Di Makam Abah

I’ll be soon joining you, assalamu ‘alaikum…

Kata-kata biasa kuucap saat memasuki area pemakaman. Begitu juga pagi ini. Lebaran lalu aku tak ikut berkunjung saat ramai-ramai orang ke sana. Aku menginginkan semacam, hmmm, exclusive priviledge for reflecting, maka aku pergi saat dimungkinkan untuk bisa sendirian di sana.

Ramai kekasihku di makam. Terakhir bergabung Ema, nenekku dari pihak ibu. Sebelumnya, kedua kakekku, beberapa uwak, sepupu, dan lainnya. Melangkah mendekati mereka, kenangan-kenangan terakhir seakan meletus-letus di udara seperti kembang api, menembus kabut pagi yang menyelubungi tipis area pemakaman. Aku berdo’a lalu mengobrol seolah mereka berada di hadapanku, mendengarku. Aku bercerita pada Apa betapa aku mengingat saat-saat terakhir ikut mengantar beliau mencari pengobatan untuk sakitnya. Apa pergi saat aku masih terlalu kecil untuk memahami ikatan dan rasa penasaran terkait transformasi hidup pada mati lebih menguasaiku saat itu.

 

Aku menghampiri makam satu persatu mulai dari makam Ema, lalu Apa, sambil terus berzikir dan kadang mengucap assalamu’alaikum ya ahla’diyaar.. salam untukmu semua para penghuni rumah. Rumah yang juga akan menjadi tempatku kembali, tak lama lagi. Kuhampiri makam Wa Tjitjah, Wa Ucup, Teh Eneng, lalu aku berjalan terus.

 

Pada abah, seperti biasa aku mengingat lagi penyesalanku tak dapat merespon panggilan terakhirnya. Aku hanya hadir sebentar saat abah sakit, tak lama menemaninya. lalu baru datang kembali saat beliau wafat. Tak lama sebelumnya justru Abah yang menemaniku saat aku sakit dan menunggu diagnosa dokter saraf untuk sakitku. aku ingat betul aku meletakkan kepalaku di pangkuan abah dan Abah mengelus kepalaku.

 

Salah satu ingatan yang paling jelas di benakku adalah pagi saat ibuku  menelpon untuk menyampaikan bahwa Abah bertanya-tanya kapan aku pulang dalam sakitnya, Minggu 6 Desember 2009. Rasanya kujawab belum tahu. Lalu aku berangkat menuju Rumah Belajar, masih dengan perasaan tak karuan. Saat siang aku pulang, aku merasa lebih baik mengunjungi adikku di Jatinangor, tapi di tengah jalan aku urungkan hingga aku berjalan kaki terus, entah bagaimana hingga tiba di Dayeuh kolot, aku bahkan melewati Pabrik Ceres saat itu. Menyadari bahwa aku sudah berjalan terlalu jauh aku bersiap kembali, ups tapi ternyata dompetku tertinggal di asrama, saat berangkat aku hanya mengantongi sedikit uang untuk ongkos bolak-balik Kanayakan-Cisitu. Lunglai, akupun berjalan terus hingga sandalku putus di sekitar perempatan Muhammad Toha, akupun bergabung dengan para tukang ojek di gardu, menonton pertandingan Persib entah melawan siapa. Akhirnya akupun menelpon Rahmi, meminta tolong untuk menjemputku. Esoknya, masih dengan perasaan tak tentu, aku berangkat ke Perpustakaan Fisika. lalu ransel yang kutaruh di rak penitipan hilang, dicuri orang. Aku syok. Alhamdulillah laptop kutinggal, tapi di dalam ranselku ada harddisk eksternal berisi seluruh data kuliahku, dan buku perpustakaan pusat yang tak mungkin kuganti bila hilang karena terhitung langka. Baiklah, cerita soal ini akan kuceritakan kapan-kapan. Karena perasaanku tak jelas dan masalah besar tiba-tiba menghantam, aku hampir lupa soal abah. Hingga saat aku berjalan kaki pulang dari kampus ke asrama, sms ibu masuk: “abah meninggal”. Emosiku seolah ambrol dan aku langsung tak henti menangis hingga berjam-jam kemudian. Aku menangis dalam separuh perjalanan hingga asrama, menangis saat mengacak lemariku mencari simpanan uang untuk ongkos pulang mendadak, menangis saat menjawab “kenapa”-nya kawan sekamarku, menangis di sepanjang perjalanan angkot, menangis saat tiba di terminal dan menemukan bus yang akan berangkat, menangis saat tak terduga berjumpa adikku di bus, dan begitulah aku menangis terus hingga akhirnya aku tiba di rumah. Sementara adikku yang sepanjang perjalanan terdiam, langsung masuk kamar dan menangis saat kami tiba.

