Sumbangnya Masyarakat Kita dalam Paduan Suara

“Paduan Suara” merupakan satu dari 17 cerpen yang dimuat dalam kumpulan cerpen pilihan Kompas tahun 1995. Dari segi ide cerita, ia tidak menyajikan sesuatu yang baru. Ia hanyalah sebuah potret dari budaya negeri kita yang tak urung mengundang senyum, kegemasan dan aspek emosi lain yang campur aduk.Paduan Suara mengetengahkan pengalaman Sugeng yang ditawari sebagai koordinator dan pelatih tunggal paduan suara Pemda ‘Swara Budaya’. Dengan tawaran gaji yang cukup besar dan beban kerja yang tidak terlampau berat berdasarkan pengalamannya, tanpa ragu, ia pun menyanggupi tawaran tersebut. Namun, belakangan muncul masalah yang tidak diduganya.

Pada awal cerita, pembaca sudah dikenalkan dengan pokok masalah yang dihadapi Sugeng. Dia menyesali keputusannya menerima pekerjaan itu. Pasalnya, dia harus dipusingkan dengan berbagai tetek bengek yang justru sama sekali tak ada kaitannya dengan dunia kesenian. Sesuatu yang membuatnya merasa lebih baik memilih bertanggung jawab atas sebuah konser besar sekaligus dengan ribuan pemain sekalian ketimbang pekerjaannya sekarang. Hal yang menjengkelkan baginya bermula saat ia menyerahkan daftar calon anggota paduan suara hasil seleksinya.

Humor Feodalisme

Cerpen ini seolah ingin menunjukkan bahwa budaya pengkastaan manusia terlanjur menjadi hal yang lumrah, dan karenanya menuntut pemakluman pada semua orang. Di samping itu feodalisme—yang walaupun sudah karatan—tetap melekat dalam tubuh (sebagian besar) masyarakat ‘kelas atas’. Dalam Paduan Suara, hal ini terasa begitu kental. Bisa kita lihat mulai dari ‘masukan’ Ibu Gubernur yang meminta Sugeng untuk tidak meloloskan beberapa pegawai rendahan, meskipun kemampuan olah vokalnya sangat baik.

“…bukan maksud saya mau membeda-bedakan status,lho,tapi saya berpikir untuk kepentingan dia juga.Maksud saya, setelah seharian bekerja secara fisik,apa dia masih punya sisa tenaga untuk tarik suara?”
“…Artinya suami Umi itu bawahannya-bawahannya-bawahan pak Kun. Kasihan Umi,kan,kalau harus berbincang-bincang dengan Bu Kun coba, mau ngomong apa dia nanti.”

Khusus dari komentar Ibu Gubernur terhadap tokoh Umi,tampak jelas adanya upaya pemisahan lingkup pergaulan ‘antarkelas’. Ya, apalagi kalau bukan berdasarkan status, jabatan, kedudukan, dan hal-hal demikian.

Demikianlah, mulai dari sini pembaca mulai diajak turut merasakan desiran-desiran halus yang cukup mengganggu perasaan disertai kegemasan yang tak jarang membuat ingin berteriak, namun tidak tahu meneriakkan apa dan bagaimana? Toh semua kadang dianggap sebagai sesuatu yang biasa. Dengan mengatasnamakan budaya timur yang banyak mempertimbangkan hal-hal lain di luar rasionalitas demi kebijakan. Namun terkadang malah membuatnya menjadi tidak rasional, tidak bijak, tidak adil, dan tidak etis.

Hal semacam ini dapat menjadi suatu bukti rendahnya kohesi sosial di tengah masyarakat kita. Yang jelas mendarah dagingnya budaya feodal memang telah melahirkan kesenjangan yang teramat parah. Dalam sejarahnya, feodalisme telah membuat para raja-raja atau bupati jawa zaman dulu memiliki kekuasaan atas tanah serta para petani kecil. Rakyat kecil seolah hanya hidup untuk menyenangkan mereka, tanpa dapat memperoleh hak-haknya yang layak. Bahkan lingkup pergaulan pun dibatasi. Tentu kita pun mengetahui, bahwa dari segi bahasa pun (misalkan bahasa Jawa atau Sunda) ada tingkatan-tingkatannya. Bagaimana berbicara pada bupati tentu berbeda dengan cara bicara pada saisnya. Dengan demikian budaya ini akhirnya melahirkan jilat-menjilat, nepotisme, korupsi, kolusi, atau kebiasaan suap-menyuap yang seolah menjadi penyakit laten bagi masyarakat.

