Mbak Tyas yang Sekelebat Hadir Lalu Pergi

 

kuburan3
sumber ilustrasi: justrifky.wordpress.com

Ga bisa tidur lagi setelah mendengar kabar seorang kawan lama(?) atau baru tapi cukup lama (relatif) tak kontak. Perkenalan kami sesaat, tapi karena forumnya adalah semacam terapi di mana kami bercerita banyak tentang diri masing-masing, rasanya perkawanan itu sudah terasa lama, lebih dari sekedar kenalan. Kabar terbarunya adalah: beliau wafat. Waktunya di permulaan Syawal kemarin. Aku tak tahu karena waktu itu aku masih on off FB, tidak lagi menggunakan WA, otomatis tak ada kabar sama sekali. Pikiranku seperti off sesaat. Aku masih melanjutkan aktivitas harian (apalagi hari ini aku baru saja merasa mendingan setelah sakit, jadi banyak kerjaan tertunda yang harus segera diselesaikan) hingga isya, lalu di waktu luang aku mencari tahu apa yang sebenarnya kulewatkan. Continue reading “Mbak Tyas yang Sekelebat Hadir Lalu Pergi”

Kompleksitas

Robin Williams tewas bunuh diri karena depresi. How come?, kata beberapa orang. Dalam Dead Poets Society ia berperan sebagai John Keating yang penuh inspirasi membangkitkan semangat hidup para siswa “Hellton” yang penuh tekanan meski pada akhirnya tak cukup membantu bagi Neil yang ujungnya memutuskan bunuh diri. Pada Good Will Hunting, ia berperan sebagai Sean Maguire yang menerapi seorang jenius dengan permasalahan jiwa yang cukup pelik. Lalu, sebagai dokter eksentrik dalam Patch Adams dia pun tampil ceria mengembalikan semangat para pasiennya. Ah ya, ada juga filmnya yang tidak bergenre seperti itu. Ada Insomnia, One Hour Photo, atau The Night Listener yang di dalamnya ia tidak mengambil peran-peran ceria atau semacam ‘healer’. Akan tetapi, secara umum citra diri Robin William sebagai aktor– dan ternyata sebagai pribadi di dunia nyata berdasarkan tribut dari kerabat maupun rekannya– adalah seseorang yang membuat orang ceria dengan kelucuan, keramahan, dan kehangatannya. Hal itu yang membuat orang bertanya-tanya “How come?”. Bahkan putrinya sendiri berkata, ” I will never ever understand why he didn’t stay.”

Hal itu sulit dijawab. Melalui coretan ini pun aku tak bermaksud menjawabnya. Hanya saja kutahu satu hal: manusia sesungguhnya menghadapi perjuangan besar dan berat dalam hidupnya. Bukan sekedar masalah atau lawan yang ada di luar dirinya tapi yang ada di dalamnya. Hanya saja banyak yang tidak menaruh perhatian banyak pada hal itu atau telah menyelesaikannya dengan sederhana kemudian fokus pada masalah eksternal, atau tetap bergelut dengan masalah tersebut sembari meningkatkan kapasitas mental untuk menanggung kepelikannya. Hidup menjadi lebih tidak menyenangkan jika iapun tidak tertarik pada kelezatan dunia atau jika sudah jenuh terhadapnya. Pada titik itu, mempertahankan keinginan untuk hidup pun menjadi makin sulit. Harus ada motivasi lain yang melampaui apa-apa yang terlihat di muka bumi ini yang mencegah seseorang (merasa bahwa dia) memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.

Ayolah, meski kehadiran kita di dunia ini di luar intervensi kita, tapi dalam hal kematian rasanya keputusan itu seolah bisa dipilih, bukan? Lagi-lagi ini masalah keyakinan. Tapi keyakinan tertentu kadang belum cukup.