Kunci

Pernah kehilangan kunci? Bagaimana rasanya? Kita berada di depan pintu atau hendak mengendarai kendaraan di depan kita, tapi gara-gara kunci tidak di tangan, kita terhalang untuk memasuki ruangan atau mengendarai kendaraan tersebut.

Continue reading “Kunci”

Advertisements

Stasiun

Suara peluit terdengar. Pengumuman dari peron menyambut para penumpang yang baru tiba. Segera terdengar derap langkah para penumpang yang bergegas turun. Aku meraih tasku, lalu memanggulnya, berjalan, dan turun dari gerbong. Beberapa menit kemudian kereta kembali melaju ke arah stasiun berikutnya.

Kutengok kanan dan kiri. Nampak kesibukan yang biasa, dalam aktivitas-aktivitas yang biasa. Di mana-mana  terlihat wajah-wajah biasa. Beberapa orang menunggu kereta dengan duduk di emperan stasiun.  Perkenalan pun dimulai. Berawal dari bertanya hendak ke mana dan kereta tiba pukul berapa. Lantas berlanjut dengan membincangkan kereta yang telat tibanya, keluarga yang hendak dikunjungi dan lain sebagainya.

Seketika dari sebelah utara terdengar suara lengkingan manusia. Seorang pemuda dengan rambut dicat warna pirang adalah sumbernya. Belakangan diketahui ia seorang tuna wicara. Pakaiannya lusuh, seperti yang biasa kulihat pada kebanyakan orang yang biasa menghabiskan hidupnya di jalanan. Ternyata ia diisengi oleh kawannya, seorang pemulung di stasiun. Ia marah, lantas mereka berkejar-kejaran. Yang dikejar berkelit sambil tertawa-tawa. Si tuna wicara semakin gemas dan mengejar lebih kencang sambil mengeluarkan suara melengking-lengking. Sebagian orang yang menyaksikan kejadian itu ikut menertawai kelucuan yang tak kumengerti, lainnya acuh tak acuh.  Yang dikejar tertangkap juga, dipukulnya ia dengan penuh kegemasan. Si pemulung masih tertawa-tawa. Kemudian mereka kelelahan dan duduk bersama menikmati minuman dalam gelas kemasan. Keriangan bersama sahabat ternyata tidak meminta uang dan baju bagus sebagai syarat.

Ada kereta baru tiba. Beberapa orang bangkit berdiri dan bersiap naik. Sejumlah orang turun. Beberapa pedagan asongan turut bersama mereka. Ada pemudi yang melambaikan tangan pada kawannya yang sudah menunggu cukup lama. Banyak juga wajah-wajah sibuk yang menyiratkan kekuatan untuk menaklukan hari demi bertahan setidaknya hingga esok. Terselip juga sedikit siswa yang nampaknya baru pulang sekolah. Wajah mereka disaputi semburat lelah dan kejenuhan. Diantaranya ,aku bersyukur masih bisa melihat paras-paras mungil yang menyembul dari gendongan ibu mereka. Kemurnian auranya tak pernah gagal untuk menerbitkan senyum. Sudah tiba sejumlah rombongan baru, batinku.

Seorang ibu yang sedari tadi duduk di sampingku bangkit berdiri. “Saya duluan”, ujarnya sambil tersenyum. Aku membalas senyumnya dan berkomentar dalam hati, aku ditinggalkan. Kebersamaan itu ada pangkalnya, maka kita pasti akan bertemu ujungnya. Kereta itupun berangkatlah.

Masih ada beberapa kereta lagi yang tiba dalam puluhan menit berikutnya. Kotak-kotak teknologi yang menghantarkan manusia dalam ruang. Kulihat juga wajah-wajah mereka terbingkai kotak jendela yang berjejer sepanjang gerbong. Apakah benar semua orang itu benar-benar ingin pergi? Sungguhkah mereka semua itu menginginkan perjalanan?

“Saya terpaksa meninggalkan anak di rumah, tapi saya harus bekerja.”

