Ziarah Perpusnas

Cerita sedikit soal PNRI atau perpusnas, ah. Setelah bertahun-tahun tidak berkunjung (aaakkk… lebih dari lima tahun rasanya), akhirnya aku kembali muncul di sana.

Setelah berpanas-panas jalan kaki dari stasiun cikini (lalu nanti pulangnya jalan kaki ke stasiun manggarai, iseng banget karena penasaran sih belum pernah coba jalur jalan kaki ke manggarai, biasanya pp via stasiun cikini), akhirnya aku ngadem di perpus. Setelah itu membuat kartu anggota baru, pinjam kunci loker, baru login pengunjung.

Dengan pede-nya aku langsung menuju lantai III tempat penyimpanan koleksi dengan call number berkepala 740-an, yakni kategori decorative arts. Begitu masuk ruang baca, aku heran kok akses ke rak-rak bukunya ditulisi hanya boleh diakses petugas. Ternyata perpusnas sekarang menggunakan sistem tertutup. Akupun menghampiri petugas dan meminta tolong untuk mencarikan buku-buku yang ada dalam daftar yang sudah kusiapkan (sebelum datang ke perpusnas aku sudah mengecek ketersediaan buku yang kubutuhkan via katalog online PNRI). Tapi permintaanku ditolak dan katanya aku harus mengisi bon buku terlebih dahulu. Aku pun diminta untuk pergi ke ruang koleksi di lantai II. Kenapa aku tidak menemukan prosedur ini sejak dari lobby ya?

Di lantai II aku login lagi dengan menggunakan kartu anggota (sepertinya perpusnas membutuhkan data akses anggota ke setiap ruangan di sana, karenanya kita diminta untuk selalu melewatkan barcode keanggotaan perpus di mesin pemindai yang tersedia di setiap ruangan). Aku kemudian mengambil beberapa lembar bon buku dan mengisinya dengan keterangan lengkap (mulai dari judul, penulis, nomor panggil [call number ternyata maksudnya], dll.) yang sudah kusiapkan; satu lembar bon untuk satu buku. Lalu kuserahkan bon-bon buku itu untuk diverifikasi petugas. Bon-bon tersebut diserahkan kembali padaku setelah ia menandai lokasi lantai dan ruang tempat buku tersebut disimpan.

Di ruang yang dimaksud, aku login lagi. Lalu menyerahkan bon buku pada petugas. Petugas yang akan mencarikan buku itu di ruang tertutup, sementara aku menunggu dipanggil.

Petugas menyerahkan buku yang kupesan dalam bon buku. Lalu aku membacanya di meja. Untuk membuat copy beberapa halaman yang kita butuhkan, kita diminta membuat bon copy dan diserahkan pada petugas di ruang tersebut.

Kalau sudah terbiasa, mungkin pengaturan seperti itu bisa membuat nyaman ya, asal jangan ada petugas ruang baca yang mengobrol atau pengunjung lain yang berdiskusi (aku lupa bertanya apakah disediakan ruang khusus untuk berdiskusi di sana). Juga, jangan sampai ada ibu-ibu penjual gorengan masuk ke ruang baca menjajakan dagangannya pada petugas, karena aroma gorengan yang aduhai itu sungguh bisa mengganggu iman pembaca yang sedang tidak berpuasa 😂.

Identitas Buku dalam Kode

Aku menggunakan standar DDC (Dewey Decimal Classification) yang dimodifikasi sesuai kebutuhanku untuk mengatur koleksi buku, terutama e-book karena untuk buku fisik Sayangnya, beberapa kali menemukan kesulitan dalam pengkodean saat ada beberapa versi buku dari karya penulis yang sama atau penulis tersebut punya karya lain dalam kelas yang sama. DDC menjadi tidak cukup lagi. Perlu ada pengkategorian khusus.

Nah, belakangan aku tahu ternyata ada yang disebut dengan work mark. Metode ini memungkinkan adanya kode tambahan untuk kasus yang kusebut di atas sehingga setiap buku tetap spesifik.

Work mark biasanya dicantumkan setelah cutter number. Penemuan Charles Ammi Cutter ini memungkinkan buku-buku yang diklasifikasikan dengan DDC dapat diatur secara alfabetis. Caranya dengan menggunakan kode alfanumerik dari nama belakang penulis. Sangat membantu saat koleksi perpustakaan semakin besar. Sebenarnya bukan hal yang benar-benar baru. Di perpustakaan besar sistem ini sudah dipakai. Tapi aku baru mencari tahu tentang teorinya saat kebutuhan untuk mengatur koleksi pribadi makin mendesak. Terutama untuk koleksi e-book, heu.

Satu lagi, untuk buku fisik kadang kutemukan ukuran buku yang sangat bervariasi sehingga merepotkan saat mengaturnya di rak. Meski sebetulnya sudah rapi, dalam artian berada pada kelas yang tepat, tapi ukuran yang beragam mengganggu persepsi kerapian visual. Ternyata, sudah ada juga size designation yang digunakan untuk mengatur buku di perpustakaan. Berikut ini yang digunakan oleh Asosiasi Perpustakaan Amerika.

image
http://www.trussel.com

Jadi memang ada rak-rak khusus untuk menyimpan buku-buku besar. Kalau di perpustakaan besar, masalahnya bukan lagi sekedar persepsi visual tapi bercampurnya buku-buku besar di rak yang kecil akan mempersempit lorong atau mengganggu jalannya kereta buku pada waktu shelving, bahkan bisa berbahaya karena rawan jatuh, dsb. Sementara menyeragamkan ukuran rak agar mengakomodasi setiap buku besar yang menyelip juga bukan pilihan ekonomis dan estetis.

OSPEK NGAYOGYAKARTA

Hari ini (7 Desember 2011) aku memulai OSPEK (Orientasi dan Pengenalan Kota) di tempat tinggalku yang baru. Terakhir kali aku melakukan ini sekitar tujuh tahun silam di kota Bandung. Waktu itu, selama dua hari aku menumpang angkutan dalam kota, mengenali lingkungan, menandai  lokasi tempat-tempat penting yang sekiranya dibutuhkan selama aku tinggal di kota itu.

Continue reading “OSPEK NGAYOGYAKARTA”