Mbak Tyas yang Sekelebat Hadir Lalu Pergi

 

kuburan3
sumber ilustrasi: justrifky.wordpress.com

Ga bisa tidur lagi setelah mendengar kabar seorang kawan lama(?) atau baru tapi cukup lama (relatif) tak kontak. Perkenalan kami sesaat, tapi karena forumnya adalah semacam terapi di mana kami bercerita banyak tentang diri masing-masing, rasanya perkawanan itu sudah terasa lama, lebih dari sekedar kenalan. Kabar terbarunya adalah: beliau wafat. Waktunya di permulaan Syawal kemarin. Aku tak tahu karena waktu itu aku masih on off FB, tidak lagi menggunakan WA, otomatis tak ada kabar sama sekali. Pikiranku seperti off sesaat. Aku masih melanjutkan aktivitas harian (apalagi hari ini aku baru saja merasa mendingan setelah sakit, jadi banyak kerjaan tertunda yang harus segera diselesaikan) hingga isya, lalu di waktu luang aku mencari tahu apa yang sebenarnya kulewatkan. Continue reading “Mbak Tyas yang Sekelebat Hadir Lalu Pergi”

Advertisements

True Friendship

Saat membaca buku ‘If Ocean Were Ink’ aku sampai pada suatu bagian ketika Syaikh Akram ditanya apa yang dirindukannya dari kampung halaman. Beliau menjawab singkat, ‘true friendship’. Lalu beliau bercerita tentang kebiasaannya bersama kawan-kawan sekampus di Nadwatul ‘Ulama, Lucknow. Selepas subuh berjama’ah di masjid, biasanya ia dan kawan-kawannya akan berjalan-jalan menyusuri sungai sembari berdiskusi tentang apapun. Di sini (Oxford), sambungnya, setiap orang langsung bergegas pada urusannya masing-masing begitu selesai salat subuh di masjid. 

Belakangan akupun sedang memikirkan makna pertemanan. Mungkin jamak ya, merenungkan hal semacam itu di awal kepala tiga, saat tidak lagi mudah bertemu orang baru dan menjalin hubungan dekat seperti masa muda. Apalagi bagi seorang introvert yang memang tidak terlalu nyaman bergaul dengan orang banyak.

Continue reading “True Friendship”