hubunganku dengan laut

laut menelan kekasihku
tak disisakannya sedikitpun dari mimpi,
disikat habis

semua
hingga sedihku, tak sempat lagi,
terserobot ketertegunan panjang,
hingga kini, sepuluh tahun kemudian,
aku tak merasa ia tiada.
hanya memang tak di sini atau di sana.
hamparan laut dingin,
aku tak merasa.
tapi beritanya yang tiba-tiba
membuatku ragu semua pernah ada.
seperti ombak yang bersusulan memukul pantai lalu lupa.

Advertisements

nada di udara

ada bahasa bisu, berat menghantam jiwa

seketika mencabutku dari tanah ini

lantunannya, membawaku jauh sekali

lamat-lamat membimbing rindu

menuju persembunyian hati, perlahan saja

langkah satu-satu dan setiap kalinya muncul ingatan yang tak pudar

tentangmu

SWAN

This is a lyric from Secret Garden, the one I love so much.

Lonely swan in the silver lake
You are drifting alone
Oh you know how a heart can break
When love has flown
When to some distance ocean crossed
Some mysterious sea,
Though a lover be ever lost
Love can not be
Silver swan by the shore
Lift your wings up and fly
Will you wait evermore
Let life pass you by?
You belong to the sun
You belong to the sky,
You have more than one song
To sing before you die
To the edge of the moon you’ll go
I would fly there with you
Where the tides of heaven flow,
Above the blue,
You are destined for higher ground
Not to linger with me
To the earth i am ever bound, eternally
We belong to the sun
We belong to the sky,
We have more than one song
To sing before we die

here it is the video

Suara Gitanjali


Dalam kerinduan pada entah, sembari menatap  hampa yang memekat, rasanya seperti mendapatkan lagu yang tepat dengan suasana hati, kala bersitatapku dengan sejumlah bait dalam Gitanjali. Ya, Gitanjali karya Rabindranath Tagore, yang berbunyi:

 

Hanya cinta yang sedang kutunggu agar akhirnya dapat kuserahkan diriku ke dalam tangannya. Karena itulah mengapa begitu terlambat  dan mengapa aku dipersalahkan.

Mereka datang bersama hukum-hukum dan undang-undangan untuk mengikatku erat-erat, tetapi aku selalu menghindar. Karena hanya cinta yang sedang kutunggu agar akhirnya dapat kuserahkan diriku ke dalam tangannya.

Orang banyak menyalahkan aku dan menyebutku tak peduli, dan aku tak ragu mereka benar dalam hal itu.

Hari perayaan telah usai dan kerja yang menyibukkan telah berakhir. Mereka yang menyebutku gagal telah kembali pulang dalam kemarahan. Tapi hanya cinta yang kutunggu agar akhirnya dapat kuserahkan diriku ke dalam tangannya.*

 

Aduh, diriku menanti cinta pula. Semangat dalam hidup  yang membuat arti tiap kali membuka mata. Jatuh cinta setiap pagi sejak kuserahkan diri di tangannya. Kerja dan hidup macam apa yang bisa menjelmakan makna sedemikian penuh. Ini soal menjadi apa, bukan bersama siapa. Dunia apa yang bisa kuterjemahkan sebagai rumah cintaku. Dari sekian banyak penarik hati, tangan manakah yang paling tepat kuraih dan kuserahkan diriku. Kutetapi sulit mudahnya. Kuhadapi badai damainya. Yang menjadi alasan khusus aku dan segala dalam aku diwujudkan Yang Kuasa. Di mana relungku di jagat ini.

 

Aku diburu waktu. Napasku tersengal berbalapan derasnya aliran butiran pasir. Namun pada mata mereka, aku hanya termangu bodoh karena terus menunggu, sementara mereka pontang-panting berlari pagi petang. Tiada yang mendengar, dalam diriku ombak berderu, berpacu seru. Dalam menunggu tiada damai. Dalam menunggu risau menggaduh, gundah meriuh. Menghentak-hentak jiwa. Menendang-nendang kuat seolah hendak lompat dari tubuh yang terpaku, termangu.

 

Aku harus mulai melayarkan kapalku. Saat-saat yang membosankan berlalu di pantai-aduh diriku!

Musim semi setelah selesai memekarkan bunga-bunga ia pergi. Dan kini dengan sambil membawa bunga-bunga layu dan pudar aku menunggu dan termangu.

Ombak-ombak menjadi gaduh, dan di pantai yang berpohon-pohon rindang, daun-daun kuning menggelepar dan gugur ke atas bumi.

Kekosongan apa yang kini kau pandang! Tidakkah engkau rasakan getaran yang sedang melintas udara bersama nada-nada lagu nun jauh di sana mengalun dari pantai yang lain?**

 

* kidung ke-17

**kidung ke-21