu, Fear, Anger, Disgust, dia merujuk pada peristiwa saat masing-masing berperan. Hingga tiba giliran Sadness, mulai muncul ekspresi judgmental

“I don’t know exactly what’s she doing, but…

dilanjutkan dengan deretan rekaman Riley yang menangis, merajuk, merengek. Oke, here is the conflict. Roger that.

Semua seolah berjalan lancaaaar sehingga suatu peristiwa terjadi–warning: spoiler, kalau mau menghindar lewati satu paragraf berikut ini.

Semua kaget ketika orangtua Riley memutuskan pindah. Riley harus meninggalkan semua hal yang menyenangkan di Minnesota dan beradaptasi di kota besar San Fransisco. Kekacauan pun terjadi di headquarter (pusat kendali emosi di kepala Riley. Semua tampak kebingungan bertindak, termasuk Joy, meski dia berusaha tetap tenang dan menjaga Riley tetap senang. Umm, maaf karena struktur penceritaanku yang agak berantakan, dalam film digambarkan bahwa ekspresi Riley diatur oleh salah satu atau kerjasama dari representasi emosi yang ada. Mereka bekerja dengan mengendalikan semacam panel, dan mereka dapat melihat dunia luar sebagai Riley, dari mata Riley. Sebagai contoh, Joy memegang kendali pertama saat Riley lahir (saat itu hanya ada sebuah tombol dalam panel kendali), ia memencet tombol dan Riley tersenyum, Joy takjub. Sesaat kemudian Riley menangis meraung, ternyata tanpa disadari Sadness sedang memencet-mencet tombol tersebut. Semakin bertambah usia, tombol dalam panel kendali emosi di headquarter semakin banyak. Simbol meningkatnya kompleksitas.

Nah, pada saat menghadapi sejumlah hal baru yang asing, seluruh anggota headquarter bingung! Lucu juga melihat setiap representasi emosi diimajinasikan memiliki kesadaran mandiri, sementara otak, kesadaran, nalar organismenya sendiri (dalam cerita ini, Riley) berada di sisi lain yang berbeda meski tetap terkoordinasi. Seolah seluruh komponen itu hidup dan bergerak dengan kesadarannya masing-masing lalu mereka mengatur Riley. Who is Riley, then? Apa atau siapa yang mendefinisikan dirinya ketika Joy dan Sadness berebut kendali untuk merepresentasikan ekspresinya ketika merespon sesuatu?

Pertanyaan itu tidak terjawab dalam film–dan memang bukan tesis film ini, haha. Film ini secara sederhana menurutku hanya berupaya menjelaskan kompleksnya proses internal yang ada dalam diri (kepala?) seseorang saat merespon sesuatu. Bukan sekali dua kali kita merasa ada pertempuran batin, konflik antara kenapa aku harus bersedih saat semua orang berharap aku seharusnya senang? Bagaimana seorang anak bisa tiba-tiba mengamuk padahal orangtua telah merasa menjelaskan sesuatu dengan baik?

Emosi merupakan sesuatu yang kompleks dan terproses dalam diri manusia dari kanak-kanak hingga dewasa. Emosi yang terkait dengan memori pengalaman pribadi dan pengetahuan yang dianggap valid akan terakumulasi dan membentuk sebagian kepribadian kita.

Tidak ada emosi yang baik atau buruk secara dasein. Semua adalah bagian dari modal kemanusiaan kita. Perkaranya hanyalah mampukah kita mengekspresikan emosi yang tepat pada waktu yang tepat, dengan kadar dan cara yang tepat? Kebijakanlah yang bisa mengatur semua kompleksitas itu. Proses yang rumit dan melelahkan dalam latihannya.

Film ini mengimajinasikan kerumitan proses itu dan samar-samar aku mendengar pesannya,”Hello, aku sungguh tak tahu apa yang terjadi di dalam kepalamu, di dalam dirimu. Tapi sebagai anggota ras kita, kita mengalami kompleksitas yang kurang lebih sama. Perasaanmu dan perasaanku sama pentingnya. Jadi, mengapakah kita tak bisa…umm…memberi…sedikit waktu untuk satu sama lain memahami perasaan kita sendiri, lantas untuk sementara waktu mengafirmasinya sebelum mengekspresikannya? Ketidaksabaran kita dalam memahami diri sendiri membuat kita geram satu sama lain dan akhirnya kita saling memaksa keluarnya emosi yang tidak tepat…”