Pernikahan yang Tak Kunjung Tiba

 

Beberapa kali kusinggung soal pernikahan di dalam beberapa tulisanku di blog ini, tapi ini kali pertama aku memfokuskan diri berbicara khusus tentangnya. Beberapa tulisan sebelumnya  baru terkait persepsi terhadap cinta, menghadapi ketidaksabaran orang-orang terhadap kelajangan (dapat dibaca pada artikel “kapan?”), hehe, atau sedikit ulasan tentang mak comblang. Continue reading “Pernikahan yang Tak Kunjung Tiba”

Cinta

Pendahuluan

Jangankan ketika mulai menulis, baru memikirkan bahwa aku benar-benar akan membuat artikel ini saja sudah jadi geli sendiri. Artikel tentang cinta? Hahaha. Tapi biarlah, di zaman kebebasan informasi seperti ini, otoritas keilmuan benar-benar sudah menjadi hal yang semu, meski aku tidak bersekutu dengan yang cenderung mengabaikannya. Hanya saja, ini fenomena manusia secara umum, dan sebagai bagian dari rasku, aku merasa berhak-berhak saja menyampaikan pandanganku.[i]

Tulisan ini akan dimulai dengan membahas fenomena cinta secara umum. Dari karakter utama beserta indikasi-indikasinya baru dilanjutkan aspek rasionalitas dan keterlibatan emosi, bentuk relasi, hingga kondisi-kondisi yang terkategori khusus. Agar pembahasan lebih terstruktur, disertai juga dengan  sejumlah batasan dan penjelasan istilah yang  digunakan.

Pertama-tama aku membatasi ranah observasi fenomena ini. Aktivitas berkasih sayang yang sering diidentikkan dengan cinta bukan hanya kita lihat pada ras manusia. Pada dunia binatang kita bisa menyaksikan sejumlah perilaku yang sering diasosiasikan dengan cinta, entah perlakuan induk hewan pada anaknya, sikap melindung yang ditunjukkan ketua  sebuah kawanan, atau  bahkan aktivitas seksual pada hewan. Namun, secara sederhana kita masukkan itu ke dalam kategori naluri alamiah hewan yang mungkin akan sedikit berbeda dengan konsep cinta yang akan dibahas dalam tulisan ini. Fenomena cinta pada manusia lebih kompleks, bukan sekedar sebagai manifestasi dari naluri seksual, tapi kadang berwujud pengagungan, dan seringkali tidak semata-mata bersifat naluriah, akalnya pun turut berperan. Jadi kesimpulannya,  yang akan menjadi objek bahasan kita hanyalah fenomena pada ras manusia saja.

Pada umumnya orang-orang memandang cinta sebagai sebuah bentuk afeksi, kecenderungan pada sesuatu yang menimbulkan perhatian lebih, dsb. Hal itu tidak salah, akan tetapi menurutku belum menyentuh  titik utama pembahasan cinta. Hanya mencakup sebagian  yang nampak dari fenomena cinta itu tersendiri. Aku cenderung untuk mengaitkan konsep cinta dengan ketergantungan atau dependensi.

Langsung saja, cinta merupakan hal khusus yang dirasakan pada sesuatu. Sesuatu itu bisa saja berupa apapun, tak dibatasi. Dengan demikian kata “mencintai“ sebagai verba transitif dapat disematkan pada objek manapun. Seseorang dapat mencintai anak, kekasih, sahabat, keluarga, diri sendiri, uang, karir, ilmu, kampung halaman, negara, atau Tuhan. Namun dari berbagai  hal yang dicintai itu membawa konsekuensi aktivitas yang berlain-lainan. Seorang suami yang mencintai istrinya tidak akan membelikan istrinya tersebut  balon-balon dengan karakter kartun yang lucu sebagaimana ia lakukan sebagai salah satu ekspresi cinta pada anaknya (kecuali kalau memang itu memang hal yang digemari istrinya). Hal itu akan nampak konyol, tapi tidak lebih konyol dari cerita fiktif Paman Gober yang sibuk melap uang-uang-nya yang ia cintai, mandi uang, dan hanya sibuk menghitung uang-uangnya, bahkan membelanjakannya pun sangat pelit. Seseorang mengaku mencintai  Tuhan dengan menantang keras secara fisik siapapun yang dianggap melecehkan Tuhannya; sementara pihak lain mengklaim mencintai Tuhan dengan  beranggapan keyakinan pada keagungan Tuhan justru tidak menuntut manusia yang lemah seolah-olah dapat maju untuk membela Tuhan. Ada yang mencintai kekasihnya dan rela melakukan apapun yang diminta. APAPUN! Tapi ada juga yang beralasan demi cinta dapat memaksa pihak yang ia cintai untuk melakukan (mungkin) apapun yang ia kehendaki yang ia pandang baik baginya. Nah, cukup membingungkan pada mulanya ketika  melihat indikasi-indikasi demikian. Berbagai perilaku bertolak belakang diklaim dilakukan atas landasan alasan yang sama: cinta. Lantas bagaimana bisa kusimpulkan bahwa intinya adalah faktor dependensi?

