Memilih Buku

Tiba pada bulan terakhir tahun ini. Saatnya untuk memilih judul-judul buku yang dibaca tahun ini untuk dicicil penulisan reviewnya dan dipublikasikan dalam February Book Review tahun depan. Mungkin aku harus membaca ulang sebagian buku sembari kali ini membuat catatan untuk menjadi bahan tulisan. Ya, banyak buku yang kubaca tanpa membuat catatan. Aku tak terlalu suka membaca sembari mencatat.

Buku-buku yang kubaca tahun ini seperti biasanya berada pada sebaran banyak genre. Akan tetapi ada beberapa hal menarik, misalnya akan ada dua buku memoar dari dua penulis yang cukup kufavoritkan, yang ternyata perjalanan hidupnya-masa kecilnya-menarik, dan mereka termasuk buah sistem pendidikan Inggris, haha. Selain itu ada beberapa buku psikologi populer yang kubaca sebagai…obat, hmmmm. Ya, lagi-lagi akan kusebut-untuk mengatasi guncangan yang kuhadapi tahun ini. Kemudian, ada juga  buku yang masih dalam lingkup psikologi tentang polarisasi (yup, tahun lalu aku banyak membaca tentang fenomena tersebut dari sudut pandang politik, sekarang kucoba perspektif lain). Aku juga membaca karya Platon, ya, karena aku mengambil kuliah pendahuluan tentangnya di NUS, buku yang kubaca merupakan terjemahan beberapa dialog yang dikerjakan oleh instruktur kuliah dengan istrinya. Menarik lho.

Untuk fiksi, aku tidak membaca banyak tahun ini. Ada The Life of A.J Fikry, dan beberapa buku bergambar karya Quentin Blake. Selain itu aku juga membaca Charlotte’s Web, yang tidak terlalu membuatku antusias dan tidak akan kureview. Aku membacanya karena ingin melihat contoh tulisan E.B. White, sementara aku tidak bisa mengakses secara online kolom-kolomnya terdahulu tanpa berbayar. Padahal aku sedang mempelajari bukunya “The Elements to Write”. Berbicara tentang tulisan dan bahasa, aku juga mendapatkan buku Celetuk Bahasa 2 karya Uu Suhardi.

Buku nonfiksi yang cukup banyak kubaca adalah upaya mencari jawaban terkait masalah yang kulihat dalam interaksi sosial seperti yang kusinggung di awal tulisan ini, di mana orang berkubu-kubu. Tak butuh berkenalan untuk bisa berantem. Bagaimana bisa mereka saling merendahkan hanya karena satu klik, atau like. Lupa bahwa mereka sesama manusia, kecenderungan yang sangat berbahaya sebenarnya sebagaimana diejawantahkan dalam “Less Than Human”. Mereka pun bisa mendukung seseorang yang dipasarkan begitu baik mengikuti kecenderungan psikologis populisme. Wow, ini masanya bidang marketing! Tidak perlu produk bagus untuk dijual. Produk menjadi nomor sekian. Bobot tak penting lagi, hanya kekuatan berdagang yang menentukan. Ujung-ujungnya akupun mengambil beberapa kuliah marketing dan koleksi buku di Darul Kutubi bertambah di folder 658. Tapi tidak akan kumasukkan dalam program #febrookary 2019 besok. Baik, sekian dulu. Tabik.

Advertisements

The Basic Laws of Human Stupidity

Kok bisa?! Kok bisa ya, dia begini begitu, padahal dia orang (yang seharusnya) intelek. Pernah bergumam seperti itu? Kaget ketika menemukan seseorang yang diperkirakan berintelektualitas tinggi tapi mengeluarkan pernyataan tanpa dasar, aneh dalam artian tidak logis, tidak rasional, atau melakukan sesuatu yang mempermalukan diri atau orang lain, dengan kata lain melakukan’tindakan bodoh’? Cipolla menyatakan dengan tegas dalam Hukum Pertama tentang Kebodohan Manusia: “Always and inevitably everyone underestimates the number of stupid individuals on circulation.”

Continue reading “The Basic Laws of Human Stupidity”