Siapakah Kaum Tak Beriman Itu? (5/8)

Diterjemahkan dari Who Are the Disbelievers?”  (Hamza Yusuf) oleh Rira Nurmaida

Terjemahan ini merupakan rangkaian dari delapan bagian pembahasan dalam makalah asli oleh Syaikh Hamza Yusuf yang dimuat dalam Jurnal’ Season’ terbitan Zaytuna Tahun 2008.

 

Posisi Kekufuran dan Konsekuensinya

Berdasarkan al-Qur’an, menyekutukan Tuhan (syirk)  merupakan dosa terbesar melawan Tuhan. Namun di dalam Q.S.4:116 disampaikan: ”Allah tidak akan mengampuni dosa syirik (mempersekutukan Allah dengan sesuatu) dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki..  Mayoritas ulama tradisional tidak menerapkan ayat ini pada musyrik yang belum pernah mendengar pesan yang sebenarnya tentang Tuhan. Dalilnya adalah Q.S. 17:15, “…tetapi Kami tidak akan menyiksa sebelum Kami mengutus seorang Rasul.” Imam Ibn Juzayy al-Kalbi mengomentari ayat ini: Salah satu pendapat terkait ayat ini menyatakan bahwa yang dibahas di sana merupakan aspek duniawi, yakni Tuhan tidak akan mengazab suatu kaum hingga seorang Nabi diutus kepada mereka. (sehingga) mereka tak lagi memiliki alasan. Adapun pendapat lain  menyatakan bahwa ayat tersebut berlaku duniawi maupun ukhrawi, bahwasanya Tuhan tidak akan mengazab orang-orang di akhirat kecuali setelah dikirim seorang Nabi  pada mereka dalam kehidupan dunia ini tapi mereka menolaknya.[i] Continue reading “Siapakah Kaum Tak Beriman Itu? (5/8)”

Siapakah Kaum Tak Beriman Itu? (4/8)

Diterjemahkan dari Who Are the Disbelievers?”  (Hamza Yusuf) oleh Rira Nurmaida

Terjemahan ini merupakan rangkaian dari delapan bagian pembahasan dalam makalah asli oleh Syaikh Hamza Yusuf yang dimuat dalam Jurnal’ Season’ terbitan Zaytuna Tahun 2008.

Syarat-syarat Penentuan Kekafiran Seseorang

Sementara takdir mutlak berada di tangan Tuhan, penentuan status seseorang di hadapan hukum tetap penting mengingat ada konsekuensi jelas dari posisi hukum tersebut terkait sejumlah perkara seperti pernikahan, kelahiran, kematian, serta waris. Apa yang menentukan seseorang dinyatakan kafir atau tidak merupakan perkara kritis. Para ahli fiqih Islam mengembangkan suatu panduan garis besar  yang perlu dikritisi sebelum seorang hakim menentukan apakah seseorang telah jatuh ke dalam kekufuran. Enam persyaratan yang harus dipenuhi sebelum seorang hakim dapat menjatuhkan putusan atas kafir tidaknya seseorang yaitu: Niat, Tiadanya Pemaksaan, Level Keilmuan, Ketiadaan Penakwilan, Kemampuan Nalar, dan Bukti Keyakinan. Continue reading “Siapakah Kaum Tak Beriman Itu? (4/8)”

Siapakah Kaum Tak Beriman Itu? (3/8)

Diterjemahkan dari Who Are the Disbelievers?”  (Hamza Yusuf)oleh Rira Nurmaida

Terjemahan ini merupakan rangkaian dari delapan bagian pembahasan dalam makalah asli oleh Syaikh Hamza Yusuf yang dimuat dalam Jurnal’ Season’ terbitan Zaytuna Tahun 2008.