Dari berbagai indikasi tadi, kita bisa menarik sebuah benang merah. Bahwasanya siapapun yang mengaku mencintai sesuatu, akan memiliki kecenderungan untuk peduli dan semakin sedikit mengabaikan sesuatu itu.  Komposisi kepedulian dan pengabaian ini terletak dalam suatu bar paralel yang cukup panjang intervalnya. Semakin tinggi level cintanya maka kepeduliannya akan semakin tinggi dan otomatis semakin rendah pula pengabaiannya. Bukan hanya rentangnya yang panjang akan tetapi parameter yang terkandungnya pun sangat luas. Karena itu aku pikir lebih baik mengganti istilah peduli dengan dependen. Secara semantik, dependen bukan ordinat dari peduli. Akan tetapi dalam konteks pembahasan cinta ini, aku memandang bahwa peduli merupakan salah satu bentuk dependensi atau kebergantungan dari suatu eksistensi terhadap eksistensi lain. Dependensi yang dimaksud pun bukan semata-mata kebergantungan yang otomatis muncul karena sifat natural/biologis, seperti halnya dependensi manusia terhadap air dan udara. Dependensi dalam konteks pembahasan ini adalah yang lahir dari keputusan manusia, sadar tak sadar, entah berlandaskan rasio atau emosi semata, bisa jadi pula karena keduanya. Jadi dependensi dalam konteks cinta adalah suatu pilihan yang terpaket dalam kehendak bebas manusia.

Kemudian, akupun tak akan menggunakan terma “objek yang dicintai“. Dalam relasi terkait cinta, posisi subjek-objek menjadi bias. Karena unsur dependensi yang kuat, subjek yang mencintai seringkali sekaligus menjadi objek dari yang dia cintai. Oleh karena itu istilah yang cenderung netral akan dipilih. Alih-alih menggunakan istilah“objek yang dicintai“ berikutnya akan disebut dengan “entitas yang dicintai“.

Beberapa gejala yang mengindikasikan cinta bukan merupakan hal unik. Dalam artian tidak secara pasti menunjukkan gejala cinta. Bisa jadi ada suatu gejala yang mengindikasikan hal lain misalnya rasa takut, atau tertekan. Kadang cintapun bisa tertukar dengan ambisi, bahkan kelainan jiwa seperti erotomania[ii].

Meski mencermati fenomena natural pada manusia—karena selanjutnya aku tak bisa menghindar dari menghadirkan pandangan-pandangan yang dipandang ideal terkait cinta—kesimpulan-kesimpulan yang akan diambil nanti dilihat dari sudut pandang sistem nilai yang kuanut, yaitu Islam. Jadi, dalam bagian-bagian tertentu tulisan ini yang berkaitan dengan sudut pandang, aku berusaha untuk memahami dan menggunakan prinsip-prinsip dalam Islam untuk menyikapi permasalahannya.

Cinta Secara Generik

Secara umum, manusia cenderung memandang positif bahkan mengagungkan cinta sebagai nilai yang tinggi. Cinta diasosiasikan dengan kebahagiaan, kepuasan, kenikmatan, bahkan tujuan yang hendak dikejar dalam hidup.

Victor Hugo mengungkapkan dalam Les Miserables:

“Ini adalah kebahagiaan yang sesungguhnya. Tidak ada kegembiraan yang melebihi kegembiraan ini. Cinta adalah satu-satunya kenikmatan, yang lainnya adalah kesedihan.”

“Mencintai atau dicintai, itu cukup. Jangan meminta lebih dari itu. Takkan ada mutiara lain yang bisa ditemukan di kegelapan palung kehidupan. Mencintai adalah sebentuk penyempurnaan.”

Sementara Virgil menyatakan “Love conquers all”.

Bahkan bukan hanya dalam ranah sastra, pandangan yang meninggikan cinta juga dimanfaatkan dalam strategi politik. Misalnya ketika George W. Bush berkata di hadapan Kedutaan besar Afghanistan pada 2002 untuk mengambil hati umat Islam:

“All Americans must recognize that the face of terror is not the true faith—face of Islam. Islam is a faith that brings comfort to a billion people around the world. It’s a faith that has made brothers and sisters of every race. It’s a faith based upon love, not hate.”[iii]

 

Memang sulit mendefinisikan cinta, sangat subjektif. Karena sifatnya yang memang abstrak dan fenomenanya terletak pada spektrum yang luas, diskursus tentang cinta seringkali berakhir pada sebuah klise bahwa cinta memang tak terdefinisi. Setiap orang memiliki penghayatannya sendiri.  Akan tetapi, meski sulit mengungkapkannya dalam sebuah definisi padu, dari berbagai  contoh singkat yang menggambarkan aktivitas mencintai seperti yang telah digambarkan sepintas pada bagian pembuka, setidaknya kita bisa menggaris-bawahi beberapa aspek yang bisa kita anggap sebagai gejala/indikasi adanya cinta. Misalnya kepedulian, afeksi, perhatian, mengharapkan persetujuan/keridhaan, perlindungan, kepercayaan (belief/trust), menyenangkan entitas yang dicintai, penyematan nilai/penghargaan yang tinggi, harapan kebersaman, dan memprioritaskannya dari yang lain-lain. Ya, lebih kurang seperti itu.

