Bagaimana Fief Terbentuk

Ini adalah tulisan kedua terkait sejarah Masyarakat Feodal Eropa yang pernah kutulis sebelumnya. Pada bagian ini akan diuraikan proses terbentuknya fief.

Cara pertama adalah penyerahan langsung sebidang tanah milik kerajaan kepada seorang tokoh militer terkemuka. Biasanya dipilih dari kalangan lord atau petani bebas. Dengan mendapatkan lahan tersebut, yang bersangkutan berhak untuk menarik pajak dari para petani yang ada di dalam kawasan tersebut karena penganugerahan fief  otomatis menjadikannya majikan atas seluruh penduduk setempat. Iapun berhak menerapkan otoritas legal.

Sementara itu kewajiban barunya terhadap raja adalah sumpah kesetiaan dan penyediaan tenaga militer berupa laskar berkuda dengan senjata lengkap yang khususnya bertugas mempertahankan wilayah setempat dari ancaman musuh-musuh raja. Ketika ia meninggal, lahan fief  tersebut dikembalikan pada raja karena pada dasarnya memang dimiliki oleh raja.

Cara kedua adalah fief  yang dibentuk dari tanah para lord yang diserahkan pada raja untuk mereka terima kembali sebagai lahan fief turun temurun dengan hak dan kewajiban tertentu. Para lord inipun berkewajiban mengikrar setia dan mempersenjatai serdadu.

Akan tetapi, pada perkembangannya fief yang dibentuk dengan cara pertama pun menjadi dikelola turun temurun. Hal ini berangsur-angsur mengakibatkan hilangnya perbedaan antara fief  yang awalnya merupakan tanah kerajaan/gereja serta fief yang awalnya berupa estat bebas.

Advertisements

Sumbangnya Masyarakat Kita dalam Paduan Suara

“Paduan Suara” merupakan satu dari 17 cerpen yang dimuat dalam kumpulan cerpen pilihan Kompas tahun 1995. Dari segi ide cerita, ia tidak menyajikan sesuatu yang baru. Ia hanyalah sebuah potret dari budaya negeri kita yang tak urung mengundang senyum, kegemasan dan aspek emosi lain yang campur aduk.Paduan Suara mengetengahkan pengalaman Sugeng yang ditawari sebagai koordinator dan pelatih tunggal paduan suara Pemda ‘Swara Budaya’. Dengan tawaran gaji yang cukup besar dan beban kerja yang tidak terlampau berat berdasarkan pengalamannya, tanpa ragu, ia pun menyanggupi tawaran tersebut. Namun, belakangan muncul masalah yang tidak diduganya.

Pada awal cerita, pembaca sudah dikenalkan dengan pokok masalah yang dihadapi Sugeng. Dia menyesali keputusannya menerima pekerjaan itu. Pasalnya, dia harus dipusingkan dengan berbagai tetek bengek yang justru sama sekali tak ada kaitannya dengan dunia kesenian. Sesuatu yang membuatnya merasa lebih baik memilih bertanggung jawab atas sebuah konser besar sekaligus dengan ribuan pemain sekalian ketimbang pekerjaannya sekarang. Hal yang menjengkelkan baginya bermula saat ia menyerahkan daftar calon anggota paduan suara hasil seleksinya.

Humor Feodalisme

Cerpen ini seolah ingin menunjukkan bahwa budaya pengkastaan manusia terlanjur menjadi hal yang lumrah, dan karenanya menuntut pemakluman pada semua orang. Di samping itu feodalisme—yang walaupun sudah karatan—tetap melekat dalam tubuh (sebagian besar) masyarakat ‘kelas atas’. Dalam Paduan Suara, hal ini terasa begitu kental. Bisa kita lihat mulai dari ‘masukan’ Ibu Gubernur yang meminta Sugeng untuk tidak meloloskan beberapa pegawai rendahan, meskipun kemampuan olah vokalnya sangat baik.

“…bukan maksud saya mau membeda-bedakan status,lho,tapi saya berpikir untuk kepentingan dia juga.Maksud saya, setelah seharian bekerja secara fisik,apa dia masih punya sisa tenaga untuk tarik suara?”
“…Artinya suami Umi itu bawahannya-bawahannya-bawahan pak Kun. Kasihan Umi,kan,kalau harus berbincang-bincang dengan Bu Kun coba, mau ngomong apa dia nanti.”

Khusus dari komentar Ibu Gubernur terhadap tokoh Umi,tampak jelas adanya upaya pemisahan lingkup pergaulan ‘antarkelas’. Ya, apalagi kalau bukan berdasarkan status, jabatan, kedudukan, dan hal-hal demikian.

Demikianlah, mulai dari sini pembaca mulai diajak turut merasakan desiran-desiran halus yang cukup mengganggu perasaan disertai kegemasan yang tak jarang membuat ingin berteriak, namun tidak tahu meneriakkan apa dan bagaimana? Toh semua kadang dianggap sebagai sesuatu yang biasa. Dengan mengatasnamakan budaya timur yang banyak mempertimbangkan hal-hal lain di luar rasionalitas demi kebijakan. Namun terkadang malah membuatnya menjadi tidak rasional, tidak bijak, tidak adil, dan tidak etis.

