Muslim Child Education in the Early Stage


Parents, ideally, has set up what kind of education their children would attain since the beginning. Going through parenthood is really challenging, that is why preparation crucial. The children’s growth and development goes once; no chance to redo it when there is a mistake. If parents neglect the children’s upbringing, the result would be disastrous. Nevertheless, it does not mean we all have to be perfect in the first place. Perfectness is a strange concept in humanity, indeed. There is nothing actually ideal in a world whose growth never reaches a final state.

Continue reading “Muslim Child Education in the Early Stage”

Filsafat Bahasa melalui Knuffle Bunny

Alkisah, suatu hari, Trixie, gadis kecil yang belum belajar berbicara, pergi bersama ayahnya ke tempat laundry. Ia membawa boneka kesayangannya, Knuffle Bunny. Sayang sekali, ketika pulang, bonekanya tertinggal di sana. Di perjalanan pulang, Trixie baru menyadari bahwa ia kehilangan bonekanya, lalu berkata pada ayahnya, “Aggle flaggle klabble!”. Tentu saja ayahnya tak mengerti apa yang ia maksud. Trixie lalu berusaha menyampaikan maksudnya dengan segala cara. Dia menunjuk-nunjuk ke arah laundry, menangis, menolak untuk berjalan, berusaha-menggapai-gapai, dsb. Ayahnya malah kebingungan dan tak mengerti apa yang diinginkan Trixie. Begitu sampai di rumah, ibunya bertanya, “Mana Knuffle Bunny?” Mereka pun segera kembali ke tempat laundry dan menemukan boneka Trixie di sana. Ketika melihat bonekanya itu, dengan riang trixie mengucapkan kata-kata pertamanya, “Knuffle Bunny.”

Continue reading “Filsafat Bahasa melalui Knuffle Bunny”

In the Attic

Beberapa hari lalu, aku mengunjungi Grebeg Buku.  Pameran buku tahunan di Yogyakarta ini dinamai begitu karena memiliki tradisi unik Grebegan. Kira-kira seribu buku disusun pada sebuah gunungan lalu orang-orang akan berebut untuk mengambil buku-buku tersebut.  Aku sendiri tidak hadir pada momen tersebut, jadi tak tahu bagaimana serunya rebutan buku gratis di pameran.

Berhubung tak ada anggaran khusus membeli buku pada bulan ini, aku sudah menegaskan pada diri sendiri untuk tidak membeli buku, bagaimanapun menariknya buku tersebut. Anggap sajalah tak ada uang, mau apa lagi? Tapi seperti diduga, memang ada sejumlah buku yang menarik hati, selalu begitu. Kali ini aku menemukan sejumlah referensi bagus untuk mendukung penulisan buku sains untuk pengembangan pola berpikir anak yang sedang kukerjakan.

Continue reading “In the Attic”

Belajar Sains

Apa yang terpikir bila “pelajaran sains” terlintas di benak?

Dua pekan lalu, adikku menghadapi ujian semester. Kulihat ia berkutat dengan buku pelajarannya, menghapalkan materi dari buku berjudul Sains untuk SLTP. Iseng-iseng kupinjam bukunya ketika ia beristirahat. Tak jauh beda dari buku milikku dulu. Padat informasi dan pengetahuan sains yang akan ditanyakan dalam kertas ujian. Kulihat halaman yang berisi soal-soal latihannya. Pertanyaannya didominasi oleh hal-hal yang jawabannya bisa langsung dikopi dari halaman-halaman sebelumnya.

Suatu ketika saat menyampaikan materi kaderisasi di himpunan mahasiswa, aku sempat bertanya,” apakah kalian merasakan manfaatnya pelajaran sains yang digeluti sejak sekolah dasar?”. Hampir semua peserta sepakat menjawab, “Ya!”. Ketika kutanya lagi, “ Kalau begitu siapa saja yang selalu mencuci tangan setiap akan makan atau senantiasa membuang sampah pada tempatnya?”. Kudapati beberapa orang nyengir, menangkap maksudku. Kuisengi lagi, “ Oh, ya tentu kalian pun rajin mandi karena tahu benar manfaatnya bagi tubuh kalian.” Derai tawa pun terdengar.

Penjelasan mengenai anggota badan dan menjaga kebersihan itu materi sains kelas satu SD, lho. Terus kenapa? Ya, jadi ketika saat kuliah tidak memanfaatkan pengetahuan sains tadi untuk menjaga kualitas hidup dalam hal ini kebersihan, apa yang salah? Belum mengertikah? Ah, masa iya?

Mulanya manusia belajar sains untuk lebih memahami alam dan semesta, hingga kehidupan akan lebih baik karenanya. Sebagai bagian dari alam, manusia menyatu dengan alam untuk menaklukkan alam. Sekarang ini sains hanya jadi beban belajar siswa. Memusingkan tanpa bisa ditangkap ilmunya, gunanya.

Lentera Jiwa

lama sudah kumencari apa yang hendak kulakukan
‘sgala titik kujelajahi tiada satupun kumengerti
tersesatkah aku di samudra hidupku

kata-kata yang kubaca terkadang tak mudah kucerna
bunga-bunga dan rerumputan bilakah kau tahu jawabnya
inikah jalanku inikah takdirku

kubiarkan kumengikuti suara dalam hati
yang slalu membunyikan cinta
kupercaya dan kuyakini murninya nurani menjadi penunjuk jalanku
lentera jiwaku

Dalam sepekan ini setidaknya ada beberapa orang yang kujumpai sedang merasa gundah karena merasa belum menemukan passionnya dalam hidup. Hidup dijalani namun belum bisa dinikmati sepenuhnya. Seolah masih berada dalam pencarian panjang tentang sesuatu yang menjadi visi dalam hidup. Berkiprah sebagai apa dan bagaimana yang mengakomodasi dan mengaktualisasikan seluruh potensi yang dimiliki diri serta merasa nyaman dan menikmati setiap tahapannya. Apa itu kondisi yang membuat seseorang merasa bahagia di bumi?

Continue reading “Lentera Jiwa”

Generasi di Ambang Pintu

Belum lagi masanya tiba,

masih berdiri di sini, menunggu.

 

Lihat! Itu generasi tua tergagap-gagap, sembunyikan borok.

Sedikit saja, cuma segelintir, yang tentram batinnya.

Hati miris melihat anak-anak muda terlahir cacat: sumbing nuraninya, lumpuh benaknya, buntung kejujurannya.

Sementara jiwa kita pun belum tentu selamat.

Kita, remaja tanggung, kadung lahir di kalatidha, hendak ambil alih dunia sekejap lagi

 

Berdiri di sini, di ambang pintu.

Menanti suara peluit, bersiap untuk aba-aba,

hingga…

“priiit…”, berlari, tempati setiap pos.

 

Dengan ilmu tergopoh-gopoh, pengetahuan setengah matang, kreativitas aktivis kampus yang terbiasa makan larangan.

Sejarah tinggal inspirasi, yang kita hadapi makin bikin pucat pasi.

Kali ini tak ada contekan atau solusi tahun kemarin.

 

Yang bisa dipegang tinggal kitab suci dan nurani,

itu pun bila belum tercemar nanah dan tinja peradaban ini.

Yang baik itu, yang Tuhan mau, yang manusia perlu.

 

Dalam gamang kita menerka, hendak apa kita di sana.

Peluh bercucuran makin deras,

dan inilah kita, dengan ijazah tergenggam, di ambang pintu, menanti giliran.

 

 

(Sunken Court, Juli 2010)