Keengganan masyarakat ‘lapisan atas’ untuk berbaur dan kemudian memberi kesempatan pada rakyat kebanyakan pun telah menyebabkan berbagai konflik di tengah-tengah masyarakat. Jelas,karena ia memicu kecemburuan sosial. Dengan demikian, untuk mengharapkan keadaan yang ‘duduk sama rendah berdiri sama tinggi’ sepertinya sangatlah perlu untuk membina kerekatan sosial di antara berbagai elemen masyarakat. Sebagaimana ajakan Shopie Bessis dalam suatu tulisan menarik berjudul “from social exclusion to social cohesion” [Bessis-1996]. Yaitu ajakan untuk menuju kerekatan sosial diantara elemen bangsa tanpa pandang bulu, dari buruh kasar sampai pejabat tinggi.

Sejauh ini tentu tampak naif memandang feodalisme sebagai sebuah humor, namun justru di situlah letak kelucuannya. Betapa bodohnya manusia yang memandang rendah sesamanya berdasarkan alasan yang lebih sering tidak masuk akal. Kebodohan seperti inilah yang menjadi ironi, karena manusia diakui sebagai makhluk terbaik yang pernah diciptakan. Namun kenyataannya cara manusia memperlakukan sesamanya tidak lebih baik dari cara memperlakukan binatang.

Sedikit bernostalgia, adalah kisah seorang pemimpin Islam yang amat dikenal, Umar bin al-Khattab yang tak segan memanggul sendiri bahan makanan bagi rakyatnya yang kelaparan. Beliau juga terbiasa untuk melepas lelah dengan tiduran di bawah pohon rindang bukan di istana layaknya para penguasa besar. Sehingga tak jarang ada orang yang sama sekali tidak menyadari beliaulah pemimpin yang mereka kagumi. Hal semacam ini terkadang memang lebih nampak sebagai dongeng di tengah dunia nyata kita yang saat ini begitu jauh menjangkau hal-hal ideal. Namun tentu hal itu bukanlah suatu kemustahilan. Sangat mungkin untuk menjadi kenyataan kembali di masa depan.

Bagus nggak bagus kita tepuk tangan sajalah

Cerpen ini pun ditutup dengan sebuah ironi yang membuat Sugeng tersedak. Penampilan paduan suara yang sangat tidak berkualitas itu justru mendapat sambutan meriah dari hadirin! Bukan cemoohan. Tapi justru pujian. Di sini saya kembali merasa miris sekaligus ingin terbahak-bahak, juga kasihan, entah pada siapa. Satu lagi potret yang tertangkap dalam cerpen ini adalah kemampuan bangsa kita untuk membohongi diri sendiri, berbasa-basi. Nampak begitu mudah untuk menentang suara sendiri, meredam pendapat pribadi, hanya karena keperluan mempertahankan feodalisme. Bagaimana tidak, ketika penyanyi yang bersuara jelek itu seorang pengamen jalanan, tentu tak segan untuk mencercanya, dan menyuruhnya berhenti menyanyi. Tapi kali ini anak gubernur! Sehingga katanya “…Yah, bagus nggak bagus kita tepuk tangan sajalah. Anak Pak Gubernur yang menyanyi, masa kita teriaki suruh turun.”

Melalui cerpen ini, pengarang menyajikan sesuatu yang sebenarnya sudah dihidangkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Untuk membuat kita menertawakan kebodohan makhluk yang dinamai manusia—yang kita termasuk di dalamnya. Lalu merenungkan semuanya. Hanya saja yang cukup mengganggu adalah karakter Sugeng yang nampaknya terlalu polos, yang belum tahu apa-apa mengenai kondisi masyarakat yang sesungguhnya. Padahal di awal cerita digambarkan bahwa ia merupakan orang yang sudah lama berkecimpung di bidangnya, bukankah setidaknya, sesekali mungkin ia bersentuhan dengan birokrasi? Atau setidaknya sebagai seseorang yang berkecimpung di dunia seni, lebih kurang, aspek ‘rasa’-nya akan lebih peka menangkap fakta-fakta menyedihkan di tengah-tengah masyarakat. Tapi, bagaimanapun juga, setidaknya kita dapat menikmati cerpen ini sebagai humor sosial yang cukup menggelitik.

