Jauhnya Jarak Satu Klik

Media sosial benar-benar telah mengubah profil relasi antarmanusia saat ini. Bisa dibilang sudah hampir tak ada lagi hubungan langsung antarindividu. Setisp orang menjadi “humas” dirinya sendiri. Berkomunikasi saat ini adalah menyiarkan berita, bisa saja disebar pada lingkaran tertentu atau publik secara umum. Teknologi sudah meringankan beban kita untuk mengingat dengan siapa saja kita perlu berbagi suka atau duka. Semua diatur oleh “manajer humas” yang sudah kita arahkan saat kita mengatur mode pertemanan, menyetujui atau menolak permintaan pertemanan dari seseorang. Informasi seolah bisa kita atur peredarannya dalam lingkup yang kita inginkan, ya, selama tidak memantik ketertarikan orang lain dalam rantai yang panjang hingga disebar berulang, dan muncullah fenomena yang kita kenal sebagai “viral”.

Di sisi lain, orang yang menolak untuk ikut serta dalam budaya baru ini, dianggap menghilang. Seperti selebritis yang lama tak muncul di televisi. Dulu kita katakan yang seperti itu menghilang, tak ada kabarnya. Di luar kenalan pribadi sang seleb, karena tak kenal langsung, kecuali fan fanatiknya mungkin tak ada yang akan mencari tahu kabar sang seleb. Cukup puas dengan menyematkan status “menghilang”, mungkin dengan tambahan embel-embel “dari layar kaca”. Kini, yang “menghilang” bisa siapa saja. Bahkan kawan—yang pernah—dekat ketika kemudian tinggal berjauhan, tenggelam dalam urusan masing-masing, bisa dianggap hilang meski tetap tinggal di alamat yang sama dan dapat dihubungi di nomor telepon yang diketahui aktif. Hanya karena tak ada “update status” atau broadcast apapun dari yang bersangkutan.

Mungkin bisa jadi pembelaan bahwa, keputusan untuk meninggalkan platform medsos populer adalah “memilih untuk tidak tahu dan tidak memberi tahu”. Sehingga, sudah otomatis bahwa ketertinggalan info, termasuk info personal, adalah resiko yang mesti ditanggung. Tidak ada lagi yang mengingat kawan lama atau saudaranya karena tugas itu sudah diserahkan pada “humas” yang mengelola friendlist. Jangan bilang kau tidak diundang pada pernikahan seseorang jika belum mengecek notifikasi medsos dari akun ybs. Mungkin dia membuat grup undangan. Jangan salahkan kenapa tidak ada undangan fisik yang dikirim atau mungkin e-card yang dikirim lewat surel. Karena mungkin dia tidak membuat jenis undangan itu sebagai ujud kepraktisan. Ah, masa sih, tak ada undangan sama sekali? Sulit memang ya, menerima kemungkinan itu, ya mungkin undangan tercetak dalam jumlah sangat terbatas, dan kamu tidak tercantum dalam daftar VIP. Kan bisa kirim surel. Surel, surel melulu! Kamu hidup di zaman apa sih? Jangan-jangan kamu masih menunggu balasan diskusi di milis?! Oh-my-god! Lagipula, kalaupun diundang, apa kamu menjamin selalu berkesempatan datang? Punya ongkos? Punya waktu? Atau kamu mengharapkan e-card untuk akhirnya dibalas dengan surel permohonan maaf tidak bisa hadir?

Ya, kamu masih bisa memulai untuk mengontak duluan beberapa orang yang masih kausimpan nomor telponnya. Tapi belum tentu mereka nyaman dengan media seperti itu. Atau mengirim pesan lewat SMS dan yah, surel! Tapi, jangan berharap banyak mendapat balasan. Tak semua orang masih rajin mengecek dan membalas email pribadi. Kotak SMS hanya dibuka untuk didelete. Urusan makin banyak, wacana juga makin liar, semakin banyak pengalih perhatian dari orang-orang yang keterhubungan emosinya hanyalah masa lalu. Mereka yang masih dibutuhkan saat ini akan selalu tetap dicari dan dipertahankan, bagaimanapun mode komunikasinya. Terimalah bahwa kamu bukan semacam operator layanan perbankan yang pasti akan dihubungi customer yang terblokir PIN-nya, karena tak ada jalan lain untuk menyelesaikan masalah tanpa menghubungi nomor telponnya.

Bagaimanapun, di luar rangkaian revolusi teknologi yang mengubah perilaku manusia, tak ada yang dapat menerka bagaimana mereka menyimpan perasaan satu sama lain di masa datang. Orang-orang yang dianggap penting dapat bertukar, berganti. Mungkin kesengajaan karena ada ketidaknyamanan yang selama ini terpendam. Atau mungkin hanya imbas teralih teknologi, ketertarikan lain, hal penting lain. Kamu bisa mencintai siapapun sepenuh hatimu, tapi cintamu tak bisa mendikte hatinya untuk merasakan hal yang sama. Setiap orang bergulat dengan pertarungannya masing-masing. Ada yang tak kaumengerti dari pilihan mereka. Lebih banyak lagi pertanyaan yang mereka simpan untuk dirimu. Tapi mereka tak bertanya. Ya, karena mungkin alasan menyimpan pertanyaan itu adalah dirimu juga. Adakalanya mengabaikan adalah upaya menjaga. Jadilah orang baik, karena semua orang sudah memiliki luka. Jangan menuntut yang tak bisa kauberi. Jangan menaruh standar moral untuk orang lain atas dirimu, lakukan sebaliknya. Gunakan standarmu untuk memperlakukan orang lain sebaik yang bisa kau cerna. Mereka memiliki standar dan prioritas sendiri. Karena semua itu sebetulnya bukan urusanmu dengan mereka. Jadi, jangan kecewa karena telepon yang tidak diangkat, SMS tak terbalas, atau surel yang-mungkin-masuk kotak spam.