Belajar Sains

Apa yang terpikir bila “pelajaran sains” terlintas di benak?

Dua pekan lalu, adikku menghadapi ujian semester. Kulihat ia berkutat dengan buku pelajarannya, menghapalkan materi dari buku berjudul Sains untuk SLTP. Iseng-iseng kupinjam bukunya ketika ia beristirahat. Tak jauh beda dari buku milikku dulu. Padat informasi dan pengetahuan sains yang akan ditanyakan dalam kertas ujian. Kulihat halaman yang berisi soal-soal latihannya. Pertanyaannya didominasi oleh hal-hal yang jawabannya bisa langsung dikopi dari halaman-halaman sebelumnya.

Suatu ketika saat menyampaikan materi kaderisasi di himpunan mahasiswa, aku sempat bertanya,” apakah kalian merasakan manfaatnya pelajaran sains yang digeluti sejak sekolah dasar?”. Hampir semua peserta sepakat menjawab, “Ya!”. Ketika kutanya lagi, “ Kalau begitu siapa saja yang selalu mencuci tangan setiap akan makan atau senantiasa membuang sampah pada tempatnya?”. Kudapati beberapa orang nyengir, menangkap maksudku. Kuisengi lagi, “ Oh, ya tentu kalian pun rajin mandi karena tahu benar manfaatnya bagi tubuh kalian.” Derai tawa pun terdengar.

Penjelasan mengenai anggota badan dan menjaga kebersihan itu materi sains kelas satu SD, lho. Terus kenapa? Ya, jadi ketika saat kuliah tidak memanfaatkan pengetahuan sains tadi untuk menjaga kualitas hidup dalam hal ini kebersihan, apa yang salah? Belum mengertikah? Ah, masa iya?

Mulanya manusia belajar sains untuk lebih memahami alam dan semesta, hingga kehidupan akan lebih baik karenanya. Sebagai bagian dari alam, manusia menyatu dengan alam untuk menaklukkan alam. Sekarang ini sains hanya jadi beban belajar siswa. Memusingkan tanpa bisa ditangkap ilmunya, gunanya.

Generasi di Ambang Pintu

Belum lagi masanya tiba,

masih berdiri di sini, menunggu.

 

Lihat! Itu generasi tua tergagap-gagap, sembunyikan borok.

Sedikit saja, cuma segelintir, yang tentram batinnya.

Hati miris melihat anak-anak muda terlahir cacat: sumbing nuraninya, lumpuh benaknya, buntung kejujurannya.

Sementara jiwa kita pun belum tentu selamat.

Kita, remaja tanggung, kadung lahir di kalatidha, hendak ambil alih dunia sekejap lagi

 

Berdiri di sini, di ambang pintu.

Menanti suara peluit, bersiap untuk aba-aba,

hingga…

“priiit…”, berlari, tempati setiap pos.

 

Dengan ilmu tergopoh-gopoh, pengetahuan setengah matang, kreativitas aktivis kampus yang terbiasa makan larangan.

Sejarah tinggal inspirasi, yang kita hadapi makin bikin pucat pasi.

Kali ini tak ada contekan atau solusi tahun kemarin.

 

Yang bisa dipegang tinggal kitab suci dan nurani,

itu pun bila belum tercemar nanah dan tinja peradaban ini.

Yang baik itu, yang Tuhan mau, yang manusia perlu.

 

Dalam gamang kita menerka, hendak apa kita di sana.

Peluh bercucuran makin deras,

dan inilah kita, dengan ijazah tergenggam, di ambang pintu, menanti giliran.

 

 

(Sunken Court, Juli 2010)

Merenungkan Sekolah

Pendidikan kadung dianggap identik dengan sekolah. Semacam proses sertifikasi dalam kegiatan belajar. Sampai tiba waktu memasuki dunia kerja, kumpulan ijazahlah yang menentukan ‘harga’ seseorang. Melihat fakta demikian, tak berlebihan rasanya jika dikatakan bahwa sekolah ibarat pabrik yang memproduksi robot-robot. Seorang lulusan sekolah kini tak ubahnya produk keluaran pabrik yang telah melewati sejumlah proses, dari pengolahan sampai quality control hingga dinyatakan siap pakai.