Kategori Kekufuran Menurut Ibn Qayyim al-Jawziyyah

Seorang ‘alim yang sangat produktif berkarya, Ibn Qayyim al-Jawziyyah menggolongkan dua tipe kekufuran yang mencakup sejumlah subkategori. Beliau mempertimbangkan keempat jenis kekufuran yang telah disebutkan sebelumnya berbeda dalam derajat, bukan dalam tipenya (saja, pen), keseluruhannya berujung pada ganjaran pedih di akhirat. Jenis kekufuran ini disebut kufr akbar (kufur besar) dan kufr al-ashgar (kufur kecil). Di masa lalu, akibat ketidakpahaman terhadap kufr al –ashgar  ini, sejumlah otoritas muslim salah menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an dan hadits Nabi SAW, kemudian mereka mengucilkan beberapa muslim tanpa hak. Continue reading “Siapakah Kaum Tak Beriman Itu? (3/8)”

Siapakah Kaum Tak Beriman Itu? (2/8)

Diterjemahkan dari Who Are the Disbelievers?”  (Hamza Yusuf)oleh Rira Nurmaida

Terjemahan ini merupakan rangkaian dari delapan bagian pembahasan dalam makalah asli oleh Syaikh Hamza Yusuf yang dimuat dalam Jurnal’ Season’ terbitan Zaytuna Tahun 2008.

Tipe-tipe Kekufuran dalam Al-Qur’an

Al-Qur’an mengidentifikasi beberapa tipe kekufuran, lalu darinya sejumlah ulama menyimpulkan empat jenis umum kekufuran dan memandang setiapnya layak mendapat balasan di akhirat: kufr inkar, kufur juhd, kufr mu’anada, dan  kufr nifaq.

Continue reading “Siapakah Kaum Tak Beriman Itu? (2/8)”

Siapakah Kaum Tak Beriman Itu? (1/8)

Diterjemahkan dari Who Are the Disbelievers?”  (Hamza Yusuf) oleh Rira Nurmaida

Terjemahan ini merupakan rangkaian dari delapan bagian pembahasan dalam makalah asli oleh Syaikh Hamza Yusuf yang dimuat dalam Jurnal’ Season’ terbitan Zaytuna Tahun 2008.

1/8 Pembukaan

2/8 Tipe-tipe Kekufuran yang Disebut dalam al-Qur’an

3/8 Kategori Kekufuran Menurut Ibn Qayyim al-Jawziyyah

4/8 Syarat-syarat Penentuan Kekufuran Seseorang

5/8 Posisi Kekafiran dan Konsekuensinya

6/8 Siapa yang Ditakdirkan Masuk Neraka

7/8 Relasi Muslim dengan Orang yang Berbeda Keyakinan

8/8 Catatan Tambahan

Bagian 1/8

Kufur dapat dimaknai sebagai ketidakpercayaan atau pengingkaran, tiadanya rasa syukur, atau penolakan arogan terhadap kebenaran. Istilah ini memiliki banyak nuansa makna sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an dan sunnah. Al-Qur’an menyebutkan bahwa ketika seseorang terusik oleh suatu kebenaran, ia akan mulai berpikir (fakkara)  dan menentukan (qaddara)  pendekatan terbaik untuk menjustifikasi penolakannya terhadap kebenaran tersebut. Melihat hal tersebut, nampak bahwa kekafiran berelasi dengan kecerdasan. Aristoteles mendefinisikan intelegensi sebagai sarana di antara kebodohan (jahl)  dengan kecerdasan atau keterampilan. Pengingkaran (kufr) merupakan respon terhadap kebenaran yang disertai aktivitas menutupi kebenaran. Secara semantik, kufur berasal dari kata kafara yang artinya menutupi atau menyelubungi. Salah satu istilah untuk ‘petani’ dalam Bahasa Arab adalah ‘kaafir’  karena petani menyelubungi benih dengan tanah. Kufur juga dimaknai ‘menyembunyikan’ , seperti dalam istilah ‘  kufur nikmat’ (menyembunyikan anugerah yang dikaruniakan padanya). Kufur di dalam al-Qur’an digunakan sebagai antonim bagi iman—dan kafir bertolak belakang dengan mukmin (orang yang beriman)—sebagai salah satu dari dua kemungkinan respon terhadap ayat-ayat ilahiyah. Selain itu, ‘kufur’ juga digunakan sebagai lawan kata ‘syukur’