Tamansari, April 2006

Catatan: tambahan info, sejak tahun 1988, ada konvensi baru mengenai tingkatan-tingkatan berbahasa yang ada dalam Basa Sunda . Mulanya digunakan sesuai dengan tingkatan kelas sosial dalam masyarakat, sejak saat itu diubah menjadi pemilahan bahasa halus dan kasar untuk kepentingan tata krama saja.

Erotisasi Sastra dan Gerakan Perempuan

(salah satu tulisan lama, ditulis sekitar thn 2006)

Dalam beberapa tahun terakhir ini, dunia sastra kita seolah  dikejutkan oleh kemunculan sejumlah penulis perempuan   dengan karya yang menimbulkan kontroversi di tengah masyarakat. Sebagian menganggap fenomena ini  sebagai angin segar bagi Sastra Indonesia, sehingga bagi beberapa  orang, kehadiran mereka dengan kecenderungan serupa—mengeksplorasi sensualitas—seperti demikian, dianggap sebagai titik pembaharuan.

Tulisan berikut ini  merupakan sebuah analisis mengenai kemunculan genre baru penulisan sastra tersebut  serta kaitannya dengan upaya penetrasi nilai-nilai liberal, terutama dalam hal kebebasan berekspresi.

Kredo Psikoanalitik dan Kebebasan Berekspresi

Dalam pandangan Freudian, seluruh kerja kreatif manusia—baik seni, hukum, agama, dan sebagainya—dianggap sebagai perkembangan dari libido. Libido sebagai  suatu bentuk dari energi psikis yang terutama bersifat seksual kemudian disebut orang  sebagai inti dari doktrin psikoanalisa.[2]

Bagi masyarakat yang menganut pandangan tersebut, tidaklah mengherankan  bila kemudian aspek seksual dipandang menjadi hal yang membutuhkan pemenuhan mutlak. Sehingga berimplikasi pada lahirnya produk-produk budaya yang cenderung mengangkat sensualitas serta seksualitas, tak terkecuali pada sastra.
Selain itu, asas kehidupan yang sekuler menjadi lahan subur bagi tumbuhnya kebebasan berekspresi. Maka, tidaklah menjadi soal untuk berperilaku apapun selama dianggap tidak merugikan orang lain. Batas-batas kesopanan maupun susila semakin kabur bahkan menghilang di dalam kehidupan yang semakin bebas nilai (agama). Demikianlah yang terjadi pada masyarakat Barat. Nampaknya, hal tersebut kini mulai merasuk ke dalam budaya masyarakat non Barat, termasuk Indonesia sebagai dampak globalisasi.

Terlihat jelas dari kemunculan berbagai karya yang semakin kebarat-baratan. Sejumlah film layar lebar  yang belakangan banyak diproduksi, cenderung berkiblat ke Hollywood. Mengedepankan kebebasan. Diantaranya dengan  menjadikan adegan berciuman menjadi sesuatu yang biasa saja, lumrah dilakukan. Dalam hal ini saja sudah nampak adanya pergeseran nilai. Bahkan tema penyimpangan seksual—homoseksualitas—pun  pernah diangkat.

Begitu pula  dalam  karya sastra berupa prosa atau puisi. Sebagai contoh adalah karya Ayu Utami—yang  akan banyak disoroti dalam tulisan ini. Dalam Saman dan Larung, Ayu  tidak mengetengahkan cerita mengenai kehidupan seksual yang normal dan sah, katakanlah seperti itu. Namun yang terjadi adalah belitan cerita tentang perzinahan, perselingkuhan, homoseksualitas, biseksualitas. Semua itu dikemas dalam bahasa yang eksplisit. Menerjang budaya yang memandang masalah seksual sebagai hal yang tabu. Apalagi diumbar sebegitu terbuka.

Ketika hal tersebut diangkat di tengah masyarakat yang berpandangan berbeda, muncullah kontroversi. Fenomena kontroversi ini oleh Anton Kurnia dinilai sebagai ketidaksiapan  masyarakat yang bersangkutan atau penguasa (penguasa politis, spiritual, moral) dalam menghadapi ekspresi individu yang berbeda dan bertentangan dengan tata nilai kolektif[3]. Hal tersebut tentu dapat diterima. Saat Saman muncul pertama kali (1998) terjadi perubahan dalam khazanah sastra Indonesia melalui bentuk penulisan yang berbeda mengenai seksualitas, oleh penulis perempuan, dan kemudian seolah menjadi tren bagi penulis perempuan lainnya. Lalu Djenar Maesa Ayu, tema yang diangkat dalam kumpulan cerpennya Jangan Main-main dengan Kelaminmu atau novelnya Nayla tidak jauh dari persoalan seksualitas dan kelamin. Begitu pula Herlinatines, dalam bukunya Garis Tepi Seorang Lesbian, menggugat masyarakat yang dianggap hipokrit karena menolak keberadaan realitas homoseksual.

