The Book of the Book

Bukalah tautan di akhir tulisan ini lalu baca bukunya di laman tersebut. Sabarlah dalam membuka halamannya. Iya, banyak halaman kosong. Iya, tulisannya sebetulnya tak banyak. Tapi mengutip bagian akhir buku tersebut:

If the thickness of books determines
the value of their content, this one
should assuredly be even thicker

Secara garis besar buku ini menyampaikan pelajaran tentang ‘wadah dan isi’. Dengan gaya penulisan sepintas mirip seribu satu malam (cerita di dalam cerita), seluruh rangkaiannya (sebagaimana kecenderungan Idries Shah dalam buku-bukunya yang lain) membawa kesan tentang kebijakan universal. Sufi yang dibawa oleh Idries Shah dan dikenalkannya ke Barat dikenalkan tanpa keterlekatan yang kasat mata dengan Islam. Hingga kadang terasa pesan-pesannya yang sebenarnya dalam hanya sampai menggelitik akal tapi tidak serta merta menyentuh spiritualitas.

Keterangan Buku:

Judul: The Book of The Book
Penulis: Idries Shah
Penerbit: Octagon Press Ltd.
Tahun Terbit: 1976

Catatan: Buku dapat dibaca gratis di tautan Yayasan Idries Shah ini.

How To Read A Book

Sedari awal muncul budaya baca-tulis, manusia lebih mudah berkomunikasi dan mewariskan pengetahuannya. Adanya media tertulis memungkinkan manusia melakukan aktivitas itu melampaui jarak dan waktu. Dengan orang berjauhan yang di luar jangkauan gelombang suara, orang bisa berkirim surat. Pada generasi selanjutnya, dan selanjutnya, dan seterusnya lagi jauh melewati usianya, seseorang bisa meninggalkan pesan.
Menulis juga merupakan salah satu upaya menolak lupa. Manusia merekam catatan, informasi serta ilmu. Pesan tersimpan! Bahkan hingga bisa menembus angka milenial. Karena itu, sebenarnya ‘menulis’ merupakan teknologi mengingat yang canggih.
Continue reading “How To Read A Book”

Mental Traps

Pertama tahu tentang buku ini, rasanya kok seperti terbetik “obat gue kali ya?” šŸ˜€ Apalagi ‘dijanjikan’ kebahagiaan, hahaha. Kebanyakan orang tahu, terutama yang sering merasa terperangkap dalam labirin pemikirannya sendiri, bahwa kondisi tersebut benar-benar melelahkan lahir batin. Pusing tak ada ujung, tak jelas hasilnya, fisik pun lelah. Namun seringnya kita tak sadar–atau tak mau mengakui–saat sedang terperangkap di dalamnya.

Continue reading “Mental Traps”

Steal Like an ArtistĀ 

Ini adalah buku kedua tentang pencurian yang kubaca dan di dalamnya ‘mencuri’ dibahas sebagai sesuatu yang mulia, bahkan hingga level tertentu, heroik. Dari judulnya, awalnya aku tak begitu tertarik, tapi aku yang waktu itu merencanakan bepergian ke luar kota, butuh bacaan selama di kereta. Kupikir buku ini mungkin bisa dibaca santai untuk melewatkan waktu. Eh, ternyata bukunya malah habis kubaca sekali duduk saat menunggu keretanya tiba. 

Buku ini ditulis secara menyegarkan oleh penulis yang juga ilustrator dan lulusan interdiciplinary studies ini membahas tentang penggalian kreativitas dengan cara menarik. Meski buku ini kugolongkan sebagai semacam jenis buku motivasi atau how to, atau mungkin semacam personal growth advice yang ringan dibaca, isinya cukup inspiratif.

Austin Kleon di meja kerjanya. Sumber: http://www.austinkleon.com

Mencuri dari orang lain, adalah tahap pertama, dalam perjalanan menemukan diri sendiri, karena penulis percaya originalitas itu tidak ada. You don’t need to be genius, you just need to be yourself. Creativity is everywhere, creativity is for everyone.