Continue reading “Siapakah Kaum Tak Beriman Itu? (1/8)”

If The Oceans Were Ink

Buku ini tak bisa kulepas begitu kubaca. Aku terus membacanya hingga selesai. Selain karena penulisannya yang baik,buku ini terasa beresonansi dengan yang kupikirkan terkait umat islam, khususnya di Indonesia. Aku bahkan menerjemahkan beberapa bagian  dalam buku ini dalam pembacaan itu dan sudah kupublikasikan berseri di blog ini. 

Buku yang bercerita tentang Syekh Akram dari mata kawannya ini, seorang jurnalis keturunan yahudi, seolah memberi kesejukan pada hati yang begitu mudah memanas mendengar kisah-kisah tak sedap tentang kalangan sendiri. Pertanyaan tentang adakah Islam yang saat ini hidup dan berjalan di atas bumi serasa bertambah kemungkinannya untuk dijawab secara positif. Ya, mungkin saja itu kesan naif dari orang yang kurang pergaulan sepertiku. Tapi itulah kesan yang sesungguhnya muncul. Ironisnya, harapan itu disampaikan oleh seorang penulis yahudi yang sering dipukul rata dikecam sebagai musuh umat. 

Buku ini merupakan memoir indah tentang perkawanan dua orang dari latar belakang yang jauh berbeda. Namun dalam beberapa hal mereka berbagi hal yang sama sebagai migran, warga dunia yang kosmopolit. Satu hal yang membuat hubungan bisa berjalan baik adalah keterbukaan dan sikap yang tanpa pretensi terhadap sesama. Sebagai seorang wartawan senior bagi Carla, topik Islam telah sering menjadi headline dan ia bisa menemukan sumber referensi dari manapun. Namun dengan tulus ia ingin mencoba memahami dari sumbernya. Itulah mengapa ia mengontak Syekh Akram untuk mengajarinya alQuran. Lalu selama setahun ia mengikuti sesi-sesi kajian alQuran dan menanyakan berbagai hal, terutama yang sering salah dipahami. Ia tak peduli pada penggambaran Islam yang kian memburuk di media Barat pasca runtuhnya WTC. Pada suatu obrolan kala itu yang terpikir bersama Syekh Akram justru di mana mereka mengambil peran di tengah ketegangan yang penuh salah paham itu. Bertahun-tahun kemudian, buku ini baru muncul, tanpa kehilangan relevansinya di tengah situasi di mana agama serasa sulit bersandingan dengan damai.

Carla Power and Syekh Akram Nadwi (Source: http://www.thenational.ae)

Buku ini juga bisa dibilang sebagai sebuah catatan–sebagaimana judul yang dipilih penulisnya– perjalanan menuju jantungnya al-Quran melalui pertemanan dengan seorang muslim yang ta’at dan pada saat yang sama benar-benar menunjukkan sikap ‘iqra’-nya dalam setiap responnya terhadap yang ia jumpai dalam kehidupan. Menjadi figur bahwa untuk ta’at bukan berarti jadi buta, justru harus terus membaca.
Dia berdakwah, tentu saja. Bahkan Carla sempat bertanya-tanya apakah sesi pertemuan yang ia minta adakan bersama Syekh untuk keperluan penulisan buku ini dijadikan kesempatan untuk Syekh untuk ‘mengubahnya’, ‘memuslimkannya’? Syekh Akram dengan lugas menyatakan dia senantiasa berdakwah tapi hati manusia ada di tangan Rabb-Nya. ‘Mengubah orang’ bukan tujuan berdakwah.

