OSPEK NGAYOGYAKARTA

Hari ini (7 Desember 2011) aku memulai OSPEK (Orientasi dan Pengenalan Kota) di tempat tinggalku yang baru. Terakhir kali aku melakukan ini sekitar tujuh tahun silam di kota Bandung. Waktu itu, selama dua hari aku menumpang angkutan dalam kota, mengenali lingkungan, menandai  lokasi tempat-tempat penting yang sekiranya dibutuhkan selama aku tinggal di kota itu.

Continue reading “OSPEK NGAYOGYAKARTA”

Kaderisasi Mahasiswa: Mengisi Ruang-ruang Kosong dalam Pendidikan Kita

Saya tidak tahu apakah saya sudah memiliki cukup otoritas untuk membuat tulisan yang begini. Kalau dihitung-hitung, pengalaman kaderisasi di kampus ini hanya dua hari OSKM 2004 (waktu itu saya hanya ikut pembukaan dan hari kedua, lalu OHU yang kalau tidak salah tidak termasuk agenda inheren OSKM, cmiiw). Saya juga mahasiswa Fisika yang bukan anggota HIMAFI, tidak ikut DAT, dan kegiatan lain2 yang secara eksplisit merupakan acara kaderisasi yang umum diikuti para aktivis kampus. Yang saya ikuti mungkin sekedar kaderisasi di organisasi ekstrakampus, dan pembelajaran pribadi.

Sedikit alasannya adalah (ini khusus alasan saya terkait kaderisasi OSKM) karena saya merasa tak nyaman dalam proses pengkaderan yang saya ikuti. Satu hari dalam OSKM saya sudah merasa tak suka dibariskan dan diberi instruksi bernada tinggi, padahal kami tidak (belum) melakukan kesalahan apa-apa. Yang ‘baik’ pada kami mungkin hanya taplok dan kakak mentor saja. Memang perploncoan sudah tak ada. Penggunaan atribut yang aneh2 itu (mahkota ksatria dan srikandi dengan perisainya) bolehlah saya anggap sebagai karya seni dan kerajinan tangan, bahkan keterampilan melakban sebagai pengganti laminasi masih saya pakai sampai hari ini. Masalah pulang malam, sejauh bisa menjaga diri menurut saya tak masalah.

Yang jadi masalah adalah sikap para pengkader yang memandang anak-anak baru sebagai objek yang tidak setara dengan mereka. Mengapa saya katakan tidak setara, coba saja jika mereka berdialog dengan kawan sebaya, apalagi dengan dosen, masihkah mereka berkata-kata dengan angkuh dan nada tinggi sebagaimana mereka berbicara dengan kami bahkan untuk hal remeh seperti ketinggalan atribut sendok dan garpu? Padahal hal itu tidak prinsipil. Untuk peralatan makan, misalnya, jika ada yang terlupa, toh kami masih bisa makan menggunakan tangan saja. Kalaupun ada maksud yang lain, mengapa tidak dijelaskan baik-baik sehingga kami memahami alasan rasionalnya dan dengan sadar memahami kepentingan instruksi tersebut serta dengan sukarela melakukannya, bukan sekedar karena diperintah, rasanya akan lebih kecil pula kemungkinan untuk lupa. Atas alasan itu, pada hari-hari lain ketika bolos OSKM saya memilih kegiatan yang lebih bermanfaat (subyektivitas saya) yakni orientasi Bandung. Saya pergi ke Gramedia, membeli peta kota Bnadung lalu berkeliling dan mencoba rute2 angkot di kota Bandung yang cukup memusingkan. Lumayan, saya punya pengetahuan cukup yang akan mendukung kehidupan saya di Bandung beberapa tahun selanjutnya, haha.

Proses pendidikan atau kaderisasi yang seperti itu yang membuat hidup mahasiswa baru (mungkin) tidak tenang, sekalipun tertutupi euforia menjadi mahasiswa. Untungnya saya tidak, masuk ITB biasa saja, jadi anak baru, diospek, ya biasa saja, yang tidak biasa adalah kenapa saya merasa kurang dihargai sebagai manusia? Mungkin kami tak tahu apa-apa, mungkin cuma anak baru yang masih hijau, namun kami tetap manusia. Bukan cuma seorang megalomania yang butuh penghargaan dan penghormatan. Dengan cara yang lebih gentle dan elegan materi-materi “mulia” dalam kaderisasi mungkin akan lebih mudah kami pelajari dan pahami karena kami dalam posisi siap untuk berpikir dan menimbang pemikiran-pemikiran baru. Yang dianggap benar, dan baik akan diterima untuk diadopsi sementara yang meragukan apalagi yang salah akan dikritisi dan ditolak.

