Berpisah itu baik buat kita

Berpisah itu baik buat kita

Bagiku, yang siang telah menjadi masa lampau, hidupku tinggal menyambut gelap

Aku tak ingin membawamu,

di sana kau akan jadi buta

Aku mungkin akan lelap, nyenyak dibuai gelap,

Tapi kau dengan siang dalam dirimu, terpaku terperangkap

tak mampu berbuat apa-apa, takkan ada ruang untuk gemerlap

Aku bahkan takkan terjaga oleh sinarmu, kau tinggal sendiri, dengan sinar dalam dirimu

Berpisah baik buat kita, karena dalam diri kita tumbuh zaman yang berbeda

Aku tak pernah tahu jawaban atas segala tanya

yang muncul dalam bentangan

Namun tetap kita harus putuskan

Maka aku tetap berjalan dan kita berpisah di sini

Kau bertanya apakah berat bagiku dan aku bersedih

Kujawab mataku menjadi ringan setelah melepas bebannya

Sementara sedih hanyalah sebuah kata

Suara Gitanjali


Dalam kerinduan pada entah, sembari menatap  hampa yang memekat, rasanya seperti mendapatkan lagu yang tepat dengan suasana hati, kala bersitatapku dengan sejumlah bait dalam Gitanjali. Ya, Gitanjali karya Rabindranath Tagore, yang berbunyi:

 

Hanya cinta yang sedang kutunggu agar akhirnya dapat kuserahkan diriku ke dalam tangannya. Karena itulah mengapa begitu terlambat  dan mengapa aku dipersalahkan.

Mereka datang bersama hukum-hukum dan undang-undangan untuk mengikatku erat-erat, tetapi aku selalu menghindar. Karena hanya cinta yang sedang kutunggu agar akhirnya dapat kuserahkan diriku ke dalam tangannya.

Orang banyak menyalahkan aku dan menyebutku tak peduli, dan aku tak ragu mereka benar dalam hal itu.

Hari perayaan telah usai dan kerja yang menyibukkan telah berakhir. Mereka yang menyebutku gagal telah kembali pulang dalam kemarahan. Tapi hanya cinta yang kutunggu agar akhirnya dapat kuserahkan diriku ke dalam tangannya.*

 

Aduh, diriku menanti cinta pula. Semangat dalam hidup  yang membuat arti tiap kali membuka mata. Jatuh cinta setiap pagi sejak kuserahkan diri di tangannya. Kerja dan hidup macam apa yang bisa menjelmakan makna sedemikian penuh. Ini soal menjadi apa, bukan bersama siapa. Dunia apa yang bisa kuterjemahkan sebagai rumah cintaku. Dari sekian banyak penarik hati, tangan manakah yang paling tepat kuraih dan kuserahkan diriku. Kutetapi sulit mudahnya. Kuhadapi badai damainya. Yang menjadi alasan khusus aku dan segala dalam aku diwujudkan Yang Kuasa. Di mana relungku di jagat ini.

 

Aku diburu waktu. Napasku tersengal berbalapan derasnya aliran butiran pasir. Namun pada mata mereka, aku hanya termangu bodoh karena terus menunggu, sementara mereka pontang-panting berlari pagi petang. Tiada yang mendengar, dalam diriku ombak berderu, berpacu seru. Dalam menunggu tiada damai. Dalam menunggu risau menggaduh, gundah meriuh. Menghentak-hentak jiwa. Menendang-nendang kuat seolah hendak lompat dari tubuh yang terpaku, termangu.

 

Aku harus mulai melayarkan kapalku. Saat-saat yang membosankan berlalu di pantai-aduh diriku!

Musim semi setelah selesai memekarkan bunga-bunga ia pergi. Dan kini dengan sambil membawa bunga-bunga layu dan pudar aku menunggu dan termangu.

Ombak-ombak menjadi gaduh, dan di pantai yang berpohon-pohon rindang, daun-daun kuning menggelepar dan gugur ke atas bumi.

Kekosongan apa yang kini kau pandang! Tidakkah engkau rasakan getaran yang sedang melintas udara bersama nada-nada lagu nun jauh di sana mengalun dari pantai yang lain?**

 

* kidung ke-17

**kidung ke-21

Memahami Puisi Secara Semiotik

Bagaimana kita memaknai puisi? Dari sudut pandang semiotik sebagaimana yang dirumuskan oleh Riffaterre, hal ini setidaknya dilakukan dalam dua tahapan. Yang pertama adalah pembacaan heuristik dan dilanjutkan dengan pembacaan hermeneutik atau disebut juga retroaktif.

Continue reading “Memahami Puisi Secara Semiotik”

Selepas Sekolah

Mereka bertanya kemana aku ‘kan pergi;

kujawab: hendak belajar.

 

Dan mereka bertanya lagi: Oh, S2-kah?;

kujawab lagi: tak hendak kukejar gelar.

 

Mereka tetap memberiku soal: lalu bekerja di mana?;

kujawab lagi: ah, belajar itulah kerjaku.

 

Merasa gagal bertanya, lantas menduga: ah, kau akan menikah;

Hahaha, tertawa lepas aku,

dan kujawab lagi: ilmu itu hidupku, aku sudah menikahinya.

 

Kapok bicara, bertanyalah mereka lewat kening berkerut dan tatapan ganjil;

tak ketinggalan senyumku, aku berlalu, kuteriakkan: aku akan terus belajar!

tanpa balik badan.

little prince

Ada resah, menyemai gundah

kuhela napas dan berhenti bertanya,

lega rasanya, tapi hampa.

Kalau tak boleh bertanya, buat apa ‘?’ dicipta

 

Kupilih pulang dan tetap bertanya,

mungkin ia di sana,

sahabatku akan menjawabnya, atau menemaniku dalam resah

walau terkadang langkah tertahan dan bertubi-tubi godaan hati untuk kembali

karena ragu ia menunggu.

 

ah, betapa hidup sungguh mudah

bila gundah ini tiada.

buat purnama yang mengantarku pulang

Gelisah

kemana kubawa gundah ini
pada manusia yang alpa?
mereka dengan karat-karat di hati,
yang sibuk bermesra dengan mimpi.

kemana kubuang keratan duka
pada cawan sejarah?
lembaran kertas?
dalam ceruk kepiluan?
di jalan bisu?

kemana kualirkan air mata
pada wajah penuh kerut?
belaian setengah hati?
atau sungai sesalan?

kemana kuserahkan diri
pada kekasih yang fana?
masyarakat yang tak peduli?
tubuh bangsa yang sakit?
tegakah kubebani orangtua yang penuh dukanya?

ku tahu kemudian
hanya Kau jawabnya

Surabaya,4 Agustus 2008


Telegram buat Tuhan

GAWAT TITIK SUCIKAN AKU ADA NODA DI IKHLASKU

dikirim 3 November 2009 dari Bandung

tak bisa tidur lagi

1

pagi lagi, bangun tak kau?

selamat malam, oh tidak, selamat pagi kiranya lebih cocok saat ini
maaf aku tak jeli membaca waktu
memang masih gelap tapi hari telah berganti
masih beginilah pula kita?
dalam selaput sel malam yang nyaman
membuat terpejam, padahal semua di luar sana ‘tlah berubah
bergegas mencari bentuk barunya
dan kau? ha! menggeliat pun enggan

hayo bangun!
tak kau peduli ayam pun ‘tlah malas berkokok untukmu
aku tak bisa tidur lagi, tak juga kausadari itu berkat kau!
tak habis pikir kenapa bisa kau ngorok berjam-jam, bikin mataku susah lagi terpejam

hei,bangun cepat
pagi sebentar lagi nyata
maukah kau lewatkan rezeki ditabur di atas jagat
seperti ‘kmarin, dan kemaren lagi, kemarinnya lagi?
canggih betul setan yang kencing di kupingmu

ya Tuhan, berkatilah kami! bangunlah kau atau…
kusiram!

2

ah, mengapa begitu senang bicarakan masa lampau
ia mungkin memesona, tapi tenggelam di sumur kenangan
apalagi jika menggurat luka
rasa sakit tak tinggal di hari kemarin

mengapa pula senang berandai, jika dahulu…
yang lalu bukan milikmu.
masa muda hanya umur yang ‘tlah lewat
saat itu terlepas jauh kini

hai, adakah kau tahu?
sejarahku dan dirimu
tentang mereka dan kita
hanya akan berarti dalam wacana kini
andai kau baca sebagai hikmah
‘tuk bangun masa depan
bukan mengoreksi yang lampau

sesal, sesal, sesal
takkan datang di muka
begitu ayahku berkata.
namun salah kepalang jadi,
apa boleh buat?
jangan saja kau ulang soal itu.
itulah beda kau dan keledai
yang satu selamanya dungu, yang satu bisa belajar asal mau

tak banyak tempo tergenggam kini
baterai hidup kita ‘unestimated‘ istilahnya
maka bergegaslah, laksana cahaya
berkelebat tinggalkan jejak indah pada kosmos peradaban
yang lampau biar menggantung di ekormu
hadapkan wajahmu ke muka
pada sapaan tantangan baru


3

hari ini, hari inilah

hari ini sayangku, kita janji bertemu hari ini tepat di sini
oh tidak, jangan lagi… jangan lagi bawa kemarin, bawa dulu, bawa lampau, bawa lalu
hari ini saja untuk kita

di telpon kau janji padaku, yang telah dilewati… katamu
ah ya sudahlah, biar semua berlayar menjauh pada sungai kala
semakin berjarak dengan kita
dan kini, kembali kau tak konsisten
oh Tuhan, lihatlah dia…
bosan kuingatkan kau sempitnya waktu kita

aku minta rencana bukan kenangan
aku mau masa depan bukan nostalgia
berjalan maju denganku atau enyahlah kau berjalan mundur
sana di belakangku

dulu, kau bilang kita pernah jaya
iya,iya tapi aku ingin dengar kapan kita digdaya lagi
dulu kita tanggung kekalahan berat, ucapmu lagi
iya, iya, tapi kuingin tahu kapan kita bayar tuntas hina itu
dulu kita hebat
iya,iya,aku mulai tak sabar,aku cuma ingin kepastian
kapan kita jadi kuat lagi, titik.

sejarah dibuka untuk merancang napas yang baru
bukan tenggelamkan dirimu dalam comberan angan
oh sudahlah, berjalan denganku atau…atau…
busuklah kau pada jikalau-mu.

padaintan, 16 maret 2009