4 Langkah Panduan untuk Transformasi Diri

4 Langkah Panduan untuk Transformasi Diri (Catatan Webinar Bayyinah Institute, bersama Ust. Nouman Ali Khan, 1 April 2017)

Surat al-Jumu’ah, surat ke-62 dalam al-Qur’an termasuk  kelompok musabbihaat, sebuah kelompok surat yang dimulai dengan penyebutan pengagungan Allah (Arab: الْمُسَبِّحَاتِ‎‎) ‘Subhana’, ‘Sabbaha’, atau ‘Yusabbihu’. Pada ayat pertama yang artinya “Senantiasa bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” disebutkan nama-nama Allah yang menggambarkan kesempurnaan-Nya. Empat nama Allah tersebut antara lain:

  1. Al-Malik: artinya Sang Maharaja; Imam Fashluddin ar-Razi menyebutkan bahwa nama Allah ini berkaitan dengan konsep-konsep yang biasa disematkan atau berlaku di dalam kerajaan/terhadap raja seperti protokoler, penghormatan, formalitas, penyanjungan pada keningratan.
  2. Al-Quddus, artinya Yang Maha Suci. Mengandung makna murni, bebas dari segala cacat sedemikian sehingga kehadirannya/pendampingannya sangat diharapkan. Karakternya begitu luar biasa.
  3. Al-Aziiz: artinya Yang Maha Perkasa. Seakar dengan kata izzah yang artinya  dignity, authority that all of us respect, otoritas yang kita hormati secara otomatis karena melingkupi banyak hal tanpa ada keraguan lagi.
  4. Al-Hakim, artinya Yang Maha Bijaksana; bijak bestari biasanya satu dari seribu atau lebih langka lagi, tidak mudah dijumpai. Namun karena sedemikian berharga nasihat dan petunjuknya sehingga tidak ingin melewatkan momen sesingkat apapun untuk menjumpainya.

Jika kita cermati, keempat nama Allah tersebut memiliki pola pasangan. Pertama adalah al-malik dengan al-aziiz, relasi yang dibentuk dari dua nama ini merupakan relasi berjarak. Di depan raja atau suatu otoritas, kita merasa rendah dan tunduk. Kita menghadapnya dengan formalitas tertentu. Di hadapan Allah kita merendahkan diri sebagai hamba-Nya, merasa takut pada kuasa-Nya.

Kedua, pasangan al-quddus dan al-hakim, yakni kesucian dan kebijaksanaan. Berhadapan dengan kedua atribut ini, relasi yang dimunculkan berkesan lebih dekat, dan akrab. Dekat dengan Allah dalam konteks ini berarti dekat dan terkoneksi di dalam hati.

Dua pasangan asmaul husna ini menggambarkan relasi dekat sekaligus berjarak antara Allah dengan hamba-Nya. Kita takut, segan, malu, tapi juga merasa terpaut dalam hati, rindu kepada-Nya. Hubungan ini tergambar dalam istilah khauf dan raja’.  Kedua pola relasi ini mutlak dibutuhkan dan dijaga. Ketiadaan salah satunya merupakan ketimpangan yang berbahaya. Jika kesan dari pasangan pertama yang dominan, kita hanya memandang Allah sebagai otoritas dengan segala aturan kakunya yang harus ditaati dengan rasa takut. Kita akan menjadi putus asa dari rahmat-Nya. Sementara jika pola kedua mendominasi kita akan menjadi terlalu longgar menjalankan perintah-Nya, pun ketika menjaga diri dari larangan-laranganNya. Dengan mudahnya kita akan merasa Allah akan mengampuni karena ia Mahakasih pada kita. Sebagaimana halnya seorang guru di kelas yang terlalu keras akan membuat muridnya semata mengerjakan tugas atau belajar untuk menghindarkan diri dari murkanya, tanpa banyak berpikir mendalam tentang manfaat ilmu yang dia pelajari atau bagaimana menghayatinya dalam hidup. Sementara guru yang terlalu santai dan lunak pada muridnya, akan membuat para murid ‘melunjak’ sehingga membuat mereka lalai dengan tidak mengerjakan tugas, dan lain sebagainya. Ilustrasi terkait pola relasi ini juga tergambar pada Q.S. Thaha, yakni pada kisah Musa a.s.