Dari gejala-gejala tersebut kita bisa melihat “attachment” yang jelas dari seseorang yang mencintai terhadap entitas yang dia cintai. Entitas yang dicintai menjadi parameter tambahan dalam sejumlah keputusan. Disadari atau tidak, hal ini berarti mengurangi derajat kemandirian seseorang dalam hidupnya. Untuk lebih memperjelas hal ini dapat dijabarkan melalui beberapa contoh.

  • Seorang anak hendak memilih jurusan tertentu yang ingin ia pelajari. Karena ia mencintai orangtuanya, ia meminta pendapat dan persetujuan mereka atas pilihannya. (Bedakan dengan kasus di mana si anak melakukannya atas dasar takut)
  • Seorang perempuan hendak melanjutkan studi ke luar negeri. Akan tetapi, ia mencintai keluarganya. Ia tak mau berpisah dari suami dan anaknya meski untuk sementara dan demi kemajuan karirnya. Ia lantas berpikir ulang dan mempertimbangkan berbagai kemungkinan untuk mengkompromikan hal tersebut atau bahkan “mengorbankan” karir akademisnya saja.
  • Ada seorang guru yang sangat mencintai tanah kelahirannya. Dia berusaha keras bertahan mengajar di sekolah kecilnya. Meski ia kehilangan kesempatan kenaikan pangkat dan jabatan yang mengharuskannya mengabdi di daerah lain, ia rela.
  • Seorang gadis sangat mencintai tas hadiah dari sahabatnya. Suatu saat ketika akan pergi bersama, ia ingin memakainya. Ia pun berusaha keras mencari pakaian yang sesuai dengan warna dan desain tas itu agar serasi, kalau perlu ia beli baju baru. Dalam hal ini, tas itu menjadi salah satu faktor penentu keputusannya. Tas itu menjadi istimewa karena pemberinya adalah sahabat yang ia cintai.
  • Melakukan pembakaran harta benda secara massal mungkin dipandang gila. Namun dalam konteks Bandung Lautan Api, hal tersebut menjadi sangat heroik. Kecintaan yang lebih besar pada kemerdekaan membuat penduduk Bandung kala itu rela menghancurkan harta bendanya dengan api daripada dikuasai oleh Belanda.
  • Seseorang yang cinta pada kekuasaan akan sangat memperhatikan reputasinya. Terkadang yang dilakukannya justru akan merusak reputasinya kala terungkap (kasus khusus yang terjadi pada penguasa minim integritas).

Cinta adalah sesuatu yang bisa dianggap sebagai salah satu potensi/qadar[iv] yang dimiliki oleh manusia sebagaimana api yang memiliki  qadar untuk membakar.  Perkara api yang digunakan untuk memanaskan air atau membakar tempat tinggal seseorang (baik atau buruk[v]) semua adalah keputusan manusia, keputusan subjek. Dengan demikian cinta sebagai potensi yang dimiliki manusia, tak bisa berdiri sendiri. Cinta secara trivial tidak bisa menjadi landasan aktivitas dan alasan manusia melakukan sesuatu. Maksudnya, cinta bukanlah pemikiran awal yang dapat dijadikan asas atas berbagai motif perbuatan manusia.

Atas nama cinta, seseorang menuntut balas pada pembunuh putranya. Ia meminta pengadilan memberikan hukuman terberat. Namun kalau bicara masalah cinta kasih juga, sang hakim bisa saja akhirnya memutuskan untuk membebaskan si tersangka karena tak mau melakukan “kekejaman” dengan menghukumnya. Bagaimana ini? Sulit menempatkan cinta sebagai standar jadinya. Apalagi terkait dengan hukum, karena sifatnya yang sangat subjektif, erat dengan emosional, dan tidak berpijak dari standar yang jelas (bahkan ia butuh sandaran).

Oleh karena itu, pandangan yang menempatkan cinta sebagai sebuah “absolute virtue[vi]” jadinya nampak absurd. Padahal cinta bukanlah sebuah nilai yang bebas mengejawantahkan makna dan implikasi-implikasinya secara jelas dan tertentu. Cinta butuh disandarkan pada sesuatu. Hal yang butuh sandaran pada sesuatu mana bisa dijadikan landasan/basis pemikiran atau nilai?