Urgensi Kaderisasi Tambahan dalam Kehidupan Kampus

Mahasiswa seharusnya memang sudah dewasa dalam menentukan pilihan-pilihan hidupnya. Akan tetapi, proses pendidikan kita yang secara umum diketahui tidak begitu memandang serius proses pematangan peserta didik. Tidak jarang kita temui manusia-manusia tua yang masih kekanakan. Mahasiswa yang masih belum memiliki attitude kedewasaan. Tak tahu etika berhadapan dengan dosen, kawan sebaya, atau otoritas lain. Memiliki prinsip yang bertentangan dengan perilakunya sehingga masih melakukan hal-hal yang dia pandang buruk seperti mencontek, titip absen, melanggar janji, melecehkan teman, kurang peduli, dan sebagainya.

Bahkan tekanan akademis yang ada di kampus sangat besar sehingga bisa jadi hanya mempersempit kehidupan mahasiswa sekedar dalam urusan tugas, praktikum, perkuliahan, kuis, ujian. Kegiatan kemahasiswaan yang sedikitpun biasanya masih harus rela tergeser dari agenda bila bentrok dengan kegiatan-kegiatan ini. Maka tidak heran bila dalam banyak institusi, pendidikan telah sukses mengubah homo sapiens menjadi homo roboticus. Proses pendidikan yang diterima di kampus pun, menyambung proses-proses yang telah dimulai sebelumnya kembali tidak utuh. Hanya membangun sebagian sisi kemanusiaan, dan yang lainnya terabai. Hanya sedikit yang sadar dan beruntung mencari bagian2 yang hilang secara otodidak. Sebagian dosen perlu diacungi jempol karena dalam proses pembelajaran yang klasik begini tapi masih memasukkan spirit dan inspirasi tentang kehidupan, tentang sikap, tentang menjadi manusia, bukan sekedar profesional dengan kemampuan keilmuan praktis yang laku ditukar dengan rupiah atau dollar. Tapi, kembali lagi, saat ini, itu hanya didapat oleh mereka yang beruntung.

Nah, di sinilah peran penting kaderisasi, baik yang terpusat, atau yang dilakukan oleh himpunan maupun unit . Mengisi ruang-ruang kosong dalam pembentukan utuh manusia yang akan berkiprah di tengah-tengah masyarakat. Tugas ini memang tidak adil, karena tanggung jawab seharusnya paling besar berada di pundak institusi pendidikan itu sendiri. Namun sembari mempersiapkan perombakan radikal dan besar-besaran terhadap sistem pendidikan yang ada sekarang, saya rasa tetap mendesak untuk juga menggarap dan turut serta dalam proses-proses pendidikan yang berjalan, memberi sedikit kontribusi agar posisinya lebih mendekati proses ideal. Toh, pertumbuhan generasi bukan sesuatu yang bisa di-pause hingga sistem siap dan ideal. Justru menumbuhkembangkan generasi dalam suasana pemikiran kritis dengan prinsip-prinsip ideal pendidikan yang masih bisa kita rumuskan akan memberi energi tambahan pada gelombang perubahan yang kita harapkan. Bila spirit mengisi ruang kosong dalam pendidikan ini dilakukan oleh agenda-agenda kaderisasi yang formal dan terstruktur, menurut saya hal ini cukup efektif untuk menambah jumlah orang-orang yang beruntung tadi.

Lantas, proses pengkaderan yang seperti apa yang kita butuhkan saat ini? Sedikit saran, ada beberapa faktor yang menurut saya penting namun kadangkala (atau seringkali?) luput dalam proses-proses yang saya amati. Yang pertama adalah perumusan bentuk utuh hasil kaderisasi. Output seperti apa sih yang ingin diharapkan setelah peserta didik melewati proses kaderisasi? Apakah dibuat parameternya yang jelas dalam variabel-variabel yang mudah dievaluasi? Atau jangan-jangan hanya sekedar basa-basi atribut kesempurnaan sosok seperti yang sering diumbar dan diobral dalam teks birokrat kita di bidang pendidikan namun tak dimengerti maknanya apa lagi jalan dan cara untuk mewujudkannya?