Buku ini ditulis dalam sepuluh bab bab berisi poin-poin penting untuk menghidupkan aspek kreatif dalam diri. Mulanya poin-poin ini ia sampaikan dalam sebuah acara bincang-bincang di sebuah forum dengan audiens mahasiswa di Newyork. Kemudian rekaman bincang-bincang itu menjadi viral dan Kleon menggali ide-idenya lebih dalam lagi untuk kemudian dituangkan dalam buku ini. Penulisannya terasa cukup personal karena penulis menyatakan bahwa poin-poin yang ia bahas di sini merupakan hal-hal yang ia harap ia dengar di awal ia membangun karier sebagai penulis. 

Di bab-bab awal, ia mulai dengan ajakan untuk ‘mencuri’ dari para maestro. Lalu ia menyebut kesalahan banyak orang yang seringkali menunda pekerjaan sampai ‘selesai mengonsep diri’. Tulisannya mengalir terus mencakup strategi untuk mengkompromikan “cara normal” bertahan hidup sembari terus berkarya hingga bagaimana caranya “menampilkan hasil kerja”.




Keterangan Buku:

Judul: Steal Like an Artist: 10 Things Nobody Tells You About Being Creative
Penulis: Austin Kleon
Ilustrator: Austin Kleon
Penerbit: Workman Publishing
Tahun Terbit: 2012


Bullshit

Source: http://www.limbicnutrition.com

Bullshit is unavoidable whenever circumstances require someone to talk without knowing what he is talking about. Thus the production of bullshit is stimulated whenever a person’s obligations or opportunities to speak about some topic exceed his knowledge of the facts that are relevant to that topic. This discrepancy is common in public life, where people are frequently impelled whether by their own propensities or by the demands of others-to speak extensively about matters of which they are to some degree ignorant.

Bullshit, (selanjutnya kutulis sebagai omong kosong) sudah begitu meresahkan tapi saking membabibutanya kadang melempar kita pada titik pasrah, ‘lantas bagaimana?’ Gerakan-gerakan antihoax yang muncul belakangan menolak tersebarnya segala berita yang konon kata sebuah media bikin otak soak, entah memasukkannya sebagai satu biang kerok atau tidak. 

Buku tipis (aslinya adalah sebuah esei) dari Prof.Frankfurt, seorang filsuf analitis ini berupaya untuk mendeskripsikan dan mendudukkan posisi omong kosong dalam masyarakat. Tanpa ada penelaahan yang jelas, meski kita merasa bisa aman dan mampu menghindarinya, kita tak pernah dapat memastikan itu. Hal tersebut karena begitu melimpahnya omong kosong dalam kehidupan sehari-hari seolah ia menjadi tambahan uap air dalam kandungan udara, yang hanya membuat pengap tanpa bisa kita hindari kecuali dengan filter dehumidifier.

Omong kosong berbeda dengan dusta. Dalam sebuah teks, diposisikan seolah selama kamu tidak berbohong, ngawurlah sesukamu. Masalahnya orang yang mengumbar omong kosong atau senang ngawur justru seringkali tidak mengetahui bahkan tak peduli pada kebenaran. Orang berbohong tentu tahu apa yang benar dan dia menyembunyikannya. Dia punya sikap terhadap hal yang benar. Tapi orang ngawur pengumbar omong kosong mana peduli.

Wittsgenstein adalah salah satu filsuf yang dirujuk sikapnya di dalam buku ini. Dikisahkan bahwa suatu ketika ia menengok temannya yang sakit. Begitu melihat Wittgeinstein, mengeluhlah, “Betapa sakitku seperti anjing yang menderita”. Dengan ketus dijawab, “Kamu bahkan tak tahu penderitaan anjing”. Dari satu contoh tersebut kita bisa melihat penggunaan hiperbola serampangan saja bisa berbahaya. Omong kosong, jika dianggap biasa akan mengurangi kepekaan kita terhadap bahayanya seperti yang terjadi hari ini saat manusia gagap menghadapi teknologi komunikasi dan tak memiliki filter terhadap ancaman dehumanisasi karena semakin lemahnya kemampuan berpikir mereka. 

Keterangan Buku:

Judul: On Bullshit
Penulis: Harry G.Frankfurt
Penerbit: Princeton University Press
Tahun Terbit: 2005