Oshin itu ya…

Oshin brings back insomnia to me. Gimana nggak, dia memaksaku membaca buku sejarah dan antropologi tentang perjalanan feodalisme Jepang. Membuatku menyusun mitos-mitos yang dipropagandakan untuk menyelamatkan muka Jepang sebagai salah satu inisiator perang. Membuatku penasaran tentang perangkat pembangun nilai tradisional Jepang yang masih lestari hingga kini, what makes them as they are. Juga membuatku menjadi perlu menonton beberapa drama lain sebagai pembanding (dari produser yang sama, atau dari masa berbeda untuk memantau konsistensi penggambaran kultur Jepangnya). Membuatku meluangkan waktu untuk hadir pada acara festival Jepang untuk pertama kalinya seumur hidupku, just to see what I can see from the Japanese, or else sing mambu2 jepun pokok e. Oshin juga membuatku menjamah referensi ekonomi, marketing, dan manajemen karena maju mundurnya dalam bisnis benar-benar pelajaran penting. Yang paling parah, Oshin membuat semua pria nampak hopeless, wait! Aku masih ingin menyimpan harapan tidak semua pria sepayah kebanyakan figur pria di dalam Oshin. Pelajaran pentingnya adalah, pria bego (ga tahu apa kata yang paling tepat menggambarkan karakternya itu) bisa menyebalkan separah itu, subhanallah, dan yang terburuk adalah bertahan hidup bersamanya karena it will not bring him any closer to brightness, but you, yes, you who will end up follow his lousiness. Jahat kan, Oshin? Sudahlah, aku menyerah, ga ada manfaatnya lagi buatku setelah episode 100. Aku berhenti nonton Oshin. Sekarang aku berusaha untuk tidur lagi.

Ketika mulai nampak hal-hal yang salah, ketika sesuatu menjadi lain dari harapan, itulah saatnya menekan tombol pause. Hufft, kamu lelah, jedalah lalu pelajari sesaat dari mana semuanya berawal. Jika itu bagian dari keteledoranmu, bertanggungjawablah. Jika bukan, belajarlah memandangnya sebagai hadiah yang lain, tantangan baru. Berat, meski, aku tahu, tapi kamu tak punya pilihan lain.

Kompleksitas

Robin Williams tewas bunuh diri karena depresi. How come?, kata beberapa orang. Dalam Dead Poets Society ia berperan sebagai John Keating yang penuh inspirasi membangkitkan semangat hidup para siswa “Hellton” yang penuh tekanan meski pada akhirnya tak cukup membantu bagi Neil yang ujungnya memutuskan bunuh diri. Pada Good Will Hunting, ia berperan sebagai Sean Maguire yang menerapi seorang jenius dengan permasalahan jiwa yang cukup pelik. Lalu, sebagai dokter eksentrik dalam Patch Adams dia pun tampil ceria mengembalikan semangat para pasiennya. Ah ya, ada juga filmnya yang tidak bergenre seperti itu. Ada Insomnia, One Hour Photo, atau The Night Listener yang di dalamnya ia tidak mengambil peran-peran ceria atau semacam ‘healer’. Akan tetapi, secara umum citra diri Robin William sebagai aktor– dan ternyata sebagai pribadi di dunia nyata berdasarkan tribut dari kerabat maupun rekannya– adalah seseorang yang membuat orang ceria dengan kelucuan, keramahan, dan kehangatannya. Hal itu yang membuat orang bertanya-tanya “How come?”. Bahkan putrinya sendiri berkata, ” I will never ever understand why he didn’t stay.”

Hal itu sulit dijawab. Melalui coretan ini pun aku tak bermaksud menjawabnya. Hanya saja kutahu satu hal: manusia sesungguhnya menghadapi perjuangan besar dan berat dalam hidupnya. Bukan sekedar masalah atau lawan yang ada di luar dirinya tapi yang ada di dalamnya. Hanya saja banyak yang tidak menaruh perhatian banyak pada hal itu atau telah menyelesaikannya dengan sederhana kemudian fokus pada masalah eksternal, atau tetap bergelut dengan masalah tersebut sembari meningkatkan kapasitas mental untuk menanggung kepelikannya. Hidup menjadi lebih tidak menyenangkan jika iapun tidak tertarik pada kelezatan dunia atau jika sudah jenuh terhadapnya. Pada titik itu, mempertahankan keinginan untuk hidup pun menjadi makin sulit. Harus ada motivasi lain yang melampaui apa-apa yang terlihat di muka bumi ini yang mencegah seseorang (merasa bahwa dia) memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.

Ayolah, meski kehadiran kita di dunia ini di luar intervensi kita, tapi dalam hal kematian rasanya keputusan itu seolah bisa dipilih, bukan? Lagi-lagi ini masalah keyakinan. Tapi keyakinan tertentu kadang belum cukup.