Ada rasa cinta yang dimiliki oleh manusia, dengan kata lain ia memiliki potensi untuk mencintai. Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya, sebagai potensi, cinta tak dapat dinilai begitu saja terkait zatnya. Kita selalu perlu melihat konteks, menelaah motif dan sasaran cinta itu untuk dapat menilainya. Adapun aktualisasinya, yaitu cinta sebagai kata kerja pun tidak otomatis dapat dinilai baik dan buruk[vii]. Mencintai anak yatim, mencintai shadaqah, mencintai ilmu adalah sesuatu yang dapat dinilai sebagai hal yang baik. Akan tetapi mencintai kemaksiatan, mencintai kecurangan

Klasifikasi cinta

Beberapa ahli mengungkapkan jenis cinta yang berbeda.  Menurut psikolog Elaine Hatfield dan koleganya, terdapat dua jenis dasar cinta:  compassionate love dan passionate love[viii] . Compassionate love ditandai dengan penghormatan yang sifatnya mutual, ketertautan (attachment), afeksi, dan kepercayaan (trust). Cinta jenis ini seringkali tumbuh dari perasaan atas saling pengertian dan berbagi penghormatan antara satu pihak dengan pihak lainnya.

Sementara passionate love ditandai dengan emosi yang intens, ketertarikan seksual, kecemasan, dan afeksi. Jika cinta jenis ini bertepuk sebelah tangan maka akan menghantarkan pada perasaan terpukul hingga putus asa. Hatfield menyatakan bahwa cinta jenis ini biasanya hanya bersifat sementara, semacam persinggahan yang bertahan sekitar 6 hingga 30 bulan.

Hatfield juga menyatakan bahwa passionate love muncul ketika ekpektasi kultural mendukung individu untuk jatuh cinta, atau ketika seseorang menemukan sesuatu yang telah dirumuskan sebagai prekonsepsi cinta ideal, dan ketika mengalami desakan psikologis yang meninggi pada kehadiran seseorang yang tertentu.

Dalam konteks tulisan ini, klasifikasi cinta sudah dikaitkan dengan dependensi. Jadi, meskipun cinta tidak sinonim dengan dependensi, yang dikedepankan adalah dependensinya, dalam makna, cinta yang timbul pada suatu entitas sehingga mengakibatkan kebergantungan pada entitas tersebut, atau bahkan cinta itu bisa muncul sebagai implikasi ketergantungan.  Dengan demikian, aspek kausalitasnya pun menjadi kabur.  Dependensi dan cinta sulit dirumuskan ujung pangkalnya, tapi kedua konsep ini tak terpisahkan.Berdasarkan entitas yang dicintai, cinta merupakan bentuk-bentuk dependensi berikut ini:

Dependensi absolut

Manusia adalah makhluk yang sangat lemah, bergantung pada entitas-entitas lain, memiliki banyak sekali keterbatasan di samping kekuatannya. Sesuatu yang sangat kontras bila disandingkan dengan penciptanya. Dia yang mahakuasa, mahaberkehendak, mahatahu. Manusia tidak ada apa-apanya di hadapan penciptanya. Dalam pandangan seorang theis, Tuhan dalam konsep dan sebagai suatu entitas riil merupakan kekuatan yang tak bisa ia bayangkan besarnya. Semuanya di luar akal. Maka bagi orang yang beriman merupakan sebuah konsekuensi yang rasional jika ia memutuskan untuk berserah diri pada Tuhan karena Tuhan memiliki kuasa penuh atas dirinya, tak peduli ia menerima hal itu atau tidak.

dalil: Allah yang menggenggam nyawa, Allah yang menganugerahkan rahmat. Allah yang membolak-balik hati, dll

Meletakkan cinta tertinggi, sebagai bentuk dependensi, yang paling rasional adalah pada entitas yang kelemahan dan kebergantungan kita bersifat mutlak padanya. Bukan pilihan. Bahkan tak ada pilihan lain selain menyerah, tunduk, bahkan takluk. Cinta-cinta yang selanjutnya kemudian akan diatur berdasarkan dan berlandaskan cinta yang terbangun atas dependensi mutlak ini.

Bagi umat Islam, hal ini lebih tergambar, karena Tuhan telah menitahkan ketaatan dengan metode yang jelas, bukan semata-mata konsep abstrak. Allah menurunkan dengan jelas bagaimana Ia hendak disembah; bagaimana manusia hendaknya menjalankan kehidupan dengan sesama manusia beserta makhluk-makhluk lain di alam semesta; juga aturan-aturan terkait dengan dirinya sendiri. Bahkan Allah telah menetapkan bahwa tujuan penciptaan manusia tak lain adalah untuk beribadah kepada-Nya.

وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ [٥١:٥٦]

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (Q.S. Adz-Dzaariat: 56)

وَٱسْتَغْفِرُوا۟ رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوٓا۟ إِلَيْهِ ۚ إِنَّ رَبِّى رَحِيمٌۭ وَدُودٌۭ [١١:٩٠]

Dan mohonlah ampun kepada Tuhanmu kemudian bertaubatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih. (QS Hud: 90)

وَهُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلْوَدُودُ [٨٥:١٤]

Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih (QS Al-Buruuj: 14)

Siapapun yang beriman kepada Allah akan mendapatkan cintaNya. Akan tetapi, hingga derajat mana ia mendapatkan balasannya, semua bergantung atas upayanya meraih ridha Allah. Meski sebetulnya, sekeras apapun usaha manusia untuk taat hal itu tetap takkan cukup untuk membalas atas cinta dan kasih sayang Allah padanya yang dirasakan di atas bumi. Oleh karena itu, imbalan pada manusia bukan karena amalnya, tapi semata-mata Rahmat Allah saja.