“Saya baru pulang seminggu sekali, yah mau bagaimana lagi lowongannya cuma ada di luar kota.”

Ada juga beberapa bule (ya, memang tidak semuanya berambut pirang, tapi kita sebut sajalah mereka itu “bule”) berkeliaran dengan backpack-nya. Bagi mereka, pengalaman berdesakan dalam kereta ekonomi mungkin merupakan pengalaman ‘eksotis’. Sangat menarik dan menakjubkan, sementara bagi para pribumi di sekelilingnya, kondisi ini dikutuk setiap saat.

“Gila, panas banget!”

“Eh, jangan dorong-dorong dong, Mas. Saya bawa anak ini.”

“Dasar bos sinting, padahal dia udah enak ga mesti panas-panasan desak-desakan kayak kita gini, mobil ber-AC, hidup nyaman, tetep aja di kantor marah-marah teruuusss. Tenaga kita diperas, gaji naik, mimpi!”

Orang-orang terus berdatangan dan pergi, para pedagang asongan naik turun gerbong, kembali lagi ke stasiun awal dan terus menjajakan dagangannya. Para karyawan PT. KAI pun mondar mandir menawarkan makanan dan minuman di dalam kereta untuk menutupi pendapatan perusahaan karena tarif transportasi yang dipaksa murah tanpa anggaran memadai untuk biaya operasi. Orang-orang lebih sering mengingat kereta yang terlambat datang, gerbong yang kotor, kecelakaan karena kelalaian masinis ketimbang para penjaga pintu palang yang berjaga di pos-posnya, penjaga tiket yang melawan kebosanan, petugas kebersihan yang menyapu di gerbong-gerbong. Orang-orang lebih mudah mengumpat dan semakin jarang berterima kasih.

Di stasiun kita turun, di stasiun juga kita naik kereta berikutnya. Stasiun seolah jeda. Jeda membuka ruang perenungan.

(Stasiun Jatinegara, Oktober 2010)

Analisis Wacana (Teks Pembuka)

Setiap hari teks-teks bertebaran di sekeliling kita. Wacana sebagai kesatuan bahasa hadir dalam berbagai wajahnya. Apa yang dibawa oleh wacana mungkin tidak dengan mudahnya dapat kita tangkap. Dengan membaca teks yang sama, beberapa orang bisa mengambil kesimpulan yang berbeda. Mana yang dianggap benar? Manakah yang sesungguhnya dituju teks? Terkait hal ini, saya merasa perlu menulis tentang analisis wacana. Dalam menyusun tulisan ini, saya menggunakan acuan buku “Analisis Wacana: Pengantar Analisis Teks Media“ karya Eriyanto.

Sebelum beranjak lebih jauh, definisi tentang wacana itu sendiri (discourse dalam bahasa Inggris) cukup beragam ditinjau dari berbagai disiplin ilmu. Dalam paradigma linguistik, wacana merupakan entitas yang lebih besar dari kalimat. Ia merupakan rangkaian kalimat yang serasi, perpaduan proposisi yang satu dengan yang lainnya. Pemaknaan suatu kalimat tidak terlepas hanya pada kalimat yang bersangkutan, namun juga disertakan kaitannya dengan kalimat yang lain.

Sementara itu, dalam ranah sosiologi, wacana merujuk pada hubungan antara konteks sosial dengan penggunaan bahasa. Sedangkan dalam politik, wacana terkait dengan politik bahasa. Karena bahasa merupakan aspek utama dalam penggambaran suatu konsep dan ideologi yang terkandung di dalamnya, analisis wacana dalam lingkup politik menitik-beratkan pada aspek ini.

Dari berbagai penggambaran yang berbeda terkait sudut pandang yang berlainan tersebut, dapat ditarik garis merah. Yakni analisis wacana berkaitan erat dengan analisis praktik penggunaan bahasa.