Yang kedua adalah, metode pembelajaran yang paling efektif yang diberlakukan pada peserta kaderisasi. Prinsip andragogi yang tepat seperti apa? Situasi yang paling kondusif yang perlu diupayakan sehingga para peserta siap menerima materi dan berdiskusi secara sehat itu seperti apa? Suasana yang jauh dari indoktrinasi, ketegangan yang tidak perlu dan kelelahan pikiran maupun fisik yang dibuat-buat sebaiknya dihindarkan.

Yang ketiga, pembedaan antara hal yang prinsipil dan tidak prinsipil dalam proses belajar dan kaderisasi. Hal-hal remeh temeh yang tidak berkontribusi langsung dalam peningkatan efektivitas kaderisasi dan penerimaan materi sebaiknya dipangkas saja. Permainan-permainan dan icebreaking yang dibutuhkan diupayakan diseleksi secara optimal yang paling mendukung proses pembelajaran, begitu pula dengan atribut dan tugas-tugas yang diberikan. Hal-hal yang dilakukan sekedar untuk menyenangkan diri memenuhi hasrat mengobjekkan entitas lain dari pihak pengkader, baiknya dilupakan saja.

Empat, poin pentransferan materi yang dialogis dan melalui proses berpikir rasional. Pihak yang dikader secara psikologis akan cenderung lebih mudah menerima “apapun” yang dikatakan atau yang disampaikan oleh pemateri, pengkader, atau apapunlah itu namanya. Tapi jika kita berharap perubahan yang sungguh-sungguh dan penerimaan yang utuh atas materi dan nilai yang disampaikan, jangan harap hal itu akan berhasil lewat invasi pada benak dan pemaksaan pemikiran. Harus dibangun suasana kondusif untuk berpikir bersama, mengevaluasi ide-ide, dan menimbang kebenaran dari sudut pandang masing-masing. Semua itu hanya bisa dilakukan dalam konteks hubungan intersubjektif.

Lima, aspek keteladanan adalah hal penting. Satu contoh kecil, mulailah untuk merasa malu jika anda menyuruh peserta datang tepat waktu bahkan menghukum mereka yang terlambat, tapi anda sendiri tidak memenuhi janji untuk menghadiri rapat koordinasi tepat waktu.

Keenam, kaderisasi yang dilakukan beberapa hari saja tentu tidak akan pernah cukup menyiapkan mahasiswa. Maka perlu juga untuk menanamkan kecintaan pada ilmu, semangat dan hasrat untuk terus belajar dan membuka pikiran seluas-luasnya sebagai insan akademis.

Ketujuh, hati-hati dalam menanamkan suatu konsep pada peserta, jangan sampai memaknai sesuatu secara dangkal. Hal ini merupakan indikasi kebiasaan berpikir yang buruk, setengah-setengah dan tidak solutif. Contoh kasus yang pernah saya temui adalah peristiwa penghukuman seangkatan karena seseorang dari mereka terlambat datang, alasannya: solidaritas. Ha? Saya bertanya, si panitia ini mengerti makna solidaritas atau tidak sih? Kesalahan seseorang yang hukumannya ditanggung oleh suatu komunitas bukan contoh solidaritas, tapi ketidakadilan. Kecuali, sejak awal sudah diwanti-wanti tentang konsekuensinya dan memang sudah dipastikan bahwa tidak ada satu orangpun dari teman-teman yang bersangkutan itu mengingatkan dia agar tak terlambat. Lebih baik mendorong mereka untuk memikirkan cara agar seluruhnya saling mendukung dan mebbantu sehingga menghindarkan keterlambatan mereka ataupun teman-temannya. Ya, itu satu contoh saja, lainnya, silakan direnungkan. Kebiasaan menghubungkan sesuatu secara sepintas dan berpikir dangkal ini akan bermuara pada kebiasaan menggeneralisasi dan easyjudging yang tidak sehat dalam dunia akademis.

Terakhir, (mungkin untuk sementara, bisa jadi ditambah lagi, hehe) kaderisasi juga perlu menanamkan kepekaan dan kepedulian pesertanya terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat dari cabang hingga ke akarnya. Saya mengapresiasi sejumlah kaderisasi yang memasukkan agenda pengabdian masyarakat dalam programnya. Namun hendaknya, perlu ditambahkan sense dan keinginan untuk menyelami dan memahami persoalan masyarakat yang sesungguhnya dan berperan serta secara proaktif dalam penyelesaiannya. Bukan sekedar tipikal asal pernah berkontribusi, sekedar penah terlibat, tapi ikut urunan memikirkan penyelesaian, terlepas dalam peran apapun yang dipilihnya kelak dalam perjalanan hidupnya.