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِن تَنصُرُوا۟ ٱللَّهَ يَنصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ [٧]وَٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ فَتَعْسًۭا لَّهُمْ وَأَضَلَّ أَعْمَـٰلَهُمْ [٨]

Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. Dan orang-orang yang kafir, maka kecelakaanlah bagi mereka dan Allah menyesatkan amal-amal mereka.  (QS Muhammad: 7-8)

Tuntutan mencintai karena Allah

Dari pemaparan sebelumnya

Interdependensi

Manusia memiliki kecenderungan untuk menjaga rasnya. Ia memiliki kecenderungan untuk menolong orang lain, menghormati orang lain. Ada unsur kemanusiaan yang ia jaga dalam interaksi dan relasinya sehari-hari maka dari itu rasa cinta pada sesamanya bukan sesuatu yang dapat diingkari meski ada beberapa jenis lagi yang dapat kita telusuri, dan masing-masingnya memiliki level kekuatan yang berbeda.

Cinta pada keluarga

“Love means not ever having to say you’re sorry”[ix] (Segal 1970, 131). Dalam cinta kasih pada keluarga, seringkali ditemukan kasus-kasus yang menunjukkan adanya pemakluman yang besar atas kesalahan yang telah dilakukan seorang anggota keluarga. Keluarga adalah tempat kau pulang tak peduli seperti apapun keadaanmu. Ikatan darah yang kuat kadang membutakan mata atas kondisi-kondisi lainnya (dalam beberapa aspek tentu saja hal ini tidak dapat dibenarkan). Hal seperti ini terutama lebih sering dirasakan pada anak kecil, atau bahkan hewan peliharaan 9yang terkadang sudah seperti keluarga sendiri bagi sebagian orang). ketika menumpahkan susu, memecahkan vas bunga, paling banter kita mengelus dada, dan…ah ya sudahlah, anak kecil, misalnya. Terrutama dirasakan oleh orangtua pada anaknya, meski tentu tidak berlaku general.

Cinta pada kawan dan sahabat

Sebagai makhluk sosial, manusia pun hidup bersama orang-orang asing yang berasal dari luar lingkungan keluarganya. Meski demikian tak jarang “orang-orang asing” tadi menjadi sedemikian dekat. Kadang sedekat anggota keluarga, bahkan lebih dari itu. Gambarannya kalau dalam kisah fiktif kita bisa melihat persahabatan antara Old Shatterhand dengan Winnetou, misalnya.

Mencintai lawan jenis

Jika kita memandang sekitar, banyak dari produk kebudayaan saat ini meletakkan konteks cinta pada lawan jenis sebagai sentral (bahkan ada cinta sesama jenis, tapi karena dalam pandanganku itu anatural dan juga illegal[x] maka takkan dibahas lebih jauh). Cinta pada lawan jenis ini tentu saja dalam ranah di mana naluri seksual berperan penting. Film, lagu, karya sastra, bahkan materi promosi komersial berbagai produk seringkali memanfaatkan tema ini sebagai pesan utama. Aku tak bisa memastikan apakah ini merupakan dampak yang cukup besar dari ajaran Freud karena secara pribadi belum pernah melakukan studi khusus dan mendalam terhadapnya. Tapi ya, demikianlah adanya saat ini.

Parahnya, karena fenomena ini begitu luas merebak, interaksi cinta tipe ini yang (pada dasarnya) terkait naluri seksual, juga dapat kita jumpai di kalangan anak-anak yang bahkan mungkin baru mulai mengeksplorasi adanya makhluk serupa dirinya yang berlawanan jenis. Beberapa kali kudengar, anak-anak SD berkata-kata,”Ini pacarku.” dll, padahal mereka tidak mengerti apa maksud dari kalimat itu. Semua itu terjadi karena gempuran budaya massa[xi] yang tidak lagi memperhatikan unsur-unsur normatif yang penting dijaga di tengah masyarakat.

Psikolog Zick Rubin[ix] mengusulkan konsep bahwa cinta romantis terdiri atas tiga unsur: tautan (attachment), kepedulian, dan keintiman. Tautan adalah kebutuhan untuk menerima perhatian, persetujuan, dan kontak fisik. Kepedulian melibatkan unsur menilai kebutuhan dan kebahagiaan orang lain sebagaimana kita menyetandarkannya untuk diri sendiri. Sementara keintiman menyangkut aspek berbagi pikiran, keinginan, dan perasaan, dengan orang lain.

One decides to accept the other totally, without reservation, and with eyes open.

Mencintai sosok role model (idolizing)

Berikutnya ada satu bentuk lagi yang menetapkan entitas tertentu yang dicintai sebagai panutan yang dijadikan patron pembentukan kepribadian (idola). Secara fakta, kita dapat melihat bahwa cinta jenis ini terkait dengan dependensi juga. Terdapat upaya imitasi yang dilakukan subyek untuk dapat mengidentikkan dirinya dengan idolanya tersebut.

