nada di udara

ada bahasa bisu, berat menghantam jiwa

seketika mencabutku dari tanah ini

lantunannya, membawaku jauh sekali

lamat-lamat membimbing rindu

menuju persembunyian hati, perlahan saja

langkah satu-satu dan setiap kalinya muncul ingatan yang tak pudar

tentangmu

Advertisements

Uang dan ketergantungan

Suatu hari kubaca pernyataan seorang kawan bahwa orang yang paling banyak memiliki uang adalah orang yang hidupnya paling bergantung pada orang lain. Tesis yang menarik, kurasa. Selama ini banyak orang berpandangan uang adalah lambang kekuasaan—dan memang begitu adanya—, dengan uang banyak hal bisa didapatkan dengan mudah. Bahkan beberapa kali hukum pun bisa dibeli.  Nah, dengan pernyataan ini kekuasaan tadi dijalin erat dengan keadaan lain: ketergantungan. Sementara ketergantungan merupakan keadaan yang memiliki makna hampir bertolak belakang dengan kekuasaan. Bagaimana bisa sesuatu dengan kuasa besar juga mengondisikan ketergantungan besar?

Continue reading “Uang dan ketergantungan”

Swasembada

Kemarin malam aku dan temanku berdiskusi tentang soal-soal ekonomi. Sekali lagi ia bilang, ”aku senang harga cabe naik”. Ia berkata demikian karena hal inilah yang akhirnya membuatku terpaksa mempelajari teori-teori ekonomi yang biasanya kuhindari. Sementara aku masih berteriak dalam hati ini sungguh tidak adil.

Continue reading “Swasembada”