Kemudian dalam surat tersebut disebutkan empat tugas Rasulullah SAW:

” Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata,” (Q.S. al-jumu’ah:2)

  1. Membacakan ayat-ayatNya.— membacakan al-Quran pada kaum-Nya sebagai bukti bahwa ia adalah utusan-Nya. Ayat dapat juga dimaknai tanda-tanda.
  2. Pemurnian jiwa.—membersihkan dan menyucikan karakter mereka sehingga menjadi lebih kuat, lebih baik
  3. Mengajari hukum-hukum.—bukan semata mendeklarasikan atau menyebutkan/memberitakan/mengumumkan hukum-hukum. Akan tetapi mengajari bermakna menjalankan suatu proses hingga hukum-hukum dipahami dan dilaksanakan dengan ringan. Aisyah berkata: andaikata hukum pertama yang datang pada kami adalah pengharaman khamr, tentu takkan ada yang mematuhinya.
  4. Mengajarkan hikmah.—al-Qur’an akan selalu membukakan pintu dan pintu berikutnya. Takkan habis/selesai didalami.

Ada sebuah analogi menarik terkait proses yang dijalani Rasulullah SAW dalam menjalankan tugasnya ini

Ust. Nouman menggambarkannya seperti datangnya utusan raja ke daerah pedalaman untuk menyampaikan keberadaan raja yang menguasai wilayah mereka dan mengajaknya untuk tunduk. Dalam misi sedemikian itu sang utusan mestilah menggambarkan kedigdayaan sang raja, keluasan kuasanya, kedigdayaannya, sehingga mereka takjub dan mau mengakui posisinya. Sang utusan pun hadir sebagai representasi hamba yang mengabdi pada raja tersebut dan diharapkan menjadi teladan bagi calon pengikut lainnya. Setiap kuasa mesti memiliki aturan tertentu atas subjeknya, namun ketundukan tulus tidak akan dicapai dengan pemaksaan sekehendak. Karena itu, sang utusan pun membangun cinta terhadap sang saja dengan memberi tahu dan menyadarkan orang-orang di wilayah tersebut atas kebaikan dan perlindungan yang mereka rasakan selama ini sebagai pemberian sang raja. Ia juga membangun kebertautan hati mereka dengan memberitakan kemurahan-kemurahannya. Barulah setelah mereka siap, hati mereka disucikan, hukum-hukum diajarkan. Secara bertahap hukum dikenalkan dan dibiasakan, hingga menjadi norma dan institusi. Kemudian, hikmah menyusul. Hikmah adalah pandangan yang lebih dalam menuju hakikat, sehingga menghasilkan kebijakan dalam penerapan hukum. Berhikmah berarti memiliki pemahaman yang tepat mengenai penerapan hukum, jadi tidak asal memberlakukan hukum, istilah lainnya mempertimbangkan konteks.

Dalam lanjutan surat al-Jumu’ah disebutkan kembali asma Allah tersebut, namun kali ini hanya dua diantaranya:

“…dan (juga) kepada kaum yang lain dari mereka yang belum berhubungan dengan mereka. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Q.S. al-Jumu’ah: 3)

Ustadz Nouman menyampaikan bahwa penekanan dua asma di akhir ini terkait dengan kaum yang disebut “yang lain dari mereka yang belum berhubungan dengan mereka”. Mereka adalah kaum akhir zaman yang perlu diingatkan lagi terkait kesetimbangan hukum dan hikmah. Semakin lama, umat Nabi Muhammad Salallahu alaihi wasalam semakin bergulat tentang perkara mana yang boleh atau tidak, hukum syariat yang perlu ditegakkan seolah-olah hukum adalah keseluruhan dari agama itu sendiri. Terkait hal ini, pengingat ini menjadi penting, dan Allah menekankan kondisi demikian akan terjadi (sudah terjadi) dengan memberi penekanan pada kedua aspek tersebut.

Nah, lalu pelajaran apa yang dapat kita ambil? Dari empat langkah tugas Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam itu, dapat kita simpulkan empat langkah mengubah diri hingga menjadi umat yang diridloi Allah. Kita harus memulai prosesnya dari sendiri. Dimulai dari berinteraksi dengan kalamullah, membaca ayat-ayat-Nya, mendalami, mempelajari maknanya, dan mengenal nilai kemukjizatannya membawa kita mendekat pada Allah dan berupaya merasakan kasih-Nya dengan menurunkan petunjuk bagi kita. Lalu kita melakukan upaya kontinu membersihkan dan menyucikan jiwa kita. Kita bisa mempelajari asma Allah, memahami maknanya lalu mencari nilai yang bisa kita terapkan pada diri kita. Membersihkan diri dari hawa nafsu bukan hal mudah, mengosongkan hati dari selain mengingat Allah perlu latihan terus-menerus. Kitapun tidak bisa merasa sudah dekat dengan Allah lalu mengabaikan hukum-Nya. Syariah adalah garis yang ditetapkan Allah untuk kita jalani. Banyak-banyak menghadiri majlis ulama untuk mempelajari hukum-Nya dan mengamalkannya adalah tugas kita. Kemudian bukan pula berhenti di sana, mengetahui hukum tak cukup karena bisa saja kita tak tepat mengamalkannya, tidak sesuai konteks. Kita harus mengikuti sunnah Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam sebagai hikmah penerapan hukum; memohon bimbingan dan hidayah terus menerus pada Allah dalam ketaatan pada-Nya; mengikuti jejak orang-orang berilmu yang shalih dalam ketakwaan mereka. Dengan proses seperti itulah Islam akan dapat menjadi agen pengubah diri kita. Muslim bukan semata label, tapi merupakan jati diri kita. Al-qur’an menjadi telaga yang tak habis-habis membuka pintu hikmahnya selama kita mempelajarinya terus-menerus…