Mencintai diri sendiri: intradependensi

hingga narsisisme: kaitkan dengan integritas; kaji fenomena egois, kepercayaan diri, defense mechanism, aktualisasi diri, dll. selfish or selfless, the latter being a key element towards enlightenment.

Dependensi Impersonal

Seseorang dapat dikatakan mencintai  objek, suatu prinsip, atau tujuan jika mereka menyematkan nilai yang tinggi terhadapnya dan memiliki komitmen mendalam terhadapnya. Orang-orang jug adapt mencintai objek material, hewan, atau berbagai aktivitas jika mereka menghabiskan waktu, mengikatkan diri, atau melakukan identifikasi dengan hal-hal tersebut.

Dalam konteks impersonal, cinta muncul dalam bentuk memberi penilaian tinggi. Dikatakan mencintai sesuatu lebih dari yang lain terlihat dari indikasi

Ketika Cinta Hadir

Sudah disebutkan bahwa cinta termasuk ke dalam potensi  yang dimiliki manusia. Akan tetapi sebagaimana unsur-unsur naluriah lainnya, potensi ini baru akan terbangkitkan dan menghadirkan suatu kecenderungan untuk dipenuhi ketika terdapat stimulus yang membangkitkannya. Stimulus tadi bisa saja bersifat eksternal maupun internal nonfisis (imajinasi, bukan tuntutan jasmaniah).

Karena keputusan sadar: dipicu rasionalitas atau dipicu emosi

Aspek blink? Love on the first sight?

Pepatah Jawa mengatakan Witing tresno jalaran soko kulino.

Chemistry, rasionalisasi, lalu konfidensi.

Kadang orang tak dapat membedakan antara mencintai seseorang dengan mencintai perbuatannya. Mencintai seseorang dengan tulus dan penuh artinya mencintai suatu sosok dengan segala potensi yang dia miliki. Dengan demikian aktualisasinya tidak akan terlalu menjadi permasalahan atau menjadi prasyarat kontinuitas perasaan cinta. Karena ada yang memberi perhatian berlebih, maka dia anggap dia telah jatuh hati karena hal itu. ketika hubungan terjalin dan kemudian ditemukan hal yang tidak menyenangkan, kecewa lalu putuslah relasi tersebut.

Hal ini yang mengakibatkan

Unsur-unsur Paradoksal Cinta

Paradoks tak pernah absen dari kehidupan manusia.

menuntut atau memerdekakan?

Sepanjang hidupnya manusia tak henti membangun eksistensinya. Ia berkembang, memperluas pandangan, dan terus bertumbuh. Ia kemudian memiliki standar-standar, memiliki idealisme

unconditional love: love totally with open eyes

melemahkan atau menguatkan?

Benar atau tidaknya mencintai

Apakah bisa, seseorang dikatakan salah mencintai sesuatu atau salah caranya mencintai sesuatu?

Siapa yang layak dicintai? Hati kita sangat luas, kau takkan pernah bisa tahu pasti berapa banyak yang bisa kau cintai, atau bahkan yang pernah kaucintai, sesuatu yang baru akan disadari ketika kehilangannya satu persatu.

Cinta karena merupakan bentuk dependensi pada dasarnya memiliki efek melemahkan. Melemahkan kita di hadapan entitas yang dicintai. Akan tetapi pada saat bersamaan ia menguatkan kita di hadapan entitas lainnya. Untuk mempermudah memahami kontes ini, mari kita tinjau beberapa ilustrasi berikut: seorang suami meski kelelahan setelah bekerja seharian, tetapi begitu tiba di rumah istrinya yang sedang hamil memintanya membelikan jenis makanan tertentu (alasannya ngidam). meski tempatnya jauh, tak urung ia berangkat. Dalam konteks ini ia terlemahkan karena keinginan/kepentingan dirinya pribadi dikalahkan oleh kepentingan orang lain sekalipun itu dilakukan atas kesadaran, bukan otoritatif atau menggunakan pressure power. murni persuasi karena pengaruh cinta. Namun ia terkuatkan menghadapi kelelahan yang menderanya, mungkin kondisi malam yang gelap, mungkin hujan, jarak jauh. Dia memiliki kekuata untuk menghadapi semua itu.

Keterceraian: Tiada lagi cinta?

Perpisahan adalah suatu hal yang tak terelakkan. Jika pertemuan adalah sebuah pangkal, maka ujungnya adalah perpisahan. Akan tetapi, perpisahan bukanlah sekedar sebuah peristiwa tunggal.

Cinta terkait dengan attachment, bagaimana dengan disattachment. Kadang perpisahan perlu diambil atas dasar cinta yang lebih besar lagi.

Dalam relasi cinta terdapat ekspektasi, kadang bila ekspektasi ini tidak dapat dipenuhi, perceraian adalah jawaban agar kedua belah pihak tidak saling membebani.