Hal semacam ini dapat menjadi suatu bukti rendahnya kohesi sosial di tengah masyarakat kita. Yang jelas mendarah dagingnya budaya feodal memang telah melahirkan kesenjangan yang teramat parah. Dalam sejarahnya, feodalisme telah membuat para raja-raja atau bupati jawa zaman dulu memiliki kekuasaan atas tanah serta para petani kecil. Rakyat kecil seolah hanya hidup untuk menyenangkan mereka, tanpa dapat memperoleh hak-haknya yang layak. Bahkan lingkup pergaulan pun dibatasi. Tentu kita pun mengetahui, bahwa dari segi bahasa pun (misalkan bahasa Jawa atau Sunda) ada tingkatan-tingkatannya. Bagaimana berbicara pada bupati tentu berbeda dengan cara bicara pada saisnya. Dengan demikian budaya ini akhirnya melahirkan jilat-menjilat, nepotisme, korupsi, kolusi, atau kebiasaan suap-menyuap yang seolah menjadi penyakit laten bagi masyarakat.

Keengganan masyarakat ‘lapisan atas’ untuk berbaur dan kemudian memberi kesempatan pada rakyat kebanyakan pun telah menyebabkan berbagai konflik di tengah-tengah masyarakat. Jelas,karena ia memicu kecemburuan sosial. Dengan demikian, untuk mengharapkan keadaan yang ‘duduk sama rendah berdiri sama tinggi’ sepertinya sangatlah perlu untuk membina kerekatan sosial di antara berbagai elemen masyarakat. Sebagaimana ajakan Shopie Bessis dalam suatu tulisan menarik berjudul “from social exclusion to social cohesion” [Bessis-1996]. Yaitu ajakan untuk menuju kerekatan sosial diantara elemen bangsa tanpa pandang bulu, dari buruh kasar sampai pejabat tinggi.

Sejauh ini tentu tampak naif memandang feodalisme sebagai sebuah humor, namun justru di situlah letak kelucuannya. Betapa bodohnya manusia yang memandang rendah sesamanya berdasarkan alasan yang lebih sering tidak masuk akal. Kebodohan seperti inilah yang menjadi ironi, karena manusia diakui sebagai makhluk terbaik yang pernah diciptakan. Namun kenyataannya cara manusia memperlakukan sesamanya tidak lebih baik dari cara memperlakukan binatang.

Sedikit bernostalgia, adalah kisah seorang pemimpin Islam yang amat dikenal, Umar bin al-Khattab yang tak segan memanggul sendiri bahan makanan bagi rakyatnya yang kelaparan. Beliau juga terbiasa untuk melepas lelah dengan tiduran di bawah pohon rindang bukan di istana layaknya para penguasa besar. Sehingga tak jarang ada orang yang sama sekali tidak menyadari beliaulah pemimpin yang mereka kagumi. Hal semacam ini terkadang memang lebih nampak sebagai dongeng di tengah dunia nyata kita yang saat ini begitu jauh menjangkau hal-hal ideal. Namun tentu hal itu bukanlah suatu kemustahilan. Sangat mungkin untuk menjadi kenyataan kembali di masa depan.

Bagus nggak bagus kita tepuk tangan sajalah

Cerpen ini pun ditutup dengan sebuah ironi yang membuat Sugeng tersedak. Penampilan paduan suara yang sangat tidak berkualitas itu justru mendapat sambutan meriah dari hadirin! Bukan cemoohan. Tapi justru pujian. Di sini saya kembali merasa miris sekaligus ingin terbahak-bahak, juga kasihan, entah pada siapa. Satu lagi potret yang tertangkap dalam cerpen ini adalah kemampuan bangsa kita untuk membohongi diri sendiri, berbasa-basi. Nampak begitu mudah untuk menentang suara sendiri, meredam pendapat pribadi, hanya karena keperluan mempertahankan feodalisme. Bagaimana tidak, ketika penyanyi yang bersuara jelek itu seorang pengamen jalanan, tentu tak segan untuk mencercanya, dan menyuruhnya berhenti menyanyi. Tapi kali ini anak gubernur! Sehingga katanya “…Yah, bagus nggak bagus kita tepuk tangan sajalah. Anak Pak Gubernur yang menyanyi, masa kita teriaki suruh turun.”

Melalui cerpen ini, pengarang menyajikan sesuatu yang sebenarnya sudah dihidangkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Untuk membuat kita menertawakan kebodohan makhluk yang dinamai manusia—yang kita termasuk di dalamnya. Lalu merenungkan semuanya. Hanya saja yang cukup mengganggu adalah karakter Sugeng yang nampaknya terlalu polos, yang belum tahu apa-apa mengenai kondisi masyarakat yang sesungguhnya. Padahal di awal cerita digambarkan bahwa ia merupakan orang yang sudah lama berkecimpung di bidangnya, bukankah setidaknya, sesekali mungkin ia bersentuhan dengan birokrasi? Atau setidaknya sebagai seseorang yang berkecimpung di dunia seni, lebih kurang, aspek ‘rasa’-nya akan lebih peka menangkap fakta-fakta menyedihkan di tengah-tengah masyarakat. Tapi, bagaimanapun juga, setidaknya kita dapat menikmati cerpen ini sebagai humor sosial yang cukup menggelitik.

Tamansari, April 2006

Catatan: tambahan info, sejak tahun 1988, ada konvensi baru mengenai tingkatan-tingkatan berbahasa yang ada dalam Basa Sunda . Mulanya digunakan sesuai dengan tingkatan kelas sosial dalam masyarakat, sejak saat itu diubah menjadi pemilahan bahasa halus dan kasar untuk kepentingan tata krama saja.