Ema

Sembari duduk menyamping di dipan dapur yang terletak menghadap tungku batu, ia begitu fokus menguleni adonan. Sesekali dituangkannya air perlahan sembari terus mengaduknya hingga mencapai konsistensi yang diinginkan. Airnya segimana, Ma?, tanyaku penasaran. Ia jawab, “Secukupnya aja we, sampe pas.” Aku masih SD waktu itu, masih sering bermain ke ‘kulon’, karena rumah Ema-nenekku dari pihak ibu-terletak di barat rumah. Pemandangan ema membuat kue di dapurnya meski menjadi biasa tapi tetap memicu penasaran. Perkaranya tadi, dalam menakar, tak digunakannya ukuran metrik maupun imperial, hanya berdasarkan perasaan, intuitif, tapi hasilnya memiliki rasa konsisten. Besot, talam asin, talam manis, kue mangkok, kue ali favorit sepupuku, dan entah apalagi. Favoritku dari kue-kue buatan ema adalah talam asin. Kue kecil putih dari tepung beras, berbentuk mangkuk, gurih dengan taburan bawang goreng dan irisan seledri di atasnya. Enak. Cantik.

Continue reading “Ema”