Aku belum mengecek kabar terbarunya, namun hingga ia menyelesaikan penulisan buku, Carla Power tidak melepaskan keyakinannya. Meski ia sempat ragu dan bertanya tentang posisi orang yang tidak muslim sepertinya pada Syekh Akram. “Apakah neraka benar-benar menjadi tempat baginya (yang kafir)?” Jawaban Syekh Akram yang bijak pada pertanyaan ini maupun topik diskusi lainnya sangat menarik untuk dijadikan bahan renungan para muslim terkait keberislamannya, keberserahannya pada Allah, pada sikapnya yang lillahi ta’ala dan kedinamisan merespon setiap hal yang dihadirkan Allah dalam hidup dengan tetap berpegang teguh pada keyakinannya.

Syekh Akram bisa dibilang konservatif, beliau lulusan madrasah di Lucknow. Namun di kampusnya itu selain berfokus terhadap kajian Islam, mereka juga dikenalkan pada khazanah pemikiran Barat. Jadi ya mungkin ada yang menuduhnya liberal, tapi di sisi lain para liberalispun menghujatnya. Terkait poin ini aku mengutip tulisan Carla  dan bagian itu memberi secercah petunjuk pada pertanyaan “Andaikata aku muslim, islamku islam yang mana?” Karena itu buku ini aku rekomendasikan bagi siapapun, terutama saudara muslim yang sempat gamang karena seolah ‘tak kebagian perahu’. Di akhir perenunganku selama ini, keterbatasan kita mengenal islam justru bisa jadi karena kita begitu terkotak-kotak dalam perahu (harakah) itu dan akhirnya memandang perahu itulah keseluruhan islam. Ketika tidak lagi termuat dalam perahu dan bergabung bersama kebanyakan muslim yang kita kenal, seringkali posisi kita tersudut. Padahal perahu itu hanya salah satu wahana mengarungi lautan. Ilmu keislaman sendiri lebih dari itu. Takkan habis-habis dituliskan bahkan bila seluruh samudera menjadi tintanya.

Keterangan Buku:
Judul: If The Oceans Were Ink: An Unlikely Friendship and a Journey to The Heart of The Quran
Penulis: Carla Power
Penerbit: Henry Holt and Company
Tahun Terbit: 2015
Penghargaan: Finalis National Book Award for Nonfiction, Finalis Pulitzer Prize for General Nonfiction

The Labels

 

The more I studied with the Sheikh, the less helpful I found all the available labels, both Western and Muslim. What is the Sheikh, anyway? A traditionally trained scholar who scandalizes conservatives and disappoints progressives. And sometimes just the reverse. A champion of women’s rights who accepts that Islam allows polygamy. A defender of individual conscience, but not Western-style individualism. A champion of creative thought, so long as it’s based on proper Islamic scholarship and classical sources. Think for yourselves, he counsels students, but don’t change Islam’s God-given Truth. “The Message,” he cautions, “is the Message.” He is traditional, yet is frequently criticized by others claiming to be traditional. He is a proponent of fundamentals who draws fire from fundamentalists. Every time I thought I’d found a term to describe him, the opposite also seemed to apply. To try to categorize the Sheikh was to flail.

As it turned out, flailing was entirely appropriate. I discovered this, to my relief, when I visited Tim Winter, a professor of Islamic studies at Cambridge University. Trying to fit Islamic thinkers into Western categories was a nonstarter, he told me. “Islam doesn’t have a spectrum,” said Winter, who also goes under his Muslim name, Abdal Hakim Murad. “There are Muslims who come from very literalist traditions who are massively pro-women. There are others who are very mystical, but also very political. Any combination is possible. The danger is always when you try to impose the idea that Christianity is the default religion.” I left Winter’s office vowing to try to avoid rigid categories. I’d flail on.

Terjemahan: 

Continue reading “The Labels”