Siapakah Kaum Tak Beriman Itu? (7/8)

Diterjemahkan dari Who Are the Disbelievers?”  (Hamza Yusuf) 
oleh Rira Nurmaida

Terjemahan ini merupakan rangkaian dari delapan bagian pembahasan 
dalam makalah asli oleh Syaikh Hamza Yusuf yang dimuat 
pada Jurnal’ Season’ terbitan Zaytuna Tahun 2008.

Relasi Muslim dengan Orang-orang Berkeyakinan Berbeda

Tuhan dalam Islam adalah Tuhan seluruh manusia—Tuhannya Orang Yahudi, orang Kristen, Sabi’in, Majusi, serta Musyrik. Dia memberi makan dan merawat mereka dengan belas kasih dan murah hati. Dia bahkan membiarkan mereka yang tidak mengakui-Nya dengan alasan “ada kemungkinan mereka akan kembali”. Ia menantang mereka yang beriman pada-Nya dan mengagungkan-Nya untuk menyematkan dalam diri mereka sifat-sifat yang dipilih Tuhan untuk menggambarkan diri-Nya: pengasih, penyayang, pemaaf, sabar, penuh belas kasih dan cinta.

Rasulullah Salallahu ‘alaihi wasalam bersabda, “ Tak seorangpun dari kalian benar-benar beriman hingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai bagi dirinya sendiri.” Imam al-Nawawi menyatakan hal berikut dalam penjelasannya:

“Hal ini pertama-tama haruslah dimaknai sebagai persaudaraan universal sehingga ia mencakup muslim dan nonmuslim (kafir). Seseorang seyogyanya menginginkan bagi saudaranya nonmuslim bahwa ia akan berserah diri pada Tuhan-Nya. Sementara bagi saudara muslimnya, ia menginginkan bahwa kondisi seperti itu berlanjut. Berdasarkan alasan ini, mendo’akan nonmuslim untuk mendapatkan hidayah sangat dicintai dan diberi pahala oleh Tuhan. Hadits di atas semestinya dipahami untuk menegasikan keutuhan iman, dan bukan beriman atau tidaknya itu sendiri bagi seseorang yang tidak mencintai bagi saudaranya apa yang ia cintai bagi dirinya sendiri. Lebih jauh lagi, makna cinta di sini adalah seseorang menginginkan kebaikan dan manfaat bagi orang lain. Ini merupakan cinta spiritual dan bukan cinta natural. Manusiawi bahwasanya jika seseorang tidak menyukai hal baik atau keistimewaan terjadi pada orang lain dan bukan pada dirinya sendiri. Tapi seseorang harus melawan kealamiahan ini dan menentangnya dan berdo’a bagi saudaranya dan keinginan bagi sesamanya apa yang ia cintai bagi dirinya sendiri. Kapanpun sast ia tak mampu melakukan hal tersebut, hal itu karena ia iri… Karena itulah seseorang harus melatih diri dan memaksa egonya untuk merasa cukup dengan keputusan Tuhan dan menentang egonya sendiri dengan berdo’a bagi musuh-musuhnya.[48]”

Hanya ketika kita meraih level keimanan dan toleransi sebagaimana yang dijelaskan Imam Nawawi inilah maka kondisi kita akan berubah. Kita berada dalam kondisi rendah dan tertekan karena itulah tempat di mana kita dapat mempelajari pelajaran yang kita butuhkan. Muslim lupa bahwa Rasulullah salallahu ‘alaihi wasalam mengalami siksaan di Mekah selama tiga belas tahun, namun ia masih mendo’akan kaum-Nya untuk mendapatkan hidayah. Beliau mengalami kekerasan di pertempuran Uhud dan masih berdo’a, “Oh Tuhanku, ampuni kaumku karena mereka tak tahu apa yang mereka lakukan.”[49] Inilah yang diajarkan pada kita untuk merespon nonmuslim. Perhatian utama kita semestinya bukanlah perihal kemana orang akan menuju, tidak pula kita menginginkan bagi orang lain apa yang tidak kita inginkan bagi diri sendiri. Namun justru, perhatian kita seyogyanya sebagaimana yang dipertanyakan Tuhan pada kita semua: “Kemanakah kamu akan menuju?”
[48] Al-Nawawi, Sharh matn al-arba’in al Nawawiyah (Damascus: Maktabah Dar-al Fath, 1970), 123.

