Urusan Penting

Ada berita sore itu. Katanya, Pak RT mau kumpulkan warga. Untuk apa aku tak tahu.

 

Aku diminta pukul kentongan agar semua orang dengar.

Kutanya, “Kenapa tak buat asap di atas bukit agar orang tuli tetap tahu beritanya?”

“Nanti orang buta tak bisa melihatnya?” Kujawab, “Kan bisa mencium baunya. Adakah yang cacat penciumannya di kampung kita?”

 

“Ah, tadi kau bilang, asapnya dibuat di atas bukit. Sejauh itu, baunya takkan sampai.”

 

Betul juga. Aku putar otak.

Seseorang bicara, “Biar dibuat asap di depan rumah mereka, bagaimana?”

“Kalau begitu, mengapa tidak ketuk pintu satu-satu?”

“Ah, tidak bisa begitu. Nanti dikira urusan tetangga saja. Ini mesti resmi! Urusan masyarakat. Urusan pemerintahan. Tidak boleh sekedar seperti ketuk pintu tetangga.”

 

“Oh, begitu? Jadi sudah diputuskan ini semua? Jadi nanti saya jalankan rencana itu pak? Omong-omong bapak mau mengumumkan apa?”

 

“Ya, itu tadi. Warga harus berkumpul. Ada urusan penting.”

 

“Urusan pentingnya, apa Pak? Nanti ada yang bertanya.”

“Ya urusan penting pemerintahan. Pengumuman penting. Ya itu tadi. Setelah warga kumpul nanti saya umumkan. Kamu jangan kasih tahu mereka dulu. Nanti saya akan bilang bahwa mulai saat ini, agar lebih efektif dan efisien, untuk mengumpulkan warga, kita pakai cara buat asap di depan rumah itu tadi.” Sekian.

Advertisements

Balada di Tepian

Seorang anak susuri tepian sungai, jauh ia tapaki.
Ia menyukai sungai, tapi berbasah-basahan bukan inginnya.
Cintanya untuk lautan, ia merindu samudera.
Dalam hatinya yakinlah ia, sungai ini ‘kan bermuara di segara impiannya.

Kawan yang semula bersama, tak selalu betah,
tak lama berdampingan di jalan itu.
Ada yang tak sabar tiba, lalu terjun berenang ikuti arus,
lainnya tergoda layangan putus dan mengejarnya, ada pula yang kembali, bermain dengan hewan peliharaannya lebih disukai.

Ia berjalan sendiri kini, terbitlah bosan dan percikan air makin banyak membasahi bajunya, ia tak begitu suka. Airnya keruh, bajunya tak hanya basah, juga sedikit kotor.

Lelahnya hentikan langkah, ia duduk, di bawah rindang pohon tepian sungai.
Ia mulai bercakap, pada sungai bisu, “Aku ingin pergi, aku ingin melihat laut tapi denganmu itu menjengkelkan. Tidakkah kau bisa tetap jernih, dan berarus lebih kencang, hingga kulayarkan perahuku. Kau terlalu banyak mengikis tanah. Lihat, airmu jadi keruh, kotor. Kaupun makin dangkal. Sungguhkah di ujung sana kita akan tiba pada laut?”. Tak ada yang menjawabnya. Ia harus meneguhkan keyakinannya sendiri.

Sang ayah, putranya, dan keledai tua mereka

Selama bertahun-tahun Majalah Bobo menjadi sumber inspirasiku. Berbagai pengetahuan dan nilai-nilai kupetik darinya. Beberapa di antaranya masih kupegang hingga kini. Salah satu yang masih kuingat adalah sebuah cerpen mengenai seorang petani dan putranya dengan seekor keledai. Aku lupa siapa penulisnya dan kisah tepatnya, jadi akan kuceritakan ulang berdasar kesan yang masih melekat di benakku saja. Begini  kisahnya:

Alkisah, di sebuah desa terdapat seorang petani dan putranya. Mereka hendak pergi ke kota yang lumayan jauh jaraknya untuk membeli sesuatu. Sang Ayah tak memiliki kendaraan, hanya ada keledai tua miliknya. Ia berpikir, jika mereka berdua menunggangi keledainya hingga ke kota, tentu keledainya akan kepayahan. Sementara jika mereka berdua berjalan kaki ke kota maka ia dan putranyalah yang akan kelelahan.