Penutup

Karena cinta itu melemahkan, maka sandarkanlah cintamu pada kekuatan yang tepat. Yang pertama-tama, adalah pada yang Mahakuasa, Allah, Rabb-mu, penciptamu. Ialah al-Wadduud, adalah yang paling besar cintanya padamu dan yang paling berhak atas cintamu dari segala. Lalu cintailah yang Ia cintai, para Rasul-Nya, orang-orang shaleh di antaramu, cintai dan ikuti jalan mereka. Lalu cintai mereka yang ridhanya adalah ridha Allah dan yang Allah perintahkan untuk dicintai. Anak-anak, cintai orangtua kalian, berjuanglah untuk mendapat ridha mereka. Bagi para istri, cintai suami, kejar ridhanya. Para suami, teladani Rasulullah dalam mencintai keluarga dan memperlakukan mereka sebaik-baiknya. Cintai orang-orang miskin, orang-orang yang terdzalimi, bela hak-hak mereka. Cintai para penguasa  dengan memberikan nasihat dan meluruskannya kala menyimpang dari syari’at. Cintai anak-anak, tetangga, sesuai dengan tuntunan yang digariskan Rabb-mu. Jika kau cinta pada-Nya, tentu kau akan taat pada-Nya. Perlakukan juga dirimu dengan baik, jika kau cinta dirimu, kau takkan rela ada sedikit saja daging yang tumbuh dari rezeki yang tidak halal; kau takkan rela mengumpankannya pada neraka atas berbagai maksiat yang kaulakukan.

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًۭا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَـٰٓئِكَةٌ غِلَاظٌۭ شِدَادٌۭ لَّا يَعْصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ [٦٦:٦]

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.  (QS At-Tahrim: 6)

Sementara dunia, cintai sekedarnya saja. Nikmatilah yang menjadi bagianmu selama kau tak lalai terhadap yang lebih berharga. Harta, kedudukan, kemuliaan,maupun  ilmu yang kaumiliki sekarang tak ada artinya bila tidak menghantarkanmu pada cinta-Nya yang agung. Jangan sampai kecintaan pada dunia membuatmu benci dan takut pada kematian. Bukankah rahmat Tuhanmu berupa surga yang paling kamu inginkan?

وَٱبْتَغِ فِيمَآ ءَاتَىٰكَ ٱللَّهُ ٱلدَّارَ ٱلْءَاخِرَةَ ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ ٱلدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِن كَمَآ أَحْسَنَ ٱللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ ٱلْفَسَادَ فِى ٱلْأَرْضِ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلْمُفْسِدِينَ [٢٨:٧٧]

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS Al-Qashas: 77)

Karena cinta adalah sumber kekuatan, pastikan kau bersandar pada kekuatan paling agung di atas segalanya. Dia yang akan menjadi pembela dan pelindung tanpa tandingan. Meletakkan loyalitas tertinggi padanya adalah keputusan terbaik yang dapat diambil oleh akal manusia lemah sepertimu. Lalu berikan cinta pada mereka yang juga telah memberikan hati dan hidupnya pada al-Waduud. Mereka pun akan menguatkanmu di hadapan dunia. Mereka takkan melemahkanmu karena tekanan sentimentil yang sifatnya duniawi. Ingatlah Khaulah yang merelakan keempat puteranya untuk syahid dan tidak menghalangi langkah mereka sedikitpun demi mendapatkan ridha Allah. Seorang ibu yang meregang nyawa dalam persalinan putra-putranya lalu mendidiknya hingga dewasa malah menyemangati mereka untuk menyambut kematian dalam perang fii sabilillah. Hal yang seperti ini akan sulit dipahami oleh orang yang tidak merasakan keimanan yang menjadi dasar tindakan itu.[xii]

Bonus track 😀


[i] Terlebih lagi setelah beberapa kawan menjulukiku dr.c.

Tulisan ini dapat menjadi referensi awal untuk mengenalkan mazhabku dalam perkara ini buat mereka yang memang merasa perlu berkonsultasi denganku 🙂

[ii] Erotomania adalah suatu kondisi ketika seseorang terobsesi begitu kuat dalam mencintai seseorang. Ia melakukan apapun seringkali di bawah sadar demi bersama yang dicintainya. Biasanya ia berimajinasi bahwa orang yang ia cintai juga mencintainya meski sebetulnya tidak. Visualisasi menarik untuk fenomena ini tergambar baik dalam sinema Prancis “He loves me, he loves me not” yang dibintangi oleh Audrey Tautou.

