Pulang (2)

Sekali waktu aku melangkah ke luar rumah, kupikir ini hanya kepergian sementara. Tak lama setelah beberapa urusan selesai aku ‘kan kembali. Akan pulang. Tetapi di luar, yang kujumpai ternyata kenyataan bahwa satu tapak membuka pintu pada tapak-tapak lain yang makin menjauh dari apa yang mulanya kusebut rumah. Semakin lama semakin kusadari bahwa perjalanan ini bahkan mungkin takkan pernah berakhir. Dengan waktu yang singkat, luasnya tanah terhampar di hadapan, apakah akan ada waktu untuk benar-benar pulang, ketika lelah, lalu beristirahat yang penghabisan. Kemudian aku sadar bahwa sejak awal aku tidak memulai perjalanan ini dari rumah. Rumah dan pulang yang sesungguhnya bukan yang pernah kualami. Sejak awal kesadaran ini muncul aku harus selalu siap dengan kondisi berjarak dari akar. Sesuatu yang kudapatkan sebagai anugrah.

Advertisements

Kritik atas Beberapa Aliran Feminisme

Dalam pertumbuhan pertama feminisme, yang dominan, kalau bukan satu-satunya adalah gerakan feminisme aliran liberal tradisionalis yang ditandai dengan tulisan Mary Wolltonescraft (A Vindication of Rights of Women). Ide utama feminis generasi pertama masih berkutat seputar kesetaraan hak terutama dalam keluarga, pendidikan, dan politik. Pada perkembangannya, feminisme tumbuh menjadi berbagai aliran dengan perspektif masing-masing terhadap ketidakadilan yang dialami wanita, termasuk strategi menghadapinya. Dimulai pada feminisme gelombang kedua, sekitar tahun 60-an, berkembang beberapa aliran berdasarkan basis ideologi yang beragam. Sebut saja feminisme radikal, feminisme sosialis, feminisme psikoanalisis dan gender, feminisme eksistensialis, feminisme postmodern, serta feminisme multikultural dan global.[i] Terakhir muncul yang disebut ecofeminism. Berikut ini akan dijelaskan satu persatu berikut kritiknya[ii]:

Continue reading “Kritik atas Beberapa Aliran Feminisme”

Putus

Mungkin hampir setiap orang mengharapkan kelanggengan dalam menjalani hubungan personal, terlepas dari level keintimannya; entah sebagai teman, sahabat, atau bahkan hubungan suami-istri. Banyak teori yang diungkap untuk menjaga kelestarian hubungan, menganalisis berbagai alasan yang diungkapkan ketika seseorang (terpaksa) mengakhiri suatu hubungan. Dalam tulisan ini aku akan menyoroti dua aspek yang termasuk penting dalam hal ini. Yaitu, pengenalan potensi internal dan keharmonisan dalam proses tumbuh sebagai manusia. Dua hal ini sebetulnya berkaitan, namun agar lebih jelas, akan dijabarkan singkat satu persatu.

Continue reading “Putus”

Aku Tak Tahu Maka Kubertanya

Dalam kegelapan kita senantiasa mencari cahaya. Setidaknya kita meraba-raba, untuk mendapatkan pengetahuan apa yang ada bersama kita, di mana kita. Seorang bayi memasukkan segala hal yang teraih tangan mungilnya ke dalam mulutnya sebagai cara ia mengidentifikasi hal-hal baru di sekelilingnya. Semakin besar ia dan mulai mengenal bahasa, celotehannya yang paling sering adalah tentang apa ini, kenapa begitu? Kemampuan dan potensi dasar manusia yang unik dibandingkan dengan makhluk lainnya adalah untuk mempertanyakan sesuatu, sebagai konsekuensi keberadaan akal padanya.

Bahkan manusia menemukan keberadaannya, menemukan kesadarannya atas proses bertanya terus-menerus. Descartes meletakkan subyektivitas sebagai asas filsafat modern dengan mempertanyakan segala ketidakpastian hingga pada pangkal kepastian yang bisa ia validasi, yakni keberadaan dirinya yang mempertanyakan keberadaannya.

Mencari adalah salah satu proses mendapatkan. Sepanjang hidupnya, dalam prosesnya bertumbuh, manusia mencari jawaban. Mencari jawaban itulah bertanya. Tapi, apakah setiap orang bertanya? Setiap yang berakal pasti setidaknya pernah bertanya meski tidak berlagak layaknya filsuf yang mempertanyakan segala hal. Ada suku bangsa yang tidak memiliki kosakata untuk konsep waktu, mereka tidak memiliki konsep pembagian waktu maupun usia. Mereka hidup dalam peristiwa, namun tidak berbicara tentang kemarin atau esok hari. Dapat dikatakan mereka memiliki suatu kebebasan tersendiri. Akan tetapi belum pernah kutemukan berita terkait suatu suku bangsa yang tidak punya kosakata tanya dalam bahasanya.   Artinya setiap yang berakal tidak memiliki kebebasan dari bertanya. Inilah yang paling universal dari manusia, kemampuannya berpikir dan kemudian memberinya hak untuk berkehendak. Inilah sebenarnya ujung dari proses bertanya, manusia mengajukan soal dan memperoleh jawaban bukan semata menjadi mesin penjawab, namun jawaban tadi ia butuhkan sebagai landasannya memandang sesuatu, bersikap dan berbuat.