Beberapa Pandangan Terkait Bahasa dalam Analisis Wacana

Setidaknya ada tiga kelompok besar yang memandang fungsi bahasa dalam analisis wacana. Antara lain: Analisis wacana positivisme-empiris, analisis wacana konstruktivisme, dan analisis wacana kritis. Perbedaan antara ketiga aliran ini antara lain dijelaskan sebagai berikut:

Yang pertama, positivisme-empiris menekankan bahasa sebagai simbol yang membawa makna-makna yang terlepas dari subjek pemakainya. Analisis ini tidak mengindahkan penyampai dan latar belakangnya. Wacana dipandang sebagai entitas yang dianalisis bagian perbagiannya terkait kaidah-kaidah sintaktik dan semantik yang digunakannya. Keabsahan wacana tersebut ditentukan oleh unsur-unsur sintaktik dan semantiknya tersebut. Analisis bertumpu pada pengukuran penggunaan aturan gramatika yang sesuai, tata kalimat, dan aturan-aturan berbahasa yang dimengerti bersama.

Berikutnya, aliran konstruktivisme, menolak pemisahan antara subjek dan objek dalam berbahasa. Aliran ini justru memandang subjek sebagai faktor utama dari makna-makna yang dikonstruksi menggunakan bahasa. Antara wacana dengan konteks sosial, subjek berperan penting di dalamnya. Artinya, pengungkapan wacana oleh suatu objek merupakan ungkapan diri dari sang penutur. Berbasis penalaran ini, maka analisis wacana dilakukan untuk mengungkap maksud-maksud yang hendak disampaikan oleh penutur atau produsen wacana. Maksud yang eksplisit maupun yang tersembunyi. Upaya efektif yang dilakukan terkait maksud ini adalah dengan menempatkan diri pada posisi penutur dan mencoba menafsirkan maksudnya dengan kerangka pemaknaan yang dimiliki oleh penutur tersebut.

Yang terakhir, analisis wacana kritis, memandang wacana dalam konteks yang lebih rumit dan kompleks. Wacana bukan semata-mata entitas linguistik atau produksi makna yang berinteraksi dengan subjeknya. Aliran ini memandang bahwa suatu subjek sekalipun terkadang tidak bisa merdeka untuk mengungkapkan sesuatu yang murni berasal dari dirinya.

Suatu subjek yang merupakan bagian dari struktur sosial yang ada, tak bisa melepaskan diri dari konvensi-konvensi, aturan umum dan kuasa sosial yang bekerja padanya. Dengan kata lain, subjek tidaklah netral. Bahasa bukan sesuatu medium semata yang dengan polosnya digunakan penutur, tapi merupakan representasi dari perspektif. Jadi analisis tidak dipusatkan pada konstruksi bahasa secara gramatikal, terkait kaidah-kaidah semantik dan sintaktik semata. Analisis menyentuh proses produksi dan reproduksi makna dalam wacana, batas-batas perspektif yang digunakan, dialektika antara suatu peristiwa, dengan situasi, institusi dan konteks sosial yang melingkupinya, termasuk praktik kekuasaan.

kata-kata dan saya sendiri

Saya merasa kata-kata telah serupa uang kertas yang terhambur tanpa jaminan emas

Terlalu banyak ujaran yang terlontar tapi tidak dimaksudkan

Dan kata-kata telah menjadi begitu murah, tanpa makna pun terobral

Saya tak mengerti manusia menjadi semakin suka bicara

Dan tampaknya  semakin sedikit berpikir

Saya lelah mendengar kata-kata bersebaran di jalan raya, di muka gedung, dalam balai pertemuan, pada kendaraan, meja-meja konferensi, dan pasar malam

Semua orang berkata seperti membuang sampah

Takkan kembali lagi pada mereka

Padahal tidak, kata-kata mereka tak hilang, menunggu berbalik layaknya bumerang ketika nanti

Saya ingin bercengkrama dengan kata-kata dalam cekaman sunyi

Dalam naungan sepi

Hanya sendiri antara saya dan deretan indah kata-kata yang terseleksi

Kata-kata yang tidak hanya membawa dirinya sendiri

Tidak sekedar membawa diri sendiri

 

3466_inside_the_koran-16_05320299