[49] Sahih Muslim, Bab Jihad, No.4418

Siapakah Kaum Tak Beriman Itu? (6/8)

 

Diterjemahkan dari Who Are the Disbelievers?”  (Hamza Yusuf) 
oleh Rira Nurmaida

Terjemahan ini merupakan rangkaian dari delapan bagian pembahasan 
dalam makalah asli oleh Syaikh Hamza Yusuf yang dimuat 
pada Jurnal’ Season’ terbitan Zaytuna Tahun 2008.

Siapakah Yang Ditakdirkan Masuk Neraka

Al-Qur’an secara spesifik  menyatakan bahwa orang-orang kafir akan berada di neraka. Karena terdapat kesepakatan secara hukum bahwasanya Yahudi dan Kristen secara hukum terkategori kafir (bukan terhadap Allah, akan tetapi terhadap kenabian Rasulullah SAW), kebanyakan muslim menjadikan pendapat ini sebagai dasar bahwa mereka (Yahudi dan Kristen, pen.) akan menjadi penghuni neraka. Lebih jauh lagi, ada juga ayat-ayat yang mengindikasikan bahwa orang Kristen yang meyakini trinitas akan berada di neraka, “ Sungguh telah kafir orang-orang yang berkata, “Sesungguhnya Allah itu dialah al-Masih putra Maryam.” Padahal al-Masih (sendiri) berkata, “ Wahai  Bani Israil! Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu.” Sesungguhnya barangsiapa mempersekutukan  (sesuatu dengan) Allah, maka sungguh, Allah mengharamkan surga baginya, dan tempatnya ialah neraka. Dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang zalim itu. Sungguh, telah kafir orang-orang yang menyatakan bahwa Allah adalah salah satu dari yang tiga, padahal tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Maha Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa azab yang pedih.”(QS 5:72-73).

Ada sejumlah poin penting yang harus digarisbawahi: Continue reading “Siapakah Kaum Tak Beriman Itu? (6/8)”

Siapakah Kaum Tak Beriman Itu? (5/8)

 

Diterjemahkan dari Who Are the Disbelievers?”  (Hamza Yusuf) 
oleh Rira Nurmaida

Terjemahan ini merupakan rangkaian dari delapan bagian pembahasan 
dalam makalah asli oleh Syaikh Hamza Yusuf yang dimuat 
pada Jurnal' Season' terbitan Zaytuna Tahun 2008.

 

Posisi Kekufuran dan Konsekuensinya

Berdasarkan al-Qur’an, menyekutukan Tuhan (syirk)  merupakan dosa terbesar melawan Tuhan. Namun di dalam Q.S.4:116 disampaikan: ”Allah tidak akan mengampuni dosa syirik (mempersekutukan Allah dengan sesuatu) dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki..  Mayoritas ulama tradisional tidak menerapkan ayat ini pada musyrik yang belum pernah mendengar pesan yang sebenarnya tentang Tuhan. Dalilnya adalah Q.S. 17:15, “…tetapi Kami tidak akan menyiksa sebelum Kami mengutus seorang Rasul.” Imam Ibn Juzayy al-Kalbi mengomentari ayat ini: Salah satu pendapat terkait ayat ini menyatakan bahwa yang dibahas di sana merupakan aspek duniawi, yakni Tuhan tidak akan mengazab suatu kaum hingga seorang Nabi diutus kepada mereka. (sehingga) mereka tak lagi memiliki alasan. Adapun pendapat lain  menyatakan bahwa ayat tersebut berlaku duniawi maupun ukhrawi, bahwasanya Tuhan tidak akan mengazab orang-orang di akhirat kecuali setelah dikirim seorang Nabi  pada mereka dalam kehidupan dunia ini tapi mereka menolaknya.[i] Continue reading “Siapakah Kaum Tak Beriman Itu? (5/8)”

Are Muslims Believers?

Religion comes with a body and a soul,” the Sheikh explained. “But after a few generations, etiquette and manners become more important in a religion, which means the spirit of the religion disappears.” Such was the situation among the Jewish people, he said, when Jesus began preaching: they had forgotten Abraham’s covenant with God. Over time, their religion had settled into a matter of habit. They began to treat Judaism as a matter of belonging to a people rather than believing in a God, he argued. Such was the case for many Muslims today: “When Jesus came, the Jews really wanted to be treated as believers without being believers,” he said. “We Muslims, at this moment, want to be treated as believers without being believers.”

Terjemahan:

Continue reading “Are Muslims Believers?”