Apa-apa saja yang ditanyakan?

Jika kita melakukan refleksi pada kehidupan awal manusia maka pertanyaan paling tua mestilah terkait “apa?”. Apa ini, apa itu, benda apakah ini, benda apakah itu. Barulah kemudian meluncur dari mana asalnya, untuk apa, kenapa begini, bagaimana cara menggunakan dan lain sebagainya. Saya diceritakan ibu saya bahwa pertanyaan saya tentang Tuhan berawal dari cat. Katanya—karena saya sendiri tak ingat lagi—saya bertanya cat itu dari mana, bahannya apa, dan terus mempertanyakan dari mana, atau dari apa, hingga sampai pada titik ibu memberi jawaban pamungkas: Tuhan.  Sebuah konsep baru yang justru menimbulkan pertanyaan berikutnya Tuhan itu apa?

Dari satu contoh itu, dan banyak lagi yang bisa kita dapatkan dari pengalaman manusia, bertanya adalah proses penelusuran. Seringkali kita tidak dapat menemukan jawaban final. Sejumlah fisikawan berambisi untuk menemukan Theory of Everything. Suatu rumusan teori yang diharapkan merupakan penjelasan komplit atas semua fenomena fisis yang teramati.  Setelah menemukan sejumlah komponen dasar penyusun alam semesta dan gaya-gaya yang mengatur interaksinya, penelitian terus dilanjutkan untuk menggabungkan seluruh informasi untuk membentuk ToE. Kalau ada, ya, kalau memang benar ada.

Akan tetapi, sesungguhnya saya skeptis dengan hal itu. Dulu, bukan tidak pernah fisika dianggap tamat karena  bangunannya yang telah ajeg tidak terevisi selama beberapa ratus tahun, akan tetapi manusia dalam kehidupan yang  senantiasa berkembang menemukan fenomena baru yang tak terjelaskan, yang sendirinya membutuhkan teori baru. Bukan tak mungkin jika hal itu terjadi lagi di masa ketika seluruh pertanyaan tren saat ini sudah terjawab.

Apalagi  jawaban yang dibutuhkan manusia? Kita juga bertanya tentang apa yang harus kita lakukan? Dalam menjalani kehidupan beserta sesama kita sering mempertanyakan standar-standar apa yang layak disepakati bersama untuk menjadi landasan sekaligus naungan berinteraksi. Kita mempertanyakan apa yang pantas dan tidak pantas, masalah etika, standar baik-buruk, dan seterusnya. Seiring tumbuhnya kompleksitas keidupan, pertanyaan itupun terus berkembang. Akhirnya meskipun lelah, kita tak bisa berhenti. Jawaban terhenti dan pengetahuan maupun peradaban tidak berkembang lagi bukan karena pertanyaan habis, akan tetapi praktis ketika kita berhenti bertanya,

Apa-apa saja yang terjawab?

Bukti-bukti peradaban yang kita indera saat ini dan masih terus berkembang adalah bukti keandalan manusia dalam menjawab mengenali alam, menjawab pertanyaannya dan mengatasinya, menguasainya dan memanfaatkannya. Namun sebanyak apapun akumulasi jawaban atas pertanyaan yang tergali, selalu ada persoalan baru untuk dipecahkan.

Gabriel Marcel, seorang filsuf eksistensialis asal Prancis, membagi dua wilayah pertanyaan: problem dan mystere. Problem berasal dari bahasa Yunani “pros” artinya di depan, dan “ballo” artinya melemparkan. Secara harfiah, problem merupakan sesuatu yang dilemparkan ke depan kita, yang diperhadapkan kepada kita. Sementara misteri dari kata Yunani “myein” artinya untuk menutup atau membungkam.

Demikianlah yang kita hadapi, problem-problem berdatangan dalam hidup kita setiap hari. Dari yang sepele hingga hal-hal luar biasa. Sekedar memilih makanan hingga persoalan kenegaraan; kunjungan pada tetangga hingga ekspansi luar angkasa; racikan bumbu masakan hingga tumbukan partikel-partikel elementer. Setiap orang menghadapi problem masing-masing, bahkan saya katakan, memilih problemnya masing-masing pada kesempatan tertentu.