Jembatan Sastra?

Sekalipun demikian, banyak yang berpendapat bahwa karya-karya Ayu Utami, juga yang bermunculan setelahnya dipandang sebagai karya yang berhasil memupus dinding antara sastra eskapis (populer) dengan sastra sejati—karena diapresiasi oleh kalangan yang sangat beragam, terlepas dari klasifikasi yang membedakan  pembaca karya intelektual atau eskapis, sastra ‘berat’ maupun stensilan.

Menurut Jakob Sumarjo (1995), sastra sejati membawa pembaca lebih dekat dengan kehidupan, agar lebih memikirkannya, lebih waspada, sedangkan sastra populer justru menarik pembaca keluar sejenak dari kehidupannya[4]. Dalam pandangan saya, hasil karya Ayu Utami dan kawan-kawan, alih-alih mendekatkan pembaca dengan kehidupan, justru malah mengenalkan masyarakat pada kehidupan masyarakat lain yang lebih bebas, lebih liberal, pengagung libido. Karena realitas yang diangkat dalam karya tersebut justru tidak sesuai dengan realitas yang dijumpai di tempat kelahiran karya tersebut.

Kalaupun mau memaksa, hanya kehidupan segelintir orang saja yang tercakup dalam karya-karya tersebut. Yaitu kaum menengah ke atas di kota-kota besar. Sebagaimana latar belakang tokoh-tokoh fiktif dalam Saman dan Larung yang bertualang di negeri  Paman Sam—yang dianggap dapat merepresentasikan kebebasan seks, dengan industri seksnya yang beragam, mulai dari prostitusi, vouyerisme (ngintip), sadomachocis (seks sadis), sampai surveillance sex (dokumentasi seks orang-orang biasa). Begitu pula pasangan gay Dhimas dan Ruben dalam Supernova-nya Dewi Lestari, dikisahkan dalam latar belakang budaya Amerika yang kental, tempat mereka bersekolah.

Karena itulah, gelontoran karya-karya semacam itu di pasaran lebih tepat jika dianggap sebagai bentuk propaganda atas kebebasan berekspresi dan seksual di tengah-tengah masyarakat.

Perjuangan Perempuan Lewat Sastra?

Hal menarik lainnya adalah, mengenai pandangan sejumlah kalangan—terutama aktivis perempuan—yang  menilai fenomena ini sebagai bentuk perjuangan perempuan yang merambah dunia sastra. Ada muatan feminisme dalam karya-karya tersebut. Gugatan atas patriarki menjadi bahasan penting. Terutama dekonstruksi gender . dalam sebuah tulisan bertajuk “Larung dan Dekonstruksi Masyarakat Patriarkal”, Sumarwan mengutip perkataan Derrida:

“… in classical philosophical opposition we are not dealing with the peaceful coexistence of a vis-à-vis, but rather with a violent hierarchy. One of the two terms governs the other (axiologically, logically, etc.), or has the upper hand. To deconstruct the opposition, first of all, is to overturn the hierachy at a givent moment.” (Jacques Derrida, “Positions”, hlm. 41).

Sumbangan Derrida dalam  filsafat strukturalisme, menyatakan bahwa makna benda lebih bermakna bukan karena hubungan penanda dengan yang ditandakan pada benda tersebut, namun  karena perbedaannya dengan oposisi biner dari benda tersebut. Sebagai contoh adalah laki-laki><perempuan. Oposisi tersebut tidak berakhir pada hubungan damai namun membentuk hirarki dimana yang satu menekan yang lain, menindas yang lainnya. Dengan demikian, dikatakan lebih lanjut bahwa gerakan feminisme semestinya membalik hirarki antara laki-laki dan perempuan. Dalam pandangan Sumarwan, selama ini yang terjadi adalah dominasi kekuatan laki-laki  atas perempuan, dan kemudian Ayu Utami dalam Larung berupaya untuk mengubah otoritas  laki-laki tersebut dan menjadikannya sebagai milik perempuan. Hal tersebut nampak dalam kisah antara Laila dan Saman.

