Pulang (2)

Sekali waktu aku melangkah ke luar rumah, kupikir ini hanya kepergian sementara. Tak lama setelah beberapa urusan selesai aku ‘kan kembali. Akan pulang. Tetapi di luar, yang kujumpai ternyata kenyataan bahwa satu tapak membuka pintu pada tapak-tapak lain yang makin menjauh dari apa yang mulanya kusebut rumah. Semakin lama semakin kusadari bahwa perjalanan ini bahkan mungkin takkan pernah berakhir. Dengan waktu yang singkat, luasnya tanah terhampar di hadapan, apakah akan ada waktu untuk benar-benar pulang, ketika lelah, lalu beristirahat yang penghabisan. Kemudian aku sadar bahwa sejak awal aku tidak memulai perjalanan ini dari rumah. Rumah dan pulang yang sesungguhnya bukan yang pernah kualami. Sejak awal kesadaran ini muncul aku harus selalu siap dengan kondisi berjarak dari akar. Sesuatu yang kudapatkan sebagai anugrah.

Tanda Tanya bagi Perempuan

 

Sudah memasuki lembar kesekian dan aku terus saja menulis bagai orang rakus, seolah nyaris kehabisan waktu. Karena lapar. Karena rindu. Karena terlalu lama membiarkan kata-kata ini berputar di benak dan kemudian memadatinya. Meski tak banyak pengetahuan baru yang kudapat. Akupun tak yakin ada cukup renungan berharga yang dapat dibagi. Aku hanya ingin menulis.

Continue reading “Tanda Tanya bagi Perempuan”

liebe tochter

Saat itu aku terpaksa bertolak. Kutinggalkan kalian, lepas dari tanganku. Aku bukan ibu sesungguhnya dan masih harus menapaki jalanku sendiri. Mencari terang dan mengejar angin yang berlari.

Mungkin aku terlampau egois dan keras kepala tapi tak ada lagi yang sanggup menahanku. Sementara aku tahu, kalian dengan kekuatan sendiri masih akan sanggup berdiri.

Degup rindu, satu atau dua kali berdentum keras. Tapi aku harus kuat agar tak lenyap. Kuminta kalian tetap tegap. Begitulah persatuan adanya, tak pernah kekal.

Belanja

Belanja seringkali diidentikkan dengan perempuan. Beberapa penelitian berikut menegaskan hal tersebut:

1. Berdasarkan hasil survei GE Money yang dilakukan 2006, seorang perempuan mampu menghabiskan waktu belanja rata-rata selama 25.184 jam 53 menit dalam 63 tahun masa hidupnya. Dari survei yang dilakukan terhadap 3.000 perempuan tersebut menunjukkan, kaum perempuan dapat melakukan aktivitas belanja sebanyak 301 kali tiap tahun, dengan total waktu hingga 399 jam 46 menit. Artinya, hampir setiap hari seorang perempuan akan berbelanja.

Continue reading “Belanja”

Uang dan ketergantungan

Suatu hari kubaca pernyataan seorang kawan bahwa orang yang paling banyak memiliki uang adalah orang yang hidupnya paling bergantung pada orang lain. Tesis yang menarik, kurasa. Selama ini banyak orang berpandangan uang adalah lambang kekuasaan—dan memang begitu adanya—, dengan uang banyak hal bisa didapatkan dengan mudah. Bahkan beberapa kali hukum pun bisa dibeli.  Nah, dengan pernyataan ini kekuasaan tadi dijalin erat dengan keadaan lain: ketergantungan. Sementara ketergantungan merupakan keadaan yang memiliki makna hampir bertolak belakang dengan kekuasaan. Bagaimana bisa sesuatu dengan kuasa besar juga mengondisikan ketergantungan besar?

Continue reading “Uang dan ketergantungan”