Untuk memecahkan problem, manusia mengembangkan berbagai metode berpikir. Yang paling umum kini dalam dunia intelektual, metode ilmiah adalah juri tertinggi dalam penyelesaian problem, dalam mencari jawaban hingga oleh Feyerabend disebut sebagai gereja baru. Lepas dari semua itu, yang ingin saya sampaikan adalah manusia tak pernah henti berkreasi mencari jalan dan menyusun metode dalam menyelesaikan berbagai problem. Baik dalam dunia sains alam ataupun sosial, dan mereka hampir selalu berhasil, meski tak pernah sukses menghabiskan pertanyaan. Bahkan satu jawaban melahirkan ratusan pertanyaan baru, sebuah paradoks pengetahuan.

Bagaimana dengan misteri? Hampir tak pernah ada jawaban obyektif atas hal itu. Manusia disodorkan berbagai hal di depannya untuk dijawab dan diselesaikan. Namun ia menyimpan dan membawa pertanyaan terbesar dalam dirinya sendiri. Yang tak bisa terjawab oleh banyak metode berpikir yang diciptakan bangsanya. Kita tak pernah mendapatkan keterangan pasti secara observasional terkait kehidupan setelah kematian atau hakikat Tuhan, yang pada titik tertentu sejumlah pihak menganggapnya tiada.

Dari mana kita memperoleh penjelasan?

Sepaket dengan kemampuannya mempertanyakan sesuatu, potensi akal manusia juga memungkinkannya untuk melakukan penelusuran atas jawaban. Akan tetapi, sebagaimana telah disinggung sebelumnya, hal tersebut ternyata terbatas pada unsur-unsur problem saja. Pergelutan ilmiah kontemporer mungkin sampai membuat sejumlah ilmuwan frustasi, tapi semakin didapat informasi baru terkait mekanisme alam semakin dekat kita dengan jawabannya.

Bagaimana dengan kategori misteri? Benarkah kita tak pernah dapat menguaknya sama sekali? Bahkan tentang obyektif diri kita. Tentang sesuatu yang sangat dalam terkait asal muasal dan mungkin saja masa depan kita yang penghabisan, yang terujung. Marcel menyatakan bahwa misteri bukan tak bisa dimengerti sama sekali. Misteri melingkupi kehidupan, tak bisa kita telusuri secara langsung lewat pengalaman-pengalaman inderawi, namun bukan karena kegelapannya, justru karena cahayanya yang menyilaukan hingga menutup pandangan kita. Artinya, penjelasan terdalam mengenai misteri berada di luar lingkup potensi akal.

Tidak heran bila perjalanan menguak misteri ini lebih sering bersentuhan dengan keyakinan atau iman ketimbang intelektualitas modern yang sudah sangat erat dengan pandangan positivisme. Bukan berarti penelusuran ini tidak melibatkan intelektualitas manusia dan hanya sebatas mengandalkan intuisi mistis dan kesadaran magis. Pada batas-batas tertentu, justru intelektualitas dalam pengertian potensi akal manusia yang alamilah yang menunjukkan jalan menuju “pemahaman“ terkait misteri ini.

Dalam penelusuran kausalitas yang sederhana, seorang awam dari suku Baduy Arab membuktikan keberadaan Tuhan melalui jejak unta yang ia temukan. Ia menggunakan intelektualitasnya untuk menjangkau keberadaan suatu misteri. Sebagian orang mungkin membutuhkan proses yang lebih kompleks untuk mencapai keyakinan tersebut. Namun pendapat beberapa ilmuwan atheis yang menolak keberadaan Tuhan karena tidak mendapatkan buktinya ada-tiadanya secara ilmiah baik melalui observasi maupun eksperimen, tidak bisa kita nyatakan obyektif. Karena bagaimanapun objek yang mereka perdebatkan berada di luar konteks problem. Kita hanya bisa menyatakan mereka meyakini tiadanya Tuhan. Itulah jawaban yang mereka pilih atas misteri dalam lingkup hidupnya.

Kemudian penjelasan atas moral dan sistem nilai pun sesungguhnya takkan bisa kita temukan secara obyektif. Menggunakan ungkapan Marcel, itu termasuk hal-hal yang “menyilaukan kita“. Pandangan kita selalu berubah-ubah terkait baik tidaknya membunuh atau mencuri. Menghabisi nyawa seseorang secara naluriah kita pandang buruk karena bila disandarkan pada diri sendiri, kita pun tak pernah mengharapkan seseorang akan membunuh kita. Akan tetapi bagaimana halnya saat dihadapkan pada situasi perampok yang nyaris menghabisi kita atau berhadapan dengan seseoang yang terjangkit virus mengerikan seperti dalam film I am Legend, misalnya. Kita memandang pencurian hal buruk tapi menganggap Robin Hood sebagai pahlawan. Sejumlah kontradiksi bertumpuk dalam budaya manusia dan kita mengotak-atik hukum terus-menerus, berharap menemukan sistem normatif yang ideal suatu saat.

Tidakkah kita berpikir bahwa mungkin hal ini merupakan termasuk ranah misteri yang tidak akan pernah kita temukan jawabnya melalui penelusuran akal kita semata?