Feminisme Liberal

Pandangan utamanya membahas target penghapusan  berbagai perbedaan seksual sebagai langkah awal menuju kesetaraan sejati. Aliran ini juga bertujuan menciptakan pribadi androgini, tak ada stereotip laki-laki dan perempuan.

Elshtain, seorang kritikus feminisme liberal menyatakan bahwa “tidak ada jalan untuk menciptakan suatu komunitas riil di luar suatu kelompok manusia dewasa yang bebas memilih”. Ia berpendapat bahwa para feminis liberal menilai laki-laki terlalu tinggi sampai-sampai mereka mempersamakan karakter laki-laki (maskulinitas) dengan karakter kemanusiaan. Menurutnya ada tiga kesalahan utama pemikiran feminisme liberal:

  1. Asumsi bahwa perempuan dapat menjadi seperti laki-laki ketika memiliki pola pikir seperti laki-laki
  2. Pandangan bahwa semua perempuan ingin menjadi seperti laki-laki
  3. Klaim bahwa hendaknya seluruh perempuan ingin menjadi seperti laki-laki dan memiliki sifat maskulin.

MULTIKULTURALISME: PENGAKUAN ATAU PENGABURAN IDENTITAS MASYARAKAT ?

Seorang antropolog-filsuf Jerman, Arnold Gehlen menyatakan bahwa manusia merupakan makhluk yang bebas lingkungan (Kleden, 1987). Maksudnya manusia tidak terikat pada lingkungannya, berbeda dengan hewan yang menetap pada habitat tertentu. Jadi, kedudukan manusia terhadap lingkungannya merupakan kedudukan yang labil. Manusia tidak dapat bertahan secara otomatis dalam lingkungannya hanya dengan mengandalkan kondisi morfologisnya. Ia harus mencipta, harus merekayasa lingkungan sebagai kompensasi dari tubuhnya yang lemah. Akan tetapi, hal tersebut sekaligus kelebihan bagi manusia. Tidak seperti hewan yang akan punah kala habitat aslinya dirusak, manusia dapat berpindah ke mana saja, mencari daerah baru lalu membangun lagi kehidupannya di sana. Segala rekayasa lingkungan dan respon manusia untuk bertahan itulah yang kemudian melahirkan kebudayaan.

Continue reading “MULTIKULTURALISME: PENGAKUAN ATAU PENGABURAN IDENTITAS MASYARAKAT ?”

Sekilas Gerakan Feminisme


Salah satu entry point utama gerakan liberasi dan emansipasi perempuan adalah agenda yang dilontarkan oleh Mary Wollstonecraft dalam A Vindication of the Rights of Women (1792).  Gerakan ini muncul dengan asumsi awal bahwa perempuan berada dalam posisi termarginalkan, sebagai subordinat, terkucilkan, dan berada dalam dominasi laki-laki. Sebelumnya telah ada sejumlah pemikir yang mengemukakan hal-hal terkait hak perempuan untuk bersuara dalam politik seperti Jeremy Bentham (1781) dalam Introduction to the Principles of Morals and Legislation , serta Marquis de Condorcet  yang menulis sebuah artikel dalam Journal de la Société de 1789. Tapi istilah feminis itu sendiri baru muncul sekitar tahun 1872 di Prancis dan Belanda[i].

Continue reading “Sekilas Gerakan Feminisme”

Kritik atas Beberapa Aliran Feminisme

Dalam pertumbuhan pertama feminisme, yang dominan, kalau bukan satu-satunya adalah gerakan feminisme aliran liberal tradisionalis yang ditandai dengan tulisan Mary Wolltonescraft (A Vindication of Rights of Women). Ide utama feminis generasi pertama masih berkutat seputar kesetaraan hak terutama dalam keluarga, pendidikan, dan politik. Pada perkembangannya, feminisme tumbuh menjadi berbagai aliran dengan perspektif masing-masing terhadap ketidakadilan yang dialami wanita, termasuk strategi menghadapinya. Dimulai pada feminisme gelombang kedua, sekitar tahun 60-an, berkembang beberapa aliran berdasarkan basis ideologi yang beragam. Sebut saja feminisme radikal, feminisme sosialis, feminisme psikoanalisis dan gender, feminisme eksistensialis, feminisme postmodern, serta feminisme multikultural dan global.[i] Terakhir muncul yang disebut ecofeminism. Berikut ini akan dijelaskan satu persatu berikut kritiknya[ii]:

Continue reading “Kritik atas Beberapa Aliran Feminisme”