[iii] Cukup banyak sumber yang menganalisis kebijakan luar negeri Amerika pasca 9/11. Sebagai respon dari serangan atas WTC dan Pentagon, Amerika dipandang oleh banyak analis menghancurkan terlalu banyak, dan malah menjadi teror itu sendiri. Membalas teror yang dilakukan individu/organisasi dengan teror negara. Meskipun pada akhirnya diketahui motif ideologis dan ekonomi-lah yang sebetulnya melatarbelakangi misi di Afghanistan dan Iraq. Dari fakta demikian,  war on terror, hanya omong kosong, seruan perdamaiannya pun kosong. Tangannya berlumur darah, sementara mulutnya berbusa menyerukan cinta. Kalau gambarannya sekedar “membuat nyaman”, “mempersaudarakan”, keduanya masih terlalu bias. Kemudian ia membenturkan cinta dengan konsep teror.  Dalam nalar awam, pada kata teror melekat kebencian, kekejian, perang, dan lain-lain. Sementara cinta berikatan erat dengan kasih, kehangatan, damai, dan lain-lain. Karena itu, perintah untuk berperang yang ada dalam al-Qur’an kemudian diinterpretasikan lain. Karena Islam “harusnya” berlandaskan cinta, kurikulum jihad mesti dihapus. Singkat kata, agama dibaca ulang, dibahas ulang, dipahami berbeda karena harus berlandaskan cinta dan damai (berdasarkan persepsi penyebar teror yang sesungguhnya).

[iv] Pembahasan qadar seringkali disandingkan dengan qadla. Dalam rukun iman, keduanya tercantum dalam rukun keenam:”iman kepada qadla dan qadar, baik dan buruknya dari Allah”. Dengan demikian pembahasan qadar tak lepas dari ranah keimanan. Pemahaman yang diambil penulis diadopsi dari konsep yang dijabarkan oleh Taqiyuddin an-Nabhani dalam bukunya Nidzamul Islam. Baik qadla maupun qadar berada pada wilayah yang bebas dari kehendak dan kuasa manusia. Qadla adalah segala peristiwa yang terjadi di dalam manusia di mana manusia tak bisa menghindarinya dengan kekuatan apaun. Sementara qadar merupakan potensi natural yang tercakup pada suatu makhluk sebagai sifat alamiah yang diciptakan/ditetapkan oleh Allah baginya. Termasuk dalam hal ini adalah potensi api untuk membakar; potensi benda-benda tunduk pada gravitasi; dll. Keseluruhan potensi ini bersifat “netral” dan pemanfaatannya melibatkan kehendak bebas dan kuasa manusia. Dalam konteks “potensi mencintai”, manusia punya potensi mencintai sesuatu berlandaskan naluri-nalurinya, namun ia bebas mengaktualisasikan cintanya pada entitas tertentu dengan bentuk tertentu pula.

[v] Manusia cenderung menilai baik dan buruk berdasarkan standar kecintaan dan kebenciannya pada sesuatu atau peluang mendatangkan kemanfaatan atau kemadharatan terhadapnya

[x] Terkait hal ini aku sudah menuliskannya tersendiri dalam artikelku yang lain. Lihat:

[xi] Dalam mengapresiasi seni, setidaknya ada empat kategori: seni elit (avant garde), seni populer, seni massa, dan seni rakyat. Seni elit merupakan seni yang melibatkan unsur pemikiran yang tinggi, membungkus kedalaman pemikiran dalam kemasan artistik terkait dengan kemajuan budaya zaman terkait maka seni jenis ini seringkali dijadikan penanda fase budaya karena merepresentasikan pencapaian akal manusia. Disebut elit, karena sifatnya cenderung elitis, hanya dinikmati kalangan terbatas yang memiliki kecenderungan dan kapasitas intelektual memadai dalam mengapresiasinya. Adapun seni populer merupakan seni elit yang dikemas lebih ringan tanpa mengurangi kedalaman pesannya. Dikemas lebih ringan agar dapat menjangkau target yang lebih luas atau demi tujuan mempermudah apresiasinya. Seni massa merupakan seni yang diproduksi secara massal dan lebih sering menitikberatkan pada unsur hiburan dan keuntungan finansial semata. Karya seni jenis ini sering kali terlepas dari konteks kemasyarakatan tempatnya lahir. Dalam artian, tidak diproduksi untuk membantu menimbulkan kesadaran atau menumbuhkan penghayatan terhadap persoalan sosial masyarakat tempatnya lahir. Akan tetapi sarat dengan unsur hiburan yang melenakan dan cenderung bersifat eskapis, maka sering juga disebut karya eskapis/kitsch. Terakhir, seni rakyat merupakan seni lokal yang muncul secara orisinal dari rahim budaya suatu komunitas. Kadangkala disebut juga sebagai seni etnis. Karena sifatnya yang lokal dan erat dengan lingkup kehidupan komunitas terbatas tempat ia lahir, seni jenis ini seringkali masih menghadirkan stimulus kesadaran bagi anggota budayanya untuk melakukan penghayatan pada kehidupan keseharian mereka. Karenanya seni jenis ini seringkali masih banyak dinikmati oleh para apresiator seni elit.

[xii] Dalam film Life is Precious, hal ini misalnya digambarkan dalam pemikiran seorang jurnalis Israel yang tak habis pikir atas pemikiran seorang muslimah yang mati-matian ingin menyembuhkan putranya dengan menyeberang perbatasan Gaza menuju rumah sakit di Israel. Suatu saat ia ditanya apakah ia akan mengizinkan bila jika anaknya suatu saat ingin menjadi bom syahid, lalu dijawabnya, tentu saja. Sang jurnalis terbelalak dan menganggapnya gila.