Filsafat Bahasa melalui Knuffle Bunny

Alkisah, suatu hari, Trixie, gadis kecil yang belum belajar berbicara, pergi bersama ayahnya ke tempat laundry. Ia membawa boneka kesayangannya, Knuffle Bunny. Sayang sekali, ketika pulang, bonekanya tertinggal di sana. Di perjalanan pulang, Trixie baru menyadari bahwa ia kehilangan bonekanya, lalu berkata pada ayahnya, “Aggle flaggle klabble!”. Tentu saja ayahnya tak mengerti apa yang ia maksud. Trixie lalu berusaha menyampaikan maksudnya dengan segala cara. Dia menunjuk-nunjuk ke arah laundry, menangis, menolak untuk berjalan, berusaha-menggapai-gapai, dsb. Ayahnya malah kebingungan dan tak mengerti apa yang diinginkan Trixie. Begitu sampai di rumah, ibunya bertanya, “Mana Knuffle Bunny?” Mereka pun segera kembali ke tempat laundry dan menemukan boneka Trixie di sana. Ketika melihat bonekanya itu, dengan riang trixie mengucapkan kata-kata pertamanya, “Knuffle Bunny.”

Continue reading “Filsafat Bahasa melalui Knuffle Bunny”

Advertisements

Menulis Untuk Khalayak

Salah satu tulisan yang kubuat dalam perkuliahan Jurnalisme Sains dan Teknologi (2007 atau 2008)

Pendahuluan: Kita dan Budaya Pena
Masyarakat Indonesia tidak tumbuh sebagai masyarakat yang dekat dengan budaya pena. Menulis—kecuali menulis faktur, nota, dll—bahkan hingga saat ini masih menjadi sesuatu yang tidak akrab digeluti dalam keseharian. Mengarang menjadi pelajaran yang membosankan. Menulis buku harian nampak cengeng dan membuang-buang waktu. Pekerjaan sebagai seorang penulis dianggap tidak prospektif dan ’kering’. Dalam kaitannya dengan perubahan sosial, menulis sering dianggap sebagai aksi yang ’tidak riil’. Teoritis. Semua paradigma itu terbentuk secara kultural. Kita, sebagai masyarakat Indonesia memang bukan tipe masyarakat yang memiliki kecintaan terhadap tulisan. Kita terbentuk menjadi masyarakat lisan, yang mengandalkan penyebaran informasi dari mulut-ke mulut.

Continue reading “Menulis Untuk Khalayak”