Ema

Sembari duduk menyamping di dipan dapur yang terletak menghadap tungku batu, ia begitu fokus menguleni adonan. Sesekali dituangkannya air perlahan sembari terus mengaduknya hingga mencapai konsistensi yang diinginkan. Airnya segimana, Ma?, tanyaku penasaran. Ia jawab, “Secukupnya aja we, sampe pas.” Aku masih SD waktu itu, masih sering bermain ke ‘kulon’, karena rumah Ema-nenekku dari pihak ibu-terletak di barat rumah. Pemandangan ema membuat kue di dapurnya meski menjadi biasa tapi tetap memicu penasaran. Perkaranya tadi, dalam menakar, tak digunakannya ukuran metrik maupun imperial, hanya berdasarkan perasaan, intuitif, tapi hasilnya memiliki rasa konsisten. Besot, talam asin, talam manis, kue mangkok, kue ali favorit sepupuku, dan entah apalagi. Favoritku dari kue-kue buatan ema adalah talam asin. Kue kecil putih dari tepung beras, berbentuk mangkuk, gurih dengan taburan bawang goreng dan irisan seledri di atasnya. Enak. Cantik.

Continue reading “Ema”

True Friendship

Saat membaca buku ‘If Ocean Were Ink’ aku sampai pada suatu bagian ketika Syaikh Akram ditanya apa yang dirindukannya dari kampung halaman. Beliau menjawab singkat, ‘true friendship’. Lalu beliau bercerita tentang kebiasaannya bersama kawan-kawan sekampus di Nadwatul ‘Ulama, Lucknow. Selepas subuh berjama’ah di masjid, biasanya ia dan kawan-kawannya akan berjalan-jalan menyusuri sungai sembari berdiskusi tentang apapun. Di sini (Oxford), sambungnya, setiap orang langsung bergegas pada urusannya masing-masing begitu selesai salat subuh di masjid. 

Belakangan akupun sedang memikirkan makna pertemanan. Mungkin jamak ya, merenungkan hal semacam itu di awal kepala tiga, saat tidak lagi mudah bertemu orang baru dan menjalin hubungan dekat seperti masa muda. Apalagi bagi seorang introvert yang memang tidak terlalu nyaman bergaul dengan orang banyak.

Continue reading “True Friendship”

Selamat Jalan Pak Tris

Sebuah pesan masuk malam ini. Mertua sahabatku meninggal. Memang beliau sudah sakit-sakitan sejak lama. Tapi kepergiannya tetap meninggalkan kekosongan. Beliau sangat baik. Aku berjumpa beberapa kali dan biasa menyempatkan berkunjung dan kadang menginap di rumahnya saat ada urusan di Bandung, meski ketika anak dan menantunya sedang tak di rumah. Semoga beliau mendapat husnul khatimah, dilapangkan jalannya. Semoga keluarganya pun tabah.

Pisah

Ada masanya ketika keluarga akan terpencar. Kemarin, saat kumulai menulis catatan ini, kami berlima saja terpisah jarak lumayan jauh. Seorang di Bandung. Satunya di Gunung Sewu, Gunung Kidul. Satunya sedang mendaki Argopuro. Aku sendiri beristirahat di Pasar Beringharjo. Hanya seorang saja tinggal di rumah: ibuku. Yah, masih dalam bentangan satu pulau saja sih, hihi.
Continue reading “Pisah”

To my beloved ones

Please believe, even when nobody is quite sure whether I’ll make it.
Please keep a faith on me that I’m serious livin’ it.
Please believe that I will make it in time, therefore when you need me later, I won’t fail to come, and take care of you as you did wonderfully to me, then.
For this time being, just let me be and keep praying for me.