Saat itu aku merasa hilang sekaligus pasrah. Perasaan itu pula yang selalu menangkapku bertahun-tahun setelahnya hingga setiap hari itu setiap tahunnya aku selalu menangis seharian. Butuh sekitar lima atau enam tahun untuk tiba di tanggal itu tanpa kuhabiskan dengan tangis seharian dan aku mulai dapat berdamai dengan kenyataan.

 

Ema

Sembari duduk menyamping di dipan dapur yang terletak menghadap tungku batu, ia begitu fokus menguleni adonan. Sesekali dituangkannya air perlahan sembari terus mengaduknya hingga mencapai konsistensi yang diinginkan. Airnya segimana, Ma?, tanyaku penasaran. Ia jawab, “Secukupnya aja we, sampe pas.” Aku masih SD waktu itu, masih sering bermain ke ‘kulon’, karena rumah Ema-nenekku dari pihak ibu-terletak di barat rumah. Pemandangan ema membuat kue di dapurnya meski menjadi biasa tapi tetap memicu penasaran. Perkaranya tadi, dalam menakar, tak digunakannya ukuran metrik maupun imperial, hanya berdasarkan perasaan, intuitif, tapi hasilnya memiliki rasa konsisten. Besot, talam asin, talam manis, kue mangkok, kue ali favorit sepupuku, dan entah apalagi. Favoritku dari kue-kue buatan ema adalah talam asin. Kue kecil putih dari tepung beras, berbentuk mangkuk, gurih dengan taburan bawang goreng dan irisan seledri di atasnya. Enak. Cantik.

Continue reading “Ema”

True Friendship

Saat membaca buku ‘If Ocean Were Ink’ aku sampai pada suatu bagian ketika Syaikh Akram ditanya apa yang dirindukannya dari kampung halaman. Beliau menjawab singkat, ‘true friendship’. Lalu beliau bercerita tentang kebiasaannya bersama kawan-kawan sekampus di Nadwatul ‘Ulama, Lucknow. Selepas subuh berjama’ah di masjid, biasanya ia dan kawan-kawannya akan berjalan-jalan menyusuri sungai sembari berdiskusi tentang apapun. Di sini (Oxford), sambungnya, setiap orang langsung bergegas pada urusannya masing-masing begitu selesai salat subuh di masjid. 

Belakangan akupun sedang memikirkan makna pertemanan. Mungkin jamak ya, merenungkan hal semacam itu di awal kepala tiga, saat tidak lagi mudah bertemu orang baru dan menjalin hubungan dekat seperti masa muda. Apalagi bagi seorang introvert yang memang tidak terlalu nyaman bergaul dengan orang banyak.

Continue reading “True Friendship”

Selamat Jalan Pak Tris

Sebuah pesan masuk malam ini. Mertua sahabatku meninggal. Memang beliau sudah sakit-sakitan sejak lama. Tapi kepergiannya tetap meninggalkan kekosongan. Beliau sangat baik. Aku berjumpa beberapa kali dan biasa menyempatkan berkunjung dan kadang menginap di rumahnya saat ada urusan di Bandung, meski ketika anak dan menantunya sedang tak di rumah. Semoga beliau mendapat husnul khatimah, dilapangkan jalannya. Semoga keluarganya pun tabah.

Pisah

Ada masanya ketika keluarga akan terpencar. Kemarin, saat kumulai menulis catatan ini, kami berlima saja terpisah jarak lumayan jauh. Seorang di Bandung. Satunya di Gunung Sewu, Gunung Kidul. Satunya sedang mendaki Argopuro. Aku sendiri beristirahat di Pasar Beringharjo. Hanya seorang saja tinggal di rumah: ibuku. Yah, masih dalam bentangan satu pulau saja sih, hihi.
Continue reading “Pisah”

To my beloved ones

Please believe, even when nobody is quite sure whether I’ll make it.
Please keep a faith on me that I’m serious livin’ it.
Please believe that I will make it in time, therefore when you need me later, I won’t fail to come, and take care of you as you did wonderfully to me, then.
For this time being, just let me be and keep praying for me.