Pulang (2)

Sekali waktu aku melangkah ke luar rumah, kupikir ini hanya kepergian sementara. Tak lama setelah beberapa urusan selesai aku ‘kan kembali. Akan pulang. Tetapi di luar, yang kujumpai ternyata kenyataan bahwa satu tapak membuka pintu pada tapak-tapak lain yang makin menjauh dari apa yang mulanya kusebut rumah. Semakin lama semakin kusadari bahwa perjalanan ini bahkan mungkin takkan pernah berakhir. Dengan waktu yang singkat, luasnya tanah terhampar di hadapan, apakah akan ada waktu untuk benar-benar pulang, ketika lelah, lalu beristirahat yang penghabisan. Kemudian aku sadar bahwa sejak awal aku tidak memulai perjalanan ini dari rumah. Rumah dan pulang yang sesungguhnya bukan yang pernah kualami. Sejak awal kesadaran ini muncul aku harus selalu siap dengan kondisi berjarak dari akar. Sesuatu yang kudapatkan sebagai anugrah.

Lentera Jiwa

lama sudah kumencari apa yang hendak kulakukan
‘sgala titik kujelajahi tiada satupun kumengerti
tersesatkah aku di samudra hidupku

kata-kata yang kubaca terkadang tak mudah kucerna
bunga-bunga dan rerumputan bilakah kau tahu jawabnya
inikah jalanku inikah takdirku

kubiarkan kumengikuti suara dalam hati
yang slalu membunyikan cinta
kupercaya dan kuyakini murninya nurani menjadi penunjuk jalanku
lentera jiwaku

Dalam sepekan ini setidaknya ada beberapa orang yang kujumpai sedang merasa gundah karena merasa belum menemukan passionnya dalam hidup. Hidup dijalani namun belum bisa dinikmati sepenuhnya. Seolah masih berada dalam pencarian panjang tentang sesuatu yang menjadi visi dalam hidup. Berkiprah sebagai apa dan bagaimana yang mengakomodasi dan mengaktualisasikan seluruh potensi yang dimiliki diri serta merasa nyaman dan menikmati setiap tahapannya. Apa itu kondisi yang membuat seseorang merasa bahagia di bumi?

Continue reading “Lentera Jiwa”