Dumbing Us Down

Beberapa tahun lalu, aku sempat ngobrol dengan seorang kenalan terkait persekolahan. Hingga pada suatu titik, aku bilang, “mungkin jika aku punya anak, takkan kusekolahkan saja.” Ia menyanggah, “Bukankah kita menjadi seperti hari inipun karena kita bersekolah?” Belakangan menghadapi kesulitan seorang kawan mencarikan sekolah yang pas (baca: memenuhi harapan-harapannya) bagi anaknya hingfa anaknya tertunda sekolah hingga hampir tiga tahun, aku kembali berpikir terkait urgensitas sekolah. Apakah anak kawanku itu memang perlu sekolah? Kupikir ya, karena orangtuanya pun tidak berkecenderungan memilih homescooling. Apa yang dikhawatirkan dari dampak sekolah hingga ia bertahan tidak menyekolahkan anak alih-alih ‘masukkan sekolah yang paling mendekati keinginan saja, kekurangannya diisi di rumah’.

Pikiran-pikiran itu mengingatkanku pada hari-hari ketika isu pendidikan lekat denganku: semasa di Rumah Belajar Sangkuriang. Tim kami rapat hampir setiap hari di Campus Centre Barat untuk merumuskan silabus aktivitas bersama anak-anak sekitar Cisitu. (Apa kabarnya mereka sekarang ya, mungkin sudah lulus SMA.) Saat itu buku-buku bacaan berputar di sekitar pendidikan (terutama pedagogi) dan psikologi anak. Piaget, Montessori, Khrisnamurti, Ivan Ilich, Gardner, dan sejumlah nama lain akrab dalam khazanah alam pikir. Belum lagi tokoh-tokoh homeschooling dan unschooling dalam negeri yang dipantau terus blog-blog nya. Tapi hingga saat terakhir meninggalkan kampus, wacana tentang liberal arts belum terikut dalam benak. Baru setelah mengenal Syeikh Hamza Yusuf dari ceramah-ceramahnya aku menaruh perhatian terkait itu.
Keterangan Buku:

Judul: Dumbing Us Down 
Penulis: John Taylor Gatto
Penerbit: 
Tahun Terbit: 2005 (Collector’s Edition)

Advertisements

How To Read A Book

Sedari awal muncul budaya baca-tulis, manusia lebih mudah berkomunikasi dan mewariskan pengetahuannya. Adanya media tertulis memungkinkan manusia melakukan aktivitas itu melampaui jarak dan waktu. Dengan orang berjauhan yang di luar jangkauan gelombang suara, orang bisa berkirim surat. Pada generasi selanjutnya, dan selanjutnya, dan seterusnya lagi jauh melewati usianya, seseorang bisa meninggalkan pesan.
Menulis juga merupakan salah satu upaya menolak lupa. Manusia merekam catatan, informasi serta ilmu. Pesan tersimpan! Bahkan hingga bisa menembus angka milenial. Karena itu, sebenarnya ‘menulis’ merupakan teknologi mengingat yang canggih.
Continue reading “How To Read A Book”

Tutorial: Bagaimana Melindungi Keluarga Anda Dari Hoax

Terlalu banyak info berseliweran membuat kita mencapai level jenuh-pengetahuan. Kejenuhan itu dicapai karena pengetahuan yang tersebar kebanyakan adalah sampah, dan alih-alih mencerdaskan malah menyesatkan. Sedih miris gimana rasanya saat bertebaran info untuk melakukan ini dan itu demi melawan asap pembakaran hutan, mengantisipasi kekeringan, atau mengatasi TDL yang akan naik. Info-info yang diberikan bakal menimbulkan kekonyolan massif jika dilakukan oleh banyak orang yang percaya begitu saja.