Ketika mendaftar, siswa seperti bahan mentah yang siap diolah. Kemudian dibekali banyak informasi tanpa proses berpikir yang memadai sehingga yang mereka pelajari tidak nampak hubungannya dengan kehidupan sehari-hari. Sekolah seolah tidak lagi menjadi bagian dari proses pendidikan untuk membentuk manusia utuh, yang mumpuni menghadapi tantangan masa depan. Peserta didik hanya merasakan beban tugas yang besar serta tuntutan untuk mendapatkan nilai yang baik dalam ujian. Rasa senang dalam proses belajar pun berkurang.

Membentuk manusia utuh bukanlah sekedar menginstal berbagai keterampilan praktis atau pengetahuan yang bisa membuatnya memperolah penghasilan sendiri. Lebih dari itu ia harus dibekali kemampuan berpikir kritis, sehingga mampu untuk menelusuri kebenaran dengan nalarnya sendiri, bukan sekedar mengutip guru atau menyalin buku. Ia pun harus dituntun dalam membentuk kepribadiannya, selain bagaimana berpikir, juga bagaimana ia bersikap, hingga bisa konsisten pada sumber nilai yang dipegangnya dalam hidup. Juga dilatih menghadapi pilihan-pilihan hingga belajar memutuskan dan bertanggungjawab.

Proses yang dijalani pun sebaiknya tidak seragam, harus mempertimbangkan kondisi unik setiap individu. Manusia, sekalipun sama-sama memiliki akal, kemampuan jasmani, serta sejumlah insting, namun komposisinya berbeda-beda. Ada yang pandai bernyanyi, namun tidak menunjukkan prestasi yang baik dalam atletik, ada yang pandai matematika namun gagap ketika berbicara, ada juga yang tidak bisa menggambar namun mudah sekali berteman. Terkait hal ini, ada yang menarik dari film The Blind Side (2009) , yaitu bagaimana orang-orang di sekeliling Michael Oher—seorang anak afro-american yang dianggap bodoh—berupaya untuk mengoptimalkan potensi besar yang dimilikinya dengan menggunakan kekuatannya sendiri. Ketika hasil tes tulis Michael sangat buruk, gurunya mencoba mengevaluasi Michael secara verbal, melalui proses dialogis, dan nyatanya perkembangannya signifikan. Big Mike tidak bodoh, namun sistem evaluasi sekolah yang biasa tidak mampu mengukur kemampuannya dengan akurat.

Permasalahan ini bukanlah hal baru. Sudah banyak kisah tokoh dunia yang karya-karyanya sangat mengagumkan namun pernah memiliki sejarah kelam di sekolah. Akan tetapi, bukti-bukti empiris itu belum cukup untuk menginspirasi sistem pendidikan kita untuk menyudahi kebiasaan buruk merobotkan peserta didik. Untuk mengatasi kelemahan sistem pendidikan ini, sejumlah orangtua memutuskan untuk meng-homeschooling-kan anaknya; beberapa institusi pendidikan yang progresif membuat sistem baru untuk mengoptimalkan perkembangan potensi anak didik yang lebih beragam, bukan hanya aspek kognitifnya. Ada yang memberi lebih banyak kebebasan berkreasi; mendekatkan proses pendidikan dengan alam; pendekatan religius; ada juga yang menggunakan teori multiple intelligence ala Howard Gardner. Hanya saja, ketika upaya menyelamatkan generasi ini hanya dilakukan sejumlah sukarelawan atau segelintir institusi pendidikan yang peduli, bagaimana nasib jutaan anak-anak lain yang belum terakses?

Selepas Sekolah

Mereka bertanya kemana aku ‘kan pergi;

kujawab: hendak belajar.

 

Dan mereka bertanya lagi: Oh, S2-kah?;

kujawab lagi: tak hendak kukejar gelar.

 

Mereka tetap memberiku soal: lalu bekerja di mana?;

kujawab lagi: ah, belajar itulah kerjaku.

 

Merasa gagal bertanya, lantas menduga: ah, kau akan menikah;

Hahaha, tertawa lepas aku,

dan kujawab lagi: ilmu itu hidupku, aku sudah menikahinya.

 

Kapok bicara, bertanyalah mereka lewat kening berkerut dan tatapan ganjil;

tak ketinggalan senyumku, aku berlalu, kuteriakkan: aku akan terus belajar!

tanpa balik badan.