Sabar dengan apa yang kita tahu

Ada sebuah informasi yang kita tahu tentang seseorang, atau kita melihat seseorang melakukan sesuatu. Kita tahu hal yang lebih baik atau kita tahu cara lebih baik melakukan hal itu darinya. Apa yang harus kita lakukan? Tapi sayangnya, ketika ingin membantu, tak jarang banyak orang yang ujungnya malah membuat masalah makin ruwet (di luar kuasa orang yang mulanya berniat membantu).

“Apa yang sebenarnya kita inginkan?” Itu adalah pertanyaan yang mestinya muncul di awal sebelum melakukan “aksi turun tangan” tersebut. Apakah kita ingin menawarkan kemudahan–berdasarkan pengalaman dan pengetahuan kita–sehingga ybs bisa bekerja lebih mudah atau memecahkan persoalan dengan tepat? Atau menawarkan bantuan sekedar melepas tanggungan harus berbuat baik? Atau malah hanya ingin menunjukkan bahwa kita tahu lebih baik? Semua niat itu bisa hadir tanpa disadari jika kita tak peka pada hati kita sendiri. Akhirnya, membantu tidak selamanya baik. Kadang membantu itu mengganggu, jika kita membantu hanya dengan tangan atau lisan, tidak dari hati.

Jika kita sungguh-sungguh menginginkan kebaikan bagi seseorang–sebagai salah satu wujud syukur atas kelebihan yang kita miliki–kita akan berusaha lebih baik. Pertama kita berusaha mengenal apa sebenarnya kebutuhan ybs? Kedua, bertanya, betulkah dia perlu dibantu? Karena ada banyak orang yang sebenarnya melakukan sesuatu–meski dengan tidak efektif–tapi dengan maksud tertentu. Ada dimensi-dimensi yang lebih dari sekedar get the things done. Ketiga, benarkah kita bisa membantunya? Benarkah kita memiliki hal yang lebih baik untuk memudahkan ybs (atas kemudahan yang juga dia kehendaki). Terakhir, bagaimana cara terbaik menawarkan bantuan dengan tetap menjaga muru’ah ybs.

Ah, repot dan rumit. Bagaimana kalau ada orang kecelakaan? Banyak terjadi kondisi darurat yang salah penanganan karena diatasi orang yang tidak menguasai ilmunya. Ada juga kasus orang yang ingin membantu tapi berujung pada tuduhan pelecehan. Kebijaksanaan sangat perlu saat mengaplikasikan prinsip dalam tataran praktis. Tapi ketika terbiasa, proses itu menjadi sekejap. Jika ragu, diamlah. Ketikapun seluruh proses tadi dijalani kadang masih ditemukan ketakberterimaan, dll. Tapi jika ikhtiar sudah maksimal lahir dan batin, sudahlah. Apalagi jika asal-asalan?

Niat

Dalam padatnya aktivitas keseharian kita, terkadang ada hal penting yang luput. Pekerjaan yang dilakukan seolah sudah menjadi rutinitas yang secara mekanis dan otomatis dilakukan begitu saja. Kadang kita shalat tapi niat hanya sekedar pada lafal, kita tidak sungguh-sungguh menghadirkan niat dari dalam hati untuk menghadap Sang Pencipta. Karena sudah terbiasa, shalat pun berjalan seperti aktivitas mekanis. Apakah ibadah yang demikian akan mendapatkan ganjaran yang baik di akhirat kelak?

Continue reading “Niat”