Karena itu, demi melindungi intelektualitas keluarga tercinta, ada baiknya anda melakukan hal-hal berikut ini:

1. Tanamkan tentang otoritas keilmuan pada orang-orang tercinta. Betul bahwa ini bukan zaman abad pertengahan, ketika ilmu pengetahuan dikuasai eksklusif oleh para gerejawan. Tapi ilmu pengetahuan saat ini begitu massif, dan hanya orang-orang yang berdedikasi tinggi bekerja dalam bidang ilmu tertentu sajalah yang layak dirujuk. Bukan berarti harus cari profesor, seorang otodidak pun perlu dihargai atas keseriusannya. Sedalam apakah ia menguasai pengetahuan tersebut? Jadi begitu dapat berita, cek dulu, siapa yang bicara? Dapatkah ia dipercaya? Jangan hanya berpegang pada “dia orang baik kok”, ” dia orang jujur”, yang kita cek adalah kemumpuniannya. Itupun bukan untuk ditelan bulat-bulat. Kita tetap harus berpikir dengan kritis menyikapi berbagai penemuan atau pernyataan para ilmuwan. Logiskah? Konsistenkah dengan prinsip ilmu yang mendasar? Apa ada perbedaan pendapat di antara para ilmuwan terkait hal itu? Apa saja bedanya dan alasannya?

2. Bukan hanya sumber, cek isi beritanya. Pilih kata-kata kunci dalam berita tersebut lalu lakukan googling-research sebentar saja–atau lama tergantung kebutuhan–. Usahakan mendapat penjelasan dari sumber-sumber akademik. Jika tidak minimal wikipedia sudah dibaca.

3. Jika terkait hitung-hitungan, statistik, efisiensi, lakukan perhitungan ulang. Benarkah?

4. Jika terkait kutipan, cari tahu persis di mana, dalam buku apa, dalam kesempatan apa teks tersebut disebutkan oleh orang yang diklaim sebagai sumbernya. Jangan terkecoh, bahkan salah satu media kelas internasional saja sempat salah kutip Putin.

5. Tanamkan sikap skeptis, terutama pada berita sosmed. Pada zaman saat orang bahkan bisa berkhotbah sambil nongkrong di WC, radar kita harus waspada.

Ketika anak bertanya haruskah kita menjawab?

Beberapa teman kadang bertanya bagaimana aku menjawab anak yang bertanya the bla and the bla… Kebanyakan orang dewasa fokus pada “harus menjawab apa” namun kurang menaruh perhatian pada pertanyaan itu sendiri. Seolah tak ada waktu menelisik, kenapa pertanyaan ini muncul? Apa yang hadir di benaknya? Mengapa pertanyaan ini muncul dengan ekspresi demikian? Pada saat sekarang ini? Apa yang terjadi? Apa itu yang benar-benar dimaksud oleh anak? Problem apa sebenarnya yang ia sedang pecahkan?

Menurutku, kegagalan fundamental pemecahan masalah pada orang di masa dewasanya dimulai dari kegagalannya bertanya. Kegagalannya merumuskan masalah. Kegagalan menyusun prioritas soal.

Continue reading “Ketika anak bertanya haruskah kita menjawab?”

Sains untuk anak

image

Seorang kawan hendak menitipkan putranya untuk kuajari hal-hal yang perlu tentang sains. Saat ini dia sedang mengikuti program tahfidz intensif dengan waktu libur dua hari perpekannya. Awalnya kuiyakan saja karena si anak membutuhkan itu, akupun mulai membayangkan beberapa kegiatan observasi, eksplorasi, dan eksperimen yang menarik untuk anak-anak.

Tapi ternyata tidak berhenti di situ. Aku berhenti dan berpikir lebih dalam tentang objectives dari kegiatan-kegiatan tersebut. Apa yang sekiranya diperlukan anak dari sains sesuai tahap perkembangannya.

Kita mengajari anak sains, tidak serta merta mengkadernya secara langsung untuk mengambil sains sebagai jalur kariernya ketika dewasa–tentu saja itu hal yang baik jika nanti dia benar-benar memilih itu. Tapi pendidikan sains lebih menekankan poin pembangunan mental keilmuan. Karena itu akhirnya pendidilan sains tidak bebas nilai.

Continue reading “Sains untuk anak”