Akhirnya ia menemukan sebuah ide. Ia membagi perjalanan menjadi tiga bagian. Sepertiga jarak pertama, direncanakannya bahwa ia dan putranya akan bersama-sama menunggangi keledai. Memasuki bagian kedua, ia akan turun. Kemudian pada sepertiga bagian perjalanan terakhir, putranya pun akan ia minta turun dan mereka berdua menuntun keledai hingga tiba di kota.

Mereka pun berangkat sesuai rencana. Ketika menunggangi keledai berdua, mereka berpapasan dengan beberapa orang. Ada yang berkomentar,” Hai, lihat dua orang itu, mereka mengendarai keledai yang sudah tua seperti itu, tega sekali ya?”.  Sang anak menjadi ragu dan bertanaya pada ayahnya apakah sebaiknya mereka berjalan kaki saja. Ayahnya menggelengkan kepala dan berkata, ” tidak, kita jalan terus Nak, aku sudah memperhitungkan hal ini.”

Mereka pun tiba pada sepertiga jarak menuju kota. Setelah beristirahat, dilanjutkanlah perjalanan. Sesuai rencana, sang ayah berjalan disamping keledai yang ditunggangi putranya. Tidak berapa lama, muncul segerombol orang yang terdengar berbisik-bisik,” Lihat, mereka pasti orang dusun. Bodoh sekali ya, ada keledai kok hanya dituntun, kalau ditunggangi bersama, pastinya tidak akan melelahkan.” Sanga ayah terus saja berjalan tanpa mengindahkan pembicaraan mereka.

Perjalanan panjang pun sudah mereka tempuh sebagian besarnya. Kini sang keledai pun sudah nampak lelah. Akhirnya sang anak turun dan berjalan mendampingi ayahnya yang menuntun keledai. Mereka pun kembali bertemu dengan beberapa orang yang menyayangkan sikap sang ayah. ” Kasihan sekali, anaknya kan masih kecil, mengapa dibiarkan kelelahan berjalan padahal ada keledai yang bisa ditunggangi?”.

Nah, sekian saja ceritanya, hanya ringkasan.  Kisah ini bermakna sekali untukku. Pesannya adalah hampir selalu ada suara-suara sumbang yang mengomentari apapun yang kita lakukan. Jika melakukan A, ada yang berkomentar.Tidak melakukannya pun, mungkin ada yang mencela. Namun yang kuambil dari kisah ini adalah, jika kita sudah yakin akan sikap dan langkah kita sejak awal, berjalanlah. Berjalanlah terus hingga tujuan tercapai. Karena kebanyakan orang berkomentar karena mereka sesungguhnya tidak mengetahui.

Bukan berarti kita tertutup atas masukan yang baik dan konstruktif. Namun, untuk komentar-komentar negatif dan nada miring yang tak berdasar, biarkanlah saja. Toh kita tahu kebenarannya seperti apa. Biarkan saja hal itu lewat seperti angin lalu. Jika kita tanggapi, hanya akan membuat kita kehilangan fokus dan memperlambat langkah kita. Kecuali jika gangguannya benar-benar menghambat dan menghadang perjalanan kita. Jika sekedar membuat telinga memerah, tersenyumlah saja. Lama-kelamaan mereka akan bosan juga.

Sumbangnya Masyarakat Kita dalam Paduan Suara

“Paduan Suara” merupakan satu dari 17 cerpen yang dimuat dalam kumpulan cerpen pilihan Kompas tahun 1995. Dari segi ide cerita, ia tidak menyajikan sesuatu yang baru. Ia hanyalah sebuah potret dari budaya negeri kita yang tak urung mengundang senyum, kegemasan dan aspek emosi lain yang campur aduk.Paduan Suara mengetengahkan pengalaman Sugeng yang ditawari sebagai koordinator dan pelatih tunggal paduan suara Pemda ‘Swara Budaya’. Dengan tawaran gaji yang cukup besar dan beban kerja yang tidak terlampau berat berdasarkan pengalamannya, tanpa ragu, ia pun menyanggupi tawaran tersebut. Namun, belakangan muncul masalah yang tidak diduganya.

