The Velveteen Rabbit

Apa itu riil? Apa ciri-ciri riil? Apakah mainanmu riil? Mainan yang kaubawa kemanapun, kaumainkan, menemanimu saat tidur, riil-kah ia? Buku ini sangat dekat temanya dengan anak dan menjadi jembatan pada pemikiran mendalam tentang ‘ada’, ‘eksis’, ‘menjadi’.

Ceritanya mengenai sebuah boneka kelinci kesayangan seorang anak. Seakan tak pernah lepas, sosok boneka kelinci ini menjadi riil bagi si anak. Boneka kelinci merasa riil karena dicintai. Hingga si anak jatuh sakit…
Keterangan Buku:

Judul: The Velveteen Rabbit
Penulis: Margery Williams
Ilustrator: William Nicholson
Penerbit:
Tahun Terbit: 

Satu lagi episode gagal move on

Mertua yang tidak bisa melepas posisinya. Itu adalah tema dari penggalan kisah ini.

Dimulai dari wafatnya sang anak saat melahirkan untuk ketiga kalinya. Sayang sekali, waktu itu ibu dan bayi (bayi-bayinya?) tak terselamatkan. Bukan hanya meninggalkan duka pada ayah dengan kedua putranya, tapi juga menggoreskan luka di hati kakek dan nenek, orangtua sang ibu.

Ayah dua anak itu seolah diganduli beban “anakku mati saat bersamamu” oleh mertuanya. Hubungan memang tetap dijaga tapi seolah ada ikatan hutang yang besar, entah sesal, entah dendam.

Urusan harta pun terkait. Ketika ibu baru hendak hadir dalam kehidupan dua lelaki kecil itu, kecemasan muncul, jangan sampai harta hasil keringat anakku jatuh ke tangan perempuan asing.

Saat pinangan diajukan sang ayah pada perempuan itu, sang nenek maju dan bersikeras duduk di muka. “Aku tetap orangtuamu!” seolah itu yang bergema. Duduklah dia di sana, di kursi itu. Di samping mantan suami almarhum putrinya; menyaksikannya meminang perempuan itu.

Aku melihatnya di sini, pedih menahan luka yang ia cipta sendiri. Iba rasanya. Kubayangkan ia dilayarkan ingatan pada saat putrinya dipinang, oleh lelaki yang kini ada disampingnya. Apa yang sesungguhnya ia rasa? Takut? Terkhianati? Sedih? Ketakrelaan?

Wajahnya seolah noda hitam di tengah lukisan musim semi. Semua orang tengah bahagia di sini, tapi senyumnya tak hadir. Tertambat pada duka, pada luka.

Oshin itu ya…

Oshin brings back insomnia to me. Gimana nggak, dia memaksaku membaca buku sejarah dan antropologi tentang perjalanan feodalisme Jepang. Membuatku menyusun mitos-mitos yang dipropagandakan untuk menyelamatkan muka Jepang sebagai salah satu inisiator perang. Membuatku penasaran tentang perangkat pembangun nilai tradisional Jepang yang masih lestari hingga kini, what makes them as they are. Juga membuatku menjadi perlu menonton beberapa drama lain sebagai pembanding (dari produser yang sama, atau dari masa berbeda untuk memantau konsistensi penggambaran kultur Jepangnya). Membuatku meluangkan waktu untuk hadir pada acara festival Jepang untuk pertama kalinya seumur hidupku, just to see what I can see from the Japanese, or else sing mambu2 jepun pokok e. Oshin juga membuatku menjamah referensi ekonomi, marketing, dan manajemen karena maju mundurnya dalam bisnis benar-benar pelajaran penting. Yang paling parah, Oshin membuat semua pria nampak hopeless, wait! Aku masih ingin menyimpan harapan tidak semua pria sepayah kebanyakan figur pria di dalam Oshin. Pelajaran pentingnya adalah, pria bego (ga tahu apa kata yang paling tepat menggambarkan karakternya itu) bisa menyebalkan separah itu, subhanallah, dan yang terburuk adalah bertahan hidup bersamanya karena it will not bring him any closer to brightness, but you, yes, you who will end up follow his lousiness. Jahat kan, Oshin? Sudahlah, aku menyerah, ga ada manfaatnya lagi buatku setelah episode 100. Aku berhenti nonton Oshin. Sekarang aku berusaha untuk tidur lagi.

Inside Out

Ketika ditayangkan di bioskop, film ini sepi apresiasi, mungkin hanya di sini. Yah, janganlah dibayangkan seperti frozen, misalnya. Jauh! Tapi sejak awal aku mendengar beritanya, aku langsung menanti penuh harap.
Film ilmiah (meski spekulatif) yang disajikan dalam abstraksi visual yang harusnya sangat menantang. Setiap emosi memiliki representatif persona. Aku betul-betul penasaran jadinya akan seperti apa.

Lalu tibalah saat menonton. Wow! Pembukaannya ciamik

“Do you know what inside one’s head?”

I talked to myself, “Even I don’t know what’s inside my head.”
It said,

I know, at least Riley’s

Lalu musiknya…. Wohoo, musik yang mengetuk dengan hangat… Ngepas rasanya, oke kuraih bantal, akan kutonton sampai selesai nih kayaknya. Jadi harus dibuat posisi wenak…

Satu persatu karakternya keluar. Interaksi antarpersonal-nya mulai terbaca. Joy adalah yang dominan dari semua emosi. She’s the one who thinks she is in control. Dialah juga yang menjadi narator sejak pembukaan film. Omong-omong aku penasaran juga terkait preferensi gender untuk setiap representasi emosi, hehehe… (Bisa jadi clue untuk analisis selanjutnya, nih).

Saat mengenalkan satu persatu, Fear, Anger, Disgust, dia merujuk pada peristiwa saat masing-masing berperan. Hingga tiba giliran Sadness, mulai muncul ekspresi judgmental

“I don’t know exactly what’s she doing, but…

dilanjutkan dengan deretan rekaman Riley yang menangis, merajuk, merengek. Oke, here is the conflict. Roger that.

Semua seolah berjalan lancaaaar sehingga suatu peristiwa terjadi–warning: spoiler, kalau mau menghindar lewati satu paragraf berikut ini.

Semua kaget ketika orangtua Riley memutuskan pindah. Riley harus meninggalkan semua hal yang menyenangkan di Minnesota dan beradaptasi di kota besar San Fransisco. Kekacauan pun terjadi di headquarter (pusat kendali emosi di kepala Riley. Semua tampak kebingungan bertindak, termasuk Joy, meski dia berusaha tetap tenang dan menjaga Riley tetap senang. Umm, maaf karena struktur penceritaanku yang agak berantakan, dalam film digambarkan bahwa ekspresi Riley diatur oleh salah satu atau kerjasama dari representasi emosi yang ada. Mereka bekerja dengan mengendalikan semacam panel, dan mereka dapat melihat dunia luar sebagai Riley, dari mata Riley. Sebagai contoh, Joy memegang kendali pertama saat Riley lahir (saat itu hanya ada sebuah tombol dalam panel kendali), ia memencet tombol dan Riley tersenyum, Joy takjub. Sesaat kemudian Riley menangis meraung, ternyata tanpa disadari Sadness sedang memencet-mencet tombol tersebut. Semakin bertambah usia, tombol dalam panel kendali emosi di headquarter semakin banyak. Simbol meningkatnya kompleksitas.

Nah, pada saat menghadapi sejumlah hal baru yang asing, seluruh anggota headquarter bingung! Lucu juga melihat setiap representasi emosi diimajinasikan memiliki kesadaran mandiri, sementara otak, kesadaran, nalar organismenya sendiri (dalam cerita ini, Riley) berada di sisi lain yang berbeda meski tetap terkoordinasi. Seolah seluruh komponen itu hidup dan bergerak dengan kesadarannya masing-masing lalu mereka mengatur Riley. Who is Riley, then? Apa atau siapa yang mendefinisikan dirinya ketika Joy dan Sadness berebut kendali untuk merepresentasikan ekspresinya ketika merespon sesuatu?

Pertanyaan itu tidak terjawab dalam film–dan memang bukan tesis film ini, haha. Film ini secara sederhana menurutku hanya berupaya menjelaskan kompleksnya proses internal yang ada dalam diri (kepala?) seseorang saat merespon sesuatu. Bukan sekali dua kali kita merasa ada pertempuran batin, konflik antara kenapa aku harus bersedih saat semua orang berharap aku seharusnya senang? Bagaimana seorang anak bisa tiba-tiba mengamuk padahal orangtua telah merasa menjelaskan sesuatu dengan baik?

Emosi merupakan sesuatu yang kompleks dan terproses dalam diri manusia dari kanak-kanak hingga dewasa. Emosi yang terkait dengan memori pengalaman pribadi dan pengetahuan yang dianggap valid akan terakumulasi dan membentuk sebagian kepribadian kita.

Tidak ada emosi yang baik atau buruk secara dasein. Semua adalah bagian dari modal kemanusiaan kita. Perkaranya hanyalah mampukah kita mengekspresikan emosi yang tepat pada waktu yang tepat, dengan kadar dan cara yang tepat? Kebijakanlah yang bisa mengatur semua kompleksitas itu. Proses yang rumit dan melelahkan dalam latihannya.

Film ini mengimajinasikan kerumitan proses itu dan samar-samar aku mendengar pesannya,”Hello, aku sungguh tak tahu apa yang terjadi di dalam kepalamu, di dalam dirimu. Tapi sebagai anggota ras kita, kita mengalami kompleksitas yang kurang lebih sama. Perasaanmu dan perasaanku sama pentingnya. Jadi, mengapakah kita tak bisa…umm…memberi…sedikit waktu untuk satu sama lain memahami perasaan kita sendiri, lantas untuk sementara waktu mengafirmasinya sebelum mengekspresikannya? Ketidaksabaran kita dalam memahami diri sendiri membuat kita geram satu sama lain dan akhirnya kita saling memaksa keluarnya emosi yang tidak tepat…”