Namun dalam pandangan kritikus sastra Katrin Bandel, upaya Ayu Utami untuk mendekonstruksi pola relasi laki-laki>< perempuan tersebut justru terkesan ambivalen, karena Ayu justru menimbulkan kesan falosentris dalam beberapa bagian novelnya[1]. Di tengah upaya untuk melakukan dekonstruksi posisi perempuan terhadap laki-laki, Ayu mengibaratkan perempuan sebagai bunga yang secara alami bersifat pasif bukan aktif, walaupun yang dimaksud adalah bunga karnivora (dalam Larung) dan diamnya bunga tertanam di atas tanah bukankah justru semakin mengukuhkan kedudukan perempuan sebagai objek, bukan subjek. Namun bagaimanapun juga, terlepas dari sejumlah kelemahan dan ambivalensi yang ditemukan, nuansa feminisme  tetap saja terasa kental.

Yang sebenarnya patut dipertanyakan lagi, adalah bentuk perjuangan yang seperti apa? Melawan siapa? Untuk mendapatkan apa?  Lagipula apakah benar mewakili perempuan? Perempuan mana? Karena yang  ada justru nampak janggal dan menimbulkan sebuah paradoks. Benarkah perempuan harus memperjuangkan dirinya, justru melalui jalan dimana ia biasa dieksploitasi, secara sadar atau tidak? Karena tidak bisa disangkal, ketika para penulis perempuan berbondong-bondong menggarap tema seksualitas dan menganggapnya sebagai bentuk perlawanan serta pemberontakan mereka terhadap sistem patriarkal, hal tersebut justru semakin  mengukuhkan mereka sebagai pihak yang identik dengan seksualitas. Seolah-olah sumbangan para perempuan hanya sebatas masalah seksual, bukan lainnya.

Mengapa bukan karya yang lebih  bernilai dan memberi wacana positif yang dipersembahkan? Sesuatu yang akan menjadi sebuah pencerahan bagi masyarakat. Sebuah karya untuk meningkatkan taraf berpikir mereka, bukan justru membuatnya semakin familiar dengan budaya Barat yang jelas tidak sesuai dengan nilai-nilai (agama) yang kita anut dan bersifat merusak.

Sekulerisme dan gaya hidup liberal yang kental dalam sejumlah karya sastra belakangan ini jelas merupakan produk ideologi kapitalis yang berorientasi pasar, bukan nilai. Dalam pandangan kapitalisme, apapun yang dapat ditukar dengan uang, maka ia menjadi komoditas. Termasuk  perkara seksualitas, hingga muncul terma  libidonomics system yaitu sebuah sistem yang mengeksploitasi setiap potensi libido untuk kepentingan ekonomi semata. Karya sastra yang semacam ini akhirnya akan memunculkan erotisasi budaya atas nama ekonomi. Jelas tidak akan mampu membebaskan perempuan  dari berbagai kepelikan permasalahan  hidupnya, justru semakin merendahkan kedudukan mereka dan menjerumuskannya ke dalam sampah peradaban. Maka, dalam pemikiran saya, sangatlah dangkal pemikiran yang menganggap bahwa gebrakan para penulis perempuan yang tak ragu mengeksplorasi seksualitas  secara vulgar merupakan bentuk perjuangan perempuan.  Hal tersebut hanya semakin menunjukkan  emosionalitas dan ketidakobjektifan feminisme dalam memandang masalah.

Sebagaimana telah disinggung sebelumnya, di dalam masyarakat yang sekuler dan mengagungkan kebebasan, norma serta nilai-nilai (agama) tidak lagi menjadi patokan baik-buruk.  Bahkan  demi keuntungan, segalanya dipertaruhkan. Demikian  juga yang dilakukan oleh para penulis perempuan tadi, entah sadar atau tidak mereka pun telah terjebak ke dalam kungkungan kapitalisme yang menjadikan seksualitas sebagai komoditas. Hanya saja dijual dalam bentuk fiksi, dalam tulisan.

Referensi:
[1]Bandel,Katrin. Heteronormatifitas dan Falosentrisme Ayu Utami
[2]Downs, Robert B.2001. Buku-buku Pengubah Sejarah. Yogyakarta:Tarawang Press.
[3]Kurnia, Anton.2004.Perempuan, Seks, Sastra.URL:http://www.sinarharapan.co.id/hiburan/budaya/2004/0424/bud2.html
[4]Patel,Ismail Adam.2005.Perempuan, Feminisme, dan Islam.Bogor:PTI
[5]Sumarjo,Jakob.1995.Sastra dan Massa. Bandung:Penerbit ITB
[6]Sumarwan.Larung dan Dekonstruksi Masyarakat Patriarkal. URL:www.filsafatkita.com