Pada awal cerita, pembaca sudah dikenalkan dengan pokok masalah yang dihadapi Sugeng. Dia menyesali keputusannya menerima pekerjaan itu. Pasalnya, dia harus dipusingkan dengan berbagai tetek bengek yang justru sama sekali tak ada kaitannya dengan dunia kesenian. Sesuatu yang membuatnya merasa lebih baik memilih bertanggung jawab atas sebuah konser besar sekaligus dengan ribuan pemain sekalian ketimbang pekerjaannya sekarang. Hal yang menjengkelkan baginya bermula saat ia menyerahkan daftar calon anggota paduan suara hasil seleksinya.

Humor Feodalisme

Cerpen ini seolah ingin menunjukkan bahwa budaya pengkastaan manusia terlanjur menjadi hal yang lumrah, dan karenanya menuntut pemakluman pada semua orang. Di samping itu feodalisme—yang walaupun sudah karatan—tetap melekat dalam tubuh (sebagian besar) masyarakat ‘kelas atas’. Dalam Paduan Suara, hal ini terasa begitu kental. Bisa kita lihat mulai dari ‘masukan’ Ibu Gubernur yang meminta Sugeng untuk tidak meloloskan beberapa pegawai rendahan, meskipun kemampuan olah vokalnya sangat baik.

“…bukan maksud saya mau membeda-bedakan status,lho,tapi saya berpikir untuk kepentingan dia juga.Maksud saya, setelah seharian bekerja secara fisik,apa dia masih punya sisa tenaga untuk tarik suara?”
“…Artinya suami Umi itu bawahannya-bawahannya-bawahan pak Kun. Kasihan Umi,kan,kalau harus berbincang-bincang dengan Bu Kun coba, mau ngomong apa dia nanti.”

Khusus dari komentar Ibu Gubernur terhadap tokoh Umi,tampak jelas adanya upaya pemisahan lingkup pergaulan ‘antarkelas’. Ya, apalagi kalau bukan berdasarkan status, jabatan, kedudukan, dan hal-hal demikian.

Demikianlah, mulai dari sini pembaca mulai diajak turut merasakan desiran-desiran halus yang cukup mengganggu perasaan disertai kegemasan yang tak jarang membuat ingin berteriak, namun tidak tahu meneriakkan apa dan bagaimana? Toh semua kadang dianggap sebagai sesuatu yang biasa. Dengan mengatasnamakan budaya timur yang banyak mempertimbangkan hal-hal lain di luar rasionalitas demi kebijakan. Namun terkadang malah membuatnya menjadi tidak rasional, tidak bijak, tidak adil, dan tidak etis.

Hal semacam ini dapat menjadi suatu bukti rendahnya kohesi sosial di tengah masyarakat kita. Yang jelas mendarah dagingnya budaya feodal memang telah melahirkan kesenjangan yang teramat parah. Dalam sejarahnya, feodalisme telah membuat para raja-raja atau bupati jawa zaman dulu memiliki kekuasaan atas tanah serta para petani kecil. Rakyat kecil seolah hanya hidup untuk menyenangkan mereka, tanpa dapat memperoleh hak-haknya yang layak. Bahkan lingkup pergaulan pun dibatasi. Tentu kita pun mengetahui, bahwa dari segi bahasa pun (misalkan bahasa Jawa atau Sunda) ada tingkatan-tingkatannya. Bagaimana berbicara pada bupati tentu berbeda dengan cara bicara pada saisnya. Dengan demikian budaya ini akhirnya melahirkan jilat-menjilat, nepotisme, korupsi, kolusi, atau kebiasaan suap-menyuap yang seolah menjadi penyakit laten bagi masyarakat.

Keengganan masyarakat ‘lapisan atas’ untuk berbaur dan kemudian memberi kesempatan pada rakyat kebanyakan pun telah menyebabkan berbagai konflik di tengah-tengah masyarakat. Jelas,karena ia memicu kecemburuan sosial. Dengan demikian, untuk mengharapkan keadaan yang ‘duduk sama rendah berdiri sama tinggi’ sepertinya sangatlah perlu untuk membina kerekatan sosial di antara berbagai elemen masyarakat. Sebagaimana ajakan Shopie Bessis dalam suatu tulisan menarik berjudul “from social exclusion to social cohesion” [Bessis-1996]. Yaitu ajakan untuk menuju kerekatan sosial diantara elemen bangsa tanpa pandang bulu, dari buruh kasar sampai pejabat tinggi.

Sejauh ini tentu tampak naif memandang feodalisme sebagai sebuah humor, namun justru di situlah letak kelucuannya. Betapa bodohnya manusia yang memandang rendah sesamanya berdasarkan alasan yang lebih sering tidak masuk akal. Kebodohan seperti inilah yang menjadi ironi, karena manusia diakui sebagai makhluk terbaik yang pernah diciptakan. Namun kenyataannya cara manusia memperlakukan sesamanya tidak lebih baik dari cara memperlakukan binatang.

Sedikit bernostalgia, adalah kisah seorang pemimpin Islam yang amat dikenal, Umar bin al-Khattab yang tak segan memanggul sendiri bahan makanan bagi rakyatnya yang kelaparan. Beliau juga terbiasa untuk melepas lelah dengan tiduran di bawah pohon rindang bukan di istana layaknya para penguasa besar. Sehingga tak jarang ada orang yang sama sekali tidak menyadari beliaulah pemimpin yang mereka kagumi. Hal semacam ini terkadang memang lebih nampak sebagai dongeng di tengah dunia nyata kita yang saat ini begitu jauh menjangkau hal-hal ideal. Namun tentu hal itu bukanlah suatu kemustahilan. Sangat mungkin untuk menjadi kenyataan kembali di masa depan.

Bagus nggak bagus kita tepuk tangan sajalah

Cerpen ini pun ditutup dengan sebuah ironi yang membuat Sugeng tersedak. Penampilan paduan suara yang sangat tidak berkualitas itu justru mendapat sambutan meriah dari hadirin! Bukan cemoohan. Tapi justru pujian. Di sini saya kembali merasa miris sekaligus ingin terbahak-bahak, juga kasihan, entah pada siapa. Satu lagi potret yang tertangkap dalam cerpen ini adalah kemampuan bangsa kita untuk membohongi diri sendiri, berbasa-basi. Nampak begitu mudah untuk menentang suara sendiri, meredam pendapat pribadi, hanya karena keperluan mempertahankan feodalisme. Bagaimana tidak, ketika penyanyi yang bersuara jelek itu seorang pengamen jalanan, tentu tak segan untuk mencercanya, dan menyuruhnya berhenti menyanyi. Tapi kali ini anak gubernur! Sehingga katanya “…Yah, bagus nggak bagus kita tepuk tangan sajalah. Anak Pak Gubernur yang menyanyi, masa kita teriaki suruh turun.”

Melalui cerpen ini, pengarang menyajikan sesuatu yang sebenarnya sudah dihidangkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Untuk membuat kita menertawakan kebodohan makhluk yang dinamai manusia—yang kita termasuk di dalamnya. Lalu merenungkan semuanya. Hanya saja yang cukup mengganggu adalah karakter Sugeng yang nampaknya terlalu polos, yang belum tahu apa-apa mengenai kondisi masyarakat yang sesungguhnya. Padahal di awal cerita digambarkan bahwa ia merupakan orang yang sudah lama berkecimpung di bidangnya, bukankah setidaknya, sesekali mungkin ia bersentuhan dengan birokrasi? Atau setidaknya sebagai seseorang yang berkecimpung di dunia seni, lebih kurang, aspek ‘rasa’-nya akan lebih peka menangkap fakta-fakta menyedihkan di tengah-tengah masyarakat. Tapi, bagaimanapun juga, setidaknya kita dapat menikmati cerpen ini sebagai humor sosial yang cukup menggelitik.

Tamansari, April 2006

Catatan: tambahan info, sejak tahun 1988, ada konvensi baru mengenai tingkatan-tingkatan berbahasa yang ada dalam Basa Sunda . Mulanya digunakan sesuai dengan tingkatan kelas sosial dalam masyarakat, sejak saat itu diubah menjadi pemilahan bahasa halus dan kasar